Sudah Saatnya Semua Anak Merasakan Tepuk Tangan
Mengubah Budaya Penghargaan di Sekolah agar Setiap Potensi Mendapat Apresiasi
Oleh: Djoko Iriandono*)
Setiap akhir tahun pelajaran, hampir semua sekolah di Indonesia menyelenggarakan acara pembagian rapor atau kenaikan kelas. Di atas panggung, nama-nama siswa terbaik dipanggil satu per satu. Tepuk tangan bergema. Orang tua tersenyum bangga. Kamera ponsel merekam setiap momen.
Namun, di sudut ruangan, ada puluhan bahkan ratusan anak lain yang hanya menjadi penonton.
Mereka pulang tanpa piagam. Tanpa piala. Tanpa dipanggil namanya.
Padahal belum tentu mereka adalah anak-anak yang tidak berprestasi.
Mungkin di antara mereka ada anak yang selama satu tahun tidak pernah terlambat datang ke sekolah. Ada yang menjadi penengah setiap kali teman-temannya bertengkar. Ada yang selalu membantu guru tanpa diminta. Ada yang rajin menjaga kebersihan kelas. Ada yang pandai melukis, bermain musik, berpidato, menghafal Al-Qur'an, menolong teman yang kesulitan belajar, atau memiliki kepedulian sosial yang luar biasa.
Sayangnya, semua kelebihan itu sering kali tidak pernah naik ke atas panggung.
Ketika Nilai Menjadi Satu-satunya Ukuran
Tanpa kita sadari, budaya penghargaan di sekolah masih sangat didominasi oleh prestasi akademik. Seolah-olah kecerdasan hanya dapat diukur melalui angka-angka pada rapor.
Akibatnya, banyak anak tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya "biasa saja" hanya karena tidak pernah menjadi juara kelas.
Padahal, teori Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh Howard Gardner telah lama menjelaskan bahwa manusia memiliki beragam jenis kecerdasan. Ada kecerdasan linguistik, logika-matematika, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, visual-spasial, naturalis, bahkan kecerdasan eksistensial.
Artinya, tidak semua anak ditakdirkan menjadi ahli matematika.
Dan memang tidak harus demikian.
Seekor ikan akan merasa bodoh seumur hidup apabila sekolah hanya mengujinya dengan kemampuan memanjat pohon.
Sekolah Seharusnya Menemukan, Bukan Menyeragamkan
Hakikat pendidikan bukanlah membuat semua anak menjadi sama.
Justru pendidikan bertugas menemukan keunikan setiap anak, mengembangkannya, lalu membuat mereka percaya bahwa diri mereka berharga.
Anak yang pandai memimpin organisasi membutuhkan pengakuan.
Anak yang selalu menjaga kebersihan sekolah juga layak diapresiasi.
Anak yang jujur ketika menemukan dompet lalu mengembalikannya kepada pemilik pun pantas diberi penghargaan.
Karena sesungguhnya bangsa ini kelak lebih membutuhkan orang-orang yang jujur daripada orang-orang yang sekadar pandai berhitung.
Negeri ini lebih membutuhkan pemimpin yang berintegritas daripada lulusan dengan nilai sempurna tetapi miskin karakter.
Penghargaan adalah Bahasa Cinta Sekolah
Setiap penghargaan sesungguhnya sedang menyampaikan sebuah pesan.
Ketika sekolah hanya memberi penghargaan kepada juara akademik, pesan yang diterima siswa adalah:
"Yang dihargai di sekolah ini hanyalah nilai."
Tetapi ketika sekolah juga memberikan penghargaan kepada siswa paling disiplin, paling jujur, paling peduli, paling kreatif, paling inspiratif, paling bertanggung jawab, atau paling gigih, maka pesan yang diterima seluruh siswa berubah menjadi:
"Apa pun kelebihanmu, sekolah melihatmu."
Dan percayalah, tidak ada kalimat yang lebih membahagiakan seorang anak selain merasa dirinya dilihat dan dihargai.
Saatnya Memperluas Makna Prestasi
Bayangkan apabila pada acara kenaikan kelas terdapat berbagai kategori penghargaan, misalnya:
Mungkin jumlah penerima penghargaan akan bertambah.
Tetapi bukankah tujuan sekolah memang untuk membuat semakin banyak anak merasa berhasil?
Karena penghargaan bukan sekadar memberikan piala.
Penghargaan adalah cara sekolah mengatakan,
"Kami percaya bahwa kamu memiliki masa depan."
Guru Adalah Penemu Permata
Seorang guru bukanlah petugas yang hanya memberi angka.
Guru adalah penemu permata.
Kadang permata itu tersembunyi di balik anak yang pendiam.
Kadang berada pada anak yang nilainya biasa-biasa saja.
Kadang justru dimiliki oleh anak yang sering dianggap bermasalah, tetapi memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa.
Jika guru hanya melihat rapor, maka banyak permata akan tetap terkubur.
Tetapi jika guru mau melihat hati, karakter, proses, dan perjuangan setiap anak, maka sekolah akan menjadi tempat lahirnya manusia-manusia hebat dalam berbagai bidang.
Kepala Sekolah Memegang Kunci Perubahan
Perubahan budaya penghargaan tidak membutuhkan anggaran yang besar.
Yang dibutuhkan hanyalah perubahan cara berpikir.
Kepala sekolah dapat menetapkan kebijakan bahwa penghargaan tahunan tidak lagi hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga mencakup karakter, bakat, kreativitas, kepemimpinan, kepedulian sosial, ketangguhan, dan perkembangan diri.
Guru dapat dilibatkan dalam proses penilaian dengan menggunakan indikator yang jelas dan objektif. Bahkan teman sebaya dan orang tua dapat memberikan masukan untuk kategori tertentu sehingga penghargaan benar-benar mencerminkan perilaku nyata siswa.
Dengan cara ini, panggung penghargaan bukan hanya menjadi milik segelintir anak, melainkan menjadi ruang apresiasi bagi berbagai potensi yang tumbuh di sekolah.
Pendidikan yang Memanusiakan
Setiap anak berhak merasakan kebanggaan.
Setiap anak berhak mendengar namanya dipanggil karena suatu kebaikan.
Setiap anak berhak percaya bahwa dirinya memiliki kelebihan.
Jika sekolah mampu melihat keindahan dalam setiap perbedaan, maka tidak akan ada lagi anak yang merasa dirinya gagal hanya karena tidak pernah menjadi juara kelas.
Mari kita ubah cara kita memberi penghargaan.
Karena pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang hanya menghasilkan siswa dengan nilai tertinggi.
Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang mampu menemukan cahaya pada setiap anak, lalu membantu cahaya itu bersinar.
Sebab di hadapan Tuhan, manusia tidak diukur dari angka-angka pada rapor, melainkan dari ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, dan amal yang membawa kebaikan bagi sesama.
Mungkin sudah saatnya setiap sekolah bertanya kepada dirinya sendiri: apakah panggung penghargaan kita selama ini benar-benar telah menjadi panggung bagi semua anak, atau hanya bagi mereka yang unggul dalam angka?
Karena setiap anak adalah juara. Tugas sekolah bukan memilih siapa yang paling berharga, melainkan membantu setiap anak menemukan alasan untuk bangga terhadap dirinya sendiri.
*) Pengamat Pendidikan Kaltim.