IKN
Oleh: Djoko Iriandono*)
Pagi tadi, tepat pukul 07.00, kami berkumpul di Islamic Center Samarinda untuk bersiap-siap menuju Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Sebelum berangkat, kami sepakat untuk sarapan terlebih dahulu. Namun, saat sedang menikmati sarapan, salah seorang dari kami membuka Facebook dan menemukan informasi bahwa jalan menuju IKN ada yang longsor dan tidak bisa dilewati. Mendengar itu, kami saling berpandangan, menjadi ragu, dan mulai mempertanyakan apakah perjalanan ini bisa dilanjutkan atau tidak.
Di tengah kebingungan, salah seorang teman dengan tegas mengusulkan, “Jangan bingung, kita harus tabayun. Ayo cari informasi dari orang-orang yang tinggal di sekitar IKN. Siapa di antara kita yang punya kontak teman atau keluarga di sana?” Akhirnya, kami menghubungi beberapa orang di wilayah tersebut dan mendapat kepastian bahwa jalan menuju IKN aman dan dapat dilewati. Dengan rasa yakin, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah, perjalanan kami berlangsung lancar, dan kami dapat kembali ke rumah dengan selamat. Sehubungan dengan cerita di atas, maka artikel kali ini Penulis ingin membahas tentang tabayun dalam perepektif umum dan perspektif Islam.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada informasi yang datang dari berbagai sumber, terutama di era digital saat ini. Salah satu kisah yang mencerminkan pentingnya berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi adalah pengalaman perjalanan menuju Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Ketika sebuah kabar tersebar tentang jalan yang longsor, sekelompok teman yang awalnya hendak berangkat menjadi ragu. Namun, dengan sikap bijak mereka memutuskan untuk tabayun atau memverifikasi informasi tersebut, yang akhirnya memastikan perjalanan mereka berjalan lancar.
Tabayun dalam Perspektif Umum
Dalam pandangan umum, tabayun dapat dipahami sebagai proses memeriksa, menilai, dan memverifikasi informasi sebelum menerimanya sebagai kebenaran atau menyebarkannya lebih lanjut. Ini adalah langkah penting untuk menghindari kesalahpahaman, fitnah, atau tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Era media sosial telah memungkinkan informasi menyebar dengan cepat, tetapi tidak semua informasi yang beredar dapat dipercaya. Tanpa verifikasi, kita berisiko terperangkap dalam hoaks atau informasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sumber informasi menjadi keharusan. Sebagaimana prinsip dalam literasi digital, kita dianjurkan untuk memeriksa keabsahan sumber, membandingkan dengan sumber lain, dan memastikan fakta yang ada.
Tabayun dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, tabayun adalah ajaran yang memiliki landasan kuat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi. Prinsip tabayun menuntut kita untuk memeriksa kebenaran berita, khususnya yang berpotensi menimbulkan dampak buruk. Sikap ini tidak hanya melindungi diri dari dosa menyebarkan kebohongan, tetapi juga menjaga keharmonisan sosial dan menghindari fitnah.
Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya tentang bahaya menyebarkan informasi tanpa tabayun. Beliau bersabda:
“Cukuplah seseorang dikatakan pendusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar.”
(HR. Muslim)
Penerapan Tabayun dalam Kehidupan Sehari-Hari
Kisah perjalanan menuju IKN Nusantara menunjukkan bagaimana tabayun dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Alih-alih langsung percaya pada informasi dari media sosial, sekelompok teman tersebut memutuskan untuk memverifikasi kabar tersebut dengan menghubungi orang-orang yang tinggal di sekitar lokasi. Keputusan ini membuahkan hasil yang positif, yaitu memastikan perjalanan mereka aman dan lancar.
Dalam situasi lain, tabayun dapat dilakukan dengan:
Kesimpulan
Tabayun adalah prinsip penting yang harus diterapkan dalam menerima dan menyebarkan informasi, baik dari sudut pandang umum maupun Islam. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ini membantu kita terhindar dari kesalahpahaman dan dampak negatif yang ditimbulkan oleh informasi yang tidak benar. Sebagai seorang Muslim, tabayun juga merupakan bentuk ketaatan pada ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya. Dengan mempraktikkan tabayun, kita tidak hanya menjaga diri dari dosa, tetapi juga berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih damai dan harmonis.
*) Kasi Kominfo BPIC