Oleh: Djoko Iriandono*)
Tadi malam, saya tidak benar-benar berniat menonton apa pun. Hanya sekadar membuka YouTube, berharap menemukan sesuatu yang ringan sebelum beristirahat. Namun, entah mengapa, jari ini berhenti pada sebuah video pidato seorang gubernur di sebuah acara resmi.
Awalnya biasa saja. Tidak ada yang terlalu istimewa. Susunan katanya rapi, nadanya formal, seperti pidato-pidato yang sering kita dengar. Tetapi ada sesuatu pada cara beliau menyampaikan—suara yang lantang, tekanan di setiap kalimat—yang membuat saya bertahan lebih lama dari yang saya rencanakan.
Hingga kemudian, sebuah kalimat meluncur. Sederhana. Singkat. Tetapi seolah menghentikan waktu.
“Meskipun bangsa kita pernah dijajah lebih dari 350 tahun, peninggalan fisik dari masa kolonial seperti jalan, jembatan, dan bendungan masih berdiri kokoh hingga hari ini. Sementara itu, baru 8 dekade menikmati kemerdekaan, kita justru menyaksikan hutan yang gundul, sungai yang menyempit, tambang yang meninggalkan lubang menganga, serta infrastruktur yang cepat rusak. Lalu, siapa yang sebenarnya menjajah kita?”
Saya terdiam.
Bukan karena kalimat itu baru. Mungkin kita pernah mendengar gagasan serupa. Tetapi ada momen dalam hidup ketika sesuatu yang biasa tiba-tiba berubah menjadi sangat dalam. Dan malam itu, kalimat itu terasa seperti tamparan halus—tidak menyakitkan, tetapi menyadarkan.
Seperti sebuah cermin yang tiba-tiba diletakkan tepat di depan wajah kita.
Dan kita tidak punya pilihan selain melihat.
Kita tentu sepakat, penjajahan adalah luka sejarah. Tidak ada bangsa yang ingin mengalaminya. Ada penderitaan, ada kerja paksa, ada ketidakadilan yang tertanam dalam ingatan kolektif kita.
Namun, yang sedang dibicarakan di sini bukanlah untuk mengagungkan masa lalu, apalagi membandingkan secara tidak adil antara penjajahan dan kemerdekaan.
Persoalannya jauh lebih dekat.
Persoalannya adalah kita—hari ini.
Bagaimana kita memperlakukan kemerdekaan yang telah dibayar dengan harga yang tidak murah.
Mari kita jujur, walaupun mungkin terasa tidak nyaman.
Saat Indonesia merdeka, negeri ini tidak memulai dari nol. Kita mewarisi alam yang begitu kaya. Hutan yang luas dan hijau. Sungai yang jernih dan mengalir tanpa beban. Perut bumi yang menyimpan kekayaan—minyak, batu bara, dan berbagai mineral lainnya.
Semua itu seharusnya menjadi fondasi untuk membangun bangsa yang kuat, bangsa yang bermartabat.
Namun, yang kita saksikan hari ini sering kali justru menghadirkan ironi.
Hutan yang dulu lebat, kini banyak berubah menjadi hamparan terbuka. Lubang-lubang bekas tambang dibiarkan menganga, seolah tidak pernah ada tanggung jawab untuk menutupnya kembali. Sungai-sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan, perlahan kehilangan fungsinya.
Bahkan, sesuatu yang kita bangun sendiri—jalan, jembatan, infrastruktur—tidak jarang cepat rusak. Seolah sejak awal ia dibangun tanpa ruh.
Di titik ini, kita tidak bisa lagi hanya bertanya, “mengapa ini terjadi?”
Kita harus mulai berani bertanya, “apa yang salah dengan kita?”
Karena selama kita sibuk mencari penyebab di luar diri, kita mungkin akan menemukan banyak alasan—tetapi sedikit perubahan.
Boleh jadi, persoalan terbesar kita bukan pada kurangnya sumber daya. Bukan pula pada keterbatasan kemampuan.
Persoalan terbesar kita adalah cara kita memandang amanah.
Kita terlalu sering melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang harus diselesaikan, bukan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan. Kita lebih sibuk mengejar hasil yang terlihat, daripada menjaga proses yang menentukan kualitas.
Dan di sanalah semuanya bermula.
Korupsi, misalnya, tidak selalu hadir dalam angka-angka besar yang menghebohkan. Ia sering hidup dalam bentuk-bentuk kecil yang kita anggap biasa. Mengurangi kualitas bahan. Mengabaikan prosedur. Datang terlambat, pulang lebih cepat. Mengambil yang bukan haknya.
Hal-hal kecil.
Namun dilakukan berulang-ulang.
Dan ketika hal kecil itu menjadi kebiasaan, ia berubah menjadi budaya.
Budaya yang pada akhirnya melahirkan hasil-hasil yang rapuh.
Bukan hanya bangunan fisik yang mudah rusak, tetapi juga bangunan moral yang perlahan runtuh.
Demikian pula dengan cara kita memperlakukan alam.
Kita sering berbicara tentang pembangunan, tetapi lupa bahwa pembangunan tanpa kebijaksanaan adalah awal dari kerusakan. Kita menebang, tetapi lupa menanam. Kita menggali, tetapi lupa menutup. Kita memanfaatkan, tetapi tidak menjaga. Kita membangun tetapi tidak merawat.
Padahal, alam tidak pernah meminta banyak.
Ia hanya meminta kita untuk berlaku adil.
Namun dalam banyak hal, justru kita yang berlaku tidak adil.
Dan di sinilah pertanyaan itu kembali datang—pelan, tetapi menekan:
Siapa sebenarnya yang sedang menjajah kita?
Mungkin jawabannya tidak perlu dicari terlalu jauh.
Mungkin, dengan jujur kita harus mengakui—penjajah itu adalah diri kita sendiri.
Bukan dalam bentuk kekuasaan seperti masa lalu.
Tetapi dalam bentuk sikap.
Dalam cara kita berpikir.
Dalam pilihan-pilihan kecil yang kita anggap sepele, tetapi sesungguhnya menentukan arah masa depan.
Kita ingin maju, tetapi enggan berubah.
Kita ingin hasil besar, tetapi tidak sabar menjalani proses.
Kita ingin perbaikan, tetapi tidak mau memperbaiki diri.
Padahal, kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan.
Kemerdekaan sejati adalah kemampuan untuk mengendalikan diri.
Mampu jujur ketika tidak diawasi.
Mampu bertanggung jawab ketika diberi kepercayaan.
Dan mampu berpikir jauh, melampaui kepentingan sesaat.
Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara kita memaknai pembangunan.
Pembangunan bukan sekadar proyek yang harus selesai, tetapi amanah yang harus dijaga.
Jalan bukan hanya tentang aspal, tetapi tentang kualitas kerja.
Jembatan bukan hanya penghubung, tetapi simbol integritas.
Bendungan bukan hanya penampung air, tetapi wujud tanggung jawab terhadap masa depan.
Jika cara pandang ini berubah, maka hasilnya pun akan berbeda.
Begitu pula dengan alam.
Ia bukan sekadar sumber daya.
Ia adalah warisan.
Warisan yang tidak hanya untuk kita, tetapi untuk anak dan cucu kita.
Apa yang kita lakukan hari ini, akan mereka rasakan nanti.
Pada akhirnya, tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun.
Ia adalah ajakan.
Ajakan untuk berhenti sejenak… dan melihat ke dalam diri.
Karena sering kali, musuh terbesar sebuah bangsa bukan datang dari luar.
Tetapi dari dalam.
Dari sikap yang meremehkan amanah.
Dari kebiasaan yang menoleransi kesalahan.
Dan dari pilihan-pilihan kecil yang kita anggap tidak berarti.
Jika dulu penjajahan datang dengan senjata dan kekuatan, hari ini ia datang dengan cara yang lebih halus—
melalui kelalaian,
melalui keserakahan,
dan melalui ketidakpedulian.
Dan jika kita benar-benar ingin merdeka, maka perjuangan kita hari ini bukan lagi melawan bangsa lain.
Tetapi melawan diri kita sendiri.
Sebab bisa jadi, selama ini kita tidak kekurangan kemerdekaan.
Kita hanya belum cukup dewasa untuk menjaganya.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim