Oleh: Djoko Iriandono*)
Hari ini dunia terbelalak melihat satu hal yang tidak pernah benar-benar mereka duga: sebuah bangsa yang tidak hanya bertahan, tetapi berani berdiri tegak di tengah tekanan global. Banyak yang membicarakan soal teknologi, strategi perang, atau angka-angka kekuatan militer. Namun sesungguhnya, yang membuat dunia terdiam bukan itu semua.
Yang membuat dunia terdiam adalah mentalitas.
Iran bukan sekadar negara. Ia adalah simbol dari satu hal yang mulai langka di banyak bangsa, termasuk kita: harga diri kolektif.
Mereka tidak hanya mempertahankan wilayah. Mereka mempertahankan kehormatan. Mereka tidak sekadar berbicara tentang kemajuan, tetapi tentang martabat. Mereka tidak hanya membangun kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan jiwa kebangsaan.
Lalu pertanyaannya menjadi sangat menampar:
di mana posisi kita sebagai bangsa Indonesia?
Bangsa yang Cepat Bangga, Tapi Mudah Tersinggung
Indonesia adalah bangsa besar—setidaknya dalam angka dan sejarah. Kita punya ratusan suku, ribuan pulau, kekayaan alam yang melimpah, serta sejarah panjang perjuangan melawan penjajahan.
Namun hari ini, kebesaran itu sering hanya berhenti di slogan.
Kita cepat bangga ketika budaya kita diakui dunia. Kita marah ketika ada negara lain mengklaim warisan kita. Tetapi setelah itu? Kita kembali lupa merawatnya. Kita kembali sibuk dengan urusan kecil, konflik receh, debat masalah ijazah yang tak pernah berakhir dan hal-hal receh lainnya yang tidak bersifat membangun.
Lebih ironis lagi, kita sering merasa marah bukan karena harga diri bangsa dilukai, tetapi karena ego pribadi disentil.
Kita lebih mudah ribut di media sosial daripada berdiri bersama membangun kekuatan nyata.
Krisis Harga Diri yang Tidak Kita Sadari
Masalah terbesar bangsa ini bukan pada kurangnya sumber daya. Bukan juga pada kurangnya kecerdasan. Tetapi pada sesuatu yang lebih dalam: krisis harga diri sebagai bangsa.
Harga diri bukan sekadar soal simbol, lagu kebangsaan, atau upacara. Harga diri adalah keberanian untuk berkata:
“Kami tidak bisa dipermainkan.”
Tetapi hari ini, kita justru sering terlihat nyaman dipermainkan.
Lebih menyedihkan lagi, kita sering nyinyir terhadap orang-orang yang mencoba berdiri tegak.
Ketika ada yang idealis, kita bilang: “Sok nasionalis.”
Ketika ada yang berani berbeda, kita bilang: “Cari panggung.”
Ketika ada yang ingin perubahan, kita justru menariknya kembali ke zona nyaman.
Ini bukan sekadar masalah sosial. Ini adalah tanda bahwa kita sedang kehilangan roh kebangsaan.
Pemimpin: Cermin atau Korban?
Dalam cuplikan yang terdapat dalam sebuah tulisan di medsos, ada satu poin yang sangat tajam: tentang pemimpin yang lebih memilih mati daripada kehilangan kehormatan bangsanya.
Pertanyaannya:
Apakah kita memiliki pemimpin seperti itu?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana ya atau tidak.
Karena sejatinya, pemimpin adalah cermin dari rakyatnya.
Jika rakyatnya mudah dipecah, pemimpinnya akan bermain aman.
Jika rakyatnya lebih suka konflik daripada kolaborasi, pemimpinnya akan sibuk menjaga stabilitas semu.
Jika rakyatnya tidak peduli pada harga diri bangsa, maka pemimpinnya pun tidak punya tekanan untuk menjaganya.
Dengan kata lain, jangan terlalu cepat menyalahkan pemimpin.
Bisa jadi, mereka hanya produk dari masyarakat yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Budaya Nyinyir: Racun yang Kita Pelihara
Satu hal yang sangat khas—dan sangat berbahaya—dalam perilaku kita adalah budaya nyinyir.
Kita terlalu mudah mengkritik, tetapi malas memberi solusi.
Kita terlalu cepat menghakimi, tetapi enggan memahami.
Kita lebih senang menjatuhkan daripada membangun.
Ironisnya, ini sering kita anggap sebagai “kritis”.
Padahal, kritik tanpa arah hanyalah kebisingan.
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling banyak berbicara, tetapi yang paling banyak bertindak.
Bangsa yang kuat bukan yang paling keras berdebat, tetapi yang paling solid dalam tujuan.
Belajar dari Mereka yang Punya Identitas
Iran, dengan segala kontroversinya, menunjukkan satu hal yang tidak bisa kita abaikan: mereka tahu siapa diri mereka.
Mereka punya narasi besar.
Mereka punya kebanggaan historis.
Mereka punya keberanian untuk mempertahankan itu, bahkan dengan risiko besar.
Sementara kita?
Kita masih sering bingung mendefinisikan diri sendiri.
Apakah kita bangsa maritim?
Bangsa agraris?
Bangsa industri?
Atau hanya bangsa konsumen yang besar?
Ketika identitas tidak jelas, arah pun menjadi kabur.
Saatnya Berkaca, Bukan Sekadar Membandingkan
Tulisan ini bukan untuk memuji negara atau bangsa lain secara berlebihan. Juga bukan sama sekali untuk merendahkan bangsa sendiri.
Tetapi untuk mengajak kita jujur melihat kenyataan.
Kita tidak kekurangan potensi.
Kita tidak kekurangan sumber daya.
Yang kita kekurangan adalah kesadaran kolektif untuk menjadi bangsa yang bermartabat.
Harga diri bangsa tidak dibangun dalam sehari.
Ia lahir dari kebiasaan kecil:
Penutup: Kita Mau Jadi Bangsa Seperti Apa?
Pertanyaan paling penting bukan lagi tentang Iran.
Bukan juga tentang negara lain.
Tetapi tentang kita sendiri:
Apakah kita masih ingin menjadi bangsa yang besar hanya dalam cerita, atau benar-benar besar dalam kenyataan?
Jika kita ingin dihormati, maka kita harus mulai menghormati diri sendiri.
Jika kita ingin diperhitungkan, maka kita harus mulai memperhitungkan kekuatan kita sendiri. Kita harus bertekad kuat untuk mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Dan jika kita ingin memiliki pemimpin yang berani,
maka kita harus terlebih dahulu menjadi rakyat yang tidak mudah tunduk.
Karena pada akhirnya,
sebuah bangsa tidak runtuh karena serangan dari luar,
tetapi karena ia kehilangan sesuatu dari dalam dirinya sendiri:
harga diri.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim