Zul Fadli, Sosok sederhana yang murah senyum.
TUKANG PARKIR MASJID YANG RAMAH DAN MURAH SENYUM
Mengenang Sosok Almarhum Zul Fadly
Oleh: K-Yubi*)
Beberapa hari yang lalu, keluarga besar Islamic Center Kalimantan Timur kehilangan salah seorang sosok yang cukup berjasa. Beliau telah berpulang ke rahmatullah, meninggalkan kenangan tersendiri bagi orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya.
Namanya Zul Fadly.
Bagi sebagian orang, mungkin nama itu tidak terlalu dikenal. Namun, bagi keluarga besar Islamic Center, khususnya mereka yang setiap hari beraktivitas di lingkungan masjid, sosoknya tentu bukan orang asing.
Almarhum adalah seorang petugas parkir yang sehari-hari bertugas mengatur kendaraan jamaah yang datang ke masjid. Selain itu, beliau juga membantu Islamic Center dalam mengumpulkan infak parkir dari para pemilik kendaraan bermotor.
Pekerjaannya mungkin terlihat sederhana. Namun, ada sesuatu yang membuat beliau istimewa. Sosoknya dikenal sederhana, ramah, murah senyum, dan penyabar.
Setiap kendaraan yang datang selalu disambut dengan senyuman. Ketika menerima infak parkir dari jamaah, beliau tidak sekadar mengucapkan terima kasih. Ada doa tulus yang sering menyertainya.
"Barakallah. Mudah-mudahan sehat walafiat dan diberikan rezeki yang berkah."
Bahkan, ketika ada jamaah yang sedang terburu-buru, lupa memberikan infak parkir, atau memang tidak membawa uang, beliau tetap melayani dengan baik. Jamaah tetap dipersilakan masuk ke masjid tanpa harus merasa sungkan.
Kini, sosok yang biasa menyambut jamaah dengan senyuman itu telah tiada. Kepergiannya menjadi kehilangan tersendiri. Mungkin selama ini kita menganggap kehadirannya sebagai bagian biasa dari aktivitas masjid. Namun, setelah beliau tiada, kita mulai menyadari bahwa orang-orang yang bekerja dalam kesederhanaan pun memiliki arti dan jasa yang tidak kecil.
Tulisan ini saya buat sebagai bentuk kenangan dan penghormatan kepada almarhum Zul Fadly. Semoga kebaikan dan pengabdiannya selama berada di lingkungan Islamic Center menjadi amal jariah yang pahalanya terus mengalir. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.
Senyum yang Bernilai Sedekah
Ada sebuah pepatah Arab yang sederhana, tetapi mengandung makna kehidupan yang sangat dalam:
مَنْ زَرَعَ حَصَدَ
Man zara'a hasada.
"Barang siapa yang menanam, maka dialah yang akan menuai."
Pepatah ini mengingatkan kita bahwa setiap perbuatan akan membawa konsekuensi. Apa yang kita lakukan hari ini, sekecil apa pun, pada waktunya akan memberikan hasil. Jika kita menanam kebaikan, insyaallah kebaikan pula yang akan kita petik.
Dari sosok almarhum Zul Fadly, kita belajar bahwa kebaikan tidak selalu hadir melalui tindakan besar. Terkadang, ia justru tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan kita tentang nilai sebuah senyuman:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
"Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah."
(HR. Tirmidzi).
Hadis ini mengajarkan bahwa sedekah tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk uang atau harta. Senyuman yang tulus, sapaan yang ramah, dan sikap yang menyenangkan juga merupakan bagian dari amal kebaikan.
Bayangkan, seseorang datang ke masjid dengan pikiran yang mungkin sedang penuh persoalan. Ada yang baru saja menghadapi kesulitan pekerjaan, ada yang sedang memikirkan kebutuhan keluarga, dan ada pula yang datang membawa kegelisahan hidup. Lalu, ketika memasuki halaman masjid, ia disambut oleh seseorang dengan senyuman dan doa yang menyejukkan.
Mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun, siapa yang tahu bahwa keramahan sederhana itu mampu mengubah suasana hati seseorang?
Bukankah masjid memang seharusnya menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan? Dan ketenangan itu tidak hanya dibangun melalui keindahan bangunan, tetapi juga melalui perilaku orang-orang yang berada di dalamnya.
Almarhum Zul Fadly mungkin tidak pernah menyampaikan ceramah tentang akhlak. Namun, melalui perilakunya sehari-hari, beliau telah memberikan pelajaran tentang bagaimana memperlakukan sesama manusia.
Kemuliaan Tidak Ditentukan oleh Jabatan
Ada orang yang bekerja di kantor dengan jabatan tinggi, ada yang menjadi pemimpin, ada yang berprofesi sebagai guru, dan ada pula yang bekerja sebagai petugas kebersihan atau tukang parkir.
Dalam kehidupan sosial, kita sering kali tanpa sadar memberikan penghormatan lebih kepada seseorang karena jabatan, pangkat, kekayaan, atau pekerjaannya. Sebaliknya, orang yang memiliki pekerjaan sederhana terkadang kurang mendapatkan perhatian.
Padahal, Islam mengajarkan ukuran kemuliaan yang berbeda.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."
(QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh seragam yang dikenakan, jabatan yang disandang, atau banyaknya harta yang dimiliki. Kemuliaan seseorang terletak pada ketakwaan dan amal perbuatannya.
Boleh jadi seseorang yang pekerjaannya terlihat sederhana justru memiliki hati yang lebih tulus, lebih ramah, dan lebih banyak memberikan manfaat kepada orang lain.
Karena itu, jangan pernah merasa lebih mulia hanya karena kedudukan kita lebih tinggi. Jangan pula meremehkan seseorang hanya karena pekerjaannya tidak bergengsi di mata manusia.
Kita tidak pernah tahu, siapa di antara mereka yang memiliki kedudukan istimewa di hadapan Allah SWT.
Apa yang Kita Tanam, Itulah yang Kita Tuai
Pepatah Man zara'a hasada mengandung pelajaran yang sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika kita menanam keramahan, orang akan mengenang kita dengan kebaikan. Jika kita menanam kejujuran, kepercayaan akan tumbuh. Jika kita menanam kasih sayang, hubungan persaudaraan akan semakin kuat.
Sebaliknya, jika kita terbiasa menanam kebencian, kesombongan, kebohongan, dan menyakiti orang lain, jangan heran apabila suatu saat kita harus merasakan akibatnya.
Allah SWT berfirman:
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)."
(QS. Ar-Rahman: 60).
Ayat ini mengajarkan kepada kita betapa mulianya orang yang senantiasa berbuat baik. Kebaikan tidak pernah sia-sia, meskipun terkadang tidak segera mendapatkan balasan sebagaimana yang kita harapkan.
Ada satu hal lagi yang patut kita renungkan dari almarhum Zul Fadly. Beliau tidak menunggu orang lain bersikap ramah terlebih dahulu untuk kemudian membalasnya dengan keramahan. Beliau juga tidak menjadikan pemberian infak parkir sebagai syarat untuk memberikan pelayanan yang baik.
Beliau tetap tersenyum, tetap mendoakan, dan tetap membantu.
Sikap seperti inilah yang semestinya tumbuh dalam kehidupan kita. Berbuat baik tidak seharusnya bergantung pada bagaimana orang lain memperlakukan kita. Kebaikan mestinya lahir dari kesadaran bahwa itulah akhlak yang harus kita jaga.
Jangan Lelah Menanam Kebaikan
Dari kehidupan almarhum Zul Fadly, kita mendapatkan pelajaran bahwa berbuat baik tidak harus menunggu penghargaan manusia.
Jangan berhenti tersenyum hanya karena orang lain tidak membalas senyuman kita. Jangan berhenti membantu hanya karena tidak mendapatkan ucapan terima kasih. Jangan pula berhenti berbuat baik hanya karena tidak ada yang melihat atau mengakui kebaikan kita.
Sebab, manusia mungkin lupa terhadap kebaikan yang pernah kita lakukan, tetapi Allah SWT tidak pernah melupakan amal hamba-Nya.
Allah SWT berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya."
(QS. Az-Zalzalah: 7–8).
Ayat ini seolah mengingatkan kita agar tidak pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Bisa jadi, sesuatu yang kita anggap biasa justru memiliki nilai yang besar di sisi Allah.
Renungan: Apa yang Sudah Kita Tanam?
Dari kisah sederhana almarhum Zul Fadly, ada banyak hal yang patut kita renungkan.
Menjadi orang baik tidak harus menunggu menjadi orang besar. Tidak harus menjadi pejabat untuk memberi manfaat. Tidak harus menjadi ustaz untuk mengajak kepada kebaikan. Tidak harus menjadi orang kaya untuk bersedekah.
Bahkan seorang petugas parkir pun dapat menghadirkan kenyamanan bagi jamaah melalui keramahan dan senyumannya.
Sebelum berharap mendapatkan kebaikan dari orang lain, barangkali ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi jawabannya dapat menjadi bahan introspeksi bagi kita semua.
Jangan sampai kita terlalu sibuk berharap memanen kebaikan, sementara kita sendiri tidak pernah mau menanamnya.
Tanamlah keramahan, tuailah persaudaraan.
Tanamlah kejujuran, tuailah kepercayaan.
Tanamlah kesabaran, tuailah ketenangan.
Tanamlah kasih sayang, tuailah keberkahan.
Dan tanamlah amal saleh, semoga kelak kita menuai pahala dan rahmat Allah SWT.
Kehidupan ini sesungguhnya adalah ladang tempat kita menanam amal. Setiap hari selalu ada kesempatan untuk menanam sesuatu yang baik, melalui perkataan, sikap, maupun perbuatan. Kelak, di akhirat, kita akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita tanam selama hidup di dunia.
Mungkin kita tidak memiliki banyak harta untuk disedekahkan. Mungkin kita tidak memiliki jabatan untuk membuat perubahan besar. Namun, kita selalu memiliki kesempatan untuk menyapa dengan ramah, membantu dengan ikhlas, mendoakan orang lain, dan menghadirkan senyuman.
Almarhum Zul Fadly mungkin tidak pernah menyadari bahwa senyumannya telah menjadi kenangan dan pelajaran berharga bagi banyak orang. Kini beliau telah tiada, tetapi kebaikan dan keramahan yang pernah ditunjukkannya akan tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya.
مَنْ زَرَعَ حَصَدَ
Man zara'a hasada.
"Barang siapa yang menanam, maka dialah yang akan menuai."
Selamat jalan, almarhum Zul Fadly. Terima kasih atas pengabdian, keramahan, dan senyuman yang pernah engkau hadirkan di lingkungan Islamic Center Kalimantan Timur.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilaf dan dosamu, melapangkan alam kuburmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Catatan:
Artikel ini ditulis oleh Kayubi Utomo (Kasi Ibadah dan Dakwah BPIC Kaltim)
Editor: Djoko Iriandono, S.E., M.A.