Belajar Pancasila dari negeri yang tidak memiliki Pancasila.
RAMAH, BERAGAMA, DAN BERADAB: MENGAPA NILAI LUHUR HARUS TERLIHAT DALAM PERILAKU?
Belajar dari sapaan sederhana di dalam lift dan merenungkan kembali makna Pancasila
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah. Kita memiliki tradisi gotong royong, tenggang rasa, dan kepedulian terhadap sesama. Sebagian besar masyarakat kita juga menjadikan agama sebagai bagian penting dalam kehidupan.
Kita bangga dengan nilai-nilai tersebut.
Namun, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan: apakah nilai-nilai luhur itu sudah selalu tercermin dalam perilaku sehari-hari?
Pertanyaan tersebut muncul dari pengalaman saya selama menjalani pendidikan di Inggris pada tahun 2000 - 2002. Beberapa peristiwa sederhana di sana membuat saya berpikir kembali tentang keramahan, penghormatan terhadap sesama, dan hubungan antara nilai yang kita yakini dengan perilaku yang kita tunjukkan.
Sapaan Sederhana di Dalam Lift
Setiap kali saya bertemu dengan penduduk lokal di dalam lift, mereka biasanya menyapa dengan ramah.
"Good morning."
Selamat pagi.
Sapaan itu sering dilanjutkan dengan obrolan ringan. Bisa tentang cuaca, kegiatan hari itu, atau percakapan singkat lainnya.
Padahal, kami tidak selalu saling mengenal.
Kami hanya kebetulan berada di dalam lift yang sama, menuju lantai yang mungkin berbeda. Setelah itu, bisa jadi kami tidak pernah bertemu lagi.
Namun, mereka tetap menyapa.
Bagi saya, pengalaman tersebut memberikan kesan tentang pentingnya mengakui keberadaan orang lain.
Seseorang tidak diperlakukan seolah-olah tidak ada hanya karena ia orang asing.
Tentu, sapaan seperti itu tidak berarti semua orang Inggris selalu ramah dalam setiap situasi. Setiap individu memiliki kepribadian dan kebiasaan yang berbeda. Namun, pengalaman yang berulang itu meninggalkan kesan tersendiri bagi saya.
Saya kemudian membandingkannya dengan kebiasaan kita di Indonesia.
Kita sesungguhnya memiliki tradisi keramahan yang sangat kuat. Dalam banyak lingkungan, menyapa tetangga, tersenyum kepada orang yang dikenal, dan berbasa-basi merupakan bagian dari kehidupan sosial.
Namun, keramahan tidak selalu hadir secara konsisten dalam setiap interaksi di ruang publik.
Di dalam lift, misalnya, kita terkadang berdiri berdekatan dengan orang lain tanpa saling menyapa. Kita sibuk dengan telepon genggam, menundukkan kepala, atau menunggu pintu terbuka tanpa menyadari keberadaan orang di sebelah kita.
Tentu, diam bukan berarti tidak sopan. Setiap orang berhak menjaga privasinya dan tidak semua situasi membutuhkan percakapan.
Namun, pengalaman tersebut mengingatkan saya bahwa keramahan tidak selalu membutuhkan tindakan besar.
Terkadang, sebuah sapaan sederhana sudah cukup untuk membuat orang lain merasa dihargai.
Kita tidak perlu mengenal seseorang untuk memperlakukannya dengan hormat. Kita tidak perlu memiliki hubungan keluarga, pekerjaan, atau kepentingan tertentu untuk menunjukkan keramahan.
Ketika Keramahan Bertemu Kepentingan Pribadi
Pengalaman di Inggris tersebut membuat saya merenungkan satu hal: apakah keramahan hanya kita tunjukkan kepada orang yang kita kenal, atau juga kepada orang yang tidak dapat memberikan manfaat apa pun kepada kita?
Pertanyaan ini penting karena keramahan sejati tidak semestinya bergantung pada kepentingan.
Mudah bersikap ramah kepada orang yang kita sukai. Mudah tersenyum kepada seseorang yang memiliki kedudukan tinggi atau berpotensi membantu kita.
Namun, bagaimana sikap kita kepada petugas pelayanan, pengemudi kendaraan umum, pekerja kebersihan, atau orang yang kita temui secara kebetulan?
Apakah kita tetap menghormati mereka?
Apakah kita bersedia mendengarkan ketika mereka berbicara?
Apakah kita mengucapkan terima kasih atas bantuan yang mereka berikan?
Ataukah kita hanya menunjukkan keramahan kepada orang-orang yang kita anggap penting?
Kualitas karakter sering kali terlihat justru dalam hubungan yang tidak memberikan keuntungan langsung kepada kita.
Menghormati seseorang bukan karena jabatannya, melainkan karena ia juga manusia. Mengucapkan terima kasih bukan karena takut kehilangan bantuan, melainkan karena menyadari bahwa kebaikan orang lain layak dihargai.
Dalam kehidupan sehari-hari, tindakan-tindakan kecil seperti ini mungkin tidak menjadi berita. Namun, kebiasaan tersebut berperan dalam membentuk suasana sosial yang lebih manusiawi.
Kita Memiliki Pancasila, tetapi Sudahkah Kita Menghidupinya?
Pengalaman-pengalaman saya di Inggris, mulai dari antrean bus, kebiasaan menghormati ketenangan tetangga, hingga sapaan sederhana di dalam lift, akhirnya membawa saya pada perenungan tentang Pancasila.
Indonesia memiliki dasar negara yang mengandung nilai-nilai luhur.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengingatkan kita akan pentingnya kehidupan yang berlandaskan nilai moral dan tanggung jawab kepada Tuhan.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia.
Sila Persatuan Indonesia mengajak kita menjaga kebersamaan.
Sila Kerakyatan mengajarkan pentingnya kebijaksanaan dalam kehidupan bersama.
Sila Keadilan Sosial mengingatkan kita bahwa setiap orang berhak mendapatkan perlakuan yang adil.
Nilai-nilai itu sangat mendasar bagi kehidupan berbangsa.
Namun, Pancasila tidak cukup dihafalkan atau diucapkan dalam berbagai kesempatan resmi.
Ia harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama.
Kemanusiaan yang adil dan beradab seharusnya terlihat ketika kita menghormati hak orang lain.
Persatuan seharusnya terlihat ketika kita bersedia hidup berdampingan dengan orang yang berbeda latar belakang.
Keadilan sosial seharusnya terlihat ketika kita tidak mengambil keuntungan dengan mengorbankan hak orang lain.
Ketuhanan seharusnya mendorong kita untuk terus memperbaiki akhlak dan tanggung jawab moral.
Pancasila bukan sekadar identitas yang membedakan Indonesia dari negara lain. Ia juga merupakan pedoman yang menuntut kita untuk terus memperbaiki kehidupan bersama.
Karena itu, belajar dari masyarakat negara lain bukanlah bentuk ketidakbanggaan terhadap bangsa sendiri.
Justru, kita dapat belajar dari pengalaman mereka untuk memahami bagaimana nilai-nilai yang kita yakini dapat diwujudkan secara lebih konsisten.
Bagaimana dengan Nilai-Nilai Agama?
Sebagai masyarakat yang religius, kita sering mendengar ajaran tentang kejujuran, kesabaran, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam Islam, misalnya, akhlak memiliki kedudukan penting. Ibadah tidak semestinya berhenti pada hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tercermin dalam cara manusia memperlakukan sesamanya.
Namun, kita perlu membedakan antara mengetahui ajaran agama dan mengamalkannya.
Seseorang dapat memahami pentingnya kejujuran, tetapi tetap harus berjuang melawan godaan untuk berbuat curang.
Seseorang dapat mengetahui pentingnya keadilan, tetapi tetap harus belajar mengendalikan kepentingan pribadi.
Seseorang dapat rajin beribadah, tetapi tetap perlu memperbaiki cara berbicara, bersikap, dan menghormati hak orang lain.
Hal ini bukan untuk meremehkan agama. Justru, kita perlu terus memperdalam pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian pula, seseorang yang tidak menjalankan agama belum tentu tidak memiliki kepedulian terhadap sesama. Dalam kehidupan sosial, kejujuran, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap hak orang lain dapat tumbuh melalui berbagai sumber nilai, pendidikan, pengalaman, dan kebiasaan.
Karena itu, kita tidak perlu mempertentangkan masyarakat yang beragama dengan masyarakat yang tidak beragama.
Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai kebaikan benar-benar diwujudkan dalam tindakan.
Kita seharusnya tidak hanya bertanya seberapa sering seseorang berbicara tentang moralitas, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika kepentingannya sendiri sedang diuji.
Sebab, akhlak bukan hanya persoalan apa yang kita katakan, melainkan juga apa yang kita lakukan.
Pendidikan Karakter Dimulai dari Keteladanan
Sebagai seseorang yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan, saya memandang bahwa pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui mata pelajaran atau nasihat.
Anak-anak dapat menghafal definisi kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Mereka dapat menjelaskan arti menghormati orang lain ketika menghadapi ujian.
Namun, pembelajaran karakter akan lebih bermakna ketika mereka melihat nilai-nilai tersebut dipraktikkan oleh orang dewasa di sekitarnya.
Jika kita ingin anak-anak tertib, tunjukkan ketertiban.
Jika kita ingin mereka jujur, berikan contoh kejujuran.
Jika kita ingin mereka menghormati orang lain, perlakukanlah orang lain dengan hormat.
Jika kita ingin mereka bertanggung jawab, tunjukkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Hal yang sama berlaku di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat.
Seorang pemimpin tidak cukup berbicara tentang kedisiplinan jika dirinya sendiri sering mengabaikan aturan.
Seorang guru tidak cukup mengajarkan kesopanan jika ia mempermalukan murid di hadapan teman-temannya.
Orang tua tidak cukup meminta anak menghormati orang lain jika mereka sendiri terbiasa merendahkan orang yang dianggap lebih rendah kedudukannya.
Nilai-nilai luhur akan lebih mudah tumbuh ketika anak-anak melihat bahwa apa yang diajarkan benar-benar dipraktikkan.
Pendidikan karakter, dengan demikian, bukan hanya tentang apa yang kita masukkan ke dalam pikiran anak. Ia juga tentang apa yang kita tunjukkan melalui perilaku kita sendiri.
Belajar dari Bangsa Lain Tanpa Kehilangan Jati Diri
Saya tetap bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
Kita memiliki kekayaan budaya, tradisi gotong royong, solidaritas sosial, dan nilai-nilai luhur yang patut dipertahankan.
Namun, kebanggaan tidak berarti kita harus menutup mata terhadap kekurangan.
Kita dapat mencintai bangsa sendiri sekaligus berani mengakui bahwa ada kebiasaan yang perlu diperbaiki.
Kita dapat mempertahankan identitas nasional sekaligus belajar dari sistem sosial yang lebih tertib.
Kita dapat menjunjung tinggi agama sekaligus memperbaiki pengamalan ajaran moral dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak ada bangsa yang sempurna. Setiap masyarakat memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu, membandingkan pengalaman tidak seharusnya bertujuan mencari siapa yang paling unggul, melainkan menemukan apa yang dapat kita pelajari.
Bagi saya, pengalaman di Inggris memberikan satu pelajaran penting: nilai-nilai yang baik akan lebih bermakna ketika menjadi kebiasaan bersama.
Ketertiban tidak hanya muncul karena ada aturan, tetapi juga karena orang-orang bersedia mematuhinya.
Keramahan tidak hanya muncul dalam slogan, tetapi juga melalui sapaan sederhana.
Penghormatan tidak hanya ditunjukkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui kesediaan untuk menjaga kenyamanan orang lain.
Dan kemanusiaan tidak hanya dibicarakan dalam pidato, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.
Jangan Hanya Bangga, Mari Mengamalkan
Pada akhirnya, saya kembali teringat pada berbagai pengalaman sederhana selama berada di Inggris.
Seorang nenek yang menolak didahulukan karena menghormati giliran saya.
Pedagang yang menyediakan headphone agar pembelinya dapat mendengarkan lagu tanpa mengganggu orang lain.
Seorang sopir bus yang tetap berhenti di lampu merah ketika jalanan sepi pada pukul 00.15 malam.
Penduduk lokal yang menyapa ketika bertemu di dalam lift.
Dosen pembimbing yang menyediakan waktu melalui janji konsultasi dan membangun suasana diskusi yang nyaman.
Semua itu bukan peristiwa besar. Tidak ada pidato kenegaraan, penghargaan, atau upacara resmi di dalamnya.
Namun, pengalaman-pengalaman tersebut mengajarkan bahwa kualitas kehidupan bersama sering kali ditentukan oleh tindakan yang terlihat sederhana.
Kita tidak harus pergi ke Inggris untuk belajar menghormati orang lain.
Kita tidak harus menunggu orang asing mengingatkan kita tentang pentingnya disiplin.
Kita tidak perlu menunggu munculnya aturan baru untuk mulai berlaku adil.
Kita bisa memulainya dari rumah, sekolah, kantor, jalan raya, dan ruang publik di sekitar kita.
Kita bisa memulainya dengan menghormati antrean, menjaga ketenangan, menepati janji, menyapa dengan ramah, dan menaati aturan meskipun tidak ada yang mengawasi.
Pancasila telah memberikan landasan nilai bagi bangsa ini. Agama mengajarkan kita berbagai pedoman moral. Pendidikan membekali kita dengan pengetahuan dan kemampuan berpikir.
Tugas kita adalah memastikan bahwa semuanya tidak berhenti sebagai pengetahuan, simbol, atau ucapan.
Jangan sampai kita begitu bangga mengajarkan nilai-nilai luhur kepada dunia, tetapi justru lupa mempraktikkannya di rumah sendiri.
Sebab, bangsa yang beradab bukanlah bangsa yang sekadar pandai berbicara tentang kebaikan, melainkan bangsa yang warganya berusaha menjadikan kebaikan sebagai kebiasaan.
Dan perubahan itu selalu dimulai dari diri sendiri.
Bukan sekadar mengetahui apa yang benar, tetapi berani dan terbiasa melakukannya.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim