Detail Update

Detail Update

Putihnya beras bukan karena alu (alat penumbuk), tetapi karena bergesek satu dengan yang lain.

Card image cap

Oleh: Djoko Iriandono *)

Dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur di hotel Blue Sky Balikpapan, salah seorang narasumber berstatus guru besar yang berasal dari UNESA Surabaya (Prof. Dr. Muchlas Samani) dengan gamblang menguraikan berbagai masalah pendidikan yang sedang mengemuka saat ini, yaitu mulai dari polemik sistem PPDB jalur zonasi, tingkat IPM Indonesia yang masih relatif rendah dan lain-lain sampai pada perbandingan nilai PISA anak-anak Indonesia jika disandingkan dengan nilai PISA anak-anak yang ada di asia dan dunia.

Pada saat memasuki sesi tanya jawab, dari semua penjelasan yang beliau berikan saat menjawab pertanyaan audien, Penulis tertarik untuk membahas satu kalimat yang merupakan pertanyaan balik dari narasumber. Beliau mengatakan “Anda tau selep?  (sejenis mesin penggiling padi/gabah)”. Secara serempak audien menjawab “tau”. Kemudian beliau melanjutkan bertanya kembali, “Mengapa gabah digiling bisa menghasilkan  butiran beras yang putih?”. Saat itu semua audien diam, kecuali Penulis yang dengan cepat secara spontanitas menjawab “Karena gesekan satu sama lain”.  

Tidak disangka ternyata jawaban tersebut dibenarkan oleh sang profesor. “Ya, benar katanya. Putihanya beras tersebut memang bukan karena digiling tetapi karena butiran beras tersebut bergesek antara yang satu dengan yang lainnya”. Penulis sebenarnya tidak merasa heran walaupun sang profesor mengatakan bahwa jawaban Penulis benar. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya jauh sebelumnya Penulis sering mendengar ungkapan bahasa Jawa yang berbunyi: “Putihe beras ora soko bebekan, ning soko gesekan sak konco kancane” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Putihnya beras bukan karena tumbukan alu (alat penumbuk), tetapi disebabkan karena bergeseknya butiran beras tersebut antara satu dengan lainnya”.

Ungkapan dalam bahasa Jawa tersebut sesungguhan memiliki makna yang mendalam. Oleh sebab itu pada kesempatan ini Penulis ingin membahas apa makna yang terkandung dalam ungkapan tersebut.

Ungkapan “putihe beras ora soko bebekan tapi soko gesekan sak konco kancane” memiliki makna filosofis mendalam yang menggambarkan proses kehidupan manusia. Sebagaimana beras yang menjadi putih bukan karena sekadar dipukuli dengan alu atau dihancurkan dengan mesin, tetapi melalui proses gesekan dengan beras lainnya, manusia pun menjadi matang dan berkarakter melalui interaksi, tantangan, dan kolaborasi dengan sesamanya.

Makna Filosofis Ungkapan

Ungkapan ini menekankan bahwa kesempurnaan atau hasil terbaik tidak muncul dari proses yang instan atau sepihak, melainkan dari dinamika yang saling melibatkan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat berkembang hanya dengan hidup dalam isolasi. Proses gesekan yang diibaratkan sebagai interaksi sosial, kritik, dan kerjasama adalah elemen penting yang membantu seseorang mencapai kematangan dan kebijaksanaan.

Sebagai contoh, dalam dunia kerja, seseorang tidak akan menjadi profesional hanya dengan menjalani rutinitasnya sendiri. Interaksi dengan kolega, diskusi, hingga kritik yang membangun menjadi bagian dari pembelajaran. Begitu pula dalam kehidupan berkeluarga, gesekan berupa perbedaan pendapat antara anggota keluarga sering kali menjadi sarana pembentukan hubungan yang lebih kuat dan mendalam.

Proses Gesekan sebagai Bagian dari Kehidupan

Proses gesekan ini tidak selalu nyaman. Kadang kala, gesekan dapat menyebabkan konflik, kesalahpahaman, atau bahkan rasa sakit. Namun, seperti beras yang membutuhkan gesekan untuk menjadi bersih dan siap diolah, manusia pun memerlukan tantangan dalam hidupnya. Setiap gesekan adalah peluang untuk belajar, memperbaiki diri, dan menjadi lebih baik.

Misalnya, di lingkungan pendidikan, siswa yang sering berdiskusi dan berkolaborasi dengan teman-temannya akan lebih cepat memahami pelajaran dibandingkan dengan belajar sendiri. Di sisi lain, gesekan dalam bentuk persaingan juga bisa menjadi pendorong bagi seseorang untuk meningkatkan kualitas diri.

Relevansinya dengan keterampilan abad 21.

Ungkapan ini juga mengajarkan pentingnya kolaborasi. Tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Gesekan antara “konco kancane” menunjukkan bahwa hubungan sosial yang harmonis  membantu setiap individu menjadi versi terbaik dari dirinya.

Dari berbagai sumber bacaan kita akan temukan pendapat yang mengatakan bahwa untuk dapat hidup dengan layak (survive), siswa abad 21 memerlukan kompetensi yang lebih kompleks. Bukan hanya keterampilan teknis (hard skill) semata, tetapi juga keterampilan non-teknis (soft skill) seperti kemampuan interpersonal (berinteraksi, berkomunikasi, berempati dan bekerja sama dengan orang lain), keterampilan manajemen diri (manajemen waktu, adaptabilitas, kemanidirian, dan ketangguhan), kemampuan berfikir kritis (berfikir kritis, kreatif dan mampu memecahkan masalah) serta keterampilan non teknis lainnya. Semua ketrampilan non-teknis tersebut akan dapat tumbuh dan berkembang dalam diri seseorang ketika mereka mau bergaul dan bergesek dengan teman-teman lainnya.

Sebagai bagian dari masyarakat, kita diajarkan untuk menghormati perbedaan dan mampu bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam konteks ini, gesekan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi diterima sebagai proses alami untuk membentuk karakter dan memperkuat hubungan sosial.

“Putihe beras ora soko bebekan tapi soko gesekan sak konco kancane” mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan adalah proses yang melibatkan banyak pihak dan dinamika. Kesempurnaan atau keberhasilan tidak datang dari jalan yang mudah, melainkan melalui interaksi, tantangan, dan kerja sama dengan orang lain.

Seperti beras yang menjadi putih dan bersih karena gesekan, manusia pun mencapai kebijaksanaan dan kematangan melalui proses belajar bersama dengan sesamanya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menerima setiap gesekan dalam hidup sebagai bagian dari pembentukan diri yang lebih baik, sembari menjaga nilai-nilai kolaborasi dan kebersamaan. Dan yang paling penting dalam proses gesekan, jangan suka baperan apalagi suka tersinggung dan sakit hati.

 

*) Kasi Kominfo BPIC