Guru Adalah Jembatan Penghubung
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)
Ada sebuah kebiasaan yang, tanpa kita sadari, sering terjadi di sekitar kita.
Ketika seorang anak melakukan kesalahan, tidak sedikit orang tua yang buru-buru menyalahkan guru agama, guru Pancasila, guru kelas, bahkan sekolahnya. Namun, ketika anak yang sama pulang membawa prestasi, kalimat yang sering terdengar justru, "Anak siapa dulu?"
Seolah-olah kegagalan adalah tanggung jawab sekolah, sedangkan keberhasilan adalah hasil didikan keluarga semata.
Padahal, pendidikan tidak pernah bekerja dengan cara seperti itu.
Seorang anak tidak hidup hanya di ruang kelas. Ia bangun pagi di rumah, berangkat melewati lingkungan masyarakat, belajar beberapa jam di sekolah, lalu kembali lagi ke rumah dan berinteraksi dengan tetangga, teman bermain, media sosial, dan berbagai pengaruh lain yang membentuk cara berpikirnya.
Kalau begitu, mengapa kita masih berharap sekolah mampu menyelesaikan semuanya sendirian?
Guru memang mendidik. Namun guru hanya memiliki sebagian kecil dari waktu seorang anak. Selebihnya, pendidikan berlangsung di rumah, di jalan, di tempat ibadah, di lapangan, bahkan di warung tempat ia mendengar percakapan orang-orang dewasa.
Karena itulah pendidikan sesungguhnya adalah kerja bersama.
Saya sering membayangkan pendidikan seperti membangun sebuah jembatan.
Sekolah membangun salah satu ujungnya.
Rumah membangun ujung yang lain.
Masyarakat memperkuat tiang-tiang penyangganya.
Jika salah satu bagian dikerjakan asal-asalan, jembatan itu akan rapuh. Anak-anaklah yang harus menanggung risikonya.
Sebaliknya, ketika ketiganya saling menguatkan, anak akan melangkah dengan penuh keyakinan menuju masa depannya.
Sering kali hubungan guru dan orang tua baru terjalin ketika masalah muncul.
Telepon dari sekolah membuat orang tua berdebar.
Pesan dari wali kelas sering kali dianggap pertanda buruk.
Padahal, komunikasi tidak seharusnya dimulai dari masalah.
Bayangkan betapa bahagianya seorang ayah atau ibu ketika menerima kabar sederhana seperti, “Hari ini putra Bapak membantu temannya yang kesulitan,” atau “Ananda berani tampil di depan kelas meskipun masih malu-malu.”
Kalimat-kalimat kecil seperti itu memiliki daya yang luar biasa.
Ia membangun kepercayaan.
Ia mengubah hubungan guru dan orang tua dari sekadar urusan administrasi menjadi hubungan kemanusiaan.
Ketika kepercayaan telah tumbuh, pembicaraan tentang kesulitan anak pun menjadi jauh lebih mudah dilakukan. Tidak ada lagi saling menyalahkan. Yang ada adalah saling mencari jalan keluar.
Guru juga perlu mengingat satu hal penting.
Orang tua adalah guru pertama bagi anak.
Merekalah yang paling mengenal kebiasaan, ketakutan, impian, bahkan luka-luka kecil yang mungkin tidak pernah terlihat di sekolah.
Sementara guru melihat sisi lain yang mungkin tidak disadari oleh orang tua.
Dua sudut pandang ini bukan untuk dipertentangkan.
Justru keduanya harus dipadukan.
Memang, tidak semua pertemuan antara guru dan orang tua berlangsung mulus. Ada kalanya muncul perbedaan pendapat. Ada orang tua yang menganggap anaknya tidak pernah bersalah. Ada pula guru yang terlalu yakin bahwa penilaiannya pasti benar.
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Siapa yang benar?”
Tetapi,
“Apa yang paling baik untuk anak ini?”
Ketika kepentingan anak ditempatkan di atas ego masing-masing, banyak persoalan yang semula tampak rumit ternyata menemukan jalan keluarnya.
Kerendahan hati sering kali lebih ampuh daripada argumentasi yang panjang.
Sesungguhnya ruang belajar anak jauh lebih luas daripada empat dinding kelas.
Pasar mengajarkan kejujuran dan berhitung.
Masjid mengajarkan adab dan ketenangan hati.
Taman mengajarkan kepedulian terhadap alam.
Bengkel mengajarkan ketelitian.
Sawah mengajarkan kesabaran.
Rumah seorang pengrajin mengajarkan kreativitas.
Masyarakat adalah buku pelajaran yang hidup.
Sayangnya, kita kadang terlalu sibuk mengejar halaman-halaman buku sehingga lupa membaca kehidupan.
Padahal, pengalaman nyata sering kali lebih membekas daripada seratus halaman teori.
Anak-anak tidak hanya membutuhkan pengetahuan.
Mereka membutuhkan kesempatan untuk melihat bagaimana nilai-nilai itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah guru memiliki peran yang sangat mulia.
Guru bukan sekadar penyampai pelajaran.
Guru adalah penghubung.
Penghubung antara sekolah dan rumah.
Penghubung antara teori dan kenyataan.
Penghubung antara cita-cita pendidikan dengan kehidupan masyarakat.
Seorang guru yang baik tidak membangun tembok tinggi yang memisahkan sekolah dari dunia luar.
Ia justru membuka pintu selebar-lebarnya.
Ia mengundang orang tua untuk hadir.
Ia mengajak tokoh masyarakat berbagi pengalaman.
Ia membawa persoalan nyata ke dalam ruang diskusi agar pelajaran terasa dekat dengan kehidupan.
Semakin banyak tangan yang ikut mendidik, semakin kuat pula lingkungan yang menopang tumbuhnya seorang anak.
Setiap anak tidak hanya membutuhkan guru yang cerdas.
Mereka juga tidak menuntut orang tua yang sempurna.
Yang paling mereka butuhkan adalah orang-orang dewasa yang saling percaya, saling menguatkan, serta bersedia berjalan bersama untuk memahami dan mendampingi setiap tahap tumbuh kembangnya.
Anak akan merasa aman ketika melihat guru dan orang tuanya saling menghormati.
Ia akan tumbuh percaya diri ketika menyadari bahwa rumah, sekolah, dan masyarakat memiliki harapan yang sama terhadap dirinya.
Dukungan seperti inilah yang membentuk karakter.
Bukan hanya membuat anak pandai mengerjakan soal, tetapi juga mampu menghadapi kehidupan.
Karena pendidikan sejatinya bukan sekadar menyiapkan anak agar lulus ujian.
Pendidikan adalah ikhtiar bersama untuk menyiapkan mereka menjadi manusia yang jujur, bertanggung jawab, peduli kepada sesama, dan dekat kepada Tuhannya.
Allah SWT mengingatkan kita,
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Mā’idah: 2)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kehidupan sosial, tetapi juga menjadi landasan kuat bagi dunia pendidikan.
Mendidik anak adalah salah satu bentuk kebajikan terbesar. Dan kebajikan sebesar itu tidak mungkin dipikul oleh satu orang saja.
Ia membutuhkan banyak tangan.
Banyak hati.
Banyak doa.
Karena sesungguhnya…
seorang anak tidak dibesarkan oleh sekolah semata.
Ia dibesarkan oleh keluarga, masyarakat, dan guru yang memilih berjalan beriringan.
*) - Ketua Komite SMAN 3 Samarinda.
- Kabid Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur.