Detail Update

Detail Update

MENGAPA ADA ORANG YANG SEOLAH-OLAH SELALU BERUNTUNG, SEMENTARA YANG LAIN TERUS DITIMPA KESULITAN?

Card image cap Sebab, kita tidak selalu bisa menentukan jalan kehidupan yang harus dilalui, tetapi kita dapat memilih bagaimana melangkah di atasnya.

MENGAPA ADA ORANG YANG SEOLAH-OLAH SELALU BERUNTUNG, SEMENTARA YANG LAIN TERUS DITIMPA KESULITAN?

Renungan Islami tentang Ujian Kehidupan, Kesabaran, dan Rasa Syukur

Oleh: Djoko Iriandono*)

 

Pernahkah kita memperhatikan bahwa ada orang yang seolah-olah selalu beruntung dalam kehidupannya? Apa pun yang dilakukan, selalu ada jalan terbuka. Ia tiba-tiba ditawari barang dengan harga murah. Belum lama barang itu dibeli, datang orang lain yang bersedia membayarnya dengan harga lebih tinggi. Ketika berusaha, peluang datang. Ketika membutuhkan bantuan, selalu ada orang yang membuka jalan.

Sebaliknya, ada orang yang seolah-olah tidak pernah lepas dari kesulitan. Baru saja satu masalah selesai, masalah lain datang menyusul. Ketika tabungan mulai terkumpul, anggota keluarga jatuh sakit. Ketika usaha mulai berkembang, muncul kerugian yang tidak terduga. Ketika sudah bekerja keras, hasilnya tetap belum mencukupi kebutuhan.

Melihat keadaan seperti itu, seseorang mungkin bertanya dalam hati, "Mengapa hidup orang lain begitu mudah, sedangkan hidup saya selalu sulit? Apakah dunia ini tidak adil?"

Pertanyaan itu manusiawi. Namun, sebelum menyimpulkan bahwa kehidupan tidak adil, barangkali kita perlu melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas.

Keberuntungan Tidak Selalu Seperti yang Terlihat

Orang yang tampak selalu beruntung belum tentu memiliki kehidupan yang sempurna. Ia mungkin berkecukupan secara ekonomi, tetapi menghadapi persoalan keluarga. Ia mungkin sukses dalam pekerjaan, tetapi menyimpan kegelisahan yang tidak diketahui orang lain.

Sebaliknya, orang yang hidup dalam keterbatasan belum tentu kehilangan kebahagiaan. Bisa jadi, ia memiliki keluarga yang saling menyayangi, anak-anak yang berbakti, dan hati yang tetap tenteram meskipun hidup sederhana.

Kita sering membandingkan bagian terbaik kehidupan orang lain dengan bagian tersulit kehidupan kita sendiri. Padahal, kita hanya melihat apa yang tampak, bukan keseluruhan cerita di baliknya.

Selain itu, sesuatu yang kita sebut keberuntungan terkadang lahir dari persiapan, pengalaman, hubungan baik, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan membaca peluang. Karena itu, daripada hanya iri melihat keberhasilan orang lain, lebih baik kita belajar dari hal-hal baik yang mereka lakukan.

Namun, tidak semua kejadian dapat diperkirakan atau dikendalikan manusia. Ada kesempatan yang datang tanpa diduga, ada pula kesulitan yang tidak pernah kita harapkan.

Di sinilah kita belajar bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Allah Menguji Manusia dengan Cara yang Berbeda

Allah SWT berfirman:

"Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya."

(QS. Al-Mulk: 2)

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan bukan sekadar perjalanan untuk mengumpulkan harta, meraih jabatan, atau memenuhi keinginan. Kehidupan juga merupakan kesempatan untuk membuktikan kualitas iman dan amal kita.

Orang yang memperoleh kelapangan rezeki diuji dengan rasa syukur, kerendahan hati, dan kesediaan berbagi. Sementara itu, orang yang hidup dalam keterbatasan diuji dengan kesabaran, ikhtiar, dan kemampuannya menjaga diri agar tetap berada di jalan yang benar.

Namun, kita tidak boleh buru-buru menyimpulkan bahwa orang yang kesulitan sedang dihukum Allah atau orang yang kaya pasti lebih dicintai-Nya. Keadaan ekonomi bukan ukuran mutlak kedudukan seseorang di hadapan Allah.

Kelapangan adalah ujian, kesempitan juga ujian. Yang penting bukan sekadar apa yang kita miliki, melainkan bagaimana kita menyikapinya.

Jangan Menganggap Dunia Tidak Adil

Ketika kesulitan datang bertubi-tubi, kita mungkin merasa telah berusaha keras, tetapi hasilnya tidak sebanding. Sementara itu, orang lain tampak memperoleh keberhasilan dengan mudah.

Namun, kita perlu membedakan antara ketidakmerataan kehidupan dan ketidakadilan yang dilakukan manusia.

Memang ada orang yang menyalahgunakan kekuasaan, mengambil hak orang lain, atau memanfaatkan kesulitan sesamanya. Ketidakadilan seperti itu nyata dan harus diperbaiki.

Akan tetapi, tidak semua perbedaan hasil kehidupan berarti ketidakadilan. Setiap orang memiliki latar belakang, kesempatan, kemampuan, dan tanggung jawab yang berbeda.

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri."

(QS. Yunus: 44)

Kita tidak selalu memahami hikmah di balik setiap peristiwa. Namun, ketidakmampuan memahami seluruh rahasia kehidupan bukanlah alasan untuk kehilangan kepercayaan kepada Allah.

Jika menghadapi kesulitan, kita tetap perlu mengevaluasi diri. Apakah keputusan kita sudah tepat? Apakah ada kebiasaan yang perlu diperbaiki? Apakah kita sudah berusaha mencari jalan keluar?

Jangan menyalahkan diri atas segala sesuatu yang berada di luar kendali. Namun, jangan pula menyerahkan semua persoalan kepada nasib tanpa melakukan apa-apa.

Kita mungkin tidak dapat memilih semua keadaan yang datang, tetapi kita masih dapat memilih sikap dan langkah untuk menghadapinya.

Bersabar Bukan Berarti Berhenti Berusaha

Rasulullah SAW bersabda:

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang mukmin: jika ia mendapatkan kesenangan (kelapangan/nikmat), ia bersyukur, maka itu adalah kebaikannya; dan jika ia ditimpa kesusahan (keburukan/ujian), ia sabar, maka itu pun adalah kebaikannya.”

(HR. Muslim, no. 2999)

Hadis ini mengajarkan bahwa ketika memperoleh kesenangan, seorang mukmin bersyukur. Ketika menghadapi kesusahan, ia bersabar. Keduanya dapat menjadi kebaikan baginya.

Sabar bukan berarti menyerah. Sabar bukan berarti membiarkan ketidakadilan, berhenti mencari rezeki, atau menolak mencari pertolongan.

Sabar adalah kemampuan menjaga diri agar tidak mengambil jalan yang salah ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan.

Kita tetap bekerja, tetapi tidak menghalalkan segala cara. Kita tetap berusaha, meskipun hasil belum terlihat. Kita memperjuangkan hak tanpa kehilangan akhlak. Kita mencari jalan keluar sambil menyadari bahwa hasil akhir tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Allah SWT berfirman:

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."

(QS. Al-Insyirah: 5–6)

Kemudahan tidak selalu hadir dalam bentuk kekayaan atau hilangnya masalah seketika. Terkadang, kemudahan hadir sebagai kekuatan untuk bertahan, seseorang yang bersedia membantu, atau pikiran yang lebih jernih untuk menemukan jalan keluar.

Karena itu, jangan menganggap kesulitan hari ini sebagai akhir dari seluruh kemungkinan.

Berhenti Membandingkan Nasib, Mulailah Memperbaiki Diri

Jika kehidupan kita sedang lapang, jangan sombong. Gunakan rezeki untuk membantu sesama dan memberikan manfaat. Jika kehidupan sedang sulit, jangan merasa diri tidak berharga. Tetaplah berusaha, belajar dari pengalaman, dan jangan malu meminta pertolongan.

Daripada terus bertanya mengapa orang lain lebih beruntung, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apa yang masih bisa saya perbaiki? Kesempatan apa yang dapat saya manfaatkan? Nikmat apa yang selama ini luput dari rasa syukur saya?

Kita tidak perlu memiliki kehidupan yang sama dengan orang lain untuk menjadi bahagia. Tidak semua orang harus berhasil pada waktu yang sama, dan tidak semua keberhasilan harus diukur dengan kekayaan atau jabatan.

Ada orang yang rezekinya berupa harta berlimpah. Ada yang memperoleh kebahagiaan melalui keluarga yang harmonis. Ada yang hidup sederhana, tetapi memiliki ketenangan hati. Selama kita terus berusaha, menjaga kejujuran, dan berbuat baik, kehidupan tetap memiliki makna.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak pernah sepenuhnya memahami mengapa seseorang terlihat selalu beruntung, sementara orang lain harus berjuang lebih keras. Namun, kita tidak perlu menghabiskan seluruh energi untuk membandingkan nasib.

Jangan menggunakan keberuntungan untuk menyombongkan diri, dan jangan menggunakan kesulitan sebagai alasan untuk kehilangan harapan.

Kehidupan bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling beruntung. Kehidupan adalah kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Jika hari ini kehidupan terasa berat, jangan buru-buru menganggap Allah meninggalkan kita. Teruslah berikhtiar, perbanyak doa, dan perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.

Jika hari ini kehidupan terasa mudah, jangan lupa bersyukur dan tetap rendah hati. Bisa jadi, ada banyak pertolongan dan kebaikan orang lain yang ikut mengantarkan kita pada keadaan sekarang.

Semoga Allah melapangkan rezeki kita, menguatkan hati ketika menghadapi ujian, menjauhkan kita dari iri dan kesombongan, serta membimbing kita agar selalu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesempitan.

Sebab, kita tidak selalu bisa menentukan jalan kehidupan yang harus dilalui, tetapi kita dapat memilih bagaimana melangkah di atasnya.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

 

*) Kominfo BPIC Kaltim.

TAGS