Oleh: Djoko Iriandono*)
Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan pada anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, sering kali terjadi pada masa awal kehidupan. Dampak dari stunting tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik anak tetapi juga berpotensi menghambat perkembangan kognitif mereka, yang dapat berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Di Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur, angka stunting masih cukup tinggi, sehingga memerlukan perhatian khusus dari berbagai pihak. Salah satu pihak yang memiliki peran strategis dalam menuntaskan masalah stunting adalah tokoh agama Islam, seperti kiai, ustadz, dan ustadzah, yang memiliki pengaruh kuat di tengah masyarakat.
1. Peran Tokoh Agama dalam Edukasi dan Penyuluhan
Kiai, ustadz, dan ustadzah memiliki peran sebagai pemimpin spiritual yang dihormati dan dipercaya oleh masyarakat. Mereka dapat memanfaatkan posisi ini untuk memberikan edukasi dan penyuluhan tentang pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak di usia emas pertumbuhan (0–5 tahun). Ceramah keagamaan yang diadakan di masjid, pesantren, maupun majelis taklim dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi terkait pentingnya pola makan yang sehat dan asupan gizi yang memadai, serta cara-cara mencegah stunting. Melalui pendekatan agama, tokoh-tokoh ini dapat membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab sebagai seorang Muslim.
2. Membentuk Komunitas Pendukung Kesehatan Ibu dan Anak
Tokoh agama juga dapat membantu membentuk dan membina komunitas-komunitas yang berfokus pada kesehatan ibu dan anak. Di masjid atau pesantren, mereka bisa memfasilitasi pembentukan kelompok ibu-ibu yang saling berbagi pengetahuan mengenai kesehatan gizi dan tips pengasuhan anak yang baik. Kelompok ini juga bisa bekerja sama dengan tenaga kesehatan setempat untuk melakukan pemantauan pertumbuhan anak secara berkala. Melalui kegiatan semacam ini, tokoh agama membantu menciptakan lingkungan yang mendukung pencegahan stunting, dengan memastikan bahwa informasi yang benar mengenai gizi sampai kepada masyarakat secara konsisten.
3. Penguatan Nilai dan Pemahaman tentang Pola Hidup Sehat
Para tokoh agama dapat menanamkan pemahaman bahwa pola hidup sehat adalah bentuk kepedulian terhadap karunia Allah, yaitu tubuh yang sehat. Dengan menyampaikan ajaran agama yang relevan, seperti menjaga kebersihan, menghindari konsumsi makanan yang tidak sehat, dan menjalankan pola makan yang teratur, tokoh agama berperan dalam mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat. Tokoh agama juga bisa menekankan pentingnya mendahulukan kebutuhan gizi anak dan keluarga agar dapat tumbuh sehat dan kuat, sesuai dengan ajaran Islam.
4. Mengoptimalkan Peran Pesantren dalam Pencegahan Stunting
Pesantren dapat berperan sebagai pusat pendidikan dan kesehatan, tidak hanya untuk santri tetapi juga untuk masyarakat sekitar. Pesantren dapat dijadikan tempat pelatihan bagi para santri, khususnya bagi mereka yang akan menjadi kader-kader kesehatan masyarakat di kemudian hari. Melalui program kesehatan di pesantren, para kiai dan ustadz dapat bekerja sama dengan Dinas Kesehatan atau instansi terkait untuk mengadakan pelatihan tentang pentingnya gizi pada anak. Selain itu, pesantren juga dapat menjadi pusat penyuluhan bagi masyarakat dalam hal gizi ibu hamil, menyusui, dan anak balita.
5. Menjalin Kerja Sama dengan Pemerintah dan Lembaga Sosial
Peran tokoh agama dalam penuntasan stunting akan lebih optimal jika didukung oleh kerja sama dengan pemerintah dan lembaga sosial. Program pemerintah, seperti posyandu atau layanan kesehatan keliling, dapat diperkuat dengan keterlibatan tokoh agama yang berfungsi sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Tokoh agama dapat membantu menyampaikan informasi mengenai program-program pemerintah yang mendukung pencegahan stunting, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan layanan kesehatan yang ada dengan maksimal. Selain itu, lembaga sosial yang bergerak di bidang kesehatan juga dapat mengadakan program bersama dengan masjid atau pesantren untuk memperluas jangkauan pelayanan mereka ke daerah-daerah yang sulit dijangkau.
6. Menyampaikan Pesan tentang Pentingnya Generasi yang Sehat
Dalam Islam, generasi yang sehat dan cerdas merupakan salah satu kunci menuju masa depan yang lebih baik. Tokoh agama dapat memanfaatkan ceramah atau pengajian untuk menyampaikan pentingnya memiliki generasi yang sehat sebagai bagian dari cita-cita bangsa dan agama. Dengan membangun kesadaran ini, diharapkan masyarakat akan semakin peduli terhadap kesehatan anak-anak mereka, terutama dalam mencegah stunting. Tokoh agama juga dapat menekankan bahwa usaha menjaga kesehatan anak merupakan bentuk ibadah dan perwujudan tanggung jawab sebagai orang tua yang diberikan amanah oleh Allah.
Kesimpulan
Tokoh agama Islam seperti kiai, ustadz, dan ustadzah memiliki peran yang sangat penting dalam upaya penuntasan stunting di Kalimantan Timur. Dengan pengaruh yang mereka miliki di masyarakat, mereka dapat berkontribusi dalam memberikan edukasi, membangun komunitas pendukung kesehatan, menanamkan nilai-nilai hidup sehat, mengoptimalkan peran pesantren, serta bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga sosial. Melalui pendekatan agama yang sejalan dengan nilai-nilai kesehatan, tokoh agama dapat menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi penurunan angka stunting, sehingga tercipta generasi yang sehat, kuat, dan berdaya di masa depan.
*) Kasi Kominfo BPIC