Oleh: Djoko Iriandono*)
Kemaren siang, selepas salat dhuhur, saya duduk bersila di antara jamaah pengajian rutin ba'da sholat dhuhur selama bulan ramadhan di Masjid Raya Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur. Udara terasa hangat, tetapi suasana hati justru teduh. Siang itu, yang menyampaikan tausiyah adalah Dr. KH. Masykur Ibnu Quraisy, Lc., M.Si, Ph.D, Imam Besar Masjid Al Bina Senayan. Tema yang beliau angkat sederhana namun menghentak kesadaran: Ramadan sebagai madrasah kesabaran bagi kaum beriman.
Kalimat “madrasah kesabaran” itu terus terngiang dalam pikiran saya. Jika Ramadan adalah sekolah kesabaran, maka tentu ada ujian, ada proses, dan ada kelulusan. Tetapi di tengah perjalanan hidup sehari-hari, saya justru melihat banyak orang—termasuk mungkin diri saya sendiri—sering tertukar dalam memahami tiga istilah: pasrah, sabar, dan kurang peka.
Dari perenungan itulah tulisan ini lahir.
Antara Pasrah, Sabar, dan Kurang Peka: Tiga Sikap yang Sekilas Serupa
Beberapa waktu lalu, selepas rapat yang cukup menguras energi, seorang rekan mendekati saya.
“Pak, saya ini sebenarnya sabar… atau cuma pasrah? Atau jangan-jangan saya memang kurang peka?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi dalam.
Ia sedang menghadapi perlakuan yang menurutnya tidak adil. Ia memilih diam. Tidak membalas. Tidak mengklarifikasi. Tidak pula memperjuangkan haknya. Ketika ditanya, jawabannya singkat, “Saya sabar saja, Pak.”
Namun wajahnya menyimpan gelisah.
Di situlah saya menyadari: tiga sikap ini sering tampak sama dari luar—sama-sama diam. Tetapi berbeda jauh dalam makna dan dampaknya.
Mari kita susun satu per satu.
1. Pasrah: Ketika Berhenti Sebelum Selesai
Saya sengaja menempatkan pasrah di awal, karena sering kali di sinilah kekeliruan bermula.
Pasrah terdengar religius. Seolah-olah ia identik dengan tawakal. Padahal tidak selalu demikian.
Pasrah yang keliru adalah menyerah sebelum berjuang.
Ia berkata, “Ya sudah, memang nasib.”
Ia menganggap usaha tidak lagi relevan.
Ia berhenti berikhtiar, tetapi tetap berharap perubahan.
Pasrah sering lahir dari kelelahan. Terlalu lama memperjuangkan sesuatu tanpa hasil, tanpa dukungan, tanpa apresiasi—akhirnya seseorang memilih jalan aman: menyerah dalam diam.
Namun pasrah yang seperti ini bukanlah kedewasaan. Ia adalah keputusasaan yang dibungkus ketenangan.
Orang yang pasrah:
- Menyadari ada masalah.
- Merasa tidak nyaman.
- Tetapi memilih berhenti berusaha.
Ia tidak lagi memperbaiki keadaan.
Ia tidak menyuarakan kebenaran.
Ia tidak mencoba pendekatan baru.
Padahal Ramadan mengajarkan sebaliknya. Kita menahan lapar bukan untuk melemah, tetapi untuk menguatkan daya tahan. Kita bangun sahur bukan karena nyaman, tetapi karena sadar ada tujuan.
Jika kita berhenti berikhtiar, sesungguhnya kita belum lulus dari madrasah kesabaran.
2. Sabar: Aktif dan Terarah
Inilah inti pelajaran Ramadan.
Sabar bukanlah diam tanpa sikap.
Sabar bukan pula menekan emosi tanpa arah.
Sabar adalah kemampuan mengelola diri sambil tetap berjalan di jalur yang benar.
Sabar itu aktif.
Ia sadar ada masalah.
Ia tetap berusaha.
Tetapi ia tidak dikuasai amarah.
Orang sabar bisa saja kecewa. Ia bisa saja marah. Tetapi ia tidak membiarkan emosi memimpin keputusan.
Sabar bukan berarti tidak menegur.
Sabar bukan berarti tidak tegas.
Sabar adalah menempatkan respon pada waktu dan cara yang tepat.
Seorang pemimpin yang sabar tetap mengambil keputusan, tetapi dengan pertimbangan matang.
Seorang guru yang sabar tetap memberi konsekuensi, tetapi tanpa merendahkan.
Seorang ayah yang sabar tetap mendisiplinkan, tetapi dengan cinta.
Sabar itu bukan pasif.
Ia adalah pengendalian diri yang sadar dan berorientasi perbaikan.
Jika pasrah berhenti bergerak, maka sabar tetap bergerak—dengan kendali.
Itulah mengapa sabar membutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar diam.
3. Kurang Peka: Ketika Hati Tidak Tergerak
Setelah pasrah dan sabar, barulah kita sampai pada kurang peka.
Kurang peka berbeda lagi. Ia bukan berhenti berusaha, tetapi bahkan tidak merasa perlu berusaha.
Orang yang kurang peka sering berkata:
- “Ah, biasa saja.”
- “Tidak usah dibesar-besarkan.”
- “Memang begitu dari dulu.”
Padahal mungkin ada hati yang terluka.
Ada ketidakadilan yang terjadi.
Ada pesan yang perlu ditangkap.
Kurang peka adalah ketumpulan rasa.
Ia seperti alarm yang berbunyi, tetapi kita memilih mengabaikannya. Bukan karena lelah, melainkan karena tidak merasa terganggu.
Dalam konteks kepemimpinan, kurang peka bisa berbahaya. Seorang pemimpin yang tidak peka tidak akan menangkap kegelisahan timnya. Seorang guru yang kurang peka tidak akan melihat muridnya yang sedang berjuang dalam diam. Seorang orang tua yang kurang peka tidak menyadari anaknya sedang mencari perhatian.
Berbeda dengan pasrah yang masih merasa tetapi menyerah, kurang peka bahkan tidak cukup peduli untuk merasa.
Perbedaannya Ada di Dalam Diri
Dari luar, ketiganya bisa tampak sama: diam.
Tetapi dari dalam, sangat berbeda.
- Pasrah: tahu ada masalah, tetapi berhenti berikhtiar.
- Sabar: tahu ada masalah, tetap berikhtiar dengan kendali diri.
- Kurang peka: tidak sungguh-sungguh menangkap atau peduli pada masalah.
Pasrah lahir dari kelelahan.
Sabar lahir dari kesadaran.
Kurang peka lahir dari ketumpulan.
Ilustrasi Sederhana
Bayangkan seorang guru melihat muridnya terus tertinggal.
Guru pertama berkata, “Saya sudah capek. Terserah saja.” Ia berhenti berusaha. Itu pasrah.
Guru kedua berkata, “Saya harus cari cara lain.” Ia mencoba pendekatan berbeda, berdiskusi dengan orang tua. Itu sabar.
Guru ketiga berkata, “Ah, memang anaknya begitu.” Ia tidak merasa perlu melakukan apa-apa. Itu kurang peka.
Ketiganya mungkin tidak marah. Tetapi hasilnya akan sangat berbeda.
Evaluasi Diri di Madrasah Ramadan
Ramadan memberi kita ruang untuk bercermin.
Coba tanyakan pada diri sendiri:
- Apakah saya berhenti karena lelah, atau saya sedang mengelola diri?
- Apakah saya masih berusaha memperbaiki keadaan?
- Apakah saya benar-benar memahami situasi, atau sekadar tidak mau peduli?
Sabar membuat kita bertumbuh.
Pasrah membuat kita berhenti.
Kurang peka membuat kita tumpul.
Dan barangkali, pertanyaan terbesar setelah keluar dari Ramadan bukanlah “Berapa hari saya berpuasa?”, melainkan “Apakah saya naik kelas dalam kesabaran?”
Penutup: Memilih dengan Sadar
Sore itu saya berkata kepada rekan saya,
“Kalau kamu masih gelisah dan tidak lagi berusaha, mungkin itu pasrah. Kalau kamu tenang karena tahu sedang berikhtiar, itu sabar. Tapi kalau kamu bahkan tidak merasa ada yang perlu diperbaiki, hati-hati… bisa jadi itu kurang peka.”
Ia tersenyum kecil. Mungkin sedang merenung.
Barangkali kita semua pernah berada di tiga posisi itu. Pernah pasrah karena lelah. Pernah kurang peka karena sibuk dengan diri sendiri. Dan semoga, semakin sering kita belajar di madrasah Ramadan, semakin sering pula kita memilih untuk bersabar dengan sadar.
Karena sabar bukan tentang diam.
Ia tentang tetap berjalan, dengan hati yang terkendali dan tujuan yang jelas.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim