Oleh: Djoko Iriandono*)
Ba’da dhuhur di masjid selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Hati terasa lebih teduh. Dalam salah satu kajian Ramadhan, saya kembali diingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi nilai ibadah.
Allah ﷻ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa jelas: takwa. Dan takwa itu bukan hanya ritual, tetapi pengendalian diri.
1️⃣ Menahan Lapar Itu Fisik, Menahan Lisan Itu Spiritual
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan pula berbuat bodoh. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, maka hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat dalam maknanya.
Puasa bukan hanya menahan makan, tetapi menahan reaksi.
Di zaman sekarang, mungkin bentuk “bertengkar” bukan hanya adu mulut, tetapi adu komentar. Adu status. Adu opini. Bahkan kadang adu sindiran.
Padahal Allah telah mengingatkan:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan salam (kata-kata yang baik).”
(QS. Al-Furqan: 63)
Diam yang santun adalah tanda kedewasaan iman.
2️⃣ Tidak Semua Hal Perlu Ditanggapi
Sering kali kita merasa harus menjawab setiap tudingan. Harus membalas setiap sindiran. Harus meluruskan setiap perbedaan.
Padahal Allah berfirman:
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik.”
(QS. Fussilat: 34)
Menariknya, “cara yang lebih baik” tidak selalu berarti membalas dengan argumen. Terkadang cara terbaik adalah tidak memperpanjang.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kalimat ini sederhana, tetapi menjadi standar emas komunikasi seorang mukmin.
Berkata baik atau diam.
Bukan berkata apa saja.
3️⃣ Bahaya Lisan dan Jari yang Tidak Dijaga
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ memperingatkan:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad, Ibnu Majah)
Mengapa bisa demikian?
Karena puasa bisa rusak oleh perilaku. Oleh ucapan. Oleh akhlak.
Allah pun menegaskan:
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
(QS. Qaf: 18)
Di era digital, ayat ini terasa semakin relevan.
Bukan hanya lisan yang berbicara, tetapi jari-jari kita.
Setiap komentar adalah catatan.
Setiap unggahan adalah pertanggungjawaban.
4️⃣ Diam Bukan Lemah, Tetapi Kekuatan
Sering kali kita mengira orang yang membalas adalah orang kuat. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah kekuatan sejati: pengendalian diri.
Puasa adalah latihan tahunan untuk memperkuat otot kesabaran.
Allah berjanji:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Dan tentang pahala kesabaran:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)
Tanpa batas.
5️⃣ Ramadhan dan Pembentukan Karakter
Puasa adalah ibadah yang sangat personal. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mengapa demikian?
Karena puasa membentuk karakter dari dalam. Ia tidak selalu terlihat, tetapi terasa.
Allah menegaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ramadhan adalah momentum perubahan itu.
Jika selama ini kita mudah reaktif, Ramadhan melatih kita menjadi reflektif.
Jika selama ini kita cepat membalas, Ramadhan melatih kita menimbang.
Jika selama ini kita keras dalam berkomentar, Ramadhan melembutkan hati.
Penutup Reflektif
Mungkin dunia tidak akan berubah hanya karena kita memilih diam.
Tetapi jiwa kita akan berubah.
Dan dari jiwa yang tenang, lahirlah keputusan yang bijak.
Semoga setelah Ramadhan berlalu, kita tidak hanya kembali makan seperti biasa, tetapi juga tetap menjaga lisan seperti saat berpuasa.
Karena pada akhirnya, puasa bukan sekadar menahan lapar.
Ia adalah pendidikan takwa.
Ia adalah sekolah kesabaran.
Ia adalah latihan menjadi manusia yang lebih dewasa dalam bersikap.
Dan mungkin, di tengah dunia yang begitu bising ini, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil menjawab semua hal—
tetapi ketika kita mampu memilih untuk berkata baik… atau diam.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim