Detail Update

Detail Update

SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN

Card image cap

Oleh: Djoko Iriandono *)

Pepatah "Sedia payung sebelum hujan" sangat populer di negara kita karena mudah sekali dipahami maknanya. Pepatah ini mengajarkan kepada kita pentingnya antisipasi dan persiapan sebelum menghadapi kemungkinan buruk. Sayangnya, kebiasaan ini belum sepenuhnya menjadi budaya masyarakat Indonesia. Dalam konteks melaksanakan kegiatan di luar rumah, kebiasaan masyarakat Indonesia jauh berbeda dengan masyarakat di negara-negara maju, khususnya yang memiliki tingkat literasi tinggi. Salah satu contohnya adalah bagaimana masyarakat memanfaatkan informasi cuaca sebelum beraktivitas.

Di negara-negara maju, terutama yang berada di wilayah subtropis, masyarakat memiliki kebiasaan mengecek prakiraan cuaca sebelum keluar rumah. Informasi ini menjadi acuan untuk memilih pakaian, membawa perlengkapan seperti payung atau jas hujan, bahkan menentukan rute perjalanan. Tingginya tingkat literasi di negara-negara tersebut membuat masyarakat terbiasa membaca dan memahami informasi dari lembaga resmi, seperti layanan prakiraan cuaca. Sebaliknya, kebiasaan seperti ini belum menjadi prioritas di Indonesia.

Sebagian besar masyarakat Indonesia cenderung mengandalkan insting atau pengalaman sebelumnya daripada informasi terkini. Contohnya, banyak orang yang keluar rumah tanpa persiapan menghadapi hujan, meskipun telah ada peringatan cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Di bulan Desember, misalnya, BMKG sering kali mengeluarkan peringatan mengenai cuaca ekstrem, seperti hujan deras disertai angin kencang dan petir. Namun, banyak masyarakat yang tetap abai terhadap informasi ini, yang pada akhirnya meningkatkan risiko kecelakaan di jalan, banjir, atau bahkan kerusakan properti.

Kebiasaan ini tidak hanya merugikan secara individu tetapi juga secara kolektif. Ketidaksiapan menghadapi cuaca buruk dapat menyebabkan kemacetan lalu lintas, keterlambatan aktivitas, hingga korban jiwa. Padahal, informasi yang diberikan oleh BMKG sudah sangat mudah diakses, baik melalui aplikasi ponsel, situs web, maupun media sosial. Hanya saja, masyarakat perlu didorong untuk membangun kesadaran akan pentingnya memanfaatkan informasi ini.

Mengapa masyarakat Indonesia belum terbiasa memanfaatkan informasi cuaca? Salah satu penyebabnya adalah rendahnya literasi informasi. Banyak yang belum memahami bagaimana informasi cuaca diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Selain itu, ada kecenderungan untuk meremehkan potensi risiko, yang bisa jadi merupakan hasil dari pola pikir "asal sudah biasa."

Oleh karena itu, perlu ada langkah konkret untuk membiasakan masyarakat "sedia payung sebelum hujan." Edukasi mengenai pentingnya membaca informasi cuaca harus dimulai sejak dini, baik di lingkungan sekolah maupun komunitas. Pemerintah dan media juga memiliki peran besar dalam menyampaikan informasi cuaca dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.

Di tengah perubahan iklim global yang semakin tidak menentu, kesadaran akan pentingnya antisipasi cuaca menjadi lebih relevan dari sebelumnya. Indonesia, sebagai negara tropis dengan curah hujan tinggi, sangat rentan terhadap dampak buruk cuaca ekstrem. Hujan lebat yang sering kali terjadi pada bulan-bulan tertentu, seperti Desember, tidak hanya membawa risiko banjir, tetapi juga dapat menyebabkan tanah longsor, kerusakan infrastruktur, dan kecelakaan lalu lintas.

Selain itu, pendekatan berbasis teknologi dapat mempermudah masyarakat dalam mengakses informasi cuaca. Aplikasi mobile BMKG, misalnya, dapat terus dikembangkan agar lebih interaktif dan ramah pengguna. Fitur notifikasi langsung mengenai peringatan cuaca ekstrem, lengkap dengan saran tindakan, dapat membantu masyarakat lebih waspada. Media sosial juga dapat menjadi alat yang efektif untuk menjangkau generasi muda, yang sebagian besar sudah akrab dengan platform digital.

Namun, edukasi saja tidak cukup. Diperlukan pula perubahan pola pikir masyarakat. Kesadaran kolektif bahwa informasi cuaca adalah sesuatu yang penting harus ditanamkan, bukan hanya sebagai kewajiban individu, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Contohnya, seorang pengemudi angkutan umum yang mempersiapkan perjalanan berdasarkan informasi cuaca tidak hanya melindungi dirinya sendiri tetapi juga keselamatan para penumpangnya.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu memastikan infrastruktur yang mendukung kesiapan masyarakat menghadapi cuaca ekstrem. Misalnya, memastikan keberadaan saluran air yang memadai untuk mencegah banjir, menyediakan tempat penampungan darurat di daerah rawan, hingga memperbaiki jalanan yang sering rusak akibat hujan deras. Semua ini adalah bentuk implementasi dari semangat "sedia payung sebelum hujan" dalam skala yang lebih besar.

Dengan mengadopsi kebiasaan masyarakat maju, kita tidak hanya melindungi diri sendiri tetapi juga membantu menciptakan masyarakat yang lebih tanggap terhadap risiko. Akhirnya, pepatah “Sedia payung sebelum hujan” bukan hanya menjadi ungkapan kosong, melainkan panduan hidup yang nyata. Sebab, persiapan adalah kunci untuk menghadapi ketidakpastian, termasuk cuaca ekstrem yang kini semakin sering terjadi.

Pada akhirnya, pepatah ini mengingatkan kita bahwa kesiapan adalah bagian dari kearifan hidup. Meniru kebiasaan baik dari negara-negara maju, seperti membaca prakiraan cuaca sebelum keluar rumah, adalah langkah sederhana namun sangat berarti. Dengan meningkatkan literasi informasi dan membangun budaya antisipasi, masyarakat Indonesia dapat lebih tangguh dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang kian sering melanda. Sebab, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, dan persiapan adalah bentuk perlindungan terbaik yang dapat kita lakukan untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

*) Kasi Kominfo BPIC