Samarinda, 3 Juli 2025 – Badan Pengelola Islamic Center (BPIC) Kalimantan Timur bekerja sama dengan BAZNAS Kaltim sukses menggelar Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah. Acara yang berlangsung pada Kamis malam, 3 Juli 2025 pukul 20.00–22.30 WITA di Masjid Raya Baitul Muttaqien ini menghadirkan penceramah kondang, Dr. KH. Buya Arrazy Hasyim, M.Fil dari Jakarta.
Tabligh Akbar ini dihadiri oleh sejumlah pejabat Pemprov Kaltim, tokoh masyarakat, ulama, serta ribuan jamaah dari berbagai wilayah Samarinda. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua I BPIC Kaltim, yang mengapresiasi kehadiran Staf Ahli Gubernur Bidang III, drh. Arief Mudiatno, serta menyampaikan ucapan terima kasih kepada Buya Arrazy Hasyim atas kesediaannya berbagi ilmu.
Dalam sambutannya, Ketua I BPIC juga menyampaikan beberapa program penting, antara lain:
Sementara itu Staf Ahli Gubernur Bidang III, drh. Arief Mudiatno, mewakili Wakil Gubernur Kaltim Ir. H. Seno Aji, M.Si, membuka sambutannya dengan pantun bernuansa Islami:
"Mentari pagi bersinar teduh,
Menembus jendela membawa harapan.
Muharram datang dengan berkah penuh,
Hijrahkan hati, perbarui keimanan."
Dalam pidatonya, beliau menekankan bahwa Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum hijrah spiritual—berpindah dari kegelapan menuju cahaya iman. Pemerintah Kaltim berkomitmen tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keislaman yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin.
Beliau juga mengapresiasi kehadiran Buya Arrazy Hasyim sebagai ulama yang dekat dengan generasi muda, serta berharap tausiyahnya dapat menginspirasi jamaah untuk memperbarui semangat hijrah di tahun baru ini.
Acara inti dari kegiatan Tabligh Akbar adalah ceramah yang disampaikan oleh Dr. KH. Buya Arrazy Hasyim: Hijrah adalah Titik Balik Kehidupan
Dalam ceramahnya, Buya Arrazy Hasyim menguraikan makna hijrah sebagai titik balik perjalanan umat Islam. Beliau menjelaskan bahwa setiap nabi dan rasul mengalami hijrah—baik secara fisik maupun spiritual—untuk mencapai kebaikan yang lebih besar.
"Hijrah bukan hanya pindah tempat, tetapi perubahan diri: dari keburukan menuju kebaikan, dari kebencian menuju kasih sayang, dan dari sifat pelit menjadi dermawan," tegasnya.
Ceramah yang penuh hikmah ini diakhiri dengan doa bersama, memohon keberkahan di tahun baru 1447 H.
Sebagai penutup Buya menekankan kembali bahwa dalam peringatan tahun baru Islam (1 Muharam) ini yang paling penting adalah adanya semangat baru untuk Kaltim yang Lebih Berkah
Acara ditutup dengan harapan agar momentum Muharram menjadi awal perubahan positif bagi masyarakat Kaltim, baik secara individu maupun sosial. Dengan semangat hijrah, diharapkan Kalimantan Timur semakin maju, toleran, dan penuh keberkahan.
Disusun oleh: Djoko Iriandono.