Inner Journey
INNER JOURNEY
Perjalanan Hidup Sang Koruptor di Dunia dan Akhirat
Oleh:
Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag.
Dosen Pascasarjana UINSI Samarinda, Maheswara Utama BPIP RI, Asesor LAMDIK RI, Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur
Ketika Kekayaan Menjadi Jalan Menuju Kehampaan
Ada perjalanan yang terlihat sangat indah dari luar, tetapi sesungguhnya penuh luka di dalam. Ada manusia yang membangun rumah besar, mengendarai kendaraan mewah, memiliki jabatan tinggi, dan mengumpulkan kekayaan berlimpah. Namun, di balik semua itu, terdapat perjalanan batin yang mungkin semakin jauh dari ketenangan.
Inilah yang dapat disebut sebagai inner journey, perjalanan ke dalam diri manusia untuk menemukan siapa dirinya, untuk apa hidupnya, dari mana hartanya diperoleh, dan ke mana seluruh pencapaiannya akan dibawa.
Dalam perspektif pendidikan Islam, perjalanan hidup seorang koruptor bukan sekadar cerita tentang seseorang yang mengambil uang negara atau menyalahgunakan kekuasaan. Korupsi merupakan persoalan moral, spiritual, sosial, hukum, dan kemanusiaan.
Ketika seseorang mengambil sesuatu yang bukan haknya, yang dirusak bukan hanya keuangan negara, tetapi juga amanah, kepercayaan masyarakat, dan martabat dirinya sendiri. Allah SWT mengingatkan: وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ “Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.”(QS.
Al-Baqarah: 188). Ayat tersebut memberikan pesan fundamental bahwa harta tidak hanya berkaitan dengan jumlah, tetapi juga asal-usul dan cara memperolehnya.
Dari Amanah Menuju Godaan
Perjalanan seorang koruptor sering kali tidak dimulai dari sebuah kejahatan besar. Ia dapat bermula dari kompromi kecil. Awalnya mungkin hanya menerima pemberian. Kemudian menerima fasilitas. Setelah itu memanfaatkan jabatan. Berikutnya melakukan manipulasi.
Lama-kelamaan muncul pembenaran dalam diri: "Semua orang juga melakukan." "Saya hanya mengambil sedikit." "Saya sudah bekerja keras." "Ini bukan uang pribadi, hanya uang negara." Di sinilah bahaya korupsi bermula: ketika hati mulai terbiasa membenarkan sesuatu yang salah.
Dosa yang pada awalnya terasa berat dapat menjadi ringan ketika dilakukan berulang-ulang. Jabatan yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi kesempatan memperkaya diri. Kekuasaan yang seharusnya digunakan untuk melayani berubah menjadi instrumen kepentingan pribadi.
Maka, persoalan terbesar bukan hanya tangan yang mengambil, tetapi hati yang kehilangan rasa takut kepada Allah dan kehilangan rasa malu kepada manusia.
Kekayaan Bertambah, Ketenangan Berkurang
Ironisnya, seseorang mungkin berhasil mengumpulkan kekayaan melalui korupsi, tetapi belum tentu berhasil membeli ketenangan. Rumah dapat dibeli. Mobil dapat dibeli. Jabatan dapat dikejar. Kemewahan dapat dipamerkan. Tetapi ketenangan hati tidak dapat dibeli dengan uang haram.
Semakin banyak yang disembunyikan, semakin berat beban batin yang harus dipikul. Senyum dapat ditampilkan di hadapan publik, tetapi hati manusia tetap menjadi ruang yang paling sulit untuk dibohongi.
Karena itu, inner journey seorang koruptor sebenarnya merupakan perjalanan dari keserakahan menuju kegelisahan, dari kekuasaan menuju ketakutan, dan pada akhirnya dari kemegahan dunia menuju pertanggungjawaban akhirat.
Ketika Dunia Tidak Lagi Bisa Menyelamatkan
Ada satu titik dalam kehidupan manusia ketika semua simbol kekuasaan menjadi tidak berarti. Jabatan berakhir. Kekayaan ditinggalkan. Koneksi sosial terputus. Popularitas menghilang. Tubuh kembali menjadi tanah. Al-Qur'an mengingatkan: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali 'Imran: 185). Kematian menjadi batas antara perjalanan dunia dan perjalanan menuju kehidupan akhirat. Pada saat itu, manusia tidak lagi ditanya berapa banyak rumah yang dimilikinya, berapa mobil yang dikumpulkannya, atau seberapa tinggi jabatan yang pernah didudukinya.
Pertanyaan moral yang jauh lebih mendasar adalah: bagaimana amanah itu dijalankan? Dari mana harta diperoleh? Kepada siapa hak dikembalikan? Dan berapa banyak manusia yang dirugikan oleh keserakahannya?
Dari Gedung Pengadilan Menuju Pengadilan Akhirat
Hukum positif memberikan mekanisme pertanggungjawaban terhadap tindak pidana korupsi. Pengadilan dunia memiliki hakim, jaksa, penasihat hukum, bukti, saksi, dan putusan. Namun dalam perspektif keimanan, terdapat pengadilan yang lebih luas, yaitu pengadilan Allah SWT.
Allah berfirman: فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8).
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada perbuatan manusia yang benar-benar hilang tanpa pertanggungjawaban. Jika di dunia seseorang dapat menyembunyikan transaksi, memanipulasi dokumen, atau menghindari pemeriksaan, maka dalam perspektif akhirat tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.
Korupsi dan Hak Orang Lain
Korupsi juga harus dilihat sebagai persoalan hak manusia. Ketika anggaran pendidikan dikorupsi, ada peserta didik yang kehilangan kesempatan mendapatkan fasilitas yang layak. Ketika dana kesehatan diselewengkan, ada masyarakat yang mungkin kehilangan akses pelayanan.
Ketika pembangunan infrastruktur dikorupsi, masyarakat menerima kualitas pembangunan yang tidak sesuai dengan haknya. Dengan demikian, korupsi bukan hanya persoalan mengambil uang. Korupsi dapat berarti mengambil kesempatan hidup orang lain. Di sinilah konsep amanah dalam Islam menjadi sangat penting.
Rasulullah SAW bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Kekuasaan bukanlah kemuliaan apabila tidak disertai amanah. Jabatan bukanlah kehormatan apabila digunakan untuk memperkaya diri.
Kekayaan bukanlah keberhasilan apabila diperoleh dengan merampas hak orang lain.
Inner Journey: Dari Ego Menuju Kesadaran
Karena itu, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan pendekatan hukum. Pendidikan juga harus membangun inner journey, yaitu perjalanan kesadaran dari dalam diri manusia.
Anak didik perlu dibentuk agar memahami: jujur sebelum pintar, amanah sebelum berkuasa, malu sebelum melakukan kesalahan, dan takut kepada Allah sebelum takut kepada hukuman manusia. Pendidikan antikorupsi harus bergerak dari sekadar pengetahuan menuju pembentukan karakter.
Peserta didik harus memahami bahwa integritas bukan slogan. Integritas adalah keberanian untuk tetap benar ketika tidak ada orang yang melihat.
Masih Ada Pintu Taubat
Namun, kisah sang koruptor tidak harus selalu berakhir dalam keputusasaan. Islam memberikan ruang bagi manusia untuk kembali. Allah SWT berfirman: إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53). Taubat bukan sekadar menangis karena tertangkap.
Taubat adalah perubahan orientasi kehidupan. Jika seseorang telah mengambil hak orang lain, maka kesadaran moral menuntut adanya upaya mengembalikan hak tersebut, memperbaiki kerusakan, menghentikan perbuatan, dan sungguh-sungguh tidak mengulanginya.
Dengan demikian, perjalanan batin yang semula bergerak menuju keserakahan masih dapat diarahkan kembali menuju kejujuran, amanah, penyesalan, perbaikan, dan pengabdian.
Penutup: Pilih Jalan Sebelum Perjalanan Berakhir
Sesungguhnya setiap manusia sedang melakukan perjalanan. Kita lahir tanpa membawa harta. Kita tumbuh mengejar cita-cita. Kita bekerja mencari penghidupan. Kita memperoleh amanah. Kita mengumpulkan pengalaman. Dan akhirnya kita meninggalkan dunia.
Pertanyaannya bukan seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa benar cara kita mengumpulkannya. Koruptor mungkin dapat menyembunyikan harta dari manusia, tetapi tidak dari Allah. Ia mungkin dapat menghindari pertanyaan manusia, tetapi tidak dapat menghindari pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Maka, inner journey sejatinya adalah perjalanan dari harta menuju makna, dari kekuasaan menuju amanah, dari ego menuju kesadaran, dan dari kehidupan dunia menuju pertanggungjawaban akhirat.
Sebelum perjalanan itu berakhir, setiap manusia masih memiliki kesempatan untuk bertanya kepada dirinya sendiri: “Apa yang sedang saya kejar?” “Dari mana harta yang saya miliki?” “Siapa yang mungkin dirugikan oleh keputusan saya?” “Apakah jabatan yang saya pegang menjadi amanah atau justru menjadi jalan menuju keserakahan?” Dan pertanyaan yang paling mendalam: “Ketika seluruh kekuasaan dunia saya tinggalkan, bekal apa yang akan saya bawa menghadap Allah SWT?” Karena pada akhirnya, perjalanan terbesar manusia bukanlah perjalanan menuju kekayaan, jabatan, atau popularitas.
Perjalanan terbesar adalah perjalanan kembali kepada Allah SWT. Allahu a’lam.