Detail Update

Detail Update

JANGAN HANYA MENUNGGU TAKDIR

Card image cap Jangan Menunggu Takdir

Allah Menjaga, Manusia Wajib Berikhtiar

(Renungan tentang perubahan diri, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT.)

Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M.

Ketua Umum BPIC Kaltim

 

Pernahkah kita berdoa begitu lama, tetapi keadaan seolah tidak kunjung berubah?

Kita memohon rezeki, tetapi penghasilan masih terasa kurang. Kita menginginkan kehidupan yang lebih baik, tetapi langkah terasa berat. Kita berharap masalah segera selesai, tetapi persoalan justru datang silih berganti.

Lalu, tanpa sadar, muncul sebuah kalimat yang sering kita ucapkan untuk menghibur diri:

“Sudahlah, mungkin memang sudah takdirnya.”

Kalimat itu tidak sepenuhnya salah. Namun, ada yang perlu kita renungkan: apakah kita sedang menerima takdir dengan penuh keimanan, atau justru sedang menjadikan takdir sebagai alasan untuk berhenti berusaha?

Sebab, dalam ajaran Islam, keimanan kepada takdir tidak pernah dimaksudkan untuk membuat manusia kehilangan semangat dalam menjalani kehidupan.

Allah mengajarkan kepada kita bahwa perubahan bukan sekadar sesuatu yang ditunggu. Perubahan juga membutuhkan kesadaran, kemauan, dan ikhtiar dari dalam diri manusia.

Allah Menjaga, Tetapi Kita Tetap Harus Melangkah

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini mengandung pesan yang begitu dalam bagi kehidupan kita.

Allah menjelaskan tentang malaikat-malaikat yang menjaga manusia atas perintah-Nya. Namun, ayat ini juga mengingatkan bahwa perubahan keadaan suatu kaum berkaitan dengan perubahan yang terjadi dalam diri mereka sendiri.

Kita sering berharap kehidupan berubah, tetapi enggan mengubah kebiasaan.

Kita ingin dihargai, tetapi belum terbiasa menghargai orang lain. Kita menginginkan rezeki yang lapang, tetapi masih kurang disiplin dalam bekerja. Kita berharap hubungan keluarga menjadi harmonis, tetapi masih memelihara ego dan enggan meminta maaf.

Kita ingin keadaan menjadi lebih baik, tetapi terkadang masih mempertahankan cara berpikir dan perilaku yang justru membuat keadaan semakin sulit.

Bagaimana mungkin kita mengharapkan hasil yang berbeda jika kita terus melakukan hal yang sama?

Perubahan besar tidak selalu dimulai dengan langkah yang besar. Terkadang, ia dimulai dari keberanian sederhana untuk mengakui kekurangan diri, memperbaiki kebiasaan, dan mengambil keputusan yang lebih bijaksana.

Mungkin kita belum mampu mengubah keadaan di sekitar kita. Namun, kita selalu bisa mulai memperbaiki cara kita merespons keadaan tersebut.

Takdir Bukan Alasan untuk Berdiam Diri

Ada sebuah pertanyaan penting yang pernah diajukan kepada Rasulullah SAW.

Para sahabat bertanya tentang takdir. Jika segala sesuatu telah ditetapkan, untuk apa manusia beramal dan berikhtiar?

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan:

“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah ditakdirkan baginya.”

Hadis ini mengajarkan bahwa keyakinan terhadap takdir harus berjalan bersama amal dan ikhtiar.

Bukan sebaliknya.

Kita tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan Allah bagi masa depan kita. Kita tidak tahu apakah esok akan membawa kebahagiaan, ujian, keberhasilan, atau sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.

Karena itulah, tugas kita bukan menerka-nerka takdir, melainkan menjalani kehidupan dengan amal yang baik.

Seorang petani tidak mengetahui berapa banyak hasil panen yang akan diperolehnya. Namun, ia tetap mengolah tanah, menanam benih, menyiram tanaman, dan merawatnya.

Ia memahami bahwa hasil panen bukan sepenuhnya berada dalam kekuasaannya. Akan tetapi, ia juga menyadari bahwa tanpa menanam, tidak ada tanaman yang dapat dirawat dan dipanen.

Demikian pula kehidupan kita.

Seorang guru tetap mengajar dengan sepenuh hati, meskipun belum tentu seluruh muridnya berhasil sesuai harapan.

Seorang pemimpin tetap bekerja dengan jujur, meskipun tidak semua keputusannya akan disukai.

Seorang anak tetap berbakti kepada orang tuanya, meskipun tidak semua pengorbanannya mendapatkan balasan yang setimpal.

Dan seorang manusia tetap berbuat baik, meskipun ia tidak pernah tahu kapan kebaikan itu akan kembali kepadanya.

Ikhtiar adalah bagian dari tanggung jawab kita. Hasilnya, kita serahkan kepada Allah SWT.

Jangan Menunggu Hidup Sempurna untuk Memulai Perubahan

Sering kali kita menunda perubahan karena merasa belum memiliki cukup banyak hal.

Belum cukup uang untuk memulai usaha. Belum cukup ilmu untuk berbagi. Belum cukup waktu untuk memperbaiki hubungan. Belum cukup berani untuk mengambil langkah pertama.

Padahal, kehidupan tidak selalu memberikan kesempatan dalam keadaan yang sempurna.

Kita tidak harus menunggu kaya untuk belajar bersedekah. Tidak harus menunggu menjadi pemimpin untuk belajar bertanggung jawab. Tidak harus menunggu tua untuk memperbaiki diri.

Mulailah dari apa yang kita miliki.

Jika hari ini belum mampu membantu banyak orang, bantulah satu orang.

Jika belum mampu melakukan perubahan besar, perbaikilah satu kebiasaan buruk.

Jika belum mampu menyelesaikan seluruh persoalan, selesaikanlah satu persoalan yang memang berada dalam jangkauan kita.

Sebab, perubahan yang dilakukan secara konsisten, meskipun kecil, dapat menjadi awal dari perjalanan yang panjang.

Allah tidak meminta kita mengetahui seluruh rahasia masa depan. Kita hanya diminta menjalani hari ini dengan kesungguhan, ketaatan, dan tanggung jawab.

Ikhtiar, Doa, dan Tawakal Harus Berjalan Bersama

Dalam kehidupan, ada hal-hal yang bisa kita usahakan dan ada hal-hal yang berada di luar kemampuan kita.

Kita bisa menjaga kesehatan dengan pola hidup yang baik, tetapi tidak dapat menjamin bahwa kita tidak akan pernah sakit.

Kita bisa mendidik anak dengan penuh kasih sayang, tetapi tidak dapat mengendalikan seluruh pilihan hidupnya.

Kita bisa bekerja keras untuk memperoleh rezeki, tetapi tidak dapat memastikan kapan dan melalui jalan apa Allah akan memberikan hasilnya.

Di sinilah kita perlu memahami makna tawakal.

Tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah menjalankan ikhtiar yang semestinya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”

(HR. Tirmidzi, no. 2344)

Perhatikanlah bagaimana burung mencari rezeki.

Ia tidak hanya berada di sarangnya sambil menunggu makanan datang. Ia terbang, bergerak, dan mencari apa yang dibutuhkannya.

Demikian pula manusia.

Kita berdoa, tetapi juga bekerja. Kita berharap, tetapi juga berusaha. Kita berserah diri, tetapi tidak meninggalkan tanggung jawab.

Doa menguatkan hati. Ikhtiar menggerakkan langkah. Tawakal menjaga jiwa agar tidak diperbudak oleh hasil.

Ketiganya saling melengkapi dalam perjalanan seorang hamba menuju rida Allah SWT.

Ketika Ikhtiar Belum Menghasilkan Apa yang Kita Harapkan

Ada satu hal yang perlu kita pahami dengan hati yang lapang.

Tidak semua usaha akan menghasilkan sesuatu sesuai keinginan kita. Ada kalanya kita telah bekerja keras, tetapi hasilnya belum terlihat. Ada kalanya kita telah berbuat baik, tetapi justru mendapatkan perlakuan yang menyakitkan.

Ada pula saat ketika kita merasa sudah melakukan yang terbaik, tetapi kenyataan tetap tidak berjalan sebagaimana yang kita rencanakan.

Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak menyayangi kita.

Jangan pula menganggap bahwa setiap kegagalan adalah bukti kurangnya iman atau buruknya ikhtiar kita.

Manusia memiliki keterbatasan. Ada keadaan yang tidak bisa kita kendalikan. Ada pula hikmah yang belum mampu kita pahami saat ini.

Ketika hasil belum sesuai harapan, kita dapat mengevaluasi usaha, memperbaiki cara, meminta nasihat, dan mencoba kembali jika memang masih memungkinkan.

Namun, ada saatnya kita juga perlu menerima kenyataan dengan lapang dada, mengubah arah, atau melepaskan sesuatu yang memang tidak lagi dapat kita pertahankan.

Menerima kenyataan bukan berarti menyerah pada kehidupan.

Justru, terkadang dibutuhkan kebesaran hati untuk menerima sesuatu yang tidak bisa diubah, sambil tetap berusaha memperbaiki apa yang masih berada dalam kemampuan kita.

Mulailah dari Diri Sendiri

Saudaraku, barangkali selama ini kita terlalu sibuk berharap orang lain berubah.

Kita berharap pasangan lebih memahami. Kita berharap anak lebih patuh. Kita berharap rekan kerja lebih menghargai. Kita berharap pemimpin lebih bijaksana.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang sudah saya perbaiki dari diri saya?”

Mungkin kita perlu lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Mungkin kita perlu lebih sabar dalam menghadapi perbedaan.

Mungkin kita perlu mengurangi keluhan dan memperbanyak rasa syukur.

Mungkin kita perlu memperbaiki ibadah, menunaikan amanah dengan lebih sungguh-sungguh, atau meminta maaf kepada seseorang yang pernah kita sakiti.

Tidak semua perubahan harus dimulai dari orang lain.

Terkadang, perubahan paling bermakna justru dimulai ketika kita berani bercermin dan mengakui bahwa diri kita pun masih perlu diperbaiki.

Dan jangan pernah merasa terlambat untuk memulainya.

Selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, masih ada ruang untuk bertobat, belajar, memperbaiki diri, dan menebarkan kebaikan.

Penutup: Jangan Hanya Menunggu, Bergeraklah dalam Kebaikan

Hidup ini bukan tentang seberapa banyak kita mampu mengendalikan keadaan. Hidup ini juga tentang bagaimana kita menjalankan amanah Allah di tengah keadaan yang tidak selalu sesuai dengan keinginan.

Kita memang tidak bisa memilih seluruh takdir yang akan kita hadapi. Namun, kita dapat memilih untuk merespons kehidupan dengan kesabaran, ikhtiar, doa, dan amal saleh.

Jangan hanya menunggu rezeki datang, tetapi jemputlah dengan cara yang halal.

Jangan hanya berharap keluarga menjadi bahagia, tetapi hadirkan kasih sayang di dalamnya.

Jangan hanya menginginkan kehidupan yang lebih baik, tetapi mulailah memperbaiki diri.

Dan jangan hanya berpasrah kepada Allah tanpa melakukan apa-apa. Sebab, tawakal yang benar berjalan bersama ikhtiar dan ketaatan.

Hari ini, mungkin kita belum mampu mengubah dunia. Namun, kita selalu bisa memulai perubahan dari diri sendiri.

Semoga Allah SWT membimbing langkah kita, menguatkan hati kita dalam menghadapi ujian, melapangkan rezeki kita, dan menjadikan setiap ikhtiar sebagai jalan menuju kebaikan.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

 

TAGS