Oleh: Djoko Iriandono*)
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menemui orang-orang yang lantang berbicara, seolah-olah mereka tahu banyak tentang suatu hal, tetapi ketika kita teliti lebih jauh, ternyata informasi yang mereka miliki hanya sepenggal kecil dari keseluruhan peristiwa yang sebenarnya. Fenomena ini bukanlah hal baru, tetapi menjadi semakin jelas di era digital seperti sekarang ini, di mana informasi begitu mudah diakses, dan setiap orang bisa berpendapat bebas tanpa filter.
Sering kita temukan orang-orang di media sosial yang berkomentar pedas atau memberikan opini yang kuat tentang suatu isu, padahal hanya membaca judul berita atau mendengar informasi sepotong-sepotong. Misalnya, ketika ada berita viral, banyak yang langsung menuliskan tanggapan negatif tanpa membaca keseluruhan isi berita atau mencari sumber lain. Akibatnya, opini mereka sering tidak akurat dan bisa menyebarkan informasi keliru.
Begitu pula jika kita menonton acara debat di televisi. Kita akan menyaksikan orang orang yang berani berbicara lantang dan berdebat panjang lebar meski sesungguhnya informasi yang mereka miliki hanya sepihak. Misalnya, ada seorang narasumber yang baru saja mendengar/mengetahui berita tentang kebijakan pemerintah dari satu media, lalu merasa cukup paham untuk mengkritik atau mendukung tanpa mencari tahu sudut pandang atau fakta dari sumber lain. Hal ini dapat memperkeruh situasi, terutama jika mereka hanya mengetahui sebagian dari isu yang sebenarnya kompleks.
Sesendok ilmu itu lebih baik daripada lautan opini, itu kata orang bijak. Hal ini menggambarkan bahwa pemahaman yang mendalam dan akurat jauh lebih berharga dibandingkan opini atau pernyataan yang hanya berdasarkan pada informasi yang setengah matang. Sayangnya, banyak dari kita yang terlalu cepat untuk mengeluarkan pendapat tanpa menyadari bahwa pemahaman kita mungkin masih dangkal.
Salah satu penyebab dari fenomena ini adalah adanya keinginan untuk "terlihat tahu." Banyak orang merasa bahwa berbicara banyak atau menyampaikan opini dengan lantang bisa membuat mereka tampak lebih pintar atau berwawasan luas. Padahal, tanpa dasar pengetahuan yang memadai, apa yang mereka sampaikan justru rentan salah dan dapat menyesatkan orang lain.
Ketika seseorang hanya memiliki sedikit informasi tetapi berani membicarakan banyak hal, risiko utamanya adalah mereka bisa salah memahami konteks, tujuan, atau inti dari peristiwa tersebut. Ketidaktahuan ini bisa berakibat pada kesimpulan yang keliru dan pada akhirnya bisa menimbulkan konflik, kesalahpahaman, atau bahkan kebencian terhadap pihak lain.
Di sisi lain, orang yang bijak akan berpikir dua kali sebelum berbicara. Mereka lebih memilih untuk memahami dengan benar, menggali informasi lebih dalam, dan memastikan bahwa apa yang mereka ketahui benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Kebijaksanaan ini membuat mereka terlihat lebih tenang dan tidak terburu-buru dalam berkomentar, karena mereka menyadari bahwa setiap kata yang keluar membawa konsekuensi.
Untuk itu, mari kita belajar untuk lebih bijaksana dalam berbicara. Jika informasi yang kita miliki masih terbatas, tidak ada salahnya untuk tetap diam dan mendengarkan. Mari jadikan pengetahuan yang mendalam sebagai landasan kita dalam berbicara, sehingga apa yang kita sampaikan benar-benar dapat memberi manfaat, bukan justru membawa kebingungan atau kesalahpahaman bagi orang lain.
*) Kasi Kominfo BPIC