Berbuat baik tanpa harus dilihat orang.
Tak Perlu Terlihat Baik di Mata Semua Orang, Cukuplah Allah Mengetahui
Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M
Ketua Umum BPIC Kaltim
Tidak semua kebaikan akan mendapatkan pujian. Tidak semua ketulusan akan dibalas dengan penghargaan. Namun, jangan biarkan penilaian manusia membuat kita berhenti berbuat baik.
Ada satu hal yang perlahan-lahan kita pahami seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, yaitu: kita tidak akan pernah mampu menyenangkan semua orang.
Seberapa keras kita berusaha menjadi baik, akan selalu ada orang yang melihat kekurangan kita. Sebaik apa pun niat kita, akan selalu ada yang meragukannya. Bahkan ketika kita melakukan sesuatu dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan, tidak semua orang akan melihatnya sebagai ketulusan.
Ada yang menilainya sebagai pencitraan. Ada yang menganggapnya sebagai kepentingan tersembunyi. Ada pula yang tetap mencari-cari kesalahan, seolah-olah kebaikan seseorang baru dapat diterima jika tidak menyisakan sedikit pun kekurangan.
Begitulah manusia. Kita menilai orang lain melalui sudut pandang, pengalaman, prasangka, bahkan kepentingan kita sendiri. Apa yang menurut seseorang baik, belum tentu dipandang baik oleh orang lain.
Jika kita terus-menerus berusaha memenuhi semua penilaian itu, kapan kita akan merasa cukup?
Kita bisa menghabiskan sebagian besar hidup hanya untuk menjelaskan diri, membela niat, meluruskan prasangka, dan membuktikan bahwa kita bukanlah seperti yang dituduhkan orang lain. Energi yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki diri justru habis untuk mengejar pengakuan.
Padahal, hidup ini terlalu berharga jika hanya digunakan untuk memenangkan penilaian manusia.
Belajarlah Berbuat Baik karena Allah
Ada perbedaan besar antara berbuat baik agar dipuji manusia dan berbuat baik karena mengharapkan rida Allah.
Orang yang berbuat baik demi pujian akan mudah kecewa ketika kebaikannya tidak dihargai. Ia merasa usahanya sia-sia ketika tidak mendapatkan ucapan terima kasih. Bahkan, ia mungkin berhenti membantu ketika merasa tidak lagi dianggap penting.
Sebaliknya, orang yang berusaha berbuat baik karena Allah memiliki landasan yang berbeda. Ia menyadari bahwa tidak semua kebaikan harus disaksikan manusia. Tidak semua pertolongan harus diumumkan. Tidak semua pengorbanan harus mendapatkan tepuk tangan.
Ada kebaikan yang cukup diketahui oleh diri sendiri dan Allah.
Ada air mata yang jatuh dalam doa tanpa diketahui siapa pun. Ada bantuan yang diberikan diam-diam. Ada pengorbanan yang tidak pernah diceritakan. Ada pula kesabaran yang disimpan rapat-rapat, meskipun hati sedang menanggung beban yang berat.
Semua itu mungkin luput dari perhatian manusia. Namun, bagi seorang mukmin, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"… Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 110)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa ukuran kebaikan tidak berhenti pada apa yang terlihat oleh manusia. Allah mengetahui apa yang kita lakukan, memahami apa yang kita usahakan, dan mengetahui isi hati yang tidak mampu kita ungkapkan dengan kata-kata.
Karena itu, jangan berhenti menjadi baik hanya karena tidak mendapatkan pujian. Jangan pula merasa tidak berguna hanya karena pengorbanan kita tidak dihargai.
Selama kita terus berusaha memperbaiki niat, menjaga perilaku, dan memberikan manfaat bagi sesama, tetaplah berjalan di jalan kebaikan.
Biarlah manusia memiliki penilaiannya sendiri. Tugas kita bukan mengendalikan pikiran semua orang, melainkan menjaga agar diri kita tidak kehilangan arah dalam mencari rida Allah.
Tidak Semua Hal Harus Dijelaskan
Dalam kehidupan, ada saatnya kita perlu berbicara untuk meluruskan kesalahpahaman. Ada pula saatnya kita perlu membela diri demi menjaga kehormatan, menegakkan kebenaran, atau mencegah orang lain dirugikan oleh informasi yang keliru.
Namun, tidak semua tuduhan harus dijawab. Tidak semua komentar perlu ditanggapi. Tidak semua orang harus diyakinkan tentang siapa diri kita sebenarnya.
Ada kalanya penjelasan justru memperpanjang persoalan. Semakin banyak kita berbicara, semakin banyak pula hal yang diperdebatkan. Kita menjelaskan niat, tetapi orang lain tetap mencurigainya. Kita meluruskan perkataan, tetapi mereka tetap berpegang pada prasangka.
Pada titik tertentu, kita perlu belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua orang bersedia memahami kita.
Bukan karena kita merasa paling benar, apalagi menganggap diri tidak pernah salah. Kita hanya menyadari bahwa kemampuan manusia untuk memahami orang lain memiliki batas.
Ada orang yang bersedia mendengar agar dapat memahami. Namun, ada pula yang mendengar hanya untuk menemukan celah membantah.
Kepada orang yang sungguh-sungguh ingin memahami, berikan penjelasan dengan baik. Kepada orang yang membutuhkan bukti, tunjukkan melalui tindakan dan tanggung jawab. Tetapi ketika kita berhadapan dengan prasangka yang tidak berkesudahan, tidak ada salahnya memilih diam dan melanjutkan kehidupan.
Diam bukan selalu tanda kelemahan. Terkadang, diam merupakan cara menjaga ketenangan agar kita tidak terjebak dalam pertengkaran yang tidak membawa manfaat.
Kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan untuk membuktikan bahwa kita memiliki prinsip. Kita juga tidak harus mendapatkan pengakuan dari setiap orang untuk meyakini bahwa hidup kita memiliki arti.
Namun, jangan jadikan sikap diam sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab. Jika kita memang bersalah, akuilah. Jika kita menyakiti seseorang, mintalah maaf. Jika kita keliru, perbaikilah.
Sebab, tujuan kita bukan sekadar terlihat baik, melainkan sungguh-sungguh menjadi lebih baik.
Allah Mengetahui Apa yang Tidak Diketahui Manusia
Manusia hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan kita. Mereka melihat apa yang tampak, mendengar apa yang diceritakan, lalu menyusun kesimpulan berdasarkan informasi yang mereka miliki.
Mereka mungkin tidak mengetahui perjuangan yang kita lalui. Mereka tidak menyaksikan pergulatan batin ketika kita harus memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan orang lain. Mereka tidak selalu memahami alasan di balik keputusan yang kita ambil.
Bahkan, orang yang paling dekat dengan kita pun belum tentu mengetahui seluruh isi hati kita.
Akan tetapi, Allah mengetahui semuanya.
Allah mengetahui niat yang tidak terucapkan. Allah mengetahui kesedihan yang kita sembunyikan di balik senyuman. Allah mengetahui perjuangan untuk tetap sabar ketika diperlakukan tidak adil. Allah juga mengetahui kesalahan yang mungkin tidak pernah diketahui manusia, tetapi diam-diam kita sesali dan berusaha kita perbaiki.
Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih tenang sekaligus lebih berhati-hati.
Lebih tenang karena kita tidak perlu menggantungkan seluruh kebahagiaan pada pengakuan manusia. Lebih berhati-hati karena kita tidak dapat menyembunyikan apa pun dari Allah.
Jangan sampai kita begitu sibuk menjaga citra di hadapan manusia, tetapi melupakan keadaan diri di hadapan-Nya.
Jangan sampai kita merasa puas karena dianggap saleh, bijaksana, dermawan, atau berintegritas, sementara kita sendiri mengetahui masih ada banyak hal yang harus diperbaiki.
Sebab, penampilan yang baik belum tentu mencerminkan hati yang baik. Sebaliknya, orang yang tidak banyak berbicara tentang kebaikannya bisa jadi sedang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menjaga ketulusan.
Yang terpenting bukanlah seberapa baik kita terlihat di mata manusia, melainkan seberapa jujur kita berusaha menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai yang diridai Allah.
Menjadi Baik Tidak Berarti Harus Sempurna
Ada hal lain yang perlu kita pahami: berusaha menjadi baik bukan berarti kita tidak boleh memiliki kekurangan.
Kita manusia biasa. Kita pernah salah mengambil keputusan, pernah mengucapkan kata-kata yang menyakiti, pernah bersikap kurang bijaksana, dan mungkin pernah mengecewakan orang yang menyayangi kita.
Kita tidak perlu menyangkal semua itu hanya demi mempertahankan citra sebagai orang baik.
Justru, salah satu tanda kedewasaan adalah keberanian untuk mengakui kekurangan tanpa kehilangan kemauan untuk memperbaiki diri.
Jika hari ini kita melakukan kesalahan, belajarlah agar esok tidak mengulanginya. Jika hari ini kita belum mampu bersikap sabar, latihlah kesabaran. Jika kita pernah menyakiti orang lain, berusahalah memperbaiki hubungan dan tidak mengulangi perbuatan yang sama.
Kita tidak dapat mengubah seluruh penilaian manusia. Namun, kita masih dapat mengubah sikap, memperbaiki niat, dan membenahi perilaku kita sendiri.
Jangan biarkan kritik membuat kita membenci diri sendiri. Namun, jangan pula menolak semua kritik hanya karena kita merasa niat kita sudah baik.
Ada kritik yang lahir dari kepedulian dan patut kita dengarkan. Ada teguran yang membantu kita melihat kekurangan yang sebelumnya tidak kita sadari. Tetapi ada pula penilaian yang tidak adil dan tidak perlu kita jadikan ukuran harga diri.
Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan keduanya.
Dengan begitu, kita tidak menjadi manusia yang mudah hancur karena celaan, tetapi juga tidak tumbuh menjadi pribadi yang keras hati terhadap nasihat.
Menjalani Hidup dengan Hati yang Lebih Lapang
Semakin bertambah usia, semestinya semakin banyak hal yang kita pahami tentang kehidupan.
Kita mulai menyadari bahwa tidak semua orang akan menyukai kita. Tidak semua kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Tidak semua pengorbanan akan dikenang. Dan tidak semua orang yang kita bantu akan selalu berdiri di pihak kita.
Namun, semua itu tidak harus membuat kita kehilangan kepercayaan terhadap kebaikan.
Tetaplah menolong ketika mampu. Tetaplah berkata jujur meskipun kejujuran tidak selalu menguntungkan. Tetaplah menjaga amanah meskipun tidak ada yang mengawasi. Tetaplah menghormati orang lain meskipun tidak semua orang memperlakukan kita dengan cara yang sama.
Bukan karena kita yakin akan selalu mendapatkan balasan yang setimpal dari manusia, melainkan karena kita ingin menjaga nilai-nilai yang kita yakini benar.
Jika mendapatkan pujian, terimalah dengan rendah hati. Jika mendapatkan kritik, periksalah dengan lapang dada. Jika menghadapi fitnah, tempuhlah cara yang bijaksana untuk menjaga kebenaran. Dan jika ada orang yang tetap salah memahami kita setelah kita berusaha menjelaskan dengan baik, belajarlah untuk tidak terus-menerus membawa persoalan itu ke dalam hati.
Hidup akan terasa lebih ringan ketika kita berhenti memikul tanggung jawab atas semua penilaian orang lain.
Kita tidak ditugaskan untuk membuat seluruh dunia menyukai kita. Kita juga tidak dituntut untuk membuktikan kebaikan kita kepada setiap orang.
Yang perlu kita lakukan adalah terus memperbaiki diri, menjaga hubungan dengan sesama, menunaikan tanggung jawab, dan memohon agar Allah membimbing langkah-langkah kita.
Sebab, ketenangan tidak selalu datang ketika semua orang memahami kita. Terkadang, ketenangan hadir ketika kita menyadari bahwa kita telah berusaha melakukan yang benar, bersedia memperbaiki kesalahan, dan menyerahkan hal-hal yang berada di luar kendali kita kepada Allah.
Berusahalah menjadi baik karena Allah, bukan semata-mata agar dipandang baik oleh manusia.
Ketika dipuji, jangan terbang terlalu tinggi. Ketika dicela, jangan jatuh terlalu dalam. Keduanya adalah penilaian manusia yang bisa berubah seiring waktu.
Jadikan pujian sebagai pengingat untuk bersyukur, dan jadikan kritik sebagai kesempatan untuk bercermin. Namun, jangan biarkan keduanya menentukan seluruh nilai diri kita.
Pada akhirnya, ada satu pertanyaan yang lebih penting daripada, “Apa kata orang tentang diriku?”
Pertanyaan itu adalah, “Sudahkah aku berusaha menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah?”
Pertanyaan inilah yang layak kita bawa dalam kesunyian, kita renungkan dalam doa, dan kita jawab melalui tindakan sehari-hari.
Semoga kita diberi hati yang tulus ketika berbuat baik, jiwa yang lapang ketika menghadapi celaan, keberanian untuk mengakui kesalahan, serta kebijaksanaan untuk membedakan mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.
Sebab, hidup bukan tentang menghabiskan waktu untuk menjelaskan siapa diri kita kepada semua orang.
Hidup adalah perjalanan untuk terus memperbaiki diri, menebarkan manfaat, menjaga ketulusan, dan mendekatkan hati kepada Allah.
Biarlah manusia mengenal kita sebatas yang mereka lihat. Semoga Allah menilai kita dengan rahmat-Nya, mengampuni kekurangan kita, dan membimbing kita menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
آمين يا رب العالمين.