Studi Tiru di Masjid Jogokariyan Yogyakarta
Belajar dari Masjid Jogokariyan: Ketika Masjid Menghidupkan Umat
Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M.
Ketua Umum BPIC Kaltim
Perjalanan studi tiru rombongan Badan Pengelola Islamic Center (BPIC) Kalimantan Timur di Yogyakarta akhirnya sampai pada salah satu tujuan yang sejak awal menjadi perhatian kami, yaitu Masjid Jogokariyan. Setelah meninggalkan Masjid Suciati Saliman, rombongan langsung menuju salah satu masjid yang dikenal luas di wilayah Sleman untuk menunaikan Salat Jumat. Seusai Salat Jumat, rombongan melanjutkan makan siang di Rumah Makan Jamuran, sebuah rumah makan yang menyajikan berbagai jenis makanan berbahan dasar jamur, sebelum kemudian meneruskan perjalanan menuju Masjid Jogokariyan.
Kunjungan ke Jogokariyan terasa berbeda dibandingkan dengan beberapa masjid yang sebelumnya kami datangi. Jika di tempat lain kami banyak belajar mengenai arsitektur, fasilitas, kelembagaan dan sistem pelayanan, di Jogokariyan perhatian kami lebih diarahkan kepada bagaimana sebuah masjid membangun hubungan yang kuat dengan jamaah dan masyarakat di sekitarnya. Nama Jogokariyan dikenal luas bukan terutama karena kemegahan bangunannya, melainkan karena gagasan pengelolaannya yang menjadikan masjid sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat. Salah satu konsep yang paling banyak dikenal adalah gagasan “saldo nol rupiah”, yaitu cara pandang bahwa dana umat sebaiknya tidak hanya disimpan, tetapi dikelola dan segera disalurkan menjadi kemanfaatan bagi masyarakat.
Dari Kampung Menjadi Pusat Perubahan
Pada pukul 14.00 WIB, rombongan BPIC Kaltim diterima oleh salah seorang pengurus Masjid Jogokariyan, Ustadz Welly. Dalam suasana yang akrab, beliau mulai menceritakan perjalanan panjang masjid tersebut, mulai dari sejarah berdirinya hingga proses yang membuatnya dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Cerita itu menarik karena apa yang kami lihat hari itu ternyata bukan hasil dari sebuah proses yang singkat, melainkan buah dari perjalanan panjang dalam membangun jamaah, kepercayaan dan sistem pengelolaan masjid.
Masjid Jogokariyan ternyata sudah berumur cukup tua. Ia mulai dibangun pada tahun 1966 dan kemudian diresmikan pada tahun 1967. Sebelum masjid berdiri, kegiatan keagamaan masyarakat di lingkungan tersebut berpusat pada sebuah langgar kecil dengan jumlah jamaah yang masih terbatas. Dalam perkembangannya, masjid kemudian tumbuh menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat, dengan berbagai program yang diarahkan untuk mendekatkan masjid kepada kehidupan jamaah.
Yang menarik dari perjalanan tersebut adalah bahwa para pengelola tidak berhenti pada pemikiran tentang bagaimana membangun sebuah bangunan masjid. Mereka berpikir lebih jauh tentang bagaimana membangun jamaah dan masyarakat di sekitar masjid. Masjid kemudian diposisikan bukan hanya sebagai tempat untuk melaksanakan salat, tetapi sebagai ruang untuk berinteraksi, belajar, mendapatkan pelayanan, mengembangkan potensi dan menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
Dari sini kami mendapatkan pelajaran pertama yang sangat penting. Masjid yang besar belum tentu otomatis menjadi masjid yang besar manfaatnya, sebagaimana masjid yang sederhana secara fisik tidak berarti kecil pengaruhnya. Ukuran keberhasilan sebuah masjid pada akhirnya sangat ditentukan oleh seberapa jauh kehadirannya dirasakan oleh masyarakat. Bangunan adalah tempatnya, tetapi jamaah dan kemanfaatanlah yang menghidupkannya.
Mengenal, Melayani, Memberdayakan dan Membina
Salah satu hal penting yang kami tangkap dari penjelasan Ustadz Welly adalah adanya pendekatan 4P dalam pengelolaan Masjid Jogokariyan, yaitu Pendataan, Pelayanan, Pemberdayaan dan Pembinaan. Empat kata ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menggambarkan sebuah siklus pengelolaan masjid yang sangat penting. Masjid terlebih dahulu harus mengenal jamaahnya, kemudian memberikan pelayanan sesuai kebutuhan, memberdayakan potensi yang dimiliki dan akhirnya melakukan pembinaan agar hubungan antara masjid dan jamaah terus tumbuh.
Pertama, Pendataan. Masjid perlu mengetahui siapa yang tinggal di lingkungannya, bagaimana kondisi jamaahnya dan apa persoalan yang mereka hadapi. Pendataan bukan sekadar mencatat jumlah kepala keluarga atau jumlah jamaah yang hadir dalam salat, tetapi menjadi dasar untuk memahami kondisi sosial, ekonomi dan keagamaan masyarakat. Dengan data yang baik, masjid tidak bekerja berdasarkan perkiraan, melainkan dapat merancang program berdasarkan kebutuhan yang nyata.
Pendataan juga mengubah cara pandang pengurus terhadap jamaah. Jamaah tidak lagi dilihat hanya sebagai orang yang datang ke masjid untuk melaksanakan ibadah, tetapi sebagai individu dan keluarga yang memiliki latar belakang, kebutuhan dan persoalan yang berbeda-beda. Ada yang membutuhkan bantuan ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, perhatian sosial, bahkan ada yang membutuhkan pendekatan agar kembali dekat dengan masjid. Karena itu, data bagi masjid bukan sekadar angka, melainkan peta untuk memahami umat.
Kedua, Pelayanan. Setelah mengetahui kondisi jamaah, langkah berikutnya adalah menghadirkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Masjid tidak cukup hanya menyediakan tempat untuk salat, tetapi harus berusaha hadir ketika jamaah membutuhkan pertolongan. Pelayanan dapat berbentuk santunan, pendidikan, kesehatan, bantuan bagi warga yang mengalami kesulitan, pelayanan kepada musafir, kegiatan keagamaan maupun berbagai bentuk layanan sosial lainnya.
Di sinilah makna masjid sebagai rumah umat menjadi semakin nyata. Ketika jamaah merasakan bahwa masjid hadir bukan hanya ketika mereka memiliki waktu untuk datang, tetapi juga ketika mereka sedang menghadapi persoalan kehidupan, akan tumbuh rasa memiliki terhadap masjid. Hubungan yang terbangun bukan lagi hubungan antara pengurus dan jamaah semata, melainkan hubungan yang lebih dalam antara masjid dan kehidupan masyarakat.
Ketiga, Pemberdayaan. Pelayanan memang penting, tetapi masyarakat tidak boleh selamanya ditempatkan hanya sebagai penerima bantuan. Setelah kebutuhan mereka dibantu, masjid perlu mencari potensi yang dapat dikembangkan agar jamaah mampu berdiri lebih mandiri. Pemberdayaan dapat dilakukan melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, pengembangan usaha, dukungan terhadap UMKM, penguatan ekonomi keluarga maupun kegiatan lain yang sesuai dengan potensi masyarakat setempat.
Pada titik ini, konsep masjid bergerak dari sekadar memberi menjadi mengembangkan. Masjid tidak hanya bertanya, “Siapa yang membutuhkan bantuan?” tetapi juga bertanya, “Potensi apa yang dimiliki jamaah dan bagaimana masjid dapat membantu mengembangkannya?” Pertanyaan kedua inilah yang membuat pemberdayaan memiliki dampak jangka panjang karena masyarakat didorong untuk menjadi pelaku perubahan, bukan hanya penerima manfaat.
Keempat, Pembinaan. Setelah jamaah didata, dilayani dan diberdayakan, proses berikutnya adalah pembinaan. Pembinaan diperlukan agar hubungan spiritual dan sosial antara jamaah dengan masjid tidak berhenti pada satu kegiatan atau satu program. Pembinaan dapat dilakukan melalui kajian, pengajian, pendidikan keagamaan, pembinaan keluarga, kegiatan anak dan remaja, pembentukan komunitas serta berbagai aktivitas yang membuat masyarakat semakin dekat dengan masjid.
Pembinaan pada akhirnya menyentuh dimensi yang lebih dalam, yaitu membangun manusia. Masjid tidak hanya ingin masyarakatnya terbantu secara ekonomi atau mendapatkan pelayanan sosial, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki keimanan, kepedulian, tanggung jawab dan semangat untuk berbuat baik. Dengan demikian, 4P bukanlah empat kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan sebuah rangkaian yang saling menguatkan: data melahirkan pelayanan, pelayanan membuka ruang pemberdayaan, dan pemberdayaan diperkuat melalui pembinaan.
Saldo Nol: Ketika Dana Umat Menjadi Manfaat
Pembicaraan mengenai Masjid Jogokariyan hampir selalu membawa kita kepada satu istilah yang sangat terkenal, yaitu “saldo nol”. Bagi sebagian orang, istilah ini mungkin terdengar bertentangan dengan prinsip pengelolaan keuangan karena saldo yang besar biasanya dianggap sebagai tanda kesehatan keuangan sebuah lembaga. Di Jogokariyan, yang ingin ditekankan bukan semata-mata angka nolnya, tetapi filosofi bahwa dana umat jangan dibiarkan mengendap sementara di sekitar masjid masih terdapat kebutuhan masyarakat yang harus dilayani.
Karena itu, konsep saldo nol tidak tepat jika dimaknai secara sederhana sebagai keharusan menghabiskan seluruh uang masjid. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap dana yang dipercayakan kepada masjid dapat dikelola secara amanah, transparan dan produktif untuk kemaslahatan umat. Uang bukan tujuan akhir pengelolaan masjid, melainkan sarana untuk menghadirkan manfaat.
Di sinilah kami melihat perubahan cara pandang yang menarik. Masjid tidak berorientasi pada seberapa besar uang yang berhasil disimpan, tetapi pada seberapa besar manfaat yang dapat diwujudkan dari dana tersebut. Kekayaan masjid akhirnya tidak hanya dihitung dari angka yang tercatat dalam rekening, tetapi juga dari semakin banyaknya persoalan masyarakat yang dapat dibantu.
Dengan demikian, saldo nol sesungguhnya berkaitan erat dengan 4P. Pendataan membuat pengurus mengetahui kebutuhan masyarakat, pelayanan menjawab kebutuhan tersebut, pemberdayaan membantu masyarakat menjadi lebih mandiri, sementara pembinaan memastikan hubungan mereka dengan masjid terus tumbuh. Dana umat kemudian menjadi energi yang menggerakkan seluruh proses tersebut.
Masjid yang Mengenal Jamaahnya
Hal lain yang sangat menarik dari Jogokariyan adalah perhatian terhadap pemetaan jamaah. Masjid perlu mengetahui siapa yang tinggal di lingkungannya, bagaimana kondisi mereka dan apa kebutuhan yang mereka hadapi. Dengan pemetaan tersebut, pengurus dapat menyusun program secara lebih tepat dan tidak sekadar membuat kegiatan berdasarkan asumsi.
Masjid tidak boleh hanya mengenal jumlah jamaah ketika mereka datang salat Jumat. Masjid perlu mengenal kehidupan mereka, keluarganya, pekerjaannya, kondisi ekonominya, bahkan persoalan yang mungkin tidak terlihat dari luar. Dengan cara seperti itu, dakwah tidak berhenti pada ceramah dari mimbar, tetapi bergerak menjadi pelayanan yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Cara berpikir seperti ini memberikan pelajaran yang sangat penting bagi Islamic Center Kalimantan Timur. Dengan jumlah unit pendidikan, pelayanan kesehatan, kegiatan sosial dan berbagai fasilitas yang dimiliki, BPIC sesungguhnya mempunyai modal yang besar untuk membangun ekosistem pelayanan umat. Tantangannya adalah bagaimana semua potensi tersebut dapat diintegrasikan dalam satu sistem pelayanan yang dimulai dari data dan berakhir pada pemberdayaan serta pembinaan masyarakat.
Masjid yang Tidak Takut Melayani
Salah satu hal yang terasa dari cerita tentang Jogokariyan adalah keberanian pengurus untuk menempatkan masjid sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Masjid tidak diposisikan sebagai tempat yang hanya didatangi ketika waktu salat tiba. Ia menjadi ruang untuk belajar, bersilaturahmi, mendapatkan bantuan, mengembangkan ekonomi, menerima pelayanan dan membangun hubungan sosial.
Di titik ini kami menemukan kesamaan dengan gagasan besar yang sedang dibangun BPIC Kaltim. Islamic Center bukan hanya sebuah kawasan masjid, melainkan sebuah ekosistem keumatan yang di dalamnya terdapat pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah dan berbagai bentuk pelayanan masyarakat. Studi tiru ke Jogokariyan semakin memperkuat keyakinan bahwa seluruh unit tersebut harus dihubungkan dalam satu visi besar: menjadikan masjid sebagai pusat pelayanan dan pemberdayaan umat.
Ketika azan Asar mulai terdengar, cerita Ustadz Welly pun sampai pada jeda yang secara alami mengingatkan kami bahwa semua pembicaraan tentang pengelolaan dan kemakmuran masjid pada akhirnya harus kembali kepada fungsi utama masjid itu sendiri. Karena rombongan telah menjamak salat Ashar pada waktu sebelumnya, kami mempersilakan Ustadz Welly untuk menunaikan salat Ashar, sementara rombongan menunggu di ruang tamu masjid. Dalam suasana menunggu itulah kami kembali merenungkan berbagai cerita dan pengalaman yang telah disampaikan, terutama tentang bagaimana Masjid Jogokariyan membangun kedekatan dengan jamaah dan menjadikan masjid sebagai pusat pelayanan umat.
Ada sesuatu yang menarik dari momen sederhana tersebut. Pembicaraan tentang strategi, program, pengelolaan dana, pemetaan jamaah dan berbagai inovasi masjid sejenak berhenti, sementara aktivitas ibadah tetap berjalan sebagaimana mestinya. Bagi kami, suasana itu seperti sebuah pengingat bahwa seluruh sistem dan manajemen yang dibangun oleh sebuah masjid pada akhirnya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk mendukung tujuan yang lebih besar yaitu memakmurkan masjid, mendekatkan manusia kepada Allah dan menghadirkan kebaikan yang nyata bagi kehidupan masyarakat.
Dari Jogokariyan untuk Islamic Center Kalimantan Timur
Bagi rombongan BPIC Kaltim, kunjungan ke Jogokariyan menjadi penutup yang sangat bermakna dari rangkaian studi tiru di Jawa. Kami datang bukan untuk menyalin Jogokariyan secara mentah, karena setiap masjid memiliki sejarah, karakter jamaah, lingkungan dan tantangan yang berbeda. Yang jauh lebih penting adalah membawa pulang cara berpikir yang melahirkan berbagai inovasi yang antara lain meliputi mengenal jamaah, membaca kebutuhan, membangun kepercayaan, mengelola dana secara amanah dan menjadikan setiap sumber daya sebagai jalan untuk menghadirkan kemanfaatan.
Konsep 4P menjadi salah satu pelajaran yang paling relevan untuk dibawa pulang. Pendataan mengajarkan pentingnya mengenal umat, Pelayanan mengajarkan kehadiran masjid dalam kehidupan masyarakat, Pemberdayaan mengajarkan bagaimana membangun kemandirian, dan Pembinaan mengajarkan pentingnya menjaga kesinambungan hubungan spiritual dan sosial jamaah dengan masjid. Keempatnya dapat menjadi kerangka sederhana tetapi kuat dalam membangun tata kelola Islamic Center yang lebih berorientasi kepada kebutuhan umat.
Masjid Jogokariyan juga mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dengan anggaran yang besar. Perubahan dapat dimulai dari kepedulian yang sederhana seperti : mengetahui siapa tetangga yang sedang kesulitan, siapa anak yang membutuhkan pendidikan, siapa keluarga yang membutuhkan pertolongan dan siapa jamaah yang perlahan mulai jauh dari masjid. Ketika kebutuhan itu dipetakan dengan baik, kemudian dijawab dengan pelayanan yang tulus dan dikelola secara profesional, masjid perlahan-lahan akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada sekadar saldo rekening, yaitu kepercayaan jamaah.
Perjalanan studi tiru ini akhirnya bukan hanya perjalanan untuk melihat bagaimana masjid lain dikelola. Ia menjadi perjalanan untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana Islamic Center Kalimantan Timur hadir dalam kehidupan masyarakat? Pertanyaan itu mungkin jauh lebih penting daripada pertanyaan tentang berapa besar aset yang dimiliki atau berapa banyak program yang telah dilaksanakan.
Sebab masjid yang makmur bukan hanya masjid yang penuh ketika salat Jumat. Masjid yang benar-benar makmur adalah masjid yang kehadirannya dirasakan ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, ketika anak-anak membutuhkan pendidikan, ketika keluarga membutuhkan penguatan, ketika ekonomi umat membutuhkan dukungan dan ketika hati manusia membutuhkan tempat untuk kembali kepada Allah.
Dan mungkin inilah oleh-oleh paling berharga yang kami bawa pulang dari Jogokariyan: bukan bagaimana membuat saldo masjid menjadi nol, tetapi bagaimana membuat manfaat masjid menjadi tidak pernah nol.
Perjalanan studi tiru ini sesungguhnya telah mempertemukan kami dengan lima wajah pengelolaan lembaga keumatan yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Dari Pondok Modern Darussalam Gontor, kami belajar tentang kekuatan nilai, kemandirian, kaderisasi dan kesinambungan melalui Panca Jiwa dan Panca Jangka. Dari Masjid Al-Falah Sragen, kami melihat bagaimana profesionalisme, pelayanan dan tata kelola dapat menjadikan masjid sebagai pusat kemanfaatan yang terbuka bagi jamaah dan masyarakat. Dari Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, kami belajar tentang pengelolaan masjid yang modern dengan fungsi ibadah, dakwah, pendidikan dan pelayanan umat yang berjalan dalam satu kesatuan. Sementara dari Masjid Suciati Saliman, kami melihat bagaimana keteduhan ibadah, keindahan, kepedulian sosial dan semangat berbagi dapat dipadukan dalam sebuah masjid yang hadir untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kemudian di Masjid Jogokariyan, semua pembelajaran tersebut seakan menemukan titik temu dalam pendekatan yang sangat dekat dengan kehidupan jamaah: mengenal melalui Pendataan, hadir melalui Pelayanan, menguatkan melalui Pemberdayaan, dan menumbuhkan melalui Pembinaan. Jika kelima tempat tersebut dirangkai menjadi satu pelajaran besar, maka kami melihat bahwa membangun Islamic Center tidak cukup hanya dengan membangun gedung, memperbanyak kegiatan atau menghimpun dana. Yang jauh lebih penting adalah membangun nilai, manusia, sistem, kemandirian dan kemanfaatan secara bersamaan. Perjalanan ini pada akhirnya bukan tentang mencari masjid atau lembaga mana yang harus ditiru seluruhnya, tetapi tentang menemukan berbagai nilai baik yang dapat dirangkai menjadi model pengelolaan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan Islamic Center Kalimantan Timur.
Wallahu a'lam bishawab