Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.

Di Antara Dentuman Rudal dan Kegelisahan Dunia: Merenungi Perang Iran, Amerika, dan Israel

Oleh: Djoko Iriandono*)

Beberapa hari terakhir, dunia kembali dipenuhi oleh berita yang membuat dada terasa sesak. Layar televisi dan media digital menampilkan gambar yang sama: langit malam yang menyala oleh kilatan rudal, sirene yang meraung, dan wajah-wajah manusia yang dipenuhi kecemasan. Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali memanas, bahkan dalam skala yang lebih terbuka dibandingkan sebelumnya.

Di balik semua itu, saya sering bertanya dalam hati: mengapa manusia begitu mudah kembali pada perang, padahal sejarah telah berulang kali mengajarkan betapa mahalnya harga sebuah konflik?

Tulisan ini bukan sekadar melihat konflik sebagai berita geopolitik, tetapi sebagai sebuah peristiwa besar yang patut direnungkan oleh kita semua—tentang kekuasaan, ketakutan, dan masa depan dunia.


Bayang-Bayang Sejarah yang Panjang

Hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel bukanlah konflik yang lahir kemarin sore. Ia memiliki akar sejarah yang panjang.

Bagi banyak orang Iran, memori tentang intervensi asing masih hidup. Pada tahun 1953, pemerintahan Iran yang dipimpin Perdana Menteri Mohammad Mossadegh digulingkan melalui operasi yang didukung Barat. Sejak saat itu, sebagian masyarakat Iran memandang Amerika sebagai simbol dominasi politik di kawasan.

Situasi berubah drastis ketika terjadi Iranian Revolution. Revolusi tersebut menggulingkan Shah Iran yang pro-Barat dan melahirkan pemerintahan Republik Islam yang secara ideologis menentang pengaruh Amerika.

Sejak saat itu, hubungan kedua negara berubah menjadi permusuhan yang berlangsung puluhan tahun.

Sementara itu, Israel memandang Iran sebagai ancaman strategis. Dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok perlawanan di Timur Tengah serta pengembangan teknologi rudal dan nuklir membuat Israel merasa berada dalam ancaman eksistensial.

Ketegangan ini selama bertahun-tahun berjalan dalam bentuk yang sering disebut para analis sebagai shadow war—perang bayangan.

Tidak selalu berupa perang terbuka, tetapi melalui sabotase, operasi intelijen, dan konflik proksi di berbagai negara.


Ketika Perang Bayangan Menjadi Terang-Terangan

Namun dunia seakan memasuki babak baru.

Serangan militer besar yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap target-target di Iran menjadi titik eskalasi yang jarang terjadi sebelumnya. Serangan tersebut menargetkan fasilitas militer, sistem pertahanan udara, dan beberapa infrastruktur strategis.

Iran pun tidak tinggal diam.

Serangan balasan dalam bentuk rudal dan drone dilaporkan diarahkan ke wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan yang sebelumnya bergerak di balik layar kini berubah menjadi konfrontasi yang lebih terbuka.

Banyak analis menilai bahwa konflik ini merupakan salah satu titik paling berbahaya dalam geopolitik Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.


Mengapa Konflik Ini Terjadi?

Jika kita mencoba melihat lebih dalam, konflik ini sebenarnya dipicu oleh beberapa faktor besar.

Pertama, isu nuklir.
Amerika dan Israel khawatir bahwa program nuklir Iran dapat berkembang menjadi senjata nuklir. Bagi Israel, yang wilayahnya relatif kecil, kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir dipandang sebagai ancaman serius terhadap keberlangsungan negara tersebut.

Kedua, persaingan pengaruh di Timur Tengah.
Iran memiliki jaringan pengaruh di beberapa negara melalui kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya. Hal ini membuat keseimbangan kekuatan regional menjadi semakin kompleks.

Ketiga, kegagalan diplomasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai perundingan mengenai program nuklir Iran sering mengalami kebuntuan. Ketika diplomasi gagal menemukan titik temu, pilihan militer sering muncul sebagai jalan yang dianggap “paling cepat”, meskipun risikonya sangat besar.


Dampak yang Tidak Hanya Terjadi di Timur Tengah

Konflik ini tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah.

Dunia saat ini terhubung dalam jaringan ekonomi yang sangat rapat. Gangguan di Timur Tengah—terutama di jalur energi—dapat memicu dampak global.

Salah satu wilayah yang sering disebut dalam analisis geopolitik adalah Strait of Hormuz.

Selat ini merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. Jika terjadi gangguan di wilayah tersebut, harga energi global bisa melonjak drastis dan memicu tekanan ekonomi di berbagai negara.

Dengan kata lain, konflik regional dapat berubah menjadi krisis global.


Dunia yang Terbelah

Reaksi dunia terhadap konflik ini pun tidak seragam.

Sebagian negara Barat mendukung langkah Amerika dan Israel dengan alasan mencegah proliferasi nuklir.

Namun banyak negara lain—terutama di kawasan Global South—menyerukan penghentian konflik dan menilai bahwa tindakan militer hanya akan memperburuk situasi.

Seruan untuk kembali ke jalur diplomasi pun semakin menguat.

Karena dalam sejarah, perang sering kali lebih mudah dimulai daripada dihentikan.


Sebuah Renungan di Tengah Geopolitik

Di tengah semua analisis strategi militer dan geopolitik, ada satu hal yang sering terlupakan: perang selalu menyisakan penderitaan manusia.

Di balik istilah “target militer”, “operasi strategis”, atau “serangan presisi”, selalu ada kehidupan manusia yang terdampak—keluarga yang kehilangan rumah, anak-anak yang kehilangan rasa aman, dan masyarakat yang harus hidup dalam ketakutan.

Di titik inilah kita kembali diingatkan pada pesan universal yang selalu relevan sepanjang zaman.

Al-Qur’an mengingatkan:

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.”
(QS. Al-Anfal: 61)

Ayat ini seakan menjadi pengingat bahwa jalan damai selalu lebih mulia dibandingkan jalan konflik.


Penutup: Dunia Membutuhkan Kebijaksanaan

Perang antara Iran, Amerika, dan Israel adalah gambaran betapa rapuhnya stabilitas dunia.

Di satu sisi, setiap negara memiliki kepentingan keamanan dan strategi geopolitik. Namun di sisi lain, dunia membutuhkan kebijaksanaan para pemimpin untuk menahan diri agar konflik tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa kemenangan dalam perang sering kali bersifat sementara, tetapi luka yang ditinggalkan dapat berlangsung sangat lama.

Dan mungkin, di tengah suara rudal dan dentuman senjata, dunia sedang menunggu satu hal yang paling langka dalam politik global: keberanian untuk memilih perdamaian.

 

Daftar Referensi

  1. Reuters.
    Netanyahu Says War Against Iran May Take 'Some Time', but Not Years.
    Reuters, 3 Maret 2026.
  2. The Guardian.
    Global South Condemns US-Israeli War with Iran.
    The Guardian, 3 Maret 2026.
  3. Atlantic Council.
    Experts React: How the US War with Iran Is Playing Out Around the Middle East.
    Atlantic Council Analysis.
  4. Council on Foreign Relations.
    Gauging the Impact of Massive U.S.-Israeli Strikes on Iran.
    CFR Background Analysis.
  5. CNBC Indonesia.
    Iran vs AS: 70 Tahun Drama Dendam, Pengkhianatan, dan Perang Bayangan.
  6. Iranian Revolution – berbagai sumber sejarah internasional dan literatur hubungan internasional.
  7. Strait of Hormuz – data perdagangan energi global dari berbagai laporan energi internasional.
  8. International Energy Agency.
    World Energy Outlook Reports (data jalur distribusi minyak global).
  9. United Nations.
    Laporan dan pernyataan diplomatik terkait stabilitas kawasan Timur Tengah.
  10. Al-Qur’an, Surah Al-Anfal ayat 61.

 

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim

Redaksi