Oleh: Djoko Iriandono*)
Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi mereka (Eleanor Roosevelt). Pernyataan ini mungkin terdengar seperti klise, tetapi jika direnungkan lebih dalam, ungkapan ini menyimpan kekuatan yang luar biasa. Mimpi adalah awal dari segala pencapaian besar dalam hidup. Namun, sering kali mimpi dianggap hanya milik orang-orang besar, mereka yang sudah memiliki segalanya, atau mereka yang “ditakdirkan” untuk sukses. Faktanya, mimpi tidak mengenal batas.
Setiap orang memiliki hak untuk bermimpi, termasuk mereka yang hidup dalam keterbatasan. Mimpi tidak memandang latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, atau usia. Bahkan, terkadang mimpi besar justru lahir dari mereka yang berada di bawah bayang-bayang kemustahilan. Siapa saja boleh bermimpi, dan siapa saja berhak mewujudkannya. Yang terpenting adalah kepercayaan diri dan usaha tanpa henti.
Presiden pertama negara kesatuan republik Indonesia, Ir. Soekarno, pernah mengatakan “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit! Jika engkau jatuh, setidaknya engkau akan jatuh diantara bintang-bintang”. Oleh sebab itu siapapun kita, bagaimanapun kondisi kita jangan pernah takut untuk bermimpi.
Mimpi Tak Mengenal Status.
Salah satu kisah nyata yang menggambarkan kekuatan mimpi ini datang dari seorang marbot masjid, yang kehidupannya berubah karena impian yang terus ia pelihara di dalam hatinya.
Kisah ini sering kita dengar saat musim haji tiba. Seorang marbot masjid di sebuah kota kecil di Indonesia yang memiliki mimpi sederhana, tetapi besar bagi dirinya yaitu pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Ia adalah seorang pria sederhana, dengan penghasilan yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk menabung biaya perjalanan ke Mekkah. Namun, dalam keterbatasannya, ia tidak pernah berhenti bermimpi dan berdo’a.
Setiap hari, setelah menyelesaikan tugas membersihkan masjid, ia menyempatkan diri untuk berdoa dan memohon kepada Allah agar suatu hari diberikan kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya ke Tanah Suci. Ia tahu bahwa secara logika, keinginannya itu sangat sulit terwujud. Namun, ia tetap yakin dan percaya bahwa tidak ada yang mustahil jika Allah berkehendak.
Pertemuan Tak Terduga
Pada suatu hari, seorang pengusaha dari kota lain mampir ke masjid tempat marbot tersebut bekerja. Pengusaha itu sedang dalam perjalanan bisnis dan singgah untuk melaksanakan sholat. Setelah sholat berjamaah, pengusaha itu secara kebetulan duduk di samping marbot tadi. Entah apa yang mendorongnya, pengusaha itu memulai percakapan dengan marbot tersebut.
Dalam perbincangan singkat itu, pengusaha tersebut terkesan dengan ketulusan dan kesederhanaan sang marbot. Ketika mendengar bahwa marbot itu memiliki impian untuk menunaikan ibadah haji, pengusaha itu tersentuh. Lalu katanya, “Sepertinya untuk saat ini sulit bisa melaksanakan ibadah haji karena harus antri dan waktu tunggunya sangat panjang”. “Kalau bapak ke Tanah Suci tidak dalam rangka melaksanakan ibadah haji melainkan ibadah umrah, bagaimana?”, lanjut pengusaha tersebut. Pengusaha itu menjanjikan untuk menanggung seluruh biaya perjalanan umroh sang marbot, mulai dari pendaftaran hingga keberangkatan.
Marbot itu awalnya tidak percaya. Bagaimana mungkin seseorang yang baru saja dikenalnya bersedia mengabulkan mimpi yang selama ini ia anggap mustahil? Namun, keajaiban itu nyata. Sang pengusaha benar-benar memenuhi janjinya. Dalam waktu singkat, semua persiapan untuk keberangkatan umroh sang marbot selesai dan selanjutnya berangkatlah ia ke Tanah Suci.
Kekuatan Impian dan Keajaiban Takdir
Kisah tersebut di atas adalah bukti nyata bahwa mimpi, seberapa pun sulitnya, bisa terwujud jika kita terus percaya dan berusaha. Ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita petik dari kisah ini:
1. Mimpi Tidak Mengenal Keterbatasan
Marbot masjid ini menunjukkan bahwa mimpi tidak dibatasi oleh kondisi ekonomi atau status sosial. Bahkan dalam keterbatasannya, ia berani bermimpi besar.
2. Keikhlasan Membuka Jalan Keajaiban
Ketulusan dan keikhlasan sang marbot dalam menjalani pekerjaannya menjadi salah satu alasan mengapa ia mendapatkan keajaiban ini. Sikap tulus sering kali menarik perhatian orang-orang baik yang bersedia membantu.
3. Takdir Memiliki Caranya Sendiri
Kadang, jalan menuju mimpi kita datang dari arah yang tidak terduga. Siapa yang menyangka bahwa seorang pengusaha yang hanya singgah untuk sholat menjadi jawaban atas doa-doa sang marbot? Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat At Talaq ayat 2-3, yang artinya: "Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya”.
4. Doa adalah Kunci Utama
Dalam keterbatasannya, marbot ini tidak pernah berhenti berdoa. Ia percaya bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Memberi. Doa yang tulus, disertai keyakinan, adalah senjata terkuat bagi siapa saja yang memiliki mimpi.
Langkah Menuju Terwujudnya Mimpi
Seperti halnya sang marbot, siapa pun yang memiliki mimpi besar dapat mulai mengambil langkah-langkah berikut:
Jangan Pernah Berhenti Bermimpi
Kisah seorang marbot masjid ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa mimpi adalah sesuatu yang berharga, tidak peduli siapa pun Anda atau apa pun latar belakang Anda. Dalam keterbatasan, mimpi memberi harapan. Dalam perjuangan, mimpi memberi kekuatan.
Jika Anda memiliki mimpi yang terasa mustahil, ingatlah kisah ini. Teruslah bermimpi, berusaha, dan berdoa. Percayalah bahwa keajaiban akan datang pada waktu yang tepat, melalui cara-cara yang sering kali di luar dugaan. Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi mereka. Maka, jangan pernah takut untuk bermimpi besar, karena di dalam mimpi, terdapat kekuatan yang mampu mengubah hidup Anda.
*) Kasi Kominfo BPIC