Ustad Legisan
Oleh: Djoko Iriandono*)
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita merasa jemu atau bosan terhadap pekerjaan yang kita lakukan. Rutinitas yang berulang, tekanan dari atasan, target yang menumpuk, atau suasana kerja yang kurang kondusif seringkali membuat semangat kerja menurun. Bahkan, sebagian orang mengalami fenomena yang dikenal sebagai Sunday Night Blues, yaitu rasa cemas dan stres pada Minggu malam ketika menyadari bahwa keesokan harinya harus kembali bekerja.
Namun, bekerja adalah bagian penting dari kehidupan kita, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan finansial, tetapi juga untuk mengaktualisasikan diri dan berkontribusi kepada masyarakat. Bekerja sesungguhnya bukan hanya sekadar rutinitas mencari nafkah. Di dalamnya terkandung nilai pengabdian, tanggung jawab, bahkan ibadah. Dengan sudut pandang yang tepat, kita dapat mengubah rasa jenuh menjadi semangat, dan menjadikan pekerjaan sebagai jalan untuk tumbuh serta memberi manfaat yang lebih luas.
Lantas bagaimana agar kita bisa melakukan pekerjaan dengan baik, penuh rasa tanggung jawab, dan tetap semangat dan bahagia? Berikut ini adalah beberapa tips yang berhasil saya catat dari ceramah ustad Dr. Legisan S. Samtafsir pada acara pembinaan terhadap karyawan Islamic Center Kalimantan Timur yang dilaksanakan pada ba’da sholat Jum’at tanggal 29 Agustus 2025 di masjid raya Baitul Mutaqien yang dapat Anda terapkan.
Beliau mengatakan setidaknya ada lima prinsip yang bisa kita pegang agar bekerja terasa lebih bermakna, penuh tanggung jawab, dan memberikan hasil terbaik serta senatiasa bekerja dengan penuh gairah, yaitu: Love your Job, Be an Expert, Mobilize Your Potentials, Integrity, dan Plan Your Work, Work Your Plan.
Langkah pertama agar kita bisa bekerja dengan baik adalah mencintai pekerjaan yang kita miliki. Rasa cinta akan melahirkan keikhlasan, dan dari keikhlasan muncullah ketekunan serta kesabaran dalam menjalani setiap proses.
Pekerjaan yang kita jalani saat ini mungkin bukan pekerjaan impian kita, atau tidak sepenuhnya sesuai dengan passion. Namun, di balik pekerjaan apa pun, tersimpan nilai ibadah. Saat kita bekerja dengan niat baik untuk mencari nafkah halal, menafkahi keluarga, atau memberikan kontribusi kepada masyarakat, setiap peluh yang menetes bernilai pahala.
Selain itu, mencintai pekerjaan adalah bentuk rasa syukur. Banyak orang di luar sana yang masih menganggur atau mencari pekerjaan. Dengan menyadari hal ini, rasa syukur akan menumbuhkan semangat baru untuk bekerja lebih ikhlas. Seperti pepatah mengatakan: "Kerjakan apa yang kamu cintai, atau cintai apa yang kamu kerjakan."
Profesionalitas adalah bentuk nyata dari tanggung jawab. Saat kita memilih sebuah pekerjaan, maka kita juga memilih untuk menekuni bidang itu dengan sungguh-sungguh. Menjadi ahli di bidang yang kita tekuni bukan hanya soal gengsi atau pencapaian pribadi, melainkan juga tentang amanah yang kita emban.
Seorang guru, misalnya, tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu mengelola kelas, memahami psikologi murid, serta berinovasi dalam metode pengajaran. Seorang dokter tidak hanya dituntut memahami teori kedokteran, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dalam melayani pasien. Seorang karyawan perusahaan dituntut untuk bukan hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga menguasai perkembangan teknologi dan strategi kerja terbaru.
Menjadi ahli adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan belajar terus-menerus, terbuka terhadap kritik, dan mau berkembang. Dengan keahlian, kita akan dihargai, dipercaya, dan dibutuhkan. Lebih dari itu, keahlian adalah wujud dari mimpi yang diperjuangkan.
Setiap orang memiliki potensi yang Allah titipkan: akal, keterampilan, kreativitas, waktu, bahkan jaringan sosial. Sayangnya, banyak dari kita yang hanya menggunakan sebagian kecil dari potensi itu. Akibatnya, kemampuan diri tidak pernah berkembang maksimal.
Menggerakkan potensi berarti berani keluar dari zona nyaman. Misalnya, seseorang yang terbiasa hanya bekerja sesuai job desk bisa mencoba hal-hal baru, seperti mengambil proyek tambahan, ikut pelatihan, atau mengajukan ide-ide kreatif yang bermanfaat bagi perusahaan.
Potensi yang digerakkan tidak hanya memberi manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Seorang penulis yang konsisten menyalurkan idenya dapat menginspirasi banyak orang. Seorang karyawan yang menguasai teknologi digital bisa membantu timnya bekerja lebih efisien. Bahkan potensi kecil, seperti kemampuan berbicara dengan ramah, dapat menciptakan suasana kerja yang harmonis.
Ingatlah, potensi yang tidak digunakan ibarat harta karun yang terkubur. Ketika kita berani menggalinya, maka hasilnya bisa luar biasa, bukan hanya untuk diri kita tetapi juga untuk lingkungan sekitar.
Integritas adalah fondasi utama dalam bekerja. Seseorang bisa saja pintar, ahli, bahkan berbakat, tetapi tanpa integritas, semua keunggulan itu tidak ada artinya. Integritas berarti memiliki kejujuran, konsistensi, dan memegang teguh nilai-nilai kebaikan.
Dalam dunia kerja, integritas diwujudkan dengan banyak cara: tidak berbohong dalam laporan, tidak korupsi waktu, tidak mengambil keuntungan pribadi dari posisi yang dimiliki, serta menepati janji dan komitmen. Orang yang berintegritas akan selalu dipercaya, bahkan meski ia tidak selalu sempurna dalam pekerjaannya.
Di tengah arus persaingan dan godaan keuntungan sesaat, integritas adalah penentu apakah seseorang akan dihormati atau justru diragukan. Dalam jangka panjang, orang yang berintegritaslah yang akan bertahan dan dikenang.
Seperti kata Stephen Covey, penulis buku The 7 Habits of Highly Effective People: “Trust is the glue of life. It’s the most essential ingredient in effective communication. It’s the foundational principle that holds all relationships.”
Bekerja tanpa perencanaan ibarat berlayar tanpa kompas. Kita bisa saja bergerak, tetapi arahnya tidak jelas, dan hasilnya pun sering tidak maksimal. Oleh karena itu, penting sekali menyusun rencana kerja yang jelas, terukur, dan realistis.
Membuat perencanaan bukan berarti kaku. Justru dengan rencana, kita bisa lebih fleksibel karena tahu prioritas utama yang harus diselesaikan. Perencanaan juga membantu kita menghindari stres karena pekerjaan menumpuk atau tidak selesai tepat waktu.
Setelah rencana dibuat, kunci berikutnya adalah disiplin dalam melaksanakannya. Banyak orang hebat dalam menyusun rencana, tetapi gagal dalam eksekusi. Prinsip Work Your Plan mengajarkan kita untuk konsisten menjalankan apa yang sudah dirancang, meski ada tantangan di tengah jalan.
Dengan perencanaan yang baik dan eksekusi yang disiplin, pekerjaan tidak hanya selesai, tetapi juga memberikan hasil terbaik.
Penutup
Bekerja adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Ia bukan hanya sarana mencari nafkah, tetapi juga wahana untuk menumbuhkan diri, berkontribusi, dan beribadah. Agar kita bisa bekerja dengan penuh tanggung jawab dan rasa syukur, ada lima hal yang perlu kita pegang teguh: mencintai pekerjaan, menjadi ahli di bidang kita, menggerakkan seluruh potensi, menegakkan integritas, serta merencanakan dan melaksanakan pekerjaan dengan sungguh-sungguh.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, kita tidak hanya akan terhindar dari rasa jenuh atau stres menghadapi pekerjaan, tetapi juga akan menemukan makna yang lebih dalam dalam setiap aktivitas yang kita lakukan. Pada akhirnya, bekerja dengan hati dan tanggung jawab akan membawa kebahagiaan, keberkahan, dan kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim