Oleh: Djoko Iriandono*)
Di banyak ruang kelas, aula seminar, bahkan ruang-ruang diskusi formal, kita sering menyaksikan pemandangan yang sama: suasana hening ketika sesi tanya jawab dibuka. Guru atau pemateri memancing, “Ada pertanyaan?”—namun yang muncul justru saling pandang, senyum canggung, atau pura-pura sibuk mencatat. Tidak ada yang benar-benar ingin bertanya. Atau lebih tepatnya, tidak ada yang berani bertanya.
Fenomena ini bukan sekadar masalah kepercayaan diri. Ini adalah gejala yang lebih dalam—sebuah kegagalan sistemik dalam cara kita mendidik anak-anak sejak usia dini.
Kita hidup dalam budaya pendidikan yang sangat menekankan kemampuan menjawab, tetapi hampir tidak pernah melatih kemampuan bertanya. Sejak di bangku sekolah dasar, anak-anak dibiasakan untuk duduk rapi, mendengarkan, lalu menjawab pertanyaan guru dengan benar. Siapa yang bisa menjawab cepat dan tepat, dialah yang dianggap pintar dan bahkan boleh pulang lebih dahulu. Sebaliknya, siapa yang banyak bertanya justru sering dicurigai: “Tidak paham ya?” atau bahkan secara halus dianggap mengganggu alur pelajaran.
Di sinilah letak akar masalahnya.
Bertanya: Keterampilan yang Terabaikan
Bertanya bukan sekadar aktivitas verbal. Ia adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi. Seseorang yang mampu bertanya dengan baik sesungguhnya sedang menunjukkan kemampuan berfikir kritis, rasa ingin tahu, dan keberanian intelektual.
Namun ironisnya, keterampilan ini hampir tidak pernah diajarkan secara eksplisit. Anak-anak tidak pernah diberi tahu bagaimana cara menyusun pertanyaan yang baik, bagaimana menggali informasi lebih dalam, atau bagaimana mengkritisi sebuah gagasan melalui pertanyaan.
Yang terjadi justru sebaliknya: mereka dilatih menjadi “mesin penjawab.” Mereka menghafal, memahami, lalu mengulang. Pola ini terus berlanjut hingga SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi. Tidak heran jika ketika mereka diminta bertanya, mereka kebingungan. Mereka tidak tahu harus mulai dari mana.
Lebih parah lagi, banyak dari mereka yang akhirnya memilih diam karena takut terlihat bodoh.
Ketakutan yang Dibentuk oleh Sistem
Ketakutan untuk bertanya bukanlah sesuatu yang muncul secara alami. Ia adalah hasil konstruksi sosial dan pendidikan yang panjang.
Sejak kecil, anak-anak sering mendapat respons negatif ketika bertanya di luar konteks. Pertanyaan yang dianggap “aneh” atau “tidak penting” sering kali dijawab dengan singkat, diabaikan, atau bahkan dimatikan dengan kalimat seperti, “Nanti saja,” atau “Tidak usah tanya yang macam-macam.” Celakanya jika ada anak yang sering bertanya dengan entengnya guru menjawab: “Sudah kamu diam, jangan cerewet. Jangan bertanya terus.”
Secara perlahan, anak belajar satu hal: bertanya itu berisiko.
Di sisi lain, sistem evaluasi pendidikan kita hampir sepenuhnya berbasis pada jawaban. Ujian mengukur seberapa benar seseorang menjawab, bukan seberapa kritis ia bertanya. Akibatnya, orientasi belajar pun bergeser: bukan lagi memahami, tetapi sekadar menjawab dengan benar.
Kondisi ini menciptakan generasi yang terlatih untuk patuh, tetapi tidak terbiasa untuk berpikir kritis.
Dampak Jangka Panjang
Jika dibiarkan, masalah ini tidak hanya berdampak di ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan profesional.
Di dunia kerja, individu yang tidak terbiasa bertanya akan cenderung pasif. Mereka menerima instruksi tanpa mencoba memahami lebih dalam. Mereka enggan mengkritisi kebijakan, bahkan ketika ada yang jelas-jelas keliru.
Dalam kehidupan bermasyarakat, rendahnya kemampuan bertanya juga berdampak pada kualitas diskursus publik. Kita sering melihat perdebatan yang dangkal, penuh asumsi, dan minim klarifikasi. Banyak orang lebih cepat berkomentar daripada bertanya.
Padahal, pertanyaan yang baik adalah kunci dari pemahaman yang mendalam. Tanpa kemampuan bertanya, kita mudah terjebak dalam informasi yang salah, hoaks, atau opini yang tidak berdasar.
Mengubah Arah: Mengajarkan Anak Bertanya
Jika kita sepakat bahwa bertanya adalah keterampilan penting, maka langkah berikutnya jelas: kita harus mulai mengajarkannya sejak dini.
Guru dan orang tua memiliki peran krusial di sini.
Pertama, ubah paradigma di ruang kelas dan di rumah. Jangan hanya mengapresiasi jawaban yang benar, tetapi juga hargai pertanyaan yang baik. Bahkan, dalam banyak situasi, pertanyaan yang kritis jauh lebih bernilai daripada jawaban yang sekadar mengulang.
Kedua, ciptakan lingkungan yang aman untuk bertanya. Anak harus merasa bahwa tidak ada pertanyaan yang “bodoh.” Setiap pertanyaan adalah bagian dari proses belajar. Ketika anak bertanya, respons pertama yang harus diberikan bukan penilaian, tetapi penghargaan.
Ketiga, ajarkan teknik bertanya. Ini sering dilupakan. Anak perlu dilatih bagaimana menyusun pertanyaan terbuka, bagaimana menggali lebih dalam dengan “mengapa” dan “bagaimana,” serta bagaimana mengaitkan satu informasi dengan informasi lainnya.
Keempat, beri contoh. Orang tua dan guru harus menjadi model dalam bertanya. Tunjukkan bahwa bertanya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Tanyakan sesuatu dengan penuh rasa ingin tahu, bukan sekadar formalitas.
Dari “Takut Bertanya” Menjadi “Gemar Mencari”
Membangun budaya bertanya memang tidak instan. Ia membutuhkan perubahan mindset, baik dari pendidik maupun peserta didik.
Namun, jika kita serius ingin melahirkan generasi yang cerdas, kritis, dan adaptif, maka kita tidak punya pilihan lain.
Kita harus berhenti mencetak anak-anak yang hanya pandai menjawab, tetapi tidak mampu bertanya.
Karena pada akhirnya, kualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh apa yang ia ketahui, tetapi oleh apa yang ia ingin ketahui—dan bagaimana ia berani menanyakannya.
Mungkin sudah saatnya kita membalik pendekatan lama: sebelum anak diminta menjawab berbagai pertanyaan, ajarkan dulu mereka satu hal yang jauh lebih mendasar—
bagaimana cara bertanya.
Namun, persoalan ini tidak akan selesai hanya dengan menyadari pentingnya bertanya. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengubah praktik yang sudah terlanjur mengakar puluhan tahun dalam sistem pendidikan kita.
Ketika Kelas Terlalu “Sunyi”
Mari kita jujur: banyak ruang kelas kita terlalu sunyi, bukan karena siswa fokus, tetapi karena mereka terbiasa diam. Keheningan ini sering disalahartikan sebagai tanda disiplin dan ketertiban. Padahal, bisa jadi itu adalah tanda bahwa proses berpikir tidak benar-benar terjadi.
Kelas yang hidup seharusnya bukan hanya diisi oleh suara guru, tetapi juga oleh pertanyaan-pertanyaan siswa. Bahkan, dalam pembelajaran yang ideal, pertanyaan siswa justru menjadi indikator utama bahwa mereka sedang memproses informasi, bukan sekadar menerima.
Sayangnya, dalam praktiknya, guru sering dikejar oleh target kurikulum. Materi harus selesai, silabus harus tercapai, ujian sudah menanti. Dalam tekanan seperti ini, ruang untuk bertanya sering dianggap sebagai “penghambat.”
Akibatnya, kelas menjadi tempat transfer informasi satu arah. Guru berbicara, siswa mendengar. Guru bertanya, siswa menjawab. Siklus ini terus berulang, dari waktu ke waktu tanpa pernah memberi ruang bagi siswa untuk membalik peran: menjadi penanya.
Orang Tua dan Budaya Jawaban Cepat
Di rumah, situasinya tidak jauh berbeda. Banyak orang tua yang tanpa sadar juga mematikan potensi bertanya anak.
Ketika anak bertanya, orang tua sering merasa harus segera memberikan jawaban. Cepat, tepat, dan tuntas. Seolah-olah tugas utama orang tua adalah menjadi “mesin pencari jawaban.”
Padahal, ada pendekatan yang jauh lebih mendidik: mengembalikan pertanyaan kepada anak.
Misalnya, ketika anak bertanya, “Kenapa langit berwarna biru?”, alih-alih langsung menjelaskan secara ilmiah, orang tua seharusnya bisa merespons, “Menurut kamu kenapa?” atau “Apa yang kamu perhatikan dari langit?”
Respons seperti ini tidak hanya mempertahankan rasa ingin tahu anak, tetapi juga melatih mereka untuk berpikir sebelum menerima jawaban.
Namun tentu saja, pendekatan ini membutuhkan kesabaran. Dan di sinilah tantangan terbesar: dalam dunia yang serba cepat, kita sering tidak punya waktu untuk “berproses.” Kita ingin semuanya instan—termasuk dalam mendidik anak.
Menggeser Peran Guru: Dari Pemberi Jawaban Menjadi Pemantik Rasa Ingin Tahu
Perubahan besar dalam budaya bertanya hanya akan terjadi jika guru berani menggeser perannya.
Guru tidak lagi sekadar menjadi sumber jawaban, tetapi menjadi fasilitator yang memantik pertanyaan. Ini bukan perkara mudah, karena menuntut perubahan cara mengajar yang cukup mendasar.
Misalnya, alih-alih memulai pelajaran dengan penjelasan, guru bisa memulai dengan sebuah pertanyaan pemantik. Pertanyaan yang tidak memiliki satu jawaban benar, tetapi membuka ruang diskusi.
Atau, di akhir pelajaran, daripada memberikan rangkuman, guru bisa meminta siswa untuk menuliskan satu pertanyaan terbaik yang mereka miliki tentang materi hari itu.
Langkah-langkah kecil seperti ini, jika dilakukan secara konsisten, akan perlahan membangun kebiasaan bertanya.
Bertanya sebagai Cermin Kecerdasan
Kita perlu meluruskan satu persepsi yang sudah lama keliru: bertanya bukan tanda kebodohan.
Justru sebaliknya, bertanya adalah indikator kecerdasan. Orang yang tidak pernah bertanya bisa jadi bukan karena ia sudah tahu segalanya, tetapi karena ia tidak tahu apa yang tidak ia ketahui.
Dalam banyak kasus, pertanyaan yang baik justru lebih sulit daripada jawaban yang baik. Ia membutuhkan pemahaman, kepekaan, dan keberanian.
Tidak heran jika dalam berbagai forum ilmiah internasional, kualitas seorang peserta sering diukur dari pertanyaannya, bukan dari jawabannya.
Namun, standar ini belum sepenuhnya menjadi budaya di lingkungan pendidikan kita. Kita masih terlalu fokus pada hasil akhir, bukan pada proses berpikir.
Menuju Generasi yang Berani dan Kritis
Jika kita ingin membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara intelektual, maka kemampuan bertanya harus menjadi prioritas.
Anak-anak harus dibiasakan untuk:
Semua ini berawal dari satu kebiasaan sederhana,yaitu: bertanya.
Bayangkan jika di setiap kelas, siswa berlomba-lomba mengajukan pertanyaan terbaik. Bayangkan jika di setiap rumah, anak merasa aman untuk bertanya tentang apa saja. Bayangkan jika dalam setiap diskusi, pertanyaan menjadi alat untuk memahami, bukan untuk menjatuhkan.
Di situlah kita akan melihat perubahan yang nyata.
Penutup: Saatnya Mengubah Tradisi
Selama ini, kita terlalu lama mempertahankan tradisi pendidikan yang menempatkan jawaban sebagai puncak pencapaian.
Padahal, dalam dunia yang terus berubah, jawaban bisa menjadi usang. Yang tetap relevan adalah kemampuan untuk bertanya, mencari, dan memahami.
Maka, sudah saatnya kita mengubah arah.
Mulailah dari hal sederhana: di kelas, beri ruang untuk bertanya. Di rumah, hargai setiap rasa ingin tahu anak. Di setiap kesempatan, tunjukkan bahwa bertanya adalah bagian dari kecerdasan, bukan kelemahan.
Karena pada akhirnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling banyak tahu, tetapi oleh mereka yang paling tahu apa yang perlu ditanyakan.
Dan semuanya bermula dari satu keberanian kecil—
berani bertanya.
*) Kabid Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kaltim.