Detail Update

Detail Update

Istiqamah dalam Keikhlasan

Card image cap Pondok Modern Gontor

Istiqamah dalam Keikhlasan

Belajar dari Perjalanan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

 

Oleh Dr. Ir. Irianto Lambrie, M.M.
Ketua Umum Badan Pengelola Islamic Center Kalimantan Timur

Ada perjalanan yang kita lakukan untuk melihat sebuah tempat. Tetapi ada pula perjalanan yang membuat kita melihat kembali ke dalam diri sendiri.

Kunjungan saya bersama beberapa orang pengurus Badan Pengelola Islamic Center Kalimantan Timur ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, beberapa waktu lalu, bagi saya bukan sekadar kegiatan studi tiru. Setelah cukup lama berada dalam lingkungan pemerintahan dan organisasi kemasyarakatan, saya baru semakin memahami bahwa setiap lembaga memiliki karakter, nilai, dan budaya yang ikut menentukan panjang pendeknya perjalanan sebuah pengabdian.

Di Gontor, saya menemukan sesuatu yang menarik. Bukan hanya tentang sistem pendidikan, tata kelola pondok, disiplin, kemandirian, atau bagaimana sebuah lembaga pendidikan Islam berkembang menjadi besar. Ada satu nilai yang terasa sangat kuat dan menjadi bahan renungan bagi saya, yaitu istiqamah dalam keikhlasan.

Makna itu saya dapatkan dari penjelasan salah seorang ustaz ketika menceritakan perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor sejak berdiri pada tahun 1926 hingga memasuki usia 100 tahun. Seratus tahun tentu bukan perjalanan yang singkat. Sebuah lembaga mungkin dapat berdiri dengan semangat yang besar, tetapi mempertahankan nilai dan cita-cita selama satu abad membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kemampuan mengelola organisasi.

Ada nilai yang harus dijaga, tradisi yang harus diwariskan, keteladanan yang harus diteruskan, dan manusia-manusia yang bersedia secara ikhlas mengabdikan dirinya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Keikhlasan yang Menjadi Budaya

Di Gontor, saya melihat bahwa keikhlasan bukan sekadar konsep yang diajarkan kepada para santri. Keikhlasan tampak dalam kehidupan sehari-hari para guru dan pengurus pondok.

Seorang guru tidak hanya berbicara tentang pengabdian, tetapi menunjukkan bagaimana mengabdi. Seorang pengurus tidak hanya berbicara tentang tanggung jawab, tetapi menjalankannya. Para santri tidak hanya mendengar tentang disiplin, kesederhanaan, tanggung jawab, dan keikhlasan. Mereka melihat, merasakan, dan hidup dalam suasana yang membentuk nilai-nilai itu menjadi kebiasaan.

Bagi saya, di situlah salah satu kekuatan pendidikan. Nilai yang paling kuat bukan nilai yang paling sering diucapkan, melainkan nilai yang paling sering dilihat dan dialami.

Pengalaman panjang dalam pemerintahan dan organisasi kemasyarakatan juga mengajarkan kepada saya bahwa sebuah organisasi tidak cukup hanya memiliki struktur, aturan, program kerja, anggaran, dan pembagian tugas. Semua itu penting, tetapi di balik semua perangkat tersebut selalu ada manusia. Kualitas manusia sangat menentukan apakah sebuah organisasi sekadar berjalan atau benar-benar memberikan manfaat.

Orang yang bekerja karena ingin mendapatkan pujian akan mudah kecewa ketika pujian tidak datang. Orang yang bekerja karena mengejar pengakuan akan mudah berhenti ketika penghargaan tidak diberikan.

Sebaliknya, orang yang memandang pekerjaannya sebagai amanah memiliki alasan yang lebih kuat untuk terus bertahan. Ia bekerja ketika dilihat maupun ketika tidak dilihat. Ia tetap memberikan yang terbaik ketika dipuji maupun ketika namanya tidak disebut.

Itulah yang saya pahami sebagai istiqamah dalam keikhlasan.

Dari Gontor untuk Islamic Center Kalimantan Timur

Istiqamah bukan berarti kita tidak boleh berubah. Zaman berubah, teknologi berkembang, dan sistem organisasi harus terus diperbaiki. Namun, perubahan cara tidak boleh membuat kita kehilangan nilai.

Kita boleh menggunakan teknologi modern, tetapi amanah harus tetap dijaga. Kita boleh membangun manajemen yang profesional, tetapi keikhlasan tidak boleh ditinggalkan. Kita boleh mengejar prestasi, tetapi penghargaan manusia jangan sampai menjadi satu-satunya tujuan.

Pelajaran itu sangat relevan dengan perjalanan Islamic Center Kalimantan Timur.

Islamic Center bukan sekadar bangunan masjid. Di dalamnya terdapat kegiatan pendidikan, pembinaan umat, pelayanan kesehatan, kegiatan sosial, dan berbagai aktivitas keagamaan. Ada guru, tenaga kependidikan, tenaga kesehatan, tenaga administrasi, petugas kebersihan, keamanan, pengelola kegiatan, dan para pengurus yang bekerja di belakang layar.

Tidak semua tampil di depan. Tidak semua dikenal namanya. Tidak semua pekerjaannya mendapatkan penghargaan. Tetapi semuanya memiliki arti.

Karena itu, salah satu pekerjaan besar kita bukan hanya membangun fasilitas dan mengembangkan program, melainkan membangun budaya pengabdian.

Kita ingin setiap orang yang berada di Islamic Center tidak sekadar merasa sedang bekerja, tetapi merasa sedang menjalankan amanah. Perbedaannya sederhana, tetapi maknanya besar.

Ketika seseorang merasa sedang mengabdi, ia tidak hanya menjalankan tugas dari atasan. Ia sedang memberikan pelayanan kepada umat. Ia tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi menjaga amanah. Ia tidak hanya mengejar target, tetapi berusaha menghadirkan manfaat.

Bukan Meniru Gontor, tetapi Belajar dari Nilainya

Studi tiru tidak seharusnya berhenti pada apa yang terlihat dari luar. Kita memang dapat mempelajari sistem, bangunan, program, organisasi, dan metode pendidikan Gontor. Tetapi ada beberapa pertanyaan yang lebih dalam yang seharusnya kita dapatkan jawabannya, yaitu:

  • Nilai apa yang membuat Gontor mampu bertahan selama seratus tahun?
  • Bagaimana nilai itu diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya?
  • Bagaimana guru menjadi teladan?
  • Bagaimana pengurus tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab meskipun tidak selalu berada dalam sorotan?

Islamic Center Kalimantan Timur tentu memiliki karakter dan tantangannya sendiri. Kita tidak harus menjadi Gontor dan tidak perlu menyalin seluruh sistem yang ada di sana. Yang perlu kita pelajari adalah nilai yang dapat kita adaptasikan sesuai kebutuhan kita.

Salah satunya adalah menjadikan keikhlasan sebagai budaya lembaga.

Keikhlasan tidak cukup disampaikan dalam ceramah atau ditulis dalam dokumen. Ia harus terlihat dalam perilaku pimpinan, cara pengurus bekerja, cara guru mendidik, cara tenaga kesehatan melayani pasien, dan cara seluruh unsur Islamic Center melayani masyarakat.

Dengan begitu, keikhlasan tidak berhenti sebagai slogan. Ia menjadi kebiasaan.

Membangun untuk Generasi Mendatang

Ada satu hal lain yang saya renungkan dari perjalanan Gontor selama seratus tahun. Kita semua akan meninggalkan apa yang sekarang kita kerjakan. Jabatan berganti, pengurus berganti, guru berganti, tenaga kesehatan dan generasi berganti.

Pertanyaannya, apa yang kita tinggalkan?

Apakah hanya bangunan, program, laporan, dan dokumen? Ataukah kita juga meninggalkan nilai dan budaya yang dapat diteruskan oleh generasi berikutnya?

Kita mungkin tidak menikmati seluruh hasil dari apa yang kita bangun hari ini. Tetapi bukan itu tujuan pengabdian.

Kita menanam pohon yang mungkin buahnya dinikmati generasi berikutnya. Kita membangun sistem yang kelak dijalankan oleh orang lain. Kita mendidik anak-anak yang suatu hari mungkin tidak lagi mengingat nama kita.

Tidak mengapa.

Dalam pengabdian, yang penting bukan apakah nama kita terus disebut, tetapi apakah manfaat dari apa yang kita kerjakan terus dirasakan.

Gontor mengajarkan bahwa sebuah generasi boleh berlalu, tetapi nilai yang ditanam dengan ikhlas dapat terus hidup lintas generasi.

Keikhlasan Bukan Bekerja Seadanya

Keikhlasan tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk bekerja seadanya. Justru keikhlasan seharusnya mendorong seseorang untuk memberikan yang terbaik dalam menjalankan setiap amanah. Pondok Modern Darussalam Gontor memberi contoh nyata tentang hal itu.

Keikhlasan berjalan bersama disiplin, kemandirian, kesungguhan, dan budaya belajar yang kuat. Dari proses pendidikan seperti itulah lahir para alumni yang tidak hanya memiliki bekal ilmu dan karakter, tetapi juga mampu berkiprah dan bersaing di tingkat nasional dan global. Bagi saya, di sinilah kita melihat bahwa keikhlasan bukan lawan dari profesionalisme. Keikhlasan justru dapat menjadi kekuatan yang menggerakkan seseorang untuk terus belajar, bekerja keras, dan memberikan hasil terbaik.

Pengurus yang ikhlas menjalankan amanah secara profesional. Guru yang ikhlas mempersiapkan pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Tenaga kesehatan yang ikhlas berusaha memberikan pelayanan terbaik. Begitu pula setiap orang yang berada di Islamic Center harus berusaha memberikan yang terbaik sesuai tanggung jawabnya.

Keikhlasan tidak mengurangi profesionalisme. Keikhlasan justru memberikan ruh kepada profesionalisme.

Kita bekerja bukan hanya karena ada aturan. Kita menjaga amanah bukan hanya karena ada atasan. Kita memberikan pelayanan bukan hanya karena ada penilaian. Kita melakukan semua itu karena menyadari bahwa Allah mengetahui apa yang kita kerjakan, termasuk pekerjaan yang tidak dilihat manusia.

Menanam Hari Ini, Memetik di Masa Depan

Semakin panjang perjalanan hidup, semakin banyak hal yang direnungkan.

Ketika masih muda, kita mungkin lebih banyak mengejar posisi, prestasi, keberhasilan, dan pengakuan. Semua itu tidak salah. Tetapi waktu perlahan mengajarkan bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar pencapaian.

Apa yang tersisa setelah kita selesai menjalankan amanah?

Berapa banyak orang yang pernah kita bantu? Berapa banyak ilmu yang pernah kita bagikan? Berapa banyak generasi yang pernah kita ikut persiapkan? Dan berapa banyak kebaikan yang tetap berjalan setelah kita tidak lagi berada di dalamnya?

Mungkin keberhasilan terbesar seseorang bukan ketika namanya semakin dikenal, tetapi ketika kebaikan yang pernah ia tanam tetap tumbuh meskipun dirinya sudah tidak lagi berada di sana.

Karena itu, saya berharap nilai istiqamah dalam keikhlasan yang kami rasakan di Gontor dapat menjadi bagian dari perjalanan Islamic Center Kalimantan Timur, sekaligus menginspirasi lembaga-lembaga sosial keagamaan lainnya di Kalimantan Timur dalam membangun tradisi pengabdian yang tulus, profesional, dan berkelanjutan.

Kita membutuhkan sistem yang baik, sumber daya manusia yang kompeten, manajemen profesional, dan perencanaan yang matang. Tetapi di atas semua itu, kita membutuhkan manusia yang menyadari bahwa amanah ini bukan sekadar pekerjaan.

Ini adalah pengabdian.

Dan pengabdian membutuhkan keikhlasan. Keikhlasan membutuhkan istiqamah. Istiqamah membutuhkan keteladanan.

Perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari datang tepat waktu, melayani dengan ramah, menyelesaikan tugas dengan baik, menjaga fasilitas, menghormati sesama, tidak mencari pujian, dan tetap bekerja sungguh-sungguh meskipun tidak sedang diperhatikan.

Jika kebiasaan kecil itu dilakukan terus-menerus oleh banyak orang, ia akan tumbuh menjadi budaya. Dan budaya yang hidup akan jauh lebih kuat daripada sekadar aturan tertulis.

Renungan Setelah Pulang dari Gontor

Saya pulang dari Gontor dengan membawa banyak catatan. Tetapi mungkin catatan yang paling penting bukan yang tertulis di buku. Ia justru tertulis di dalam hati.

Keikhlasan harus terus dijaga.

Hari ini kita ikhlas, besok kita periksa kembali niat kita. Ketika dipuji, kita luruskan kembali hati. Ketika dikritik, kita jadikan bahan introspeksi. Ketika tidak dihargai, kita tetap menjalankan amanah.

Ikhlas sekali mungkin mudah. Tetapi ikhlas berkali-kali, selama bertahun-tahun, bahkan sepanjang kehidupan, itulah yang membutuhkan istiqamah.

Saya membayangkan suatu saat nanti, ketika kita semua sudah tidak lagi berada di Islamic Center, generasi yang datang setelah kita masih dapat merasakan nilai yang kita tanam hari ini.

Mereka mungkin tidak mengenal nama kita. Mereka mungkin tidak tahu siapa yang membangun sebuah program atau siapa yang dahulu bekerja di balik layar.

Tidak mengapa.

Jika mereka dapat beribadah dengan nyaman, belajar dengan baik, mendapatkan pelayanan yang layak, dan tumbuh menjadi generasi yang bermanfaat bagi umat, itulah warisan yang jauh lebih berharga.

Dari Gontor saya belajar bahwa bangunan dapat diwariskan dan program dapat dilanjutkan, tetapi nilai harus terus dijaga dan dihidupkan. Nilai tidak akan hidup tanpa manusia yang bersedia menjaganya.

Maka, bagi kita yang hari ini mendapat amanah di Islamic Center Kalimantan Timur, pertanyaan pentingnya bukan hanya apa yang akan kita bangun, tetapi nilai apa yang akan kita wariskan.

Kami datang ke Gontor untuk belajar bagaimana sebuah lembaga dapat bertahan selama seratus tahun. Kami pulang dengan pertanyaan tentang bagaimana Islamic Center Kalimantan Timur dapat membangun fondasi yang memungkinkan generasi berikutnya melanjutkan pengabdian.

Salah satu jawabannya saya temukan dalam kalimat yang disampaikan ustaz di Gontor

Istiqamah dalam keikhlasan.

Tetap menjaga nilai ketika zaman berubah. Tetap memberikan yang terbaik ketika tidak ada yang melihat. Tetap mengabdi ketika tidak ada tepuk tangan. Tetap menjaga amanah ketika tidak ada penghargaan.

Kita semua akan meninggalkan jabatan, ruang kerja, organisasi, bahkan dunia ini. Yang tersisa adalah amal dan manfaat.

Tidak perlu terlalu sibuk memastikan manusia mengingat apa yang pernah kita lakukan. Cukuplah Allah mengetahui.

Jika manusia mengingat, kita bersyukur. Jika manusia melupakan, kita tetap berjalan.

Sebab pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas tidak pernah sia-sia.

Rahasia panjangnya sebuah pengabdian mungkin bukan terletak pada seberapa kuat seseorang memulai, tetapi pada seberapa tulus ia bersedia terus berjalan.

Istiqamahlah dalam keikhlasan.

Dari situlah sebuah pengabdian dapat melampaui usia manusia dan menjadi warisan bagi generasi yang akan datang. Semoga catatan ini mampu menginspirasi bagi setiap orang yang membaca.

Wallahu a'lam bishawab