Oleh: Djoko Iriandono*)
Artikel ini ditulis untuk Memeringati Hari Guru Nasional dan HUT ke-80 PGRI, 25 November 2025.
Setiap tanggal 25 November, bangsa Indonesia memeringati Hari Guru Nasional, yang tahun ini bertepatan dengan hari ulang tahun ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) . Momen bersejarah ini berakar dari Kongres Guru Indonesia pada 24-25 November 1945 di Surakarta, yang melahirkan PGRI sebagai simbol persatuan para pendidik dalam mendukung kemerdekaan bangsa . Di usianya yang kedelapan puluh, di tengah gelombang disrupsi teknologi, profesi guru kembali berada pada titik transformasi yang paling menentukan dalam sejarah pendidikan modern.
Revolusi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menggeser paradigma pendidikan dari yang serba tahu menjadi serba tersedia. Dalam hitungan detik, siswa dapat mengakses hampir seluruh pengetahuan umat manusia. Pada titik inilah, peran guru mengalami evolusi mendasar: dari fungsi tradisional sebagai "penyampai ilmu" menuju peran yang lebih strategis sebagai "pelatih kecerdasan"—pembimbing yang melatih siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan bernaluri kemanusiaan di tengah banjir informasi.
1. Tantangan Guru di Era Disrupsi Digital: Lebih dari Sekadar Teknologi
Transformasi peran guru ini tidak berjalan tanpa tantangan. Setidaknya ada tiga tantangan besar yang dihadapi para pendidik di era AI.
Pertama, penguasaan teknologi yang berkecepatan tinggi. Guru tidak hanya dituntut menguasai platform belajar digital, tetapi juga memahami prinsip kerja AI untuk membimbing siswa memanfaatkannya secara bertanggung jawab . Tantangan ini diperberat oleh ketimpangan kualitas dan akses teknologi antara daerah perkotaan dan pedesaan .
Kedua, perubahan kurikulum yang masif. Kurikulum 2025 menekankan pada kompetensi abad 21, pendidikan karakter, literasi, numerasi, serta pembelajaran berbasis proyek dan digital, yang menuntut penyesuaian metode mengajar secara signifikan .
Ketiga, ancaman terhadap kemampuan analitis. Sebagaimana diingatkan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, AI yang tidak digunakan secara kritis berpotensi menurunkan kemampuan analitis dan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills) mahasiswa . Inilah tantangan terbesar yang harus dijawab oleh guru.
2. Dari Penyampai Konten Menjadi Pelatih Kecerdasan: Sebuah Revolusi Peran
Dalam menghadapi tantangan tersebut, inti transformasi guru terletak pada pergeseran dari pusat pengetahuan menjadi fasilitator pembelajaran.
- Sebagai Fasilitator dan Pelatih Kecerdasan, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, tetapi membimbing siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan, menyaring informasi, dan membangun pemahaman mereka sendiri melalui diskusi dan proyek . Mereka melatih "otak" AI yang cerdas secara data untuk juga memiliki "hati" yang beretika dan empati.
- Sebagai Desainer Pengalaman Belajar, guru menciptakan lingkungan belajar yang memicu rasa ingin tahu. Mereka merancang project-based learning yang kontekstual, menggunakan gamifikasi untuk membuat belajar lebih menyenangkan, dan memanfaatkan AI untuk menciptakan pembelajaran yang personal sesuai dengan kecepatan dan minat masing-masing siswa .
- Sebagai Teladan Karakter dan Nilai, di saat AI dapat menyediakan jawaban, guru menanamkan nilai. Peran guru sebagai penjaga nilai-nilai luhur menjadi semakin krusial, terutama dalam menanamkan integritas dan kejujuran—fondasi yang sedang menghadapi "lampu kuning" serius di dunia pendidikan nasional . Tema Hari Guru Nasional 2025 dari Kementerian Agama, "Merawat Semesta dengan Cinta", menegaskan kembali peran guru dalam menanamkan kepedulian, empati, dan tanggung jawab spiritual kepada peserta didik .
Guru bukan hanya mengisi pikiran, tetapi menumbuhkan kesadaran dan meluruskan jalan berpikir. Dalam pandangan Islam, guru adalah warasatul anbiya — pewaris para nabi .
3. Dukungan Sistemik: Kebijakan yang Memanusiakan dan Memerdekakan
Transformasi individu guru mustahil terwujud tanpa dukungan sistemik yang kuat. Pemerintah menunjukkan komitmen melalui beberapa kebijakan strategis.
- Peningkatan Kesejahteraan: Pada tahun 2025, pemerintah mengalokasikan tambahan anggaran Rp10,4 triliun, yang sebagian di antaranya digunakan untuk Program Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi 185.096 guru non-PNS dan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi 503.171 guru . Guru yang sejahtera adalah fondasi untuk membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas.
- Program Guru Penggerak: Program ini melatih guru untuk menjadi pemimpin inovatif dan mentor bagi rekan sejawatnya, dengan fokus pada metode pengajaran modern, pengembangan karakter, dan inovasi digital .
- Penguatan Pendidikan Vokasi dan Infrastruktur: Pemerintah tidak hanya fokus pada guru, tetapi juga pada ekosistemnya, dengan mengalokasikan dana untuk sarana dan prasarana Pendidikan Tinggi Vokasi serta teaching factory di SMK . Pembangunan 7.000 Sekolah Terintegrasi yang ditargetkan mulai 2026 juga menjadi wujud komitmen menciptakan lingkungan belajar yang modern dan merata .
4. Menyambut 80 Tahun PGRI dengan Semangat Baru: Kolaborasi untuk Masa Depan
Memasuki usia 80 tahun, peran PGRI sebagai wadah pemersatu guru semakin vital. PGRI ditantang untuk tidak hanya berkutat pada urusan klasik, tetapi memimpin terobosan dalam mempersiapkan anggotanya menghadapi gelombang transformasi pendidikan di era digital. Kolaborasi antara pemerintah, PGRI, lembaga pendidikan, dan komunitas menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem yang mendukung para guru .
Dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk orang tua yang menjadi mitra guru di rumah, sangat dibutuhkan untuk memastikan transformasi ini berjalan efektif dan menyeluruh .
Kesimpulan: Guru Tetap Manusiawi di Dunia yang Semakin Digital
Revolusi AI tidak akan menggantikan guru, tetapi justru mengembalikan guru pada misi kemanusiaannya yang paling hakiki. Teknologi boleh saja canggih, tetapi sentuhan manusia seorang guru dalam membangkitkan kepercayaan diri, membimbing melalui kegagalan, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma.
Di hari yang istimewa ini, dengan tema "Guru Hebat, Indonesia Kuat" , marilah kita memberikan penghargaan yang tulus kepada semua guru. Penghargaan itu tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga dengan komitmen bersama untuk mendukung mereka melewati masa transisi yang penuh tantangan ini. Selamat Hari Guru Nasional 2025 dan selamat HUT ke-80 PGRI. Terima kasih, Ibu dan Bapak Guru, para pelatih kecerdasan dan penjaga peradaban.
*) Kominfo BPIC