Detail Update

Detail Update

Profil Ayatollah Ali Khamenei yang Diancam Bakal Dibunuh Israel

Card image cap

TEMPO.COJakarta -Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Israel Katz, mengatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak boleh dibiarkan hidup. Ancaman itu menyusul serangan rudal Iran terhadap sebuah rumah sakit di dekat Tel Aviv yang melukai puluhan orang, sebagaimana dilaporkan oleh NDTV.

Katz menuduh Khamenei sebagai sosok pengecut yang bersembunyi di bunker berbenteng sembari memerintahkan serangan terhadap sipil Israel, seperti rumah sakit dan bangunan tempat tinggal. Dia menyebut tindakan Khamenei sebagai kejahatan perang serius.

Lantas, seperti apa sosok Ayatollah Ali Khamenei?

Profil Ayatollah Ali Khamenei

Melansir Khamenei.ir, Ayatollah Ali Khamenei lahir di Kota Mashhad, Provinsi Khorasan, Iran, pada 19 April 1939. Dia adalah putra kedua Sayyed Javad Khamenei, seorang ulama Islam yang memiliki kehidupan sederhana.

Saat memasuki usia empat tahun, Khamenei memulai pendidikannya di maktab, sekolah dasar tradisional untuk mempelajari alfabet dan Alquran. Selanjutnya, dia dipindahkan ke sebuah sekolah Islam yang baru berdiri.

Setelah menamatkan sekolah dasar, Khamenei meneruskan studi di seminari teologi di kota kelahirannya. Di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab, dia mendapatkan bimbingan dari beberapa ulama besar serta mempelajari kurikulum tingkat menengah, termasuk filsafat, logika, dan yurisprudensi Islam dalam kurun waktu lima tahun.

Kemudian, Khamenei memulai pendidikan tingkat lanjut yang disebut sebagai darse kharij. Di sana, dia menerima berbagai pembelajaran dari ulama dan instruktur terkemuka Iran, seperti Ayatollah Agung Milani.

Ketika menginjak usia 18 tahun, Khamenei menjalani studinya di tingkat tertinggi. Dia memutuskan untuk berziarah ke berbagai tempat suci di Irak, dan karenanya dia meninggalkan Iran menuju Najaf pada 1957.

Namun, ayahnya menginginkan dia melanjutkan studi di Kota Qom, sehingga akhirnya memutuskan kembali ke Iran setahun kemudian.

Sejak 1958 hingga 1964, Sayyed Ali mengikuti studi lanjutan di Qom dan mendapat pengajaran dari para ulama besar. Namun, dia menerima kabar buruk bahwa ayahnya telah kehilangan kemampuan penglihatan pada satu mata, sehingga mendorongnya untuk kembali ke Mashhad.

Perjalanan Politik Ayatollah Ali Khamenei

Saat menempuh pendidikan di Qum pada 1962, Khamenei bergabung dengan barisan pengikut revolusioner Imam Khomeini yang menentang kebijakan rezim Shah yang pro-Amerika Serikat dan anti-Islam.

Berkontribusi selama 16 tahun, dia selanjutnya menyaksikan jatuhnya rezim Shah.

Pada Mei 1963, Imam Khomeini memberikan kepercayaan kepada Khamenei untuk menyampaikan pesan rahasia kepada Ayatollah Milani dan ulama lainnya di Mashhad. Dia menjalankan misinya dan pergi ke Kota Birjand untuk menyebarkan lebih jauh pandangan Imam Khomeini.

Di Birjand, Sayyed Ali ditangkap untuk pertama kali dan menghabiskan satu malam dalam kurungan penjara. Setelah itu, pihak berwenang melarangnya untuk berbicara di mimbar lagi. Lalu, akibat dari pemberontakan berdarah pada Juni 1963, dia kembali ditangkap dan dipindahkan ke Mashhad untuk ditahan selama 10 hari.

Pada Januari 1964, Khamenei dan beberapa teman dekatnya melakukan perjalanan ke Kirman dan Zahedan di Iran Selatan untuk mengungkap referendum palsu yang digelar Shah. Setelah itu, dia ditangkap oleh badan intelijen Shah, Savak, dibawa ke Teheran serta menghabiskan waktu di dalam sel isolasi selama dua bulan.

Setelah dibebaskan, Khamenei mulai memberikan pelajaran tentang tafsir Alquran, tradisi Nabi, serta ideologi Islam di Mashhad dan Teheran. Pada 1967, dia ditangkap kembali oleh Savak karena mengadakan kelas-kelas dan diskusi Islam semacam itu.

Sepanjang 1972-1975, Ayatollah Ali Khamenei lagi-lagi mengadakan kelas-kelas tentang Alquran dan ideologi Islam. Namun, pada 1975, dia kembali ditangkap untuk keenam kalinya serta semua buku dan catatannya disita.

Pada musim gugur 1975, Ayatollah Ali Khamenei dibebaskan, tetapi dilarang untuk memberikan ceramah atau mengadakan kelas. Akan tetapi, aktivitas rahasianya telah mendorong Savak untuk menangkapnya pada musim dingin pada 1976 dan menjatuhkan hukuman pengasingan selama tiga tahun.

Sesaat sebelum kemenangan Revolusi Islam pada 11 Februari 1979, Dewan Revolusi Islam dibentuk atas perintah Imam Khomeini. Ayatollah Ali Khamenei diangkat menjadi anggota Dewan bersama dengan tokoh-tokoh lain, seperti Syahid Ayatollah Muthahhari dan Beheshti.

Ida Rosdalina

berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pilihan Editor: Iran-Israel Memanas, Cuitan Lawas Ayatollah Ali Khamenei Viral

Artikel ini telah tayang di: Profil Ayatollah Ali Khamenei yang Diancam Bakal Dibunuh Israel