Oleh: Djoko Iriandono*)
Anda ingin membaca artikel lainnya, Klik 
Ikuti Facebook Islamic Center Kaltim, Klik

Menegakkan wibawa melalui amarah adalah pendekatan yang tidak efektif dan kontraproduktif. Orang yang bijaksana memahami bahwa otoritas sejati dibangun melalui rasa hormat, empati, dan komunikasi yang baik, bukan dengan kemarahan. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menemukan atasan/pemimpin yang mencoba menegakkan wibawa mereka dengan menggunakan amarah.
Strategi amarah mereka pilih dengan maksud agar terlihat berwibawa dan ditakuti oleh para bawahannya. Artikel ini akan membahas pentingnya menghindari amarah dalam menegakkan wibawa yang Penulis persembahkan bagi para calon pemimpin diberbagai level organisasi terutama bagi yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam hal memimpin.
Keterbatasan Amarah dalam Menegakkan Wibawa
Amarah sering kali muncul sebagai respons terhadap situasi yang tidak diinginkan. Marah bukanlah sesuatu yang dilarang jika dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat. Terkadang memang ada bawahan yang baru bisa bekerja dengan baik, rajin dan sesuai dengan aturan serta tujuan organisasi jika mereka diawasi atau bahkan dimarahi. Akan tetapi menjadi kontra produktif jika kemarahan dilakukan pada tempat dan waktu yang tidak tepat. Apalagi jika amarah itu dipakai sebagai strategi untuk menegakkan wibawa sang atasan.
Jika amarah dipergunakan untuk menegakkan wibawa maka akan dapat menyebabkan:
Pendekatan Bijaksana dalam Menegakkan Wibawa
Wibawa bukanlah tentang menunjukkan kekuatan atau kekerasan, melainkan tentang menunjukkan kebijaksanaan, kesabaran, dan kekuatan karakter. Untuk membangun dan mempertahankan wibawa tanpa mengandalkan amarah, perlu pertimbangkan langkah-langkah berikut:
Dampak Negatif Menegakkan Wibawa dengan Amarah
Menegakkan wibawa melalui amarah tidak hanya tidak efektif, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain:
Studi Kasus: Kepemimpinan dalam Pendidikan
Dalam konteks pendidikan, seorang pendidik yang menegakkan disiplin dengan amarah mungkin mendapatkan kepatuhan sementara dari siswa. Namun, pendekatan ini dapat menyebabkan siswa merasa takut, tertekan, dan tidak termotivasi untuk belajar. Sebaliknya, pendidik yang menggunakan pendekatan empatik dan komunikatif cenderung menciptakan lingkungan belajar yang positif, di mana siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk berprestasi.
Strategi Alternatif untuk Menegakkan Wibawa
Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk menegakkan wibawa tanpa menggunakan amarah:
Pentingnya Kewibawaan dalam Konteks Pendidikan
Kewibawaan seorang guru memainkan peran penting dalam interaksi pedagogik. Guru yang berwibawa mampu menciptakan rasa patuh tanpa paksaan, sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan efektif. Wibawa guru dapat dioptimalkan melalui penegakan tata tertib, keharmonisan antara siswa dan guru, peningkatan kualitas interaksi pedagogik, serta pemenuhan fasilitas, sarana, dan prasarana.
Menegakkan wibawa melalui amarah adalah tanda kelemahan, dan kebodohan bukan kekuatan. Pendekatan yang bijaksana dan penuh pengendalian diri akan lebih efektif dalam membangun otoritas yang dihormati dan langgeng. Dengan mengedepankan empati, komunikasi efektif, dan konsistensi, seseorang dapat menegakkan wibawa tanpa harus mengandalkan amarah, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan produktif.
*) Kasi Kominfo BPIC