Detail Update

Detail Update

Mengapa Siswa Cerdas dan Penurut Justru Banyak yang Gagal Meniti Karir Dibandingkan dengan Siswa Biasa atau 'Bandel' yang Sukses?

Card image cap

Oleh : Djoko Iriandono, S.E., M.A*)

Ada fenomena menarik yang sering diperbincangkan di kalangan masyarakat pendidikan, terutama para guru yang sudah lama mengajar dan sudah banyak menghasilkan lulusan. Hal itu juga sering Penulis sendiri perbicangkan karena Penulis adalah pensiunan guru yang telah mengabdi selama 37 tahun di jenjang pendidikan SMP dan SMA yang mengalami sendiri fenomena tersebut.

Fenomena itu adalah: para siswa yang dahulunya dikenal cerdas, rajin, dan penurut oleh para guru setelah mereka dewasa terkadang mengalami kesulitan dalam meniti karir, ditambah lagi seandainya mereka sukses justru terlihat acuh dan tidak mau kenal dengan para guru yang dahulu pernah mengajar dan mendidiknya. Sementara siswa yang biasa-biasa saja bahkan terkesan 'bandel' justru lebih sukses dan mereka sangat menghormati orang-orang yang dianggapnya memiliki andil besar dari kesuksesan yang digapainya.  Fenomena ini sering kali membuat banyak orang termasuk Penulis sendiri bertanya-tanya, apa penyebabnya?

Dari beberapa diskusi dengan teman dan juga dari sumber bacaan, Penulis mencoba untuk menuangkan beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab dari fenomena tersebut, antara lain yaitu:

1. Fokus pada Teori dan Kurangnya Keterampilan Sosial.

Siswa yang cerdas biasanya sangat terfokus pada aspek akademis dan prestasi dalam bidang teori. Mereka sering kali mengutamakan nilai dan pencapaian akademik di atas segalanya, sehingga mungkin kurang memperhatikan keterampilan sosial seperti kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan negosiasi. Keterampilan ini sebenarnya sangat penting di dunia kerja, di mana keberhasilan tidak hanya diukur dari pengetahuan tetapi juga kemampuan berkolaborasi dan beradaptasi.

2. Perfeksionisme yang Menghambat Kemampuan Berinovasi.

Siswa cerdas sering kali memiliki standar tinggi terhadap diri mereka sendiri dan berusaha keras mencapai kesempurnaan. Mereka cenderung takut melakukan kesalahan karena ingin menjaga citra dan reputasi akademis yang baik. Hal ini membuat mereka enggan mengambil risiko atau mencoba hal-hal baru. Di dunia karir, keberanian untuk mengambil risiko dan berinovasi adalah kunci sukses yang justru sering dimiliki oleh mereka yang dulunya tidak begitu peduli dengan “kesempurnaan” dan lebih fleksibel dalam mencoba hal-hal baru.

3. Tekanan dan Ekspektasi yang Berat.

Dari usia muda, siswa yang dianggap cerdas sering kali mendapat ekspektasi yang tinggi dari orang tua, guru, maupun lingkungan sekitar. Tekanan untuk selalu unggul bisa menyebabkan kelelahan mental atau bahkan “burnout”. Mereka mungkin merasa terjebak dalam harapan yang membebani dan kesulitan menemukan karir yang benar-benar mereka minati. Sementara itu, siswa yang dulunya ‘bandel’ mungkin merasa lebih bebas dalam memilih dan mengeksplorasi minatnya sehingga lebih termotivasi dalam berkarir.

4. Kurangnya Resiliensi dan Kemampuan Menghadapi Kegagalan.

Siswa cerdas yang terbiasa dengan keberhasilan akademis sering kali tidak terbiasa menghadapi kegagalan. Saat memasuki dunia kerja, mereka mungkin mengalami benturan saat menghadapi tantangan atau persaingan yang ketat. Sebaliknya, siswa yang dulunya dianggap ‘bandel’ mungkin sudah terbiasa menghadapi kesulitan sejak sekolah dan telah belajar untuk bangkit dari kegagalan. Resiliensi atau daya tahan inilah yang menjadi faktor penentu keberhasilan di dunia nyata.

5. Kreativitas dan Pemikiran Out-of-the-Box.

Siswa yang tidak terlalu terikat pada aturan formal kadang lebih bebas dalam berpikir kreatif dan out-of-the-box. Sifat 'bandel' atau tidak terlalu taat aturan ini memberi mereka kebebasan untuk mengeksplorasi hal-hal baru dan mencari solusi alternatif. Kreativitas ini sangat dihargai di lingkungan kerja yang sering membutuhkan inovasi. Mereka mungkin lebih siap menyesuaikan diri dengan perubahan dan kebutuhan pasar yang terus berkembang.

6. Hubungan dan Jaringan Sosial yang Kuat.

Siswa yang lebih santai dan supel biasanya memiliki jaringan pertemanan yang luas. Ini memberi mereka keuntungan dalam dunia kerja karena networking adalah salah satu faktor kunci yang mendukung karir. Dalam dunia profesional, siapa yang Anda kenal bisa sama pentingnya dengan apa yang Anda tahu. Keterampilan bersosialisasi ini mempermudah mereka dalam membuka peluang karir yang lebih luas dibandingkan siswa yang kurang memiliki keterampilan sosial.

7. Pengalaman Hidup yang Beragam.

Siswa yang cenderung 'bandel' mungkin lebih sering berinteraksi dengan berbagai macam orang dan situasi yang mengajarkan mereka banyak pengalaman praktis. Mereka belajar dari pengalaman hidup yang beragam dan terbiasa berpikir fleksibel, sementara siswa yang lebih fokus pada akademik mungkin menghabiskan sebagian besar waktu di lingkungan yang cenderung homogen. Pengalaman hidup yang beragam ini menambah wawasan mereka tentang cara beradaptasi dalam berbagai situasi di dunia kerja.

8. Persepsi yang berbeda.

Anak yang cerdas berkecenderungan memiliki persepsi bahwa kesuksesan yang mereka gapai dikarenakan oleh kemampuan dan usaha keras mereka sendiri, sementara anak yang biasa biasa saja dan bahkan berlebel “bandel” berpresepsi bahwa mereka bukanlah siapa siapa dan tidak akan menjadi apa-apa jika bukan karena tangan dingin para gurunya. Itulah sebabnya mereka akan selalu ingat dan lebih hormat kepada para guru-guru mereka.

Kesimpulan

Keberhasilan dalam karir tidak ditentukan hanya dari kecerdasan atau kepatuhan akademik semata. Faktor-faktor seperti keterampilan sosial, kreativitas, ketangguhan mental, dan kemampuan beradaptasi jauh lebih menentukan keberhasilan seseorang di dunia kerja. Siswa yang ‘bandel’ atau tidak begitu terikat pada aturan terkadang memiliki keunggulan dalam hal ini karena mereka memiliki kebebasan yang lebih besar dalam mengeksplorasi minat dan mengembangkan keterampilan non-akademis yang sangat dibutuhkan di dunia profesional.

Namun, bukan berarti siswa cerdas tidak bisa sukses dalam karirnya. Dengan membekali diri mereka dengan keterampilan sosial, keberanian menghadapi kegagalan, dan kemauan untuk berpikir kreatif, siswa cerdas juga memiliki peluang besar untuk jauh lebih suskses.

Penulis hanya ingin mengingatkan kepada para Umar Bakri bahwa Hard Skill hanyalah pintu masuk, setelah mereka berada di dalam justru kesuksesan anak didik Anda sangat ditentukan oleh soft skill yang anda tanamkan.

*) Kasi Kominfo BPIC