Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.

“Ketika Nilai Disulap: Dosa Sunyi yang Menggerogoti Jiwa Pendidikan Kita”

Oleh: Djoko Iriandono *)

Tadi siang, di sela-sela aktivitas yang padat, saya menerima sebuah tautan video dari seorang teman melalui TikTok. Tanpa banyak berpikir, saya langsung mengkliknya. Judulnya provokatif, bahkan cenderung menampar: “5 Dosa Sistem Pendidikan: Guru Terpaksa Bohong dan Murid Jadi Bodoh.” Judul seperti ini, jujur ​​saja, sulit diabaikan—terutama bagi siapa pun yang masih punya kepedulian terhadap dunia pendidikan.

Saya menonton video itu sampai selesai. Ternyata, yang dibahas hanya satu bagian: dosa ketiga. Tidak ada penjelasan tentang dosa pertama, kedua, keempat, maupun kelima. Namun justru di situlah letak kegelisahannya. Karena apa yang disebut sebagai “dosa ketiga” itu terasa begitu nyata, begitu dekat, dan—yang paling menyakitkan—begitu sering terjadi.

Maka tulisan ini lahir. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengajak kita semua bercermin.


Guru dan Sandiwara yang Tak Pernah Diakui

Bayangkan Anda menjadi seorang guru.

Di hadapan Anda ada lembar jawaban siswa. Anda tahu, anak ini belum memahami materi. Nilainya, jika dinilai secara jujur ​​​​dan objektif, mungkin hanya 40 atau 50. Hati kecil Anda berkata: “Anak ini perlu dibimbing lagi. Ia belum tuntas.”

Namun, cerita tidak berhenti di situ.

Begitu Anda berani menuliskan nilai apa adanya, gelombang berikutnya datang. Kepala sekolah memanggil. Nada suaranya mungkin tidak selalu keras, tetapi cukup untuk membuat Anda merasa bersalah.

“Mengapa banyak siswa mendapat nilai di bawah KKM? Anda tidak berhasil mengajar?”

Belum selesai dari situ. Orang tua murid datang dengan wajah tidak terima. Mereka tidak ingin dianggap “tidak mampu”. Mereka tidak ingin menerima kenyataan bahwa mungkin, anaknya memang belum belajar dengan sungguh-sungguh.

Di titik itu, guru tidak lagi berdiri sebagai pendidik. Ia berubah menjadi penipu.

Dan ketika tekanan datang dari segala arah—atasan, orang tua, sistem—maka runtuhlah satu hal yang paling mahal dalam dunia pendidikan: integritas.


Dari Pendidik Menjadi “Pesulap Angka”

Di → dosa itu terjadi.

Guru, yang seharusnya menjadi penjaga kualitas, perlahan dipaksa menjadi “tukang sulap”. Nilai yang semula 40, digabungkan. 50, diperbaiki. 60, didorong agar “tuntas”.

Caranya? Kita semua tahu. Formalitas perbaikan. Tugas tambahan yang tidak pernah benar-benar menguji pemahaman. Kliping, rangkuman, atau sekadar menyalin ulang soal. Yang penting ada bukti administrasi.

Dan pada akhirnya, angka di rapor terlihat indah. 80. 85. Bahkan 90.

Semua tampak baik-baik saja.

Guru aman. Orang tua senang. Sekolah terlihat berhasil.

Namun, di balik itu semua, ada sesuatu yang mati perlahan: kejujuran.


Racun yang Tidak Terlihat, Tapi Memmatikan

Yang paling berbahaya dari semua ini bukanlah nilai yang dimanipulasi. Tetapi dampaknya terhadap mentalitas siswa.

Ketika seorang murid mengetahui bahwa nilai bisa “diusahakan”, maka ia tidak lagi melihat belajar sebagai proses memahami. Ia melihatnya sebagai transaksi.

“Pak, saya tambah tugas ya biar nilainya naik.”
“Bu, saya kumpul lagi, boleh diperbaiki kan?”

Kalimat-kalimat ini terdengar biasa saja. Bahkan sering dianggap wajar. Namun jika kita jujur, di situlah benih masalah itu tumbuh.

Belajar tidak lagi menjadi kebutuhan. Ia berubah menjadi strategi.

Dan guru? Tidak lagi dihormati sebagai sumber ilmu, tetapi diposisikan seperti “kasir nilai” yang bisa diajak negosiasi.

Guru Wibawa runtuh. Rasa hormat siswa memudar.

Yang tersisa hanyalah hubungan transaksional yang dingin.


Sistem yang Memaksa, Bukan Mendukung

Kita sering menyalahkan guru. Padahal, jika mau jujur, guru adalah pihak yang paling terjepit.

Sistem kita terlalu menekan angka. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) seringkali menjadi angka sakral yang tidak boleh dilanggar. Seolah-olah semua siswa harus mencapai standar yang sama, dalam waktu yang sama, dengan cara yang sama.

Padahal, setiap anak berbeda.

Ada yang cepat memahami. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang unggul di akademik. Ada yang bersinar di bidang lain.

Namun sistem kami tidak memberi ruang untuk itu.

Akibatnya, guru dipaksa untuk “menyesuaikan kenyataan” dengan angka, bukan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa.

Dan di situlah awal kehancuran itu.


Kejujuran yang Diaanggap Kesalahan

Ironisnya, ketika seorang guru berani jujur—memberikan nilai rendah karena memang itu kenyataannya—justru ia dianggap gagal.

Padahal, keberanian memberi nilai rendah adalah bentuk tanggung jawab. Itu tandanya bahwa guru masih punya hati nurani. Bahwa ia tetap peduli pada kualitas, bukan sekadar formalitas.

Nilai merah bukanlah bentuk kebencian.

Ia adalah tanda cinta yang jujur.

Ia adalah alarm bahwa seorang anak perlu dibantu, bukan menyembunyikan kelemahannya.

Namun dalam sistem yang salah, kejujuran seringkali tidak mempunyai tempat.


Lingkaran Setan yang Harus Diputuskan

Jika dibiarkan, praktik ini akan terus berulang. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kita akan menghasilkan lulusan dengan nilai tinggi, namun kompetensi rendah. Mereka tampak hebat di atas kertas, namun rapuh dalam kenyataan.

Dan ketika mereka masuk ke dunia nyata—dunia kerja, dunia sosial—barulah semuanya terbongkar.

Namun pada saat itu, sudah terlambat.

Karena kita tidak sedang gagal mendidik satu anak. Kita sedang membangun generasi yang terbiasa hidup dalam ilusi.


Mengembalikan Martabat Guru

Sudah saatnya kita berhenti menutup mata.

Solusinya memang tidak sederhana. Tetapi ada satu langkah mendasar yang harus kita berani ambil: mengembalikan otonomi penilaian kepada guru.

Guru harus diberi kebebasan akademik untuk menilai secara objektif, tanpa tekanan dari pihak mana pun—baik kepala sekolah, dinas, maupun orang tua.

Evaluasi terhadap guru pun harus diubah.

Jangan lagi diukur dari berapa persen siswa yang “tuntas”.

Tetapi dari bagaimana proses pembelajaran itu berlangsung.

Bagaimana guru membimbing siswa yang tertinggal.

Bagaimana ia mencari strategi untuk membantu, bukan sekedar meluluskan.


Saatnya Kita Jujur, Meski Tidak Nyaman

Tulisan ini mungkin tidak nyaman dibaca. Bahkan menyinggung mungkin banyak pihak.

Namun jika kita terus memilih kenyamanan daripada jujur, maka kita sedang memperpanjang masalah.

Pendidikan bukan tentang angka di rapor.

Ia adalah tentang membentuk manusia.

Dan manusia tidak bisa dibentuk dengan ringkas, ringkas apa pun itu.


Penutup: Sebuah Renungan

Di ruang-ruang kelas yang sunyi, di balik tumpukan berkas dan laporan, ada banyak guru yang sebenarnya lelah.

Lelah pura-pura.

Lelah menyesuaikan diri dengan sistem yang tidak selalu sejalan dengan hati nurani.

Namun mereka tetap bertahan.

Karena dibalik semua itu, mereka masih percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk memanusiakan manusia.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi: siapa yang salah?

Tetapi: apakah kita berani memperbaikinya?

Karena jika tidak, maka “dosa ketiga” ini akan terus hidup—diam-diam, rapi, dan perlahan menghancurkan masa depan yang seharusnya kita jaga bersama.


*)  Kepala Bidang Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timu

Redaksi