Di Tengah Dunia yang Bergejolak, Indonesia Patut Bersyukur
Di Tengah Dunia yang Bergejolak, Indonesia Patut Bersyukur
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A*)
Ada kalanya kita terlalu sibuk melihat kekurangan negeri sendiri, sampai lupa menyadari bahwa kehidupan yang relatif aman, kesempatan untuk bekerja, anak-anak yang dapat bersekolah, serta aktivitas masyarakat yang berjalan seperti biasa merupakan nikmat yang tidak selalu dimiliki oleh semua bangsa.
Kita sering mengeluhkan harga kebutuhan pokok, mempersoalkan kebijakan pemerintah, mengkritik keadaan politik, bahkan merasa bahwa kehidupan di negeri lain tampak lebih menjanjikan. Sikap kritis tentu diperlukan. Namun, di tengah berbagai keluhan itu, sesekali kita perlu berhenti sejenak, melihat keadaan dunia secara lebih luas, lalu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita mensyukuri apa yang telah Allah SWT anugerahkan kepada bangsa ini?
Pertanyaan tersebut terasa relevan ketika kita menyaksikan berbagai gejolak yang terjadi di sejumlah belahan dunia. Ada negara yang masyarakatnya turun ke jalan menyuarakan kekecewaan. Ada bangsa yang menghadapi ketidakpastian ekonomi dan ketegangan politik. Ada pula wilayah yang terus dibayangi konflik bersenjata, sehingga rasa aman menjadi sesuatu yang sangat mahal.
Di tengah keadaan seperti itu, kabar menggembirakan tentang posisi perekonomian Indonesia semestinya menjadi momentum bagi kita untuk bersyukur. Bukan untuk merasa paling hebat, apalagi meremehkan bangsa lain, melainkan untuk menyadari bahwa nikmat yang kita terima membawa tanggung jawab yang tidak ringan.
Dunia yang Tidak Sedang Baik-Baik Saja
Cobalah kita melihat berita-berita yang muncul dalam beberapa pekan terakhir. Di Eropa, demonstrasi besar melanda sejumlah negara, termasuk Prancis, Italia, dan Albania. Persoalan biaya hidup, harga bahan bakar, perumahan, layanan publik, hingga kekecewaan terhadap pemerintah menjadi bagian dari keresahan masyarakat. Di Prancis, demonstrasi pada Oktober bahkan berkembang menjadi bentrokan dan kerusuhan di sejumlah tempat.
Pemandangan tersebut mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah negara tidak otomatis membuat seluruh penduduknya hidup sejahtera. Negara dengan perekonomian besar sekalipun dapat menghadapi persoalan serius ketika pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan secara merata, harga kebutuhan hidup semakin membebani masyarakat, dan kepercayaan publik terhadap pemerintah melemah.
Di Timur Tengah, keadaan juga jauh dari kata tenang. Yaman kembali dilanda pertempuran antara pasukan pemerintah yang diakui secara internasional dan kelompok Houthi. Pertempuran yang meningkat sejak beberapa waktu terakhir telah menimbulkan korban, memperburuk kesulitan warga sipil, dan mengancam jalur perdagangan strategis di kawasan Laut Merah.
Pada saat yang sama, ketegangan Iran dengan Amerika Serikat berdampak pada Selat Hormuz. Pada 12 Oktober 2026, ANTARA melaporkan bahwa Iran menyatakan Selat Hormuz tetap ditutup sampai persyaratan yang diajukannya untuk penyelesaian damai dipenuhi. Perkembangan ini menambah ketidakpastian terhadap jalur pelayaran dan perdagangan energi dunia.
Mengapa hal-hal tersebut perlu menjadi perhatian kita di Indonesia?
Karena dunia saat ini saling terhubung. Gejolak politik di satu kawasan dapat memengaruhi harga energi di kawasan lain. Gangguan jalur pelayaran dapat meningkatkan biaya transportasi dan distribusi. Kenaikan harga energi pada gilirannya dapat memengaruhi biaya produksi, harga pangan, serta daya beli masyarakat.
Kita mungkin tidak tinggal di negara yang sedang dilanda perang. Kita mungkin tidak perlu mengantre untuk mengungsi atau meninggalkan rumah karena serangan bersenjata. Namun, jika keadaan dunia terus memburuk, dampaknya dapat menjalar hingga ke meja makan keluarga Indonesia.
Dari sinilah kita belajar bahwa perdamaian bukan sekadar tidak adanya perang. Perdamaian juga berarti masyarakat dapat bekerja dengan tenang, anak-anak dapat belajar tanpa ketakutan, keluarga mampu memenuhi kebutuhan hidup, dan setiap orang mempunyai harapan untuk menatap hari esok.
Nikmat keamanan sering kali baru benar-benar terasa ketika kita menyaksikan orang lain kehilangan rasa aman itu.
Kabar Menggembirakan dari Indonesia
Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian tersebut, Indonesia memperoleh kabar yang patut disambut dengan rasa syukur.
Dalam pidatonya pada 22 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia berada di peringkat ketujuh perekonomian terbesar dunia berdasarkan ukuran purchasing power parity (PPP), atau paritas daya beli, dengan merujuk pada data IMF.
Kabar ini tentu menggembirakan. Bagi bangsa yang telah menempuh perjalanan panjang sejak kemerdekaan, pengakuan atas besarnya kapasitas ekonomi merupakan sesuatu yang layak diapresiasi.
Bayangkan perjalanan bangsa ini. Kita pernah melewati masa ketika kemiskinan, keterbatasan infrastruktur, rendahnya akses pendidikan, dan berbagai persoalan pembangunan menjadi tantangan besar. Kini, Indonesia memiliki pasar domestik yang luas, sumber daya alam yang beragam, tenaga kerja produktif, serta masyarakat yang terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan ekonomi dunia.
Semua itu merupakan modal yang berharga.
Namun, ada satu hal yang perlu kita pahami agar tidak salah menafsirkan kabar tersebut. Peringkat ketujuh berdasarkan PPP bukan berarti Indonesia memiliki pendapatan per kapita tertinggi ketujuh di dunia atau bahwa seluruh rakyat Indonesia telah hidup sejahtera. PPP mengukur besarnya aktivitas ekonomi dengan memperhitungkan perbedaan daya beli antarnegara. Ukuran ini berbeda dari peringkat berdasarkan nilai produk domestik bruto dengan kurs pasar.
Dengan demikian, kabar baik tersebut merupakan alasan untuk optimistis, tetapi bukan alasan untuk berhenti melakukan pembenahan.
Presiden sendiri, dalam pemberitaan mengenai pidatonya, menekankan tantangan untuk memastikan kekayaan dan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang paling membutuhkan.
Pesan itu penting. Sebab, keberhasilan ekonomi sebuah negara pada hakikatnya tidak hanya diukur dari besarnya angka dalam laporan internasional, tetapi juga dari kehidupan nyata rakyatnya.
Apakah petani memperoleh harga yang layak atas hasil panennya? Apakah guru dapat menjalankan tugas dengan tenang dan memperoleh penghidupan yang memadai? Apakah anak-anak dari keluarga sederhana mempunyai kesempatan menempuh pendidikan bermutu? Apakah para pekerja mampu memenuhi kebutuhan keluarganya? Apakah masyarakat di pelosok mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menentukan seberapa jauh kemajuan ekonomi telah berubah menjadi kesejahteraan bersama.
Kita patut berbangga jika Indonesia semakin diperhitungkan di dunia. Namun, kebanggaan itu akan jauh lebih bermakna apabila pertumbuhan ekonomi benar-benar membuka kesempatan bagi rakyat untuk hidup lebih layak.
Bersyukur Bukan Berarti Menutup Mata
Dalam ajaran Islam, rasa syukur menempati kedudukan yang sangat penting. Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa nikmat bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk disadari, dihargai, dan digunakan dengan sebaik-baiknya.
Ketika Indonesia mendapatkan kabar baik tentang posisi ekonominya, sudah sepantasnya kita mengucapkan alhamdulillahi rabbil 'alamin. Kita bersyukur karena Allah SWT telah menganugerahkan negeri yang kaya dengan sumber daya alam, memiliki wilayah yang luas, serta dihuni masyarakat dengan beragam potensi dan kemampuan.
Kita juga bersyukur karena, di tengah berbagai konflik internasional, kehidupan masyarakat Indonesia masih memiliki ruang untuk terus membangun, bekerja, belajar, dan memperbaiki masa depan.
Akan tetapi, rasa syukur tidak boleh membuat kita kehilangan daya kritis. Bersyukur bukan berarti menganggap semua persoalan telah selesai. Bersyukur juga bukan berarti kita harus diam ketika masih ada rakyat yang kesulitan memperoleh pekerjaan, anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan layak, atau keluarga yang harus berjuang keras memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Justru rasa syukur seharusnya mendorong kita untuk berbuat lebih baik.
Pemerintah yang bersyukur atas kepercayaan rakyat akan mengelola kekuasaan dengan amanah. Pejabat yang bersyukur atas jabatannya akan menjauhi penyalahgunaan wewenang. Pengusaha yang bersyukur atas keuntungan usahanya akan memperlakukan pekerja secara adil. Guru yang bersyukur atas profesinya akan mendidik dengan sepenuh hati. Sementara masyarakat yang bersyukur atas kehidupan berbangsanya akan ikut menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh kebencian.
Dengan cara seperti itulah rasa syukur berubah dari ucapan menjadi tindakan nyata.
Kemajuan Ekonomi Adalah Amanah
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita berbicara tentang kekayaan dan kemajuan bangsa: semakin besar potensi yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk mengelolanya.
Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Tantangan kita adalah memastikan kekayaan tersebut dikelola secara bijaksana, tidak terkonsentrasi pada segelintir orang, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Kita tentu berharap pertumbuhan ekonomi diikuti oleh terbukanya lapangan kerja, meningkatnya mutu pendidikan, membaiknya pelayanan kesehatan, berkurangnya kemiskinan, dan semakin kuatnya daya beli masyarakat.
Kita juga berharap pembangunan tidak hanya dinikmati oleh mereka yang tinggal di kota-kota besar, tetapi menjangkau masyarakat di desa, wilayah terpencil, dan kawasan perbatasan.
Di sinilah pentingnya menjaga amanah. Kekayaan alam bukan sekadar sumber pendapatan, melainkan titipan yang harus dikelola untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang. Jabatan bukan sekadar kehormatan, melainkan kesempatan untuk mengabdi. Pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka statistik, melainkan jalan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih bermartabat.
Bagi kita sebagai warga negara, tanggung jawab itu juga berarti bekerja dengan jujur, membayar kewajiban sesuai ketentuan, menjaga lingkungan, mendidik anak-anak dengan baik, serta tidak merusak persatuan hanya karena perbedaan pilihan politik.
Kita boleh berbeda pandangan tentang cara pemerintah mengelola negara. Kita boleh menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang dianggap kurang tepat. Namun, kritik seharusnya menjadi bagian dari ikhtiar memperbaiki bangsa, bukan alasan untuk saling membenci.
Bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah memiliki masalah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghadapi masalah dengan akal sehat, kejujuran, persatuan, dan kemauan untuk memperbaiki diri.
Jangan Hanya Bangga, Jadilah Bagian dari Kemajuan
Kabar bahwa Indonesia berada di peringkat ketujuh ekonomi dunia berdasarkan PPP semestinya membangkitkan optimisme. Akan tetapi, optimisme tidak cukup jika hanya berhenti pada kebanggaan ketika mendengar pidato atau membaca berita.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apa yang dapat kita lakukan agar Indonesia semakin baik?
Tidak semua orang harus menjadi pejabat. Tidak semua orang harus menjadi pengusaha besar. Setiap orang memiliki ruang pengabdian sesuai dengan kemampuan dan kedudukannya.
Seorang guru dapat berkontribusi dengan melahirkan generasi yang cerdas dan berkarakter. Seorang orang tua dapat membantu bangsa dengan membesarkan anak-anak yang jujur dan bertanggung jawab. Seorang pengurus masjid dapat menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, kepedulian sosial, dan pemberdayaan umat. Seorang pemimpin organisasi dapat membangun tata kelola yang transparan dan melayani.
Bahkan, seseorang yang memilih untuk bekerja dengan jujur, tidak mengambil hak orang lain, dan membantu tetangganya yang sedang kesulitan telah ikut menyumbangkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan bangsa.
Kemajuan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau besarnya investasi. Kemajuan juga tumbuh dari jutaan tindakan baik yang dilakukan masyarakat setiap hari.
Mungkin kita tidak mampu menghentikan perang di Timur Tengah. Kita juga tidak dapat menyelesaikan persoalan ekonomi negara-negara Eropa. Namun, kita dapat menjaga lingkungan terdekat kita agar tetap damai, saling menghormati, dan penuh kepedulian.
Kita dapat memulai dari keluarga, sekolah, tempat kerja, masjid, dan lingkungan masyarakat. Sebab, bangsa yang damai dibangun oleh manusia-manusia yang bersedia merawat kedamaian dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup: Syukur yang Melahirkan Tanggung Jawab
Ketika melihat dunia yang sedang bergejolak dan mendengar kabar menggembirakan mengenai perekonomian Indonesia, ada dua sikap yang perlu berjalan beriringan dalam diri kita: bersyukur atas nikmat yang telah diterima dan bertanggung jawab atas masa depan yang harus diperjuangkan.
Kita tidak perlu menutup mata terhadap kekurangan bangsa sendiri. Namun, kita juga tidak sepatutnya terus-menerus memandang negeri ini hanya dari sisi kelemahannya.
Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Kemiskinan belum sepenuhnya teratasi, kesenjangan masih perlu diperkecil, kualitas pendidikan harus terus ditingkatkan, dan kesempatan ekonomi perlu dibuka seluas-luasnya. Semua itu harus diakui dan diperbaiki dengan sungguh-sungguh.
Namun, di atas semua tantangan tersebut, kita memiliki alasan untuk berharap. Kita memiliki negeri yang kaya, masyarakat yang tangguh, dan kesempatan untuk terus membangun kehidupan yang lebih baik.
Marilah kita mensyukuri nikmat Allah SWT atas tanah air ini. Kita rawat perdamaian, kita jaga persatuan, kita dukung setiap upaya yang membawa kemaslahatan, dan kita sampaikan kritik secara bijaksana demi perbaikan bersama.
Jangan sampai kita baru menyadari mahalnya keamanan setelah menyaksikan perang. Jangan sampai kita baru menghargai kestabilan setelah melihat negara lain dilanda kekacauan. Dan jangan sampai kita baru mensyukuri kemajuan setelah kesempatan untuk membangun terlewatkan begitu saja.
Kabar baik tentang Indonesia seharusnya tidak hanya membuat kita bangga menjadi bangsa Indonesia, tetapi juga membuat kita semakin sadar akan tanggung jawab untuk menjaganya.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan keberkahan kepada bangsa Indonesia, menjaga negeri ini dari perpecahan, melindungi rakyatnya dari kesulitan, serta membimbing para pemimpinnya agar mengelola amanah dengan adil dan bijaksana.
Semoga Indonesia bukan hanya menjadi bangsa yang besar dalam ukuran ekonomi, melainkan juga bangsa yang besar dalam kejujuran, keadilan, kepedulian, dan kemanusiaan.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Semoga rasa syukur kita kepada Allah SWT senantiasa melahirkan ikhtiar untuk menjadikan Indonesia lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera bagi seluruh rakyatnya.
*) Kominfo BPIC Kaltim