Untuk mengetahui rasa sakit, kita tidak harus mencoba untuk jatuh.
PENGALAMAN ADALAH GURU TERBAIK, TETAPI HARUSKAH KITA MENGALAMI SEMUANYA?
Belajar dari Kesalahan Sendiri Itu Baik, tetapi Belajar dari Kesalahan Orang Lain Jauh Lebih Bijak
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)
Kalau kita melihat seseorang jatuh ke dalam lubang dan berteriak kesakitan, apakah kita harus ikut melompat ke lubang yang sama hanya untuk membuktikan bahwa jatuh itu memang sakit?
Tentu tidak. Kalau sampai kita melakukannya, mungkin orang lain justru akan mempertanyakan kewarasan kita.
Anehnya, dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang melakukan hal serupa. Mereka sudah menyaksikan orang lain gagal, menderita, bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga akibat sebuah kesalahan. Namun, mereka tetap mengulangi kesalahan yang sama. Seolah-olah penderitaan orang lain belum cukup menjadi pelajaran sebelum mereka sendiri merasakannya.
Kita tentu sering mendengar pepatah, "Pengalaman adalah guru terbaik." Pepatah ini begitu populer. Diucapkan dalam ruang kelas, disampaikan dalam berbagai seminar, bahkan sering dijadikan nasihat oleh orang tua kepada anak-anaknya.
Saya pun percaya bahwa pengalaman memang merupakan guru yang sangat baik. Namun, ada satu pertanyaan yang sejak lama mengusik pikiran saya.
Pengalaman siapa yang dimaksud? Pengalaman kita sendiri atau pengalaman orang lain?
Sepanjang yang saya amati, banyak orang memahami pepatah tersebut sebagai pengalaman pribadi. Seseorang dianggap belajar setelah mengalami sendiri sebuah peristiwa, terutama ketika peristiwa itu menyakitkan atau berakhir dengan kegagalan.
Menurut saya, pemahaman seperti itu terlalu sempit.
Pengalaman yang dapat menjadi guru terbaik bukan hanya pengalaman yang kita alami sendiri, melainkan juga pengalaman orang lain yang kita saksikan, kita dengarkan, atau kita pelajari.
Bukankah hidup ini terlalu singkat jika semua pelajaran harus kita peroleh dengan mengalami sendiri setiap kesalahan?
Tidak Semua Pelajaran Harus Dibayar dengan Penderitaan
Bayangkan seorang anak kecil yang melihat temannya menyentuh panci panas. Temannya menjerit karena tangannya terbakar.
Apakah anak itu harus ikut menyentuh panci tersebut agar benar-benar memahami bahwa benda panas dapat melukai kulit?
Tentu tidak.
Cukup dengan melihat apa yang dialami temannya, ia sudah memperoleh sebuah pelajaran berharga.
Begitu pula ketika kita menyaksikan seseorang mengalami kecelakaan karena mengendarai sepeda motor secara ugal-ugalan. Apakah kita perlu mencoba berkendara dengan cara yang sama untuk membuktikan bahwa tindakan tersebut berbahaya?
Saya kira tidak ada orang yang berpikiran sehat akan melakukannya.
Namun, mengapa dalam persoalan kehidupan yang lain kita sering bersikap berbeda?
Kita melihat seseorang kehilangan kepercayaan karena kebiasaannya berbohong, tetapi masih menganggap kebohongan kecil sebagai sesuatu yang biasa.
Kita menyaksikan sebuah keluarga berantakan karena salah satu anggotanya tidak mampu mengendalikan emosi, tetapi masih merasa bahwa kemarahan adalah cara terbaik menyelesaikan persoalan.
Kita mengetahui seseorang terjerat utang karena gaya hidup yang melebihi kemampuan, tetapi tetap tergoda membeli sesuatu hanya demi menjaga gengsi.
Kita bahkan melihat seorang pejabat kehilangan jabatan, kehormatan, dan kebebasannya karena korupsi. Namun, masih saja ada orang yang melakukan perbuatan serupa.
Lalu, untuk apa semua pengalaman orang lain itu jika tidak pernah kita jadikan pelajaran?
Jangan-jangan persoalannya bukan karena kita kekurangan pengalaman, melainkan karena kita kurang bersedia belajar dari pengalaman.
Orang Bijak Tidak Harus Mengalami Semua Kesalahan
Ada perbedaan antara orang yang belajar karena terpaksa dan orang yang belajar karena kesadaran.
Orang yang belajar karena terpaksa biasanya baru berubah setelah mengalami sesuatu yang menyakitkan. Ia baru menghargai kesehatan setelah sakit. Baru menyadari pentingnya keluarga setelah kehilangan. Baru memahami arti kejujuran setelah kebohongannya terbongkar.
Sementara itu, orang yang memiliki kesadaran tidak selalu menunggu penderitaan datang menghampirinya.
Ia memperhatikan kehidupan orang lain. Ia mendengarkan nasihat. Ia membaca kisah keberhasilan maupun kegagalan. Ia berusaha memahami mengapa seseorang berhasil dan mengapa orang lain mengalami kegagalan.
Dari situlah ia mengambil pelajaran.
Bagi saya, inilah salah satu ciri kebijaksanaan.
Orang yang bijak bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Ia tetap manusia biasa yang bisa keliru. Namun, ia berusaha mengurangi kesalahan yang sebenarnya dapat dihindari dengan belajar dari pengalaman orang lain.
Ada ungkapan yang menarik untuk direnungkan:
"Orang cerdas belajar dari kesalahannya sendiri. Orang bijak belajar pula dari kesalahan orang lain."
Ungkapan tersebut mengingatkan kita bahwa belajar tidak harus selalu melalui penderitaan pribadi.
Kalau orang lain sudah membayar mahal sebuah pelajaran, mengapa kita harus membayar harga yang sama?
Pelajaran dari Dunia Pendidikan
Selama puluhan tahun berkecimpung dalam dunia pendidikan, saya menemukan bahwa pengalaman orang lain sesungguhnya merupakan sumber pembelajaran yang luar biasa.
Seorang guru tidak harus menunggu kelasnya menjadi kacau untuk memahami pentingnya pengelolaan kelas yang baik. Ia dapat belajar dari pengalaman guru lain yang berhasil menciptakan suasana belajar menyenangkan.
Seorang kepala sekolah tidak perlu menunggu sekolahnya mengalami konflik berkepanjangan untuk menyadari pentingnya komunikasi dan keterbukaan. Ia dapat mengambil pelajaran dari sekolah lain yang pernah menghadapi persoalan serupa.
Begitu pula dengan para siswa.
Mereka tidak harus mengalami kegagalan ujian terlebih dahulu untuk memahami pentingnya belajar secara teratur. Mereka dapat memperhatikan pengalaman kakak kelas yang berhasil maupun yang gagal.
Sayangnya, dalam kehidupan sekolah, pengalaman sering kali berhenti menjadi cerita.
Seorang guru menceritakan keberhasilannya, tetapi guru lain menganggap kondisi kelasnya berbeda. Seorang kepala sekolah membagikan pengalamannya, tetapi ada yang beranggapan bahwa keberhasilan itu hanya cocok diterapkan di sekolah tertentu.
Padahal, belajar dari pengalaman orang lain tidak berarti harus meniru seluruh tindakannya.
Kita cukup mengambil prinsip-prinsip yang baik, memahami penyebab keberhasilan atau kegagalannya, kemudian menyesuaikannya dengan keadaan kita.
Pengalaman orang lain bukanlah resep yang harus ditelan mentah-mentah, melainkan cermin untuk membantu kita melihat kemungkinan yang belum pernah kita alami.
Belajar dari Orang yang Berhasil dan yang Gagal
Saya juga berpendapat bahwa kita tidak boleh hanya belajar dari orang-orang yang berhasil.
Kegagalan orang lain sering kali menyimpan pelajaran yang tidak kalah berharga.
Ketika seseorang berhasil membangun usaha, kita dapat mempelajari ketekunan, strategi, dan cara berpikirnya.
Sebaliknya, ketika seseorang mengalami kebangkrutan, kita dapat mempelajari keputusan apa yang keliru, risiko apa yang diabaikan, atau kebiasaan apa yang membawa usahanya menuju kehancuran.
Keduanya sama-sama guru.
Keberhasilan menunjukkan jalan yang mungkin dapat kita tempuh. Kegagalan memberikan peringatan tentang jalan yang sebaiknya kita hindari.
Tentu saja, kita harus berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Tidak setiap kegagalan disebabkan oleh kebodohan, sebagaimana tidak setiap keberhasilan semata-mata lahir dari kecerdasan.
Ada keadaan, kesempatan, dukungan, dan berbagai faktor lain yang ikut memengaruhi perjalanan hidup seseorang.
Itulah sebabnya belajar dari pengalaman orang lain membutuhkan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar meniru atau menghakimi.
Jangan sampai kita merasa lebih pintar hanya karena melihat orang lain gagal.
Bisa jadi, jika berada dalam keadaan yang sama, kita pun belum tentu mampu mengambil keputusan yang lebih baik.
Al-Qur'an Mengajarkan Kita Belajar dari Pengalaman Orang Lain
Dalam ajaran Islam, belajar dari pengalaman orang lain sesungguhnya bukan sesuatu yang asing.
Al-Qur'an banyak mengisahkan kehidupan umat terdahulu, para nabi, orang-orang saleh, serta mereka yang mengalami kehancuran akibat kesombongan dan kedurhakaan.
Mengapa kisah-kisah itu disampaikan kepada kita?
Tentu bukan sekadar untuk menjadi cerita pengantar tidur.
Allah SWT berfirman dalam Surah Yusuf ayat 111:
"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal."
Ayat ini memberikan pesan yang sangat mendalam.
Kita tidak harus menjadi Fir'aun untuk mengetahui akibat dari kesombongan dan kezaliman. Kita tidak harus mengalami sendiri kehancuran suatu kaum untuk memahami bahaya mengabaikan peringatan Allah.
Kita juga tidak harus mengalami seluruh ujian yang dihadapi para nabi untuk belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan iman.
Allah telah menghadirkan berbagai kisah sebagai bahan renungan bagi manusia.
Bahkan, kisah-kisah tersebut melintasi batas waktu dan generasi. Peristiwa yang terjadi ribuan tahun lalu masih dapat memberikan pelajaran bagi kehidupan kita hari ini.
Bagi saya, ini merupakan bukti bahwa pengalaman orang lain memang dapat menjadi guru yang sangat berharga.
Hanya saja, manfaatnya bergantung pada kesediaan kita untuk merenungkan dan mengambil hikmah darinya.
Jangan Menunggu Jatuh untuk Belajar Berjalan
Ada satu kebiasaan manusia yang menurut saya perlu kita renungkan.
Sering kali kita lebih mudah menerima nasihat setelah mengalami kesulitan.
Ketika masih sehat, nasihat untuk menjaga pola hidup dianggap biasa. Setelah jatuh sakit, barulah kita menyadari nilainya.
Ketika hubungan keluarga masih harmonis, nasihat untuk saling menghargai terkadang diabaikan. Setelah terjadi perpecahan, barulah muncul penyesalan.
Ketika masih memiliki jabatan, nasihat agar tidak sombong terasa seperti angin lalu. Setelah kehilangan kekuasaan, barulah seseorang memahami betapa pentingnya kerendahan hati.
Mengapa harus menunggu semuanya terjadi?
Apakah kita tidak dapat belajar dari orang lain yang sudah lebih dahulu mengalaminya?
Tentu bisa.
Persoalannya, kadang-kadang ego membuat kita merasa bahwa pengalaman orang lain tidak berlaku bagi diri kita.
Kita menganggap diri lebih pintar, lebih kuat, atau lebih beruntung.
Kita berkata dalam hati, "Itu kan dia. Kalau saya, pasti berbeda."
Padahal, tidak ada jaminan bahwa kita akan terhindar dari akibat yang sama ketika melakukan kesalahan serupa.
Memang benar, tidak semua pengalaman orang lain dapat dijadikan ukuran mutlak. Setiap manusia memiliki keadaan yang berbeda. Namun, perbedaan itu seharusnya membuat kita lebih cermat dalam belajar, bukan menjadikan kita menutup mata terhadap pelajaran yang tersedia.
Pengalaman Adalah Guru, tetapi Kemauan Belajarlah yang Menentukan
Setelah merenungkan semua itu, saya sampai pada satu pemikiran.
Barangkali pepatah "Pengalaman adalah guru terbaik" perlu kita pahami secara lebih luas.
Pengalaman pribadi memang dapat mengajarkan banyak hal. Kita dapat merasakan langsung akibat dari keputusan yang diambil. Kita belajar melalui keberhasilan, kegagalan, kebahagiaan, maupun penderitaan.
Namun, pengalaman orang lain juga dapat menjadi guru yang tidak kalah baik.
Bahkan, dalam keadaan tertentu, belajar dari pengalaman orang lain jauh lebih menguntungkan karena kita dapat memperoleh pelajaran tanpa harus menanggung risiko dan penderitaan yang sama.
Tentu tidak semua hal dapat dipahami hanya dengan mengamati. Ada keterampilan yang memang harus dilatih, ada kemampuan yang hanya berkembang melalui praktik, dan ada pengalaman batin yang sulit dipahami sepenuhnya tanpa menjalaninya sendiri.
Tetapi untuk kesalahan yang akibatnya sudah jelas, apakah kita masih perlu mencobanya?
Saya kira tidak.
Kembali pada contoh sederhana di awal tulisan ini.
Jika kita melihat seseorang jatuh ke dalam lubang dan kesakitan, tindakan yang bijak bukanlah ikut melompat untuk membuktikan bahwa jatuh itu sakit.
Kita justru harus mencari jalan lain agar dapat sampai ke tujuan dengan selamat.
Kalau memungkinkan, kita bahkan dapat memasang tanda peringatan agar orang lain tidak mengalami nasib yang sama.
Bukankah itu jauh lebih bermanfaat?
Di situlah saya melihat makna lain dari sebuah pengalaman. Pengalaman bukan hanya sesuatu yang kita simpan untuk diri sendiri, melainkan juga sesuatu yang dapat kita bagikan agar orang lain tidak harus mengulangi kesalahan yang sama.
Orang tua membagikan pengalaman kepada anak-anaknya. Guru membagikan pengalaman kepada murid-muridnya. Pemimpin membagikan pengalaman kepada generasi penerusnya.
Semua itu dilakukan agar kehidupan generasi berikutnya dapat menjadi lebih baik.
Saya semakin percaya bahwa kebijaksanaan seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak peristiwa yang pernah dialaminya, tetapi juga oleh seberapa banyak hikmah yang mampu dipetiknya dari kehidupan orang lain.
Sebab, orang yang hanya belajar dari pengalamannya sendiri mungkin harus jatuh berkali-kali. Sementara orang yang mau belajar dari pengalaman orang lain dapat mengenali lubang sebelum kakinya terperosok ke dalamnya.
Dan jika suatu hari kita terpaksa jatuh juga, semoga pengalaman itu tidak berhenti sebagai penderitaan, tetapi menjadi pelajaran yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain.
Hidup ini terlalu singkat untuk mencoba semua kesalahan, dan terlalu berharga untuk mengabaikan pelajaran dari pengalaman orang lain.
Bagaimana menurut Anda? Apakah selama ini kita benar-benar belajar dari pengalaman orang lain, atau masih sering merasa harus mengalami sendiri sebuah kesalahan sebelum mempercayai akibatnya?
*) Kabid Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimanatan Timur.