Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.

Hari Ke-7 Ramadan, Masjid Raya Baitul Muttaqien Hadirkan Kajian Hikmah Sahur dan Makna Imsak

Samarinda – Memasuki hari ke-7 pelaksanaan ibadah puasa Ramadan, suasana religius semakin terasa di Masjid Raya Baitul Muttaqien yang berada di kawasan Islamic Center Kalimantan Timur. Seperti tahun-tahun sebelumnya, takmir masjid kembali menggelar kajian rutin ba’da sholat dhuhur yang menjadi magnet spiritual bagi jamaah dari berbagai penjuru Kota Samarinda.

Pada kesempatan kali ini, takmir menghadirkan Habib Muhammad Bin Mudhor Al Attos sebagai narasumber dengan tema “Hikmah Sahur dan Pengertian Imsak.” Kehadiran beliau disambut antusias oleh jamaah yang memenuhi saf-saf masjid, mencerminkan semangat menuntut ilmu di bulan penuh berkah ini.

Tiga Hikmah Sahur: Lebih dari Sekadar Mengisi Energi

Dalam pemaparannya, Habib Mudhor Al Atos menegaskan bahwa sahur bukan sekadar aktivitas makan sebelum terbit fajar, melainkan ibadah yang sarat nilai spiritual. Beliau menyampaikan setidaknya ada tiga manfaat utama sahur.

Pertama, terdapat keberkahan di dalamnya.

Beliau mengutip sabda Rasulullah ﷺ:

Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Keberkahan yang dimaksud, jelas beliau, bukan hanya pada kekuatan fisik untuk menjalani puasa, tetapi juga keberkahan waktu, keberkahan niat, dan keberkahan dalam mengikuti tuntunan Nabi.

Kedua, menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ.

Sahur adalah identitas ibadah puasa umat Islam. Dalam hadits lain disebutkan:

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.”

(HR. Muslim)

Dengan bersahur, seorang Muslim tidak hanya mempersiapkan diri secara fisik, tetapi juga meneguhkan jati diri sebagai pengikut Nabi Muhammad ﷺ.

Ketiga, menjalankan perintah Rasulullah ﷺ.

Habib Mudhor menekankan bahwa setiap perintah Nabi mengandung kebaikan yang mungkin tidak seluruhnya mampu dijangkau oleh logika manusia. Ketaatan itulah yang melahirkan pahala dan kedekatan dengan Allah SWT.

Memahami Imsak: Menahan Diri Secara Menyeluruh

Selain membahas hikmah sahur, kajian juga mengupas makna imsak. Secara bahasa, imsak berarti menahan diri. Namun dalam konteks puasa, imsak tidak hanya dimaknai sebagai menahan diri dari makan dan minum, melainkan juga menahan hawa nafsu serta segala hal yang dapat mengurangi nilai ibadah puasa.

Habib Mudhor mengaitkan hal ini dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama puasa adalah takwa, yang tidak mungkin tercapai tanpa kemampuan menahan diri—baik dari hal-hal yang membatalkan puasa maupun dari perbuatan yang merusak nilai spiritualnya.

Beliau juga mengingatkan hadits Rasulullah ﷺ:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”

(HR. Bukhari)

Pesan tersebut mempertegas bahwa imsak sejatinya adalah pengendalian diri secara total: lisan, pandangan, pendengaran, hingga hati.

Ramadan sebagai Madrasah Pengendalian Diri

Kajian ba’da dhuhur hari ke-7 ini menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah madrasah ruhani. Sahur mengajarkan disiplin dan ketaatan, sementara imsak melatih kesabaran dan pengendalian diri. Keduanya berpadu membentuk pribadi yang lebih bertakwa.

Kegiatan kajian rutin ini menjadi salah satu ciri khas Ramadan di Masjid Raya Baitul Muttaqien. Selain memperdalam pemahaman agama, kajian ini juga mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat Samarinda.

Menjelang akhir kajian, jamaah tampak khusyuk menyimak nasihat penutup dari narasumber: agar setiap detik Ramadan dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, karena belum tentu kita dipertemukan kembali dengan bulan yang penuh ampunan ini di tahun mendatang.

Dengan semangat hari ke-7 Ramadan, kajian ini menjadi penguat bahwa ibadah puasa bukan hanya rutinitas tahunan, melainkan perjalanan menuju ketakwaan yang hakiki.

By. Admin

Redaksi