Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.

Doa Memohon Hikmah: Ringkasan dari Mabit Spesial 10 Ramadhan 1447

Oleh: Djoko Iriandono*)

Tadi malam, tanpa sengaja saya menemukan sebuah video kajian yang begitu menyejukkan hati. Video tersebut adalah rekaman Mabit Spesial 10 Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan oleh Daarut Tauhiid Bandung, diasuh oleh Aa Gym.

Dalam acara tersebut, penceramah yang menyampaikan tausiyah adalah Ustad Aam Amiruddin, dengan host langsung Aa Gym sendiri. Materi yang disampaikan terasa sederhana, tetapi sarat makna. Intinya adalah tentang doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diabadikan Allah dalam Al-Qur'an, Surah Asy-Syu’ara ayat 83–85.

Tulisan ini adalah ringkasan atau inti sari dari uraian panjang yang disampaikan oleh penceramah. Tentu tidak akan mampu mewakili keseluruhan kedalaman penjelasan beliau, namun semoga cukup menjadi pengingat terutama bagi diri saya pribadi dan siapa pun yang membaca artikel ini.


Doa yang Penuh Kedalaman

Allah mengabadikan doa Nabi Ibrahim sebagai berikut:

Rabbi hab li hukmaw wa al-hiqni bis-salihin

Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. (QS. Asy-Syu’ara: 83)

“Waj’al li lisana sidqin fil-akhirin.”

Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. (QS. Asy-Syu’ara: 84)

“Waj’alni miw warasati jannatin-na’im.”

Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan. (QS. Asy-Syu’ara: 85)

Menurut penjelasan yang disampaikan, doa ini bukan sekadar rangkaian kalimat indah, tetapi peta jalan kehidupan seorang mukmin.


1. Hikmah: Ilmu yang Mendalam

Kata “hukman” dalam ayat tersebut sering dimaknai sebagai hikmah. Hikmah bukan hanya pengetahuan, melainkan ilmu yang mendalam—ilmu yang membuat seseorang mampu melihat persoalan dengan jernih dan proporsional.

Banyak orang memiliki informasi, tetapi tidak semua memiliki kedalaman. Di era media sosial, orang mudah berbicara, cepat berkomentar, bahkan tergesa-gesa menyimpulkan. Hikmah membuat seseorang tidak reaktif, tetapi reflektif.

Ilmu yang mendalam melahirkan ketenangan dalam bersikap.


2. Hikmah: Ilmu yang Diamalkan

Hikmah juga berarti ilmu yang diamalkan. Ilmu tanpa amal hanyalah beban. Bahkan bisa menjadi hujjah yang memberatkan di hadapan Allah.

Ketika Nabi Ibrahim memohon hikmah, itu berarti beliau memohon kemampuan untuk mengamalkan ilmu yang Allah anugerahkan. Sebab hakikat ilmu bukan pada banyaknya hafalan, tetapi pada perubahan sikap dan akhlak.

Karena itu doa tersebut dilanjutkan dengan:
“wa alhiqni bish-shalihin” — gabungkan aku dengan orang-orang saleh.

Seolah-olah ada pesan bahwa ilmu yang benar akan mengantarkan seseorang kepada lingkungan yang benar. Amal saleh tidak bisa berdiri sendiri; ia membutuhkan kebersamaan dengan orang-orang yang juga menjaga kebaikan.


3. Hikmah: Pelajaran dari Sebuah Peristiwa

Penjelasan yang sangat menyentuh adalah bahwa hikmah juga berarti kemampuan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.

Hidup tidak selalu mudah. Ada ujian, ada kritik, ada kegagalan. Namun orang yang berhikmah tidak hanya mengalami kejadian—ia memetik makna darinya.

Kegagalan menjadi bahan evaluasi;
Kritik menjadi sarana introspeksi; dan
Keberhasilan menjadi alasan untuk bersyukur, bukan untuk sombong.

Hikmah menjadikan setiap episode kehidupan sebagai guru.


Lisan yang Baik dan Warisan Surga

Setelah memohon hikmah dan kesalehan, Nabi Ibrahim berdoa:

“Waj’al li lisana sidqin fil-akhirin.”

Beliau memohon agar dikenang dengan kebaikan oleh generasi setelahnya. Bukan meminta popularitas, tetapi reputasi yang jujur. Nama baik yang lahir dari integritas, bukan pencitraan.

Lalu doa itu ditutup dengan:

“Waj’alni miw warasati jannatin na’im.”

Inilah puncaknya. Semua hikmah, semua amal, semua nama baik—akhirnya bermuara pada satu tujuan: menjadi ahli waris surga.

Susunan doa ini begitu indah dan sistematis:
Dimulai dari kualitas diri (hikmah),
Berlanjut pada kualitas pergaulan dan reputasi (orang saleh dan lisan yang baik),
Berujung pada kualitas akhir kehidupan (surga).


Refleksi Pribadi

Mendengarkan kajian tersebut membuat saya merenung. Selama ini kita mungkin sering meminta kelancaran rezeki, kesehatan, atau kemudahan urusan. Namun jarang sekali kita secara sadar memohon hikmah.

Padahal, ketika Allah memberikan hikmah, Dia sedang memberikan “kunci” untuk menghadapi seluruh aspek kehidupan.

Tulisan ini hanyalah ringkasan dari penjelasan panjang yang disampaikan dalam Mabit tersebut. Namun inti pesannya sangat kuat: sebelum meminta banyak hal kepada Allah, mintalah hikmah.

Maka semoga doa Nabi Ibrahim ini menjadi doa yang terus kita ulang dalam sujud dan munajat kita:

Ya Allah, anugerahkan kepada kami hikmah—ilmu yang mendalam, ilmu yang kami amalkan, dan kemampuan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Satukan kami dengan orang-orang saleh. Jadikan nama kami dikenang dalam kebaikan, dan jadikan kami pewaris surga-Mu yang penuh kenikmatan.

Semoga Allah tidak hanya menjadikan kita orang yang tahu, tetapi orang yang bijak. Tidak hanya cerdas, tetapi juga berhikmah. Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bukan sekadar pengetahuan, melainkan kedalaman, pengamalan, dan kematangan dalam memaknai kehidupan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

 

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim

 

Redaksi