Detail Update

Detail Update

Belajar dari Masjid Raya Sheikh Zayed Solo

Card image cap Masjid Seikh Zayed Solo

Belajar dari Masjid Raya Sheikh Zayed Solo: Ketika Kemegahan Bertemu dengan Tata Kelola

Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M.

Ketua Umum Badan Pengelola Islamic Center  Kaltim

 

Setelah sehari sebelumnya kami belajar dari Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, dan beberapa jam sebelumnya dari Masjid Al-Falah Sragen, perjalanan studi tiru rombongan pengurus Badan Pengelola Islamic Center Kalimantan Timur (BPIC Kaltim) berlanjut ke Masjid Raya Sheikh Zayed Solo.

Kami tiba di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo tepat pukul 14.00 WIB. Rombongan BPIC Kaltim langsung disambut oleh Direktur Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Ustadz Munajad. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keterbukaan. Kesempatan tersebut kami manfaatkan untuk mendapatkan gambaran secara langsung mengenai pengelolaan, pelayanan, kegiatan dan berbagai hal yang berkaitan dengan keberlangsungan masjid ini.

Kesan pertama ketika memasuki kawasan masjid tentu berbeda dengan pengalaman kami beberapa jam sebelumnya di Masjid Al-Falah Sragen. Jika Al-Falah mengajarkan bahwa masjid yang sederhana secara fisik dapat menghadirkan manfaat yang besar melalui tata kelola, kegiatan dan pelayanan kepada jamaah, Sheikh Zayed Solo memperlihatkan sisi yang berbeda. Masjid ini memiliki bangunan yang megah, fasilitas yang lengkap dan dukungan sumber daya yang besar. Karena itu, tantangannya pun berbeda: bagaimana seluruh kemegahan dan sumber daya tersebut dikelola secara profesional sehingga tidak berhenti sebagai keindahan fisik, tetapi benar-benar memberikan manfaat yang luas bagi umat.


Dalam pertemuan singkat antara pengurus BPIC Kaltim dan Direktur Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, dijelaskan bahwa masjid ini merupakan replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pembangunannya menjadi bagian dari simbol persahabatan dan hubungan baik antara Indonesia dan Uni Emirat Arab. Masjid yang berdiri di atas lahan sekitar tiga hektare ini dirancang untuk menampung hingga sekitar 10.000 jamaah.

Masjid Raya Sheikh Zayed Solo diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo bersama Presiden Uni Emirat Arab, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan. Setelah melalui tahap persiapan dan penataan pengelolaan, masjid ini kemudian dibuka untuk masyarakat umum pada 1 Maret 2023. Bagi rombongan BPIC Kaltim, informasi tersebut menjadi bagian penting untuk memahami latar belakang pembangunan sekaligus arah pengelolaan masjid yang memiliki posisi khusus dalam hubungan kedua negara.

Namun, bagi kami, kemegahan bangunan bukanlah hal terpenting dari kunjungan ini. Yang ingin kami lihat adalah bagaimana sebuah masjid dengan skala besar, jumlah pengunjung yang banyak, fasilitas yang lengkap dan biaya operasional yang tinggi dikelola sehingga tetap mampu memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah.

Masjid dengan Sumber Daya yang Berbeda

Ada satu hal yang perlu dipahami ketika membandingkan Sheikh Zayed Solo dengan masjid-masjid lain yang kami kunjungi.

Masjid ini memiliki kondisi pembiayaan yang berbeda. Dukungan pendanaan dari pihak Uni Emirat Arab membuat persoalan pembiayaan operasional tidak menjadi persoalan utama seperti yang umumnya dihadapi banyak masjid di Indonesia.

Pada masa awal pengoperasiannya, biaya operasional Masjid Raya Sheikh Zayed disebut masih mendapat dukungan dari pemerintah Uni Emirat Arab. Pada 2023, Direktur Operasional Masjid Raya Sheikh Zayed menyebut kebutuhan operasional mencapai sekitar Rp1 miliar per bulan, terutama untuk kebutuhan vendor, keamanan, kebersihan dan pertamanan.

Dalam perkembangannya, atas dorongan dan keinginan jamaah, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo juga mulai membuka ruang partisipasi masyarakat melalui zakat, infak dan sedekah. Dukungan pendanaan dari Uni Emirat Arab tidak serta-merta membuat masjid menutup kesempatan bagi jamaah untuk mengambil bagian dalam amal kebajikan. Sebaliknya, masyarakat tetap diberikan ruang untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan keikhlasannya.

Hal ini menjadi pelajaran yang menarik bagi pengelola masjid. Masjid bukan hanya tempat untuk menerima pelayanan, tetapi juga tempat bagi masyarakat untuk mengambil bagian dalam kebaikan. Karena itu, sebesar apa pun dukungan pendanaan yang dimiliki sebuah masjid, tetap penting menyediakan ruang partisipasi bagi jamaah. Ketika masyarakat diberi kesempatan untuk berinfak, bersedekah, membantu kegiatan sosial atau terlibat dalam berbagai program kemasjidan, akan tumbuh rasa memiliki dan keterikatan yang lebih kuat terhadap masjid.

Dalam konteks kunjungan kami, informasi mengenai dukungan Zayed Foundation menjadi sesuatu yang menarik untuk dipelajari. Dukungan tersebut memberikan ruang yang lebih luas bagi pengelola untuk berkonsentrasi pada kualitas pelayanan, pemeliharaan fasilitas dan pengembangan program.

Di sinilah terlihat perbedaan kondisi antara Masjid Raya Sheikh Zayed Solo dengan banyak masjid di daerah. Sebagian besar takmir masjid masih harus berjuang dan berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari, mulai dari biaya listrik, kebersihan, honor petugas, pemeliharaan bangunan hingga pembiayaan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Tidak sedikit masjid yang harus mengandalkan infak jamaah dan kepedulian masyarakat agar seluruh kegiatan tetap dapat berjalan.

Masjid Raya Sheikh Zayed Solo memiliki kondisi yang berbeda. Masjid ini mendapatkan dukungan sumber daya yang jauh lebih kuat, termasuk dukungan pendanaan dari pihak Uni Emirat Arab melalui Zayed Foundation. Dengan dukungan tersebut, pengelola memiliki ruang yang lebih luas untuk berkonsentrasi pada kualitas pengelolaan, pemeliharaan fasilitas dan peningkatan pelayanan kepada jamaah. Perbedaan sumber daya ini tentu perlu dipahami dalam konteksnya masing-masing, karena setiap masjid memiliki kondisi, kemampuan dan tantangan yang berbeda.

Tetapi sumber daya yang besar juga menghadirkan tanggung jawab yang besar.

Semakin besar fasilitas yang dimiliki, semakin tinggi pula tuntutan untuk mengelolanya secara tertib, efisien dan profesional.

Tidak Hanya Megah, tetapi Harus Produktif

Sejak awal, pemerintah Indonesia dan UEA memang mengharapkan Masjid Raya Sheikh Zayed tidak hanya menjadi tempat ibadah. Kementerian Agama menyebut masjid ini diarahkan menjadi pusat literasi keagamaan dan penyebaran pemahaman Islam yang moderat, damai, toleran serta menghargai keberagaman. Pengelolaannya juga mencakup tiga aspek utama, yaitu idarah, imarah dan riayah.

Artinya, masjid sebesar Sheikh Zayed tidak boleh berhenti sebagai bangunan yang indah dan menjadi tujuan wisata religi. Ia harus hidup melalui kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.

Hal ini sejalan dengan pesan yang disampaikan Kementerian Agama ketika masjid tersebut diresmikan: keberadaan Sheikh Zayed diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan keislaman yang rahmatan lil 'alamin sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan produktif.

Bagi kami di BPIC Kaltim, pesan tersebut sangat relevan. Islamic Center yang memiliki bangunan besar dan megah serta fasilitas yang lengkap harus diikuti dengan program yang hidup dan pelayanan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Kemegahan fasilitas tidak akan banyak berarti jika tidak diiringi dengan kegiatan yang mampu menghidupkan masjid dan memberikan manfaat bagi jamaah serta masyarakat di sekitarnya.

Mengingat sebagian besar aset yang terdapat di Islamic Center merupakan aset Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, maka secara logis diperlukan dukungan anggaran pemerintah yang memadai untuk menjamin keberlangsungan pengelolaan, pemeliharaan dan pelayanan di dalamnya. Namun, dukungan pemerintah bukan berarti menutup ruang partisipasi masyarakat. Sebaliknya, masyarakat tetap perlu diberikan kesempatan untuk berinfak dan bersedekah sebagai bagian dari kecintaan dan kepedulian mereka terhadap masjid. Infak dan sedekah bukan semata-mata persoalan pembiayaan, tetapi juga merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap Islamic Center.

Dengan sumber daya yang tersedia, baik yang berasal dari dukungan pemerintah maupun dari infak dan sedekah jamaah, pengurus BPIC memiliki tanggung jawab untuk mengelolanya secara amanah, transparan dan seoptimal mungkin. Setiap rupiah yang tersedia harus diupayakan agar kembali kepada masyarakat dalam bentuk kegiatan ibadah, pendidikan, pelayanan, pembinaan, pemberdayaan sosial dan berbagai program lain yang memberikan manfaat sebesar-besarnya, terutama bagi jamaah Masjid Raya Baitul Muttaqien dan masyarakat di sekitar Islamic Center Kalimantan Timur.

Pelajaran Penting bagi Islamic Center Kaltim

Dari Sheikh Zayed Solo, kami mendapatkan pelajaran yang berbeda dari kunjungan sebelumnya.

Gontor mengajarkan tentang nilai, disiplin dan kemandirian.

Al-Falah Sragen mengajarkan tentang bagaimana masjid yang sederhana dapat memberikan manfaat yang luas melalui tata kelola, pelayanan dan inovasi.

Sheikh Zayed Solo memperlihatkan bagaimana sumber daya yang besar harus diimbangi dengan manajemen yang profesional dan orientasi pelayanan yang kuat.

Ketiga pengalaman tersebut sebenarnya saling melengkapi.

Islamic Center Kalimantan Timur memiliki fasilitas dan potensi yang cukup besar. Karena itu, tantangannya bukan sekadar bagaimana menambah atau memperindah fasilitas, tetapi bagaimana mengubah seluruh potensi tersebut menjadi pelayanan dan kemanfaatan yang dirasakan masyarakat.

Masjid, pendidikan, kesehatan, kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi dan berbagai unit yang ada di Islamic Center harus ditempatkan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Kita tidak perlu “copy-paste” Masjid Raya Sheikh Zayed Solo dalam segala hal. Kondisi, sumber daya, kemampuan dan karakter masyarakat setiap daerah tentu berbeda. Yang perlu kita pelajari bukanlah bentuk bangunannya, melainkan cara berpikir dalam mengelola masjid. Ketika sebuah masjid memiliki sumber daya yang besar, maka sumber daya tersebut harus dikelola dengan tata kelola yang baik, standar pelayanan yang tinggi dan orientasi yang jelas pada kemanfaatan umat.

Kemegahan bangunan adalah amanah. Dana yang tersedia adalah amanah. Fasilitas yang dimiliki adalah amanah. Bahkan kepercayaan masyarakat merupakan amanah yang harus dijaga. Semua amanah tersebut harus diwujudkan dalam bentuk pelayanan yang baik dan kemanfaatan yang nyata. Semakin besar sumber daya yang dimiliki sebuah masjid, semakin besar pula tanggung jawab pengurus untuk memastikan bahwa sumber daya tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kunjungan ke Masjid Raya Sheikh Zayed Solo membawa kami pada sebuah pemahaman sederhana, yaitu bahwa masjid yang besar bukan hanya masjid yang besar bangunannya, tetapi masjid yang besar manfaatnya. Bangunan yang megah hanyalah salah satu bagian dari sebuah masjid. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana bangunan, fasilitas, sumber daya dan seluruh potensi yang dimiliki dapat dihidupkan melalui kegiatan yang bermanfaat bagi jamaah dan masyarakat.

Ketika sumber daya yang besar dipadukan dengan tata kelola yang baik, pelayanan yang tulus dan program yang tepat sasaran, masjid dapat tumbuh menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah. Masjid dapat menjadi pusat ilmu, pusat pelayanan, pusat pemberdayaan, pusat kegiatan sosial dan ruang perjumpaan masyarakat. Inilah pelajaran yang kami bawa pulang dari Masjid Raya Sheikh Zayed Solo untuk menjadi bahan perenungan sekaligus bagian dari ikhtiar bersama dalam mengembangkan dan memakmurkan Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur agar semakin besar manfaatnya bagi umat.