Oleh: Djoko Iriandono*)
Ramadhan telah memasuki hari ke-8. Tubuh kita mulai terbiasa menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Ritme sahur, aktivitas siang hari, hingga berbuka sudah terasa lebih stabil. Namun di balik keberhasilan menahan dahaga, muncul fenomena lain yang sering tak kita sadari: lapar mata.
Bukan lapar melihat kolak atau gorengan. Bukan sekadar menunggu azan maghrib dengan membayangkan es buah. Lapar ini berbeda. Ia muncul ketika tangan refleks menggenggam ponsel, membuka media sosial, lalu tenggelam dalam lautan konten digital tanpa henti. Scroll demi scroll. Video demi video. Platform demi platform. Hingga waktu berlalu tanpa terasa.
Puasa di era digital menghadirkan tantangan baru. Jika dahulu godaan terbesar adalah makanan dan minuman, kini godaan itu hadir dalam bentuk notifikasi, algoritma, dan hiburan instan yang tersedia 24 jam. Lalu, bagaimana agar puasa kita tidak hanya menahan lapar fisik, tetapi juga menjaga kejernihan hati dan pikiran?
Hakikat Puasa: Bukan Sekadar Menahan Lapar
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan utama puasa adalah takwa—kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Takwa bukan hanya soal tidak makan dan tidak minum. Ia adalah kemampuan mengendalikan diri, menjaga hati, dan menahan hawa nafsu.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan dia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini memberi pesan tegas: puasa bukan ritual fisik semata. Jika lisan, pikiran, dan perilaku masih liar, maka esensi puasa belum tercapai.
Dalam konteks hari ini, “perkataan dusta dan perbuatan buruk” bisa hadir dalam bentuk komentar kasar di media sosial, menyebarkan berita tanpa verifikasi, atau mengonsumsi konten yang merusak hati.
Lapar Digital: Ujian yang Tak Terlihat
Setelah berbuka atau selesai tarawih, sering kali kita merasa berhak memberi “hadiah” pada diri sendiri. “Siang sudah capek puasa,” kata hati kecil kita. Maka ponsel pun dibuka.
Awalnya hanya lima menit. Lalu sepuluh. Tanpa sadar, satu jam berlalu. Mata lelah, hati kosong, waktu malam Ramadhan terbuang.
Inilah yang bisa kita sebut sebagai lapar digital—dorongan untuk terus mengonsumsi konten tanpa batas. Berbeda dengan makanan yang membuat perut kenyang, konten digital justru sering membuat kita semakin ingin.
Allah SWT mengingatkan:
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini sangat relevan. Apa yang kita lihat di layar, apa yang kita dengar dari video, dan apa yang kita simpan dalam hati—semuanya tidak lepas dari hisab. Mata yang berpuasa bukan hanya dari melihat makanan, tetapi juga dari melihat hal-hal yang tidak bermanfaat.
Strategi Jitu Mengendalikan Konsumsi Konten Digital
Agar puasa kita tetap bermakna, berikut beberapa langkah yang bisa kita terapkan:
1. Niatkan Puasa Digital
Seperti halnya puasa makan dan minum, pengendalian digital juga harus dimulai dari niat. Tanamkan dalam hati bahwa Ramadhan adalah bulan pelatihan total—fisik dan mental.
Buat komitmen pribadi:
- Tidak membuka media sosial sebelum shalat Subuh.
- Membatasi waktu hiburan maksimal 30–60 menit setelah berbuka.
- Tidak scrolling setelah pukul 22.00.
- Dengan niat yang kuat, kita lebih mudah disiplin.
2. Ganti Scroll dengan Soul
Setiap kali tangan ingin membuka aplikasi hiburan, coba alihkan pada aktivitas ruhani:
- Membaca Al-Qur’an beberapa halaman.
- Mendengarkan kajian singkat.
- Berdzikir sebelum tidur.
- Berdialog hangat dengan keluarga.
- Menulis artikel ruhani.
Bayangkan jika kita memperlakukan Al-Qur’an seperti media sosial—dibuka setiap ada waktu senggang, dibaca dengan rasa penasaran, dan dirindukan setiap hari. Tentu kualitas Ramadhan kita akan berbeda.
3. Selektif dalam Konsumsi Konten
Tidak semua konten digital buruk. Namun, kita harus selektif.
Hindari:
- Konten yang memancing emosi dan kebencian.
- Perdebatan yang tidak produktif.
- Gosip dan aib orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menjadi prinsip emas dalam bermedia sosial. Jika sebuah konten tidak memberi manfaat dunia maupun akhirat, mengapa kita habiskan waktu untuknya?
4. Gunakan Teknologi untuk Kebaikan
Teknologi bukan musuh. Ia hanyalah alat. Kita bisa mengubah ponsel menjadi sarana ibadah:
- Mengikuti kajian online.
- Membaca tafsir digital.
- Mengatur pengingat waktu shalat.
- Menggunakan aplikasi pencatat target tilawah.
Masalahnya bukan pada perangkatnya, tetapi pada cara kita menggunakannya.
5. Ingat bahwa Waktu Ramadhan Terbatas
Ramadhan hanya datang sekali setahun. Tidak ada jaminan kita akan bertemu Ramadhan berikutnya. Waktu yang terbuang untuk scroll tanpa makna adalah waktu yang tak bisa kembali.
Allah SWT bersumpah dalam Al-Qur’an:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.”
(QS. Al-‘Asr: 1–2)
Kerugian itu sering kali bukan karena dosa besar, tetapi karena kelalaian kecil yang terus berulang.
Refleksi di Hari ke-8
Hari ke-8 adalah momentum evaluasi. Kita sudah membuktikan mampu menahan lapar dan haus. Kini saatnya bertanya: sudahkah kita menahan mata, telinga, dan jari?
Jangan sampai siang hari kita berjuang menahan diri, tetapi malam hari kita kalah oleh layar kecil di tangan. Jangan sampai Ramadhan berlalu dengan perut yang lapar, namun hati tetap kosong.
Puasa sejatinya adalah sekolah pengendalian diri. Jika selama 30 hari kita mampu mengendalikan konsumsi—baik makanan maupun konten—maka setelah Ramadhan pun kita akan lebih kuat menghadapi godaan zaman.
Akhirnya, mari kita jadikan Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar, tetapi juga bulan membersihkan pikiran. Bukan hanya bulan mengurangi makan, tetapi juga bulan mengurangi distraksi.
Karena yang ingin kita capai bukan sekadar menunggu azan maghrib, melainkan meraih derajat takwa.
Dan takwa tidak lahir dari scroll tanpa henti—ia tumbuh dari hati yang terjaga.
Wallahu a'lam bish-shawab.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim