Detail Update

Detail Update

Laboratorium Sekolah: Tempat Melahirkan Rasa Ingin Tahu

Card image cap

✍️ Oleh: Djoko Iriandono*)

 

Pada artikel kali ini saya ingin melanjutkan refleksi pengalaman saya selama menempuh S-2 di negeri Ratu Elizabeth khusus mengenai keberadaan laboratorium.

“Pendidikan bukan hanya mengajarkan apa yang harus dipelajari, tetapi menumbuhkan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.”

Belajar dari Laboratorium di sekolah-sekolah Negeri Ratu Elizabeth

Saat saya menempuh studi S-2 di Huddersfield, Inggris, dan bekerja paruh waktu di beberapa sekolah menengah, saya banyak menyaksikan hal yang membuat saya kagum — salah satunya adalah bagaimana sekolah-sekolah di sana mengelola laboratorium.

Di setiap sekolah tempat saya bekerja, laboratorium tidak pernah terlihat sepi atau berdebu. Anak-anak tampak sangat menikmati waktu mereka di sana. Tidak ada suasana tegang, tidak ada rasa takut menyentuh peralatan. Bagi mereka, laboratorium bukan ruang yang “sakral” atau “berbahaya,” melainkan tempat untuk bereksperimen dan bertanya.

Setiap kali guru selesai memberikan teori di kelas, sesi berikutnya pasti dilanjutkan dengan praktik di laboratorium. Di laboratorium sudah menunggu 2 orang laboran yang telah menyelesaikan penyiapan alat dan bahan yang akan dipakai untuk praktikum dan siap membantu para siswa.

Anak-anak belajar bukan hanya dengan mendengar dan mencatat, tetapi dengan melihat, mencoba, dan menemukan. Bila ada kesalahan dalam percobaan, guru tidak memarahi mereka — yang saya dengar justru sebaliknya, guru mengatakan, “Good! You’ve just learned something new — now try again.” Kalimat sederhana itu menanamkan keyakinan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar.

🔬 Laboratorium sebagai Jantung Pembelajaran

Di Inggris, laboratorium bukan sekadar pelengkap kurikulum. Ia adalah jantung pembelajaran ilmiah. Setiap sekolah, bahkan yang berukuran kecil sekalipun, memiliki ruang laboratorium yang tertata, terkelola, dan difungsikan dengan optimal. Ada laboratorium sains, bahasa, komputer, hingga teknologi. Semua digunakan sesuai jadwal yang jelas dan diawasi tenaga laboran yang terlatih.

Saya juga menyaksikan bagaimana laboratorium diintegrasikan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika membahas tentang kebersihan air, guru tidak hanya memberikan teori di buku, tetapi mengajak siswa mengambil sampel air dari sungai terdekat untuk diuji di laboratorium. Atau ketika membahas makanan sehat, mereka melakukan uji gizi sederhana terhadap makanan yang dijual di kantin sekolah.

Dengan demikian, siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi memahami manfaatnya dalam kehidupan nyata. Mereka belajar berpikir ilmiah, mengajukan hipotesis, menguji, lalu menarik kesimpulan — bukan karena disuruh, tetapi karena mereka penasaran.

Laboratorium di Indonesia: Ada, tapi Belum Hidup

Sayangnya, ketika saya kembali ke Indonesia, pemandangan yang sama belum banyak kita temukan di sekolah-sekolah. Memang, hampir semua sekolah menengah memiliki ruangan yang disebut “laboratorium.” Namun, banyak di antaranya hanya menjadi ruang pajangan — tertutup, berdebu, bahkan sebagian peralatannya sudah rusak karena jarang digunakan. Hal itu juga terjadi di laboratorium yang berada di sekolah saya waktu itu.

Dalam beberapa kunjungan saya ke sekolah-sekolah di Indonesia, saya sering mendapati laboratorium yang hanya dibuka ketika ada penilaian akreditasi. Setelah itu, pintunya kembali dikunci rapat. Guru sains hanya menjelaskan teori di papan tulis tanpa pernah mengajak siswa untuk bereksperimen. Bahkan ironisnya ada sekolah yang mendapat bantuan peralatan dan bahan praktek dari kementerian pendidikan ketika saya kunjungi sudah menunjukkan waktu yang cukup lama tersimpan di gudang belakang laboratorium dalam keadaan tetap berada dalam dos dan tersegel.

Kondisi ini tentu sangat disayangkan. Padahal, esensi dari pendidikan sains adalah membangkitkan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis. Jika laboratorium tidak difungsikan dengan baik, maka siswa kehilangan kesempatan untuk belajar secara aktif, kreatif, dan kontekstual.

“Sains tidak bisa diajarkan hanya dengan kata-kata. Ia harus disentuh, dirasakan, dan diuji.”

🧭 Mengapa Pengelolaan Laboratorium Begitu Penting

Laboratorium bukan sekadar ruang penuh alat-alat. Ia adalah tempat tumbuhnya logika, ketelitian, dan kejujuran ilmiah. Anak yang terbiasa melakukan percobaan akan tumbuh menjadi pribadi yang berpikir sistematis dan terbuka terhadap data.
Ia tidak mudah percaya pada kabar bohong, karena terbiasa mencari bukti dan membandingkan hasil.

Itulah sebabnya di banyak negara maju, pengelolaan laboratorium dikelola secara profesional. Ada anggaran khusus untuk perawatan alat, bahan praktik yang cukup, dan tenaga laboran yang kompeten. Guru pun tidak hanya mengajar teori, tetapi juga berkolaborasi dengan laboran untuk menyiapkan eksperimen yang menarik.

Di Indonesia, peran seperti ini masih jarang diperhatikan. Kita sering lebih sibuk menghitung jumlah ruang kelas daripada memperhatikan bagaimana ruang-ruang itu dihidupkan.

🏫 Membangun Laboratorium yang Hidup

Pemerintah sebenarnya telah banyak berinvestasi dalam pembangunan fisik sekolah, termasuk laboratorium. Namun, membangun laboratorium tidak cukup dengan tembok dan meja kerja. Yang lebih penting adalah menghidupkan fungsinya.

Beberapa langkah yang bisa ditempuh antara lain:

  1. Melatih tenaga laboran profesional yang bisa mendampingi guru dan menjaga keberlanjutan praktik.
  2. Menyediakan anggaran tahunan khusus untuk perawatan alat dan pengadaan bahan percobaan.
  3. Mengintegrasikan eksperimen dengan pembelajaran lintas bidang, seperti sains dengan lingkungan, teknologi, atau bahkan agama.
  4. Melibatkan siswa dalam pengelolaan laboratorium, agar tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap fasilitas sekolah.

Dengan langkah-langkah ini, laboratorium tidak lagi menjadi ruang sunyi, tetapi tempat lahirnya generasi pencari kebenaran.

🕌 Refleksi untuk Para Pengelola Pendidikan

Islam memandang ilmu sebagai cahaya, dan cahaya itu tidak akan bersinar tanpa rasa ingin tahu. Laboratorium adalah salah satu ruang yang menumbuhkan rasa ingin tahu itu — tempat di mana manusia mengenal tanda-tanda kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya.

Sebagai lembaga yang berkomitmen terhadap pendidikan dan pembinaan umat, Islamic Center Kalimantan Timur patut mendorong tumbuhnya budaya ilmiah di sekolah-sekolah binaan. Karena sesungguhnya, semangat ilmiah adalah bagian dari semangat iman.
Allah berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11: “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Maka, menghidupkan laboratorium bukan hanya urusan akademik, tapi juga ibadah intelektual — bentuk syukur atas akal dan ilmu yang dianugerahkan Tuhan.

🌱 Penutup: Dari Ruang Eksperimen Menuju Ruang Inspirasi

Saya belajar dari sekolah-sekolah di Inggris, bahwa kemajuan pendidikan tidak ditentukan oleh kemewahan fasilitas, tetapi oleh cara mereka memanfaatkannya.
Laboratorium mereka hidup karena ada semangat untuk terus mencari dan bereksperimen.

Kita di Indonesia pun bisa. Laboratorium sekolah bisa menjadi ruang yang menumbuhkan iman dan ilmu sekaligus — tempat anak-anak mengenal keteraturan ciptaan Allah melalui sains dan teknologi.

Karena sesungguhnya, pendidikan sejati adalah ketika logika dan iman berjalan seiring. Dan salah satu tempat terbaik untuk menumbuhkannya adalah laboratorium sekolah.

✍️ Kepala Bidang Pendidikan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kaltim.