Inilah 3 pintu kebangkrutan
Tiga Pintu Kebangkrutan: Gengsi, Kesombongan, dan Penyakit
Oleh: Djoko Iriandono*)
Kadang-kadang, yang membuat hidup kita terasa miskin bukanlah sedikitnya uang yang kita miliki, melainkan besarnya keinginan yang tidak pernah selesai kita penuhi.
Pernahkah kita melihat seseorang yang penghasilannya biasa-biasa saja, tetapi hidupnya terasa tenang? Rumahnya sederhana, makanannya tidak mewah, pakaiannya tidak mahal, tetapi wajahnya selalu menyimpan senyum. Sebaliknya, ada orang yang penghasilannya jauh lebih besar, memiliki rumah bagus, kendaraan mewah, dan berbagai fasilitas, tetapi hidupnya terus dikejar kecemasan. Gaji baru saja diterima, beberapa hari kemudian sudah habis. Bahkan, tidak jarang harus berutang untuk mempertahankan gaya hidupnya.
Mengapa bisa demikian?
Sebab, ternyata kebangkrutan tidak selalu berawal dari kurangnya penghasilan. Ada kalanya, kebangkrutan justru tumbuh dari dalam diri kita sendiri. Ada tiga hal yang perlahan-lahan bisa menggerogoti kehidupan, yaitu: gengsi, kesombongan, dan penyakit.
Ketiganya memiliki jalan yang berbeda, tetapi bisa berujung pada keadaan yang sama: uang habis, ketenangan hilang, dan keluarga ikut menanggung akibatnya.
1. Gengsi: Ketika Hidup Kita Ditentukan oleh Pandangan Orang Lain
Gengsi sering kali datang dengan wajah yang tampak wajar.
Kita ingin memiliki kendaraan yang lebih bagus karena tetangga sudah mengganti mobilnya. Kita ingin membeli telepon genggam terbaru karena teman-teman sudah menggunakannya. Kita ingin mengadakan pesta yang meriah, bukan semata-mata karena membutuhkan, tetapi karena takut dianggap tidak mampu.
Pelan-pelan, kita mulai membeli sesuatu bukan karena perlu, melainkan karena ingin terlihat mampu.
Padahal, orang lain belum tentu memperhatikan sebagaimana yang kita bayangkan. Mereka mungkin hanya melihat sebentar, lalu kembali sibuk dengan urusannya sendiri. Namun, kita sudah mengeluarkan uang, bahkan terkadang berutang, demi sebuah kesan yang hanya berlangsung sesaat.
Betapa melelahkannya hidup jika kebahagiaan harus selalu menunggu pengakuan orang lain.
Allah SWT mengingatkan dalam QS. At-Takatsur ayat 1:
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu."
Ayat ini mengajak kita merenungkan bagaimana perlombaan mengumpulkan dan memamerkan sesuatu dapat membuat manusia lupa pada hal-hal yang lebih penting.
Tidak salah memiliki mobil yang bagus, rumah besar dan megah, tas jinjing yang mahal. Tidak salah jika itu semua adalah hasil kerja keras yang ingin kita nikmati. Yang perlu kita waspadai hanyalah ketika harga diri mulai ditentukan oleh apa yang kita pakai, apa yang kita miliki, dan bagaimana orang lain memandang kita.
Jangan sampai kita bekerja keras sepanjang hidup hanya untuk membiayai gengsi yang tidak pernah merasa cukup.
2. Kesombongan: Ketika Kita Ingin Selalu Terlihat Lebih Tinggi
Jika gengsi membuat kita ingin terlihat mampu, kesombongan membuat kita ingin terlihat lebih tinggi daripada orang lain.
Kita merasa malu menggunakan barang sederhana. Merasa tidak pantas makan di warung biasa. Merasa harus selalu tampil lebih hebat, lebih kaya, dan lebih berhasil dibandingkan orang lain.
Ada orang yang sebenarnya mampu hidup sederhana, tetapi memilih hidup berlebihan karena tidak ingin dianggap kalah.
Ironisnya, dalam upaya mempertahankan kedudukan di mata manusia, ia justru kehilangan kebebasan untuk menentukan kehidupannya sendiri.
Rasulullah SAW bersabda:
"Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim)
Kesombongan bukan sekadar cara kita berbicara atau bagaimana kita memandang orang lain. Ia juga bisa muncul dalam keengganan menerima kenyataan bahwa kemampuan kita ada batasnya.
Kita memaksakan diri membeli sesuatu yang belum sanggup kita beli. Kita malu mengakui bahwa keuangan sedang sulit. Kita enggan meminta pertolongan karena merasa harus selalu tampak kuat.
Padahal, tidak ada kehinaan dalam hidup sederhana. Tidak ada aib dalam mengakui keterbatasan. Dan tidak ada yang salah dengan mengatakan, "Maaf, saya belum mampu."
Justru keberanian mengakui batas kemampuan adalah bagian dari kedewasaan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman ayat 18, agar manusia tidak memalingkan muka dari orang lain karena sombong dan tidak berjalan di bumi dengan angkuh.
Barangkali, salah satu cara menjaga keuangan adalah belajar menundukkan ego. Sebab, ketika ego terlalu tinggi, pengeluaran sering kali ikut meninggi.
3. Penyakit: Ketika Kesehatan yang Diabaikan Menjadi Beban Kehidupan
Ada satu hal yang sering kita lupakan ketika berbicara tentang kebangkrutan, yaitu: kesehatan.
Selama tubuh masih sehat, kita sering menganggap kesehatan sebagai sesuatu yang biasa. Kita menunda istirahat, mengabaikan pola makan, kurang bergerak, dan membiarkan stres menumpuk. Kita merasa masih kuat, masih sanggup, dan masih punya banyak waktu.
Sampai suatu hari, tubuh mulai memberikan peringatan.
Kita harus berobat. Aktivitas terganggu. Penghasilan bisa berkurang. Tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun mungkin harus digunakan untuk biaya pengobatan dan pemulihan.
Tentu, tidak semua penyakit dapat dicegah. Ada penyakit yang datang meskipun seseorang sudah menjaga pola hidupnya dengan baik. Karena itu, orang yang sakit tidak pantas disalahkan atas keadaannya.
Namun, kita tetap bisa belajar bahwa menjaga kesehatan merupakan bentuk ikhtiar yang penting, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga.
Rasulullah SAW bersabda:
"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)
Betapa mahalnya makna hadis ini ketika kita melihat seseorang yang ingin berjalan, tetapi tubuhnya tidak lagi mampu. Ingin makan dengan nyaman, tetapi harus membatasi banyak hal. Ingin bekerja, tetapi tenaga tidak lagi seperti dahulu.
Kesehatan bukan jaminan bahwa kita tidak akan pernah jatuh sakit. Namun, merawat tubuh adalah salah satu cara menghargai nikmat yang telah Allah titipkan.
Jangan menunggu sakit untuk mulai menyayangi tubuh sendiri.
Hidup Tidak Harus Mahal untuk Tetap Bermakna
Sesungguhnya, untuk bertahan hidup, kita tidak selalu membutuhkan banyak uang.
Sinar matahari pagi tidak meminta bayaran. Udara segar dapat kita nikmati tanpa harus membeli tiket. Berjalan kaki, berolahraga ringan, menikmati alam, dan berbincang hangat bersama keluarga tidak selalu membutuhkan biaya besar.
Banyak makanan bergizi yang sederhana dan terjangkau. Tempe, tahu, sayuran, buah-buahan lokal, serta air putih dapat menjadi bagian dari pola makan sehat, sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Tentu, hidup sehat juga dipengaruhi oleh lingkungan, akses terhadap makanan, fasilitas kesehatan, dan kemampuan ekonomi. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Namun, kita bisa mulai menghargai hal-hal baik yang tersedia dalam jangkauan kita.
Kebahagiaan tidak selalu harus dibeli.
Kadang-kadang, ia hadir dalam secangkir teh hangat bersama pasangan. Dalam tawa anak-anak. Dalam percakapan sederhana dengan sahabat lama. Atau dalam rasa syukur ketika bangun pagi dan masih diberi kesempatan menjalani hari.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu."
Syukur mengajarkan kita untuk melihat apa yang sudah ada, bukan hanya meratapi apa yang belum dimiliki.
Jangan Sampai Kaya Harta, tetapi Miskin Ketenangan
Mari sesekali kita berhenti dan bertanya kepada diri sendiri.
Apakah selama ini kita membeli sesuatu karena memang membutuhkannya, atau sekadar ingin mendapatkan pengakuan?
Apakah kita bekerja untuk mencukupi kehidupan, atau justru menghabiskan kehidupan demi mempertahankan penampilan?
Apakah kita sudah menjaga kesehatan, atau baru akan peduli setelah tubuh tidak lagi sanggup menemani langkah kita?
Gengsi bisa menghabiskan uang. Kesombongan bisa membuat kita memaksakan diri. Penyakit bisa menguras tenaga, waktu, dan biaya.
Ketiganya mengingatkan kita bahwa kekayaan bukan sekadar tentang berapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga apa yang telah Allah titipkan.
Hiduplah sesuai kemampuan, bukan sesuai tuntutan pandangan orang lain. Rendahkan hati, bukan harga diri. Rawatlah kesehatan, sebelum penyesalan datang menghampiri.
Sebab, hidup yang berkecukupan bukan berarti memiliki segala-galanya.
Hidup yang berkecukupan adalah ketika kita mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, menikmati apa yang ada tanpa merendahkan orang lain, serta menjaga nikmat kesehatan dengan penuh rasa syukur.
Pada usia berapa pun, kita masih bisa belajar hidup lebih sederhana. Tidak perlu menunggu bangkrut untuk berhenti mengejar gengsi. Tidak perlu menunggu kehilangan segalanya untuk belajar rendah hati. Dan tidak perlu menunggu sakit untuk menyadari betapa berharganya kesehatan.
Semoga Allah menjauhkan kita dari gengsi yang menjerat, kesombongan yang membutakan, dan kelalaian yang merusak kesehatan. Semoga rezeki kita menjadi berkah, hati kita tetap rendah, dan tubuh kita senantiasa diberi kekuatan untuk berbuat kebaikan. Aamiin.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim