Oleh: Djoko Iriandono*)
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tiba-tiba mempunyai padan kata sekonyong-konyong atau mendadak. Kata tiba-tiba ini tergolong sebagai kata keterangan yang menjelaskan suatu kejadian terjadi secara cepat dan tak terduga serta tidak pernah diberikan informasi sebelumnya. Tiba-tiba saja terjadi tanpa kontrol kita, tanpa kehendak kita dan jika sudah terjadi kita tidak bisa menolaknya, menghindarinya apalagi melawannya.
Ada kalanya kejadian yang bersifat tiba-tiba yang masih mampu kita atasi. Misalnya saat kita berjalan atau naik sepeda motor dari rumah menuju ke tempat kerja tiba-tiba turun hujan deras. Maka kita bisa berhenti sejenak untuk mengambil jas hujan yang tersimpan di dalam tas atau jok sepeda motor kemudian kita kenakan. Atau kita bisa menepi dan berteduh di bawah pohon atau rumah orang atau kita merespon apa saja tergantung persiapan kita.
Namun bagaimana jika yang terjadi secara tiba-tiba itu adalah kematian? Dapatkah kita mengatasinya?
Bisakah kita berlari untuk menghindar?
Bisakah kita meminta tolong orangtua kita?
Bisakah kita bersembunyi darinya?
Bisakah kita meminta ditunda barang sedetik saja?
Jawabannya : TIDAK BISA.
Kematian bisa datang kapan saja, dimana saja dan tidak pernah memberi tahu kita.
Ketahuilah kawan bahwa hidup ini penuh dengan kejutan. Kadang, kita menjalani hari-hari dengan rutinitas, merasa semuanya akan berjalan sesuai rencana. Kita memiliki impian, target, dan harapan akan masa depan. Namun, hidup memiliki caranya sendiri untuk memberikan kejutan, seringkali secara tiba-tiba.
Segala hal dalam hidup ini, termasuk kematian, datang tanpa permisi. Kematian bukanlah sesuatu yang bisa kita prediksi atau atur kapan waktunya. Ia bisa datang kapan saja, di saat yang tak terduga. Seorang teman, keluarga, atau bahkan kita sendiri bisa saja dipanggil kapan pun oleh-Nya. Kita tahu bahwa kematian pasti datang, namun jarang kita mengingatnya, mungkin karena takut atau enggan menerima kenyataan tersebut.
Namun, kesadaran bahwa segala sesuatu bisa terjadi tiba-tiba seharusnya menjadi pengingat bagi kita untuk hidup dengan lebih bijaksana. Pertanyaan yang muncul adalah, sudahkah kita mempersiapkan diri? Sudahkah kita menyayangi orang-orang di sekitar kita? Sudahkah kita menyelesaikan kewajiban kita, memperbaiki hubungan yang renggang, atau memberi makna pada setiap momen yang kita miliki?
Hidup dalam kesadaran bahwa segalanya bisa terjadi mendadak, bukan berarti kita hidup dalam ketakutan. Justru, dengan menyadari bahwa hidup ini singkat dan tak terduga, kita dapat hidup dengan lebih bermakna. Mungkin kita akan lebih memilih untuk berdamai dengan diri sendiri, mengurangi kebencian, lebih banyak memberi, dan menghargai waktu yang kita miliki.
Dengan mengingat bahwa "tiba-tiba" bisa saja menghampiri kita kapan pun, semoga kita lebih bijak dalam menjalani hidup, lebih siap untuk menghadapi yang tak terduga, dan lebih peka terhadap sekitar kita. Hidup ini penuh misteri, tapi dengan kesiapan hati, kita bisa menghadapi segala kemungkinan dengan sikap yang lebih baik.
Hidup ini, seperti sekuntum bunga, suatu saat akan layu dan gugur. Jika kita menyadari kenyataan ini, maka kita akan belajar untuk menghargai setiap momen. Mungkin kita akan berhenti menunda-nunda kebaikan, berhenti memendam amarah atau dendam, dan mulai mencari kedamaian. Karena kita sadar, hidup ini sementara, dan setiap momen adalah kesempatan untuk berbuat sesuatu yang berarti.
Sebagai manusia, kita punya kebiasaan untuk mengejar banyak hal: karier, harta, jabatan, bahkan pengakuan. Semua itu sering kali membuat kita lupa pada apa yang benar-benar penting, pada hal-hal yang akan kita sesali saat "tiba-tiba" itu datang. Ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sudah menjalani hidup dengan penuh rasa syukur? Sudahkah kita memberikan waktu untuk orang-orang tercinta, untuk berbakti kepada orang tua, atau untuk berbagi kebaikan kepada sesama?
Hidup dalam kesadaran ini tidak hanya membuat kita lebih bersyukur, tetapi juga membuat kita lebih rendah hati. Karena kita tahu, semua yang kita miliki bisa saja hilang dalam sekejap. Bahkan orang-orang terdekat kita pun bisa pergi tanpa kita sempat mengucapkan selamat tinggal. Oleh karena itu, marilah kita menciptakan kenangan indah bersama orang-orang di sekitar kita. Semoga kita dapat meninggalkan jejak yang baik, yang kelak akan dikenang bahkan setelah kita tiada.
Dalam setiap nafas yang kita hembuskan, mari kita sadari betapa berharganya hidup ini. Jangan biarkan hari-hari kita berlalu begitu saja tanpa makna. Jadikan setiap langkah dan tindakan kita sebagai wujud syukur atas kesempatan hidup yang masih kita miliki. Sehingga ketika saat itu datang—entah tiba-tiba atau tidak—kita telah siap, dan telah meninggalkan dunia ini dengan damai, karena kita tahu bahwa kita telah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.
*) Kasi Kominfo BPIC