Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.

Lebaran: Kembali ke Fitrah, Bukan Sekadar "Maaf" di Bibir

Oleh: Djoko Iriandono *)

Ramadhan telah berlalu, meninggalkan jejak-jejak ibadah yang semoga masih hangat di dalam hati. Takbir menggema, pintu-pintu maaf terbuka, dan manusia saling mendekatkan diri satu sama lain dalam suasana yang penuh haru. Di momen inilah kita merayakan Idul Fitri—hari kemenangan yang sering kita maknai sebagai saat untuk saling memaafkan.

Namun, pertanyaannya: benarkah Lebaran hanya tentang mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”? Ataukah ada makna yang jauh lebih dalam, yang seringkali luput kita renungi?

Fitrah: Kembali pada Kesucian Diri

Kata fitri berasal dari kata fitrah , yang berarti kesucian atau keadaan asal usul manusia. Dalam Islam, manusia diciptakan dalam keadaan suci, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Idul Fitri sejatinya adalah momentum untuk kembali kepada keadaan suci tersebut. Setelah sebulan penuh kita ditempa melalui puasa, shalat malam, tilawah, dan berbagai amal kebaikan, kita diharapkan keluar sebagai pribadi yang lebih bersih—bukan hanya dari dosa, tetapi juga dari sifat-sifat buruk yang mengotori jiwa.

Allah SWT berfirman:

“Sungguh beruntungnya orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams : 9–10)

Maka, Lebaran bukan sekedar perayaan, melainkan titik evaluasi: apakah Ramadhan benar-benar telah membersihkan hati kita?

Maaf yang Tidak Menyentuh Hati

Fenomena yang sering kita jumpai adalah maraknya ucapan maaf yang bersifat seremonial. Pesan berantai, status media sosial, atau bahkan ucapan langsung yang terdengar indah, namun tidak selalu diungkapkan dengan ikhlas.

Maaf hanya menjadi tradisi, bukan transformasi.

Padahal, memaafkan dalam Islam bukanlah perkara ringan. Ia menuntut kelapangan hati, kerendahan ego, dan keikhlasan yang dalam. Allah SWT berfirman:

"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?"
(QS. An-Nur : 22)

Ayat ini memberikan pesan yang sangat kuat: kemampuan kita untuk memaafkan orang lain berkaitan erat dengan harapan kita untuk mendapatkan ampunan dari Allah. Maka, jika maaf hanya berhenti di bibir tanpa diikuti oleh hati yang benar-benar lapang, kita sedang kehilangan esensi dari Idul Fitri itu sendiri.

Fitrah Itu Tentang Perubahan

Kembali ke fitrah bukan berarti kembali menjadi diri yang lama sebelum Ramadhan. Justru sebaliknya, ia adalah proses kembali ke versi terbaik dari diri kita—diri yang lebih jujur, lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah.

Imam Al-Ghazali pernah menekankan bahwa ibadah bukan hanya tentang ritual, tetapi tentang perubahan akhlak. Dalam karyanya Ihya Ulumuddin , beliau menjelaskan bahwa tujuan utama ibadah adalah tazkiyatun nafs —penyucian jiwa.

Jika setelah Ramadhan kita masih mudah marah, masih gemar bergunjing, masih enggan membantu sesama, maka ada yang perlu kita evaluasi dari ibadah kita.

Lebaran seharusnya menjadi awal dari perubahan, bukan akhir dari perjuangan.

Menyambung yang Terputus

Salah satu bentuk nyata dari kembali ke fitrah adalah memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Tidak sedikit hubungan yang renggang karena kesalahpahaman, ego, atau luka lama yang tidak pernah diselesaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Lebaran adalah waktu yang tepat untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang terputus. Namun, ini bukan hanya tentang datang berkunjung atau mengirim pesan, melainkan tentang keberanian untuk membuka hati, mengakui kesalahan, dan benar-benar ingin memperbaiki hubungan.

Maaf yang sejati tidak selalu mudah diucapkan. Ia terkadang disertai air mata, kerendahan hati, bahkan pengorbanan ego. Tetapi di situlah letak kemuliaannya.

Dari Lisan ke Tindakan

Seringkali kita mudah mengucapkan “maaf”, tetapi sulit membuktikannya dalam tindakan. Padahal, fitrah yang sejati tercermin dari perilaku, bukan sekadar kata-kata.

Jika kita benar-benar telah kembali kepada fitrah, maka itu akan terlihat dalam keseharian kita:

  • Cara kita berbicara yang lebih sopan
  • Cara kita memperlakukan orang lain dengan lebih adil
  • Cara kita menahan diri dari hal-hal yang sia-sia
  • Cara kita menjaga amanah dengan lebih baik

Allah SWT berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah sehingga kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan."
(QS. As-Saff : 2–3)

Ayat ini memiliki makna yang sangat luas. Salah satunya adalah soal ucapan maaf yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan. Ayat ini menjadi pengingat bahwa ucapan tanpa tindakan adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah. Maka, jangan sampai ucapan maaf kita hanya menjadi formalitas atau hanya di bibir saja tanpa perubahan nyata dalam sikap dan perilaku.

Lebaran yang Berbekas

Lebaran yang sejati adalah Lebaran yang meninggalkan bekas-bekas dalam jiwa. Ia tidak hanya dirayakan dalam satu hari, tetapi dirasakan dalam perjalanan hidup setelahnya.

Seorang ulama salaf berkata, “Tanda diterimanya suatu amal adalah ketika amal itu melahirkan amal kebaikan berikutnya.” Artinya, jika Ramadhan kita terima, maka setelahnya kita akan lebih ringan dalam berbuat baik, lebih konsisten dalam beribadah, dan lebih hati-hati dalam menjaga diri dari dosa.

Maka, ukuran keberhasilan Lebaran bukanlah seberapa banyak kita mengunjungi rumah kerabat, atau seberapa banyak kata ucapan maaf yang kita kirimkan melalui WhatsApp (WA) pribadi atau grup, atau seberapa meriah suasana yang kita rasakan, melainkan seberapa besar perubahan yang terjadi dalam diri kita.

Penutup: Menghidupkan Makna, Bukan Sekadar Tradisi

Lebaran bukan sekedar tradisi tahunan yang diulang tanpa makna. Ia adalah momentum spiritual yang seharusnya menghidupkan kembali hati yang sempat lalai, menyatukan kembali hubungan yang sempat retak, dan memperkuat komitmen untuk bekerja lebih baik serta momentum untuk membenarkan kembali niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Mari kita renungkan: ketika kita mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”, apakah hati kita benar-benar hadir dan siap untuk memaafkan dan dimaafkan?

Jika belum, maka perjalanan menuju fitrah masih harus kita lanjutkan.

Semoga Idul Fitri tahun ini bukan hanya menghadirkan senyum di wajah, namun juga menghadirkan ketenangan di hati, kejernihan dalam berpikir, dan ketulusan dalam pikiran.

Karena pada akhirnya, kembali ke fitrah bukanlah tentang seberapa banyak kita mengucap maaf, namun seberapa dalam kita menghidupkan maknanya dalam kehidupan.

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim

Redaksi