Oleh: Djoko Iriandono*)
Beberapa pengalaman dalam hidup tidak hanya berhenti sebagai kenangan, tetapi terus hidup sebagai pertanyaan yang berulang. Salah satunya adalah pengalaman saya ketika masih menjabat sebagai kepala sekolah di sebuah SMPN favorit di Samarinda, saat menerima undangan resmi dari sebuah universitas di Provinsi Hainan, Cina.
Undangan itu terdengar luar biasa—bahkan nyaris sulit dipercaya. Saya termasuk dalam 100 orang
terpilih dari berbagai penjuru dunia yang diundang mengikuti pelatihan pengelolaan sekolah yang salah satu materinya adalah pengenalan bahasa Cina. Seluruh biaya selama di Cina ditanggung penuh oleh pemerintah Cina: tiket pesawat dari Jakarta ke Hainan pulang-pergi, hotel, konsumsi, transportasi lokal, rekreasi, hingga pelatihan untuk masa 9 hari efektif. Saya hanya diminta menanggung ongkos Samarinda–Jakarta (PP) dan menginap di Jakarta selama tiga malam.
Waktu itu saya bersyukur, tetapi juga heran. Mengapa sebuah negara besar mau mengeluarkan biaya sedemikian besar untuk melatih para pendidik asing, tanpa ikatan kontrak, tanpa kewajiban laporan balik, bahkan tanpa syarat kerja sama lanjutan yang tertulis? Setiap peserta hanya diminta mau mengajarkan bahasa Cina melalui program ekstrakurikuler di sekolah masing-masing.
Pertanyaan itu terus bergema di benak saya, bahkan hingga hari ini.
Jawaban Sederhana yang Mengubah Cara Pandang
Jawaban paling jujur saya dapatkan justru bukan dari pejabat tinggi, melainkan dari seorang dosen yang menjadi pemateri pelatihan. Ketika saya bertanya “what exactly is the profit the Chinese government gets from this kind of program?”, ia tersenyum dan menjawab dengan sangat tenang:
"Surely we don't give you any money." (Sesungguhnya kami tidak memberikan uang kepada Anda.)
Kalimat itu terdengar paradoksal. Namun ia melanjutkan penjelasannya:
“Kami memang mengeluarkan uang, tetapi biaya pesawat kami bayarkan ke maskapai penerbangan Cina. Hotel kami bayarkan ke hotel milik warga negara kami. Konsumsi, transportasi, dan rekreasi semuanya dibayarkan kepada pelaku usaha lokal. Tidak satu yuan pun kami serahkan langsung kepada Anda. Uang itu beredar dan berputar di negara kami sendiri.”
Saat itu saya mulai memahami: ini bukan pengeluaran, melainkan investasi.
Ekonomi yang Bergerak Tanpa Disadari Tamu
Saya jadi ingat ketika saya mempelajari ilmu ekonomi modern sewaktu kuliah di S1 fakultas ekonomi dahulu, ada istilah multiplier effect—dampak berlipat dari satu aktivitas ekonomi. Program pelatihan internasional seperti ini adalah contoh nyatanya.
Bayangkan 100 orang dari berbagai negara datang ke Cina. Setiap orang:
- Menginap di hotel
- Menggunakan transportasi lokal
- Mengonsumsi makanan
- Mengunjungi tempat wisata
- Membeli suvenir untuk oleh-oleh
- Menggunakan jasa pemandu, penerjemah, dan tenaga pendukung lainnya
Seluruh aktivitas itu menciptakan permintaan. Permintaan menciptakan pendapatan. Pendapatan menciptakan lapangan kerja. Dan semuanya terjadi tanpa harus mengekspor satu barang pun.
Lebih jauh lagi, seperti yang dikatakan sang dosen, hampir mustahil tamu internasional datang tanpa membawa uang saku. Uang itulah yang benar-benar “asing”, dan justru itulah yang masuk ke ekonomi domestik Cina.
Diplomasi yang Tidak Menggurui
Namun keuntungan Cina tidak berhenti pada aspek finansial. Justru nilai terbesarnya ada pada sesuatu yang tidak kasat mata: pengaruh.
Kami—para peserta—pulang ke negara masing-masing dengan pengalaman positif. Kami melihat langsung bagaimana sekolah dikelola, bagaimana disiplin kerja diterapkan, bagaimana teknologi dimanfaatkan, dan bagaimana negara hadir dalam sistem pendidikan.
Tanpa pidato politik.
Tanpa propaganda terbuka; dan
Tanpa narasi ideologis yang memaksa.
Inilah yang disebut soft power—kekuatan lunak. Cina tidak meminta kami memuji, tetapi pengalaman itu sendiri yang berbicara. Dalam banyak diskusi setelahnya, secara tidak sadar kami membandingkan:
- Mengapa mereka bisa?
- Mengapa sistem mereka rapi?
- Apa yang bisa kami adopsi?
Dan pada titik itulah, Cina sudah “menang” tanpa harus berdebat.
Investasi Jangka Panjang dalam Pikiran Manusia
Para peserta pelatihan adalah pendidik, birokrat, akademisi, dan pengambil kebijakan di negaranya masing-masing. Artinya, kami adalah opinion leader di lingkungan kami.
Ketika seorang kepala sekolah, dosen, atau pejabat pendidikan pernah merasakan langsung sistem Cina, maka:
- Persepsinya terhadap Cina berubah
- Sikapnya menjadi lebih terbuka
- Keputusannya di masa depan lebih rasional dan tidak emosional
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Cina sedang menanam benih di kepala manusia, bukan sekadar di tanah investasi.
Pendidikan sebagai Alat Geopolitik Modern
Di era lama, pengaruh negara dibangun lewat kekuatan militer. Tetapi di era modern, pengaruh justru dibangun lewat:
- Pendidikan
- Teknologi
- Budaya
- Ekonomi dan pengetahuan
Cina memahami bahwa pendidikan adalah pintu paling halus untuk masuk ke ruang strategis suatu bangsa. Ketika para pendidik dunia belajar ke Cina, maka secara tidak langsung standar, cara berpikir, dan bahkan orientasi masa depan ikut terpengaruh.
Bukan untuk menguasai, tetapi untuk diperhitungkan.
Pelajaran Penting bagi Indonesia
Sebagai orang Indonesia, saya tidak bisa tidak bertanya: mengapa kita jarang melakukan hal serupa?
Padahal Indonesia:
- Kaya budaya
- Kaya pengalaman pendidikan berbasis kearifan lokal
- Memiliki praktik-praktik baik dalam toleransi dan keberagaman
Namun kita sering melihat program internasional sebagai beban anggaran, bukan sebagai investasi strategis. Kita lebih sibuk menghitung biaya, daripada menghitung dampak jangka panjang.
Cina mengajarkan satu hal penting:
“Negara besar bukan hanya yang kuat secara ekonomi, tetapi yang cerdas mengelola pengaruh”.
Refleksi Pribadi
Kini, bertahun-tahun setelah pelatihan itu, saya sadar bahwa undangan tersebut bukan sekadar perjalanan dinas atau pengalaman akademik. Ia adalah pelajaran tentang cara sebuah negara berpikir jauh ke depan.
Cina tidak bertanya:
“Apa yang kami dapat hari ini?”
Tetapi:
“Apa yang akan dunia pikirkan tentang kami 20 tahun ke depan?”
Dan jawabannya dibangun pelan-pelan—melalui hotel, ruang kelas, senyum dosen, bus pariwisata, dan diskusi ringan yang bersahaja.
Penutup: Ketika Memberi Sesungguhnya Sedang Mengambil
Apa keuntungan Cina dari pelatihan gratis itu?
Jawabannya kini jelas:
- Ekonomi mereka bergerak
- Citra mereka menguat
- Pengaruh mereka meluas
- Dan kepercayaan dunia tumbuh
Semua itu dilakukan tanpa memaksa, tanpa menggurui, dan tanpa suara keras.
Sebuah pelajaran berharga bagi kita semua:
kadang memberi adalah cara paling cerdas untuk mendapatkan.
*) Kasi Kominfo BPIC-Kaltim