Reuni pensiunan SMPN 4 Samarinda
Menikmati Hari-Hari Setelah Pensiun
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A*)
Hari ini saya menghadiri acara reuni guru dan tenaga kependidikan SMPN 4 Samarinda. Suasananya sederhana, tetapi terasa hangat karena mempertemukan kembali orang-orang yang pernah berjalan bersama dalam perjalanan panjang dunia pendidikan. Sebanyak 31 orang hadir dalam pertemuan ini, sekitar lima atau enam orang di antaranya masih aktif berdinas, sementara sebagian besar lainnya telah memasuki masa purna tugas. Di antara mereka bahkan ada seorang teman yang baru sekitar satu bulan menikmati kehidupan sebagai pensiunan.
Pertemuan seperti ini ternyata tidak hanya menjadi ajang untuk saling menyapa. Kami berbincang tentang banyak hal, mengenang masa lalu, bercanda, bernyanyi, dan menikmati kebersamaan. Yang menarik, beberapa teman yang sekarang sudah menjadi kakek dan nenek pun tidak malu untuk berjoget mengikuti irama lagu. Melihat suasana itu, saya merasa bahwa usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk menikmati hidup tidak harus ikut menua.
Bagi saya, ada pelajaran sederhana dari pertemuan hari ini. Pensiun bukan berarti kehidupan telah selesai, tetapi sebuah fase baru dalam perjalanan hidup. Yang berubah hanyalah rutinitas dan bentuk aktivitas kita, bukan kesempatan untuk tetap berguna dan menikmati kehidupan. Bahkan mungkin setelah pensiun kita justru memiliki waktu yang lebih luas untuk melakukan hal-hal yang selama bertahun-tahun tertunda.
Selama aktif bekerja, seorang guru terbiasa dengan rutinitas yang teratur. Setiap pagi ada sekolah yang dituju, ada murid yang harus diajar, ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dan ada teman-teman yang selalu ditemui. Ketika semua itu tiba-tiba berhenti, hari-hari yang sebelumnya terasa sangat sibuk bisa berubah menjadi sangat lengang. Di sinilah seseorang perlu menyadari bahwa pensiun sebaiknya dipersiapkan jauh sebelum surat keputusan pensiun tiba.
Menyiapkan Diri Sebelum Pensiun
Bagi teman-teman yang masih aktif berdinas, persiapan pensiun jangan hanya dipikirkan dari sisi keuangan. Memang, keuangan sangat penting karena setelah pensiun penghasilan biasanya mengalami perubahan dan kebutuhan hidup tetap berjalan. Karena itu, selama masih aktif, mulailah mengatur keuangan dengan lebih bijak, mengurangi utang konsumtif, membangun tabungan, dan kalau memungkinkan menyiapkan sumber penghasilan tambahan yang realistis.
Namun ada sesuatu yang sering kali justru terlupakan, yaitu mempersiapkan kegiatan setelah pensiun. Jangan sampai selama bertahun-tahun kita hanya memikirkan bagaimana mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak pernah memikirkan apa yang akan dilakukan ketika pekerjaan itu berakhir. Mulailah menemukan kegiatan yang sesuai dengan minat dan kemampuan, apakah berkebun, menulis, mengajar mengaji, aktif di masjid, berorganisasi, melakukan kegiatan sosial, atau sekadar menikmati waktu bersama keluarga. Dengan begitu, ketika pensiun tiba, kita tidak merasa kehilangan arah.
Yang lebih penting lagi adalah persiapan mental. Selama puluhan tahun kita mungkin dikenal sebagai guru, kepala sekolah, pegawai, atau pejabat dengan berbagai tanggung jawab. Setelah pensiun, jabatan dan rutinitas itu memang hilang, tetapi harga diri dan nilai diri kita tidak ikut hilang. Kita tetap manusia yang memiliki pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan kesempatan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Al-Qur'an mengingatkan kita untuk mempersiapkan kehidupan dengan sebaik-baiknya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini memang berbicara dalam konteks persiapan manusia menghadapi kehidupan akhirat. Namun pesannya juga mengajarkan sebuah sikap hidup yang penting: jangan menjalani hari ini tanpa memikirkan hari esok. Dalam konteks pensiun, persiapan itu bisa kita lakukan dalam bentuk menata keuangan, menjaga kesehatan, membangun hubungan sosial, menyiapkan aktivitas, dan terutama memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Jangan Takut Memasuki Masa Pensiun
Bagi teman-teman yang sudah pensiun, jangan menganggap bahwa masa tugas yang berakhir berarti masa manfaat juga berakhir. Mungkin kita tidak lagi berdiri di depan kelas, tetapi pengalaman yang kita miliki masih bisa dibagikan kepada generasi berikutnya. Mungkin kita tidak lagi memiliki jabatan, tetapi kita masih bisa menjadi tempat bertanya bagi anak-anak, keluarga, tetangga, atau teman-teman. Jabatan boleh berakhir, tetapi kesempatan untuk berbuat baik tidak pernah mengenal masa pensiun.
Jangan pula terlalu sering hidup dalam kalimat, “Dulu ketika saya masih bekerja...” Masa lalu memang indah untuk dikenang, tetapi jangan sampai kenangan itu membuat kita lupa menikmati hari ini. Kalau dulu kita sibuk mengejar target pekerjaan, sekarang mungkin waktunya menikmati keluarga, memperbanyak silaturahmi, membaca, beribadah, berolahraga, atau melakukan kegiatan sosial. Buatlah kenangan-kenangan baru, jangan hanya hidup dari kenangan lama.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa kesempatan hidup adalah sesuatu yang sangat berharga. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara...”
Salah satunya adalah “masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)
Pesan ini terasa sangat relevan bagi mereka yang telah memasuki usia pensiun. Kita mungkin sudah melewati sebagian besar perjalanan hidup, tetapi selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, masih banyak hal baik yang dapat dilakukan. Jangan menunggu tubuh benar-benar lemah untuk mulai menikmati hidup, jangan menunggu kesempatan hilang untuk memperbanyak silaturahmi, dan jangan menunggu sakit untuk menyadari betapa berharganya kesehatan.
Silaturahmi Juga Sebuah Kebutuhan
Karena itu, reuni seperti yang kami lakukan hari ini sesungguhnya memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar berkumpul. Di dalamnya ada silaturahmi, ada kenangan, ada tawa, ada perhatian, dan ada rasa bahwa kita tidak sendirian menjalani fase kehidupan ini. Bagi seseorang yang sudah pensiun dan tidak lagi memiliki rutinitas pekerjaan, pertemuan seperti ini bisa menjadi penyegar yang sangat berarti.
Bernyanyi bersama, bercanda, bahkan berjoget mungkin terlihat sederhana. Tetapi kebahagiaan memang sering kali hadir melalui hal-hal sederhana yang dilakukan bersama orang-orang yang kita sayangi. Kita tidak perlu selalu mencari kebahagiaan melalui sesuatu yang mahal atau mewah. Kadang secangkir kopi, sebuah lagu, cerita masa lalu, dan tawa bersama teman-teman lama sudah cukup untuk membuat hari terasa lebih indah.
Pensiun Bukan Akhir Perjalanan
Melihat teman-teman SMPN 4 Samarinda berkumpul hari ini, saya semakin percaya bahwa usia bukan alasan untuk berhenti menikmati kehidupan. Pensiun hanyalah perubahan peran dan ritme kehidupan, dari yang sebelumnya sangat sibuk dengan pekerjaan menjadi lebih leluasa menentukan apa yang ingin dilakukan. Karena itu, mereka yang masih aktif sebaiknya mempersiapkan masa pensiun sejak sekarang, sementara mereka yang sudah pensiun hendaknya menerima fase ini dengan lapang dan penuh syukur.
Kita mungkin tidak lagi memiliki kelas, tetapi masih bisa menjadi guru bagi kehidupan. Kita mungkin tidak lagi memiliki jabatan, tetapi masih bisa menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat. Kita mungkin tidak lagi memiliki pekerjaan rutin setiap pagi, tetapi masih memiliki kesempatan untuk beribadah, bersilaturahmi, belajar, berkarya, dan membantu sesama.
Dan mungkin inilah salah satu bentuk kebahagiaan di usia senja: bisa berkumpul dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup, tertawa tanpa beban, bernyanyi tanpa malu, dan pulang membawa hati yang lebih ringan.
Hari ini kami tidak hanya bertemu dengan teman-teman lama. Kami seperti dipertemukan kembali dengan bagian dari diri kami yang pernah tumbuh dan berjuang bersama. Semoga silaturahmi ini terus terjaga, dan semoga masa pensiun bukan menjadi masa untuk berhenti, melainkan masa untuk menikmati kehidupan dengan lebih tenang, lebih bermakna, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
*) Mantan Kepala SMPN 4 Samarinda