Detail Update

Detail Update

Bahaya yang Duduk Paling Dekat dengan Pemimpin: Ketika ABS Menjadi Racun Organisasi

Card image cap Bahaya mentalitas ABS dalam organisasi

Oleh: Djoko Iriandono*)

"Jangan takut pada musuh yang menyerang dari depan. Takutlah pada orang yang selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja."

Dalam banyak organisasi, baik pemerintahan, perusahaan, lembaga pendidikan, maupun organisasi sosial, sering kali kita terlalu sibuk membahas kualitas seorang pemimpin. Kita berbicara tentang visi, integritas, ketegasan, kemampuan mengambil keputusan, hingga kecerdasan emosional. Namun ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: kualitas orang-orang yang berada di sekitar pemimpin.

Sehebat apa pun seorang pemimpin, ia tetap memiliki keterbatasan. Ia tidak mungkin melihat seluruh persoalan secara langsung. Ia membutuhkan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan mulut untuk menyampaikan informasi. Semua itu dilakukan oleh para bawahan.

Masalahnya, tidak semua bawahan menyampaikan keadaan yang sebenarnya.

Ada sebagian bawahan yang memiliki kebiasaan menyajikan laporan yang indah, rapi, dan menyenangkan didengar. Semua terlihat berjalan baik. Tidak ada masalah. Tidak ada konflik. Tidak ada keluhan. Seolah-olah organisasi sedang berada dalam kondisi sempurna.

Kelompok inilah yang sering dikenal dengan istilah ABS: Asal Bapak Senang.

Pada pandangan pertama, mereka terlihat sebagai bawahan yang loyal. Mereka sopan, tidak pernah membantah, selalu mengiyakan, dan rajin memuji kebijakan pimpinan. Mereka jarang menimbulkan konflik dan selalu tampak mendukung keputusan atasan.

Tetapi justru di sinilah bahayanya.

ABS bukanlah bentuk loyalitas. ABS adalah bentuk pengamanan diri.

Mereka tidak sedang menjaga organisasi. Mereka sedang menjaga posisi mereka sendiri.

Dalam perspektif Islam, perilaku seperti ini bertentangan dengan prinsip amanah. Allah SWT berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Anfal: 27)

Informasi yang diberikan kepada pemimpin sejatinya adalah amanah. Ketika fakta disembunyikan, laporan dimanipulasi, atau masalah sengaja ditutupi demi menyenangkan atasan, sesungguhnya telah terjadi pengkhianatan terhadap amanah tersebut.

Orang yang terjebak dalam budaya ABS biasanya lebih takut kehilangan kenyamanan daripada melihat organisasi mengalami kemunduran. Mereka mengukur setiap ucapan berdasarkan satu pertanyaan sederhana: "Apakah ini akan membuat atasan senang atau marah?"

Jika jawabannya berpotensi membuat atasan tidak nyaman, maka informasi itu akan disembunyikan.

Jika ada kegagalan program, mereka akan memperkecil dampaknya.

Jika ada keluhan masyarakat, mereka akan menguranginya.

Jika ada bawahan lain yang bekerja lebih baik, mereka bahkan bisa menutupinya agar tidak mengancam posisi mereka.

Akibatnya, pemimpin hidup dalam dunia yang tidak nyata.

Ia mengira semuanya berjalan baik, padahal di lapangan muncul banyak masalah yang tidak pernah sampai ke mejanya. "Everything is in order, but we do not know if we are sailing away from our true destination."

Rasulullah SAW bersabda:

"Agama adalah nasihat."

Para sahabat bertanya, "Untuk siapa wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab, "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa memberikan masukan, kritik, dan nasihat kepada pemimpin bukanlah tindakan melawan atasan, melainkan bagian dari ajaran agama. Justru orang yang membiarkan pemimpinnya berjalan dalam kekeliruan tanpa memberikan peringatan telah meninggalkan salah satu bentuk nasihat yang diperintahkan Rasulullah.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak organisasi besar runtuh bukan karena kekurangan orang pintar, melainkan karena para pemimpinnya dikelilingi oleh orang-orang yang hanya mengatakan apa yang ingin didengar oleh atasan.

Budaya ABS menciptakan ilusi keberhasilan.

Angka-angka dipoles agar tampak bagus.

Laporan diperindah agar terlihat sempurna.

Kritik dianggap ancaman.

Masukan dianggap pembangkangan.

Dalam jangka pendek, suasana seperti ini memang terasa nyaman. Tidak ada perdebatan. Tidak ada kritik yang mengganggu. Semua tampak harmonis.

Namun dalam jangka panjang, organisasi kehilangan kemampuan untuk melakukan koreksi diri.

Allah SWT mengingatkan:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar." (QS. Al-Ahzab: 70)

Ayat ini tidak mengatakan "ucapkanlah perkataan yang menyenangkan", tetapi "ucapkanlah perkataan yang benar". Kebenaran kadang terasa pahit, tetapi justru itulah yang menyelamatkan organisasi.

Karena itu, seorang pemimpin yang bijak seharusnya tidak terlalu cepat percaya kepada orang yang selalu berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

Pemimpin justru perlu memberi perhatian lebih kepada mereka yang berani menyampaikan kenyataan, meskipun terkadang terdengar pahit.

Tentu saja tidak semua kritik itu benar.

Tidak semua pengkritik memiliki niat baik.

Namun organisasi yang sehat membutuhkan ruang untuk perbedaan pendapat.

Pemimpin yang hanya mendengar pujian akan kehilangan kemampuan melihat kenyataan.

Sebaliknya, pemimpin yang mau mendengar kritik memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan sebelum masalah membesar.

Dalam praktiknya, membedakan antara bawahan yang tulus dan bawahan yang berpura-pura memang tidak mudah.

Orang yang berpura-pura baik biasanya sangat pandai memainkan peran.

Di depan pimpinan mereka tampak paling loyal.

Di hadapan rekan kerja mereka tampak paling peduli.

Tetapi ketika terjadi masalah, mereka sering menjadi orang pertama yang mencari kambing hitam.

Mereka pandai mengambil kredit atas keberhasilan bersama, tetapi cepat menghindar ketika kegagalan muncul.

Mereka mendekati kekuasaan bukan untuk memperkuat organisasi, melainkan untuk memperkuat posisi pribadi.

Sebaliknya, bawahan yang benar-benar baik sering kali tidak selalu menyenangkan.

Mereka terkadang mengingatkan kesalahan pimpinan.

Mereka berani menunjukkan risiko yang mungkin terjadi.

Mereka tidak selalu mengangguk setuju.

Bahkan sesekali mereka bisa membuat atasan merasa tidak nyaman.

Namun justru orang-orang seperti inilah yang sering menjadi aset paling berharga dalam organisasi.

Mereka lebih mencintai kebenaran daripada kenyamanan.

Mereka lebih mengutamakan keberhasilan organisasi daripada keselamatan pribadi.

Mereka berani mengambil risiko demi menyampaikan fakta.

Rasulullah SAW bahkan menyebut keberanian menyampaikan kebenaran sebagai bentuk jihad yang utama:

"Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jika berbicara benar kepada penguasa yang zalim saja merupakan jihad yang utama, maka menyampaikan fakta yang benar kepada pemimpin organisasi demi kebaikan bersama tentu merupakan perbuatan yang mulia.

Karena itu, salah satu ukuran kematangan seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak orang yang memujinya, melainkan seberapa banyak orang yang berani mengatakan kebenaran di hadapannya.

Jika semua orang selalu setuju, mungkin ada sesuatu yang salah.

Jika tidak pernah ada kritik, mungkin kritik sedang dibungkam.

Jika semua laporan selalu bagus, mungkin ada fakta yang sedang disembunyikan.

Pada akhirnya, ancaman terbesar bagi seorang pemimpin sering kali bukan berasal dari lawan politik, kompetitor, atau pihak luar. Ancaman terbesar justru bisa datang dari orang-orang yang duduk paling dekat dengannya.

Mereka yang setiap hari mengatakan, "Semua baik-baik saja, Pak."

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Pemimpin yang cerdas bukanlah pemimpin yang hanya mencari orang setia. Ia mencari orang yang jujur.

Sebab kesetiaan tanpa kejujuran hanya akan melahirkan budaya ABS.

Dan ketika budaya ABS menguasai sebuah organisasi, kehancuran biasanya hanya tinggal menunggu waktu.

Sebaliknya, organisasi yang dipenuhi orang-orang jujur mungkin tidak selalu nyaman, tetapi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan, berkembang, dan memperoleh keberkahan dari Allah SWT.

Wallahualam bishawab.

 

*) Kasi Kominfo BPIC kaltim.