Detail Update

Detail Update

Memasuki Fase Kebijaksanaan: Saat Hati Lebih Memilih Damai daripada Drama

Card image cap Memasuki fase kebijaksanaan di usia 60 tahun

Memasuki Fase Kebijaksanaan: Saat Hati Lebih Memilih Damai daripada Drama

Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M

Ketua Umum BPIC Kaltim

 

"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Usia di atas enam puluh tahun adalah sebuah anugerah yang tidak diberikan kepada semua orang. Banyak sahabat, kerabat, bahkan orang-orang yang kita kenal telah lebih dahulu dipanggil menghadap Allah SWT sebelum mencapai usia tersebut. Karena itu, ketika Allah masih memberi kesempatan untuk menikmati usia senja, sesungguhnya itu bukan sekadar tambahan umur, tetapi juga tambahan waktu untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal.

Pada usia inilah manusia mulai memasuki fase kebijaksanaan. Sebuah fase ketika pandangan terhadap kehidupan berubah secara perlahan namun pasti. Hal-hal yang dahulu terasa sangat penting, kini tampak biasa saja. Hal-hal yang dahulu diperebutkan mati-matian, kini justru terasa tidak lagi layak menguras tenaga dan pikiran.

Drama kehidupan tidak lagi menarik untuk diikuti. Bukan karena hidup menjadi membosankan, tetapi karena kita mulai memahami bahwa ketenangan jauh lebih berharga daripada keramaian yang melelahkan. Kita menyadari bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan emosi, dan tidak semua perbedaan harus diakhiri dengan permusuhan.

Sakit hati pun tidak lagi ingin dipelihara. Bukankah memelihara dendam sama saja dengan membawa beban yang hanya menyiksa diri sendiri? Orang yang menyakiti kita mungkin sudah melupakan perbuatannya, sementara kita masih terus menggendong luka yang sama. Pada akhirnya, memaafkan bukanlah hadiah untuk orang lain, melainkan hadiah terbesar bagi ketenangan hati kita sendiri.

Gosip yang dahulu mungkin terasa menghibur, kini tidak lagi menggoda. Kita mulai sadar bahwa umur yang tersisa terlalu berharga untuk dihabiskan membicarakan keburukan orang lain. Waktu yang Allah titipkan lebih layak digunakan untuk membaca Al-Qur'an, berdzikir, menambah ilmu, mempererat silaturahmi, atau melakukan amal-amal yang mendatangkan keberkahan.

Begitu pula dengan perdebatan. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Kadang-kadang, memilih diam adalah kemenangan yang sesungguhnya. Rasulullah SAW bersabda:

"Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar."
(HR. Abu Dawud)

Hadis ini mengajarkan bahwa menjaga persaudaraan dan ketenangan hati sering kali jauh lebih bernilai daripada sekadar memenangkan argumentasi.

Pada fase kebijaksanaan ini, yang benar-benar kita perlukan sesungguhnya sangat sederhana.

Kita membutuhkan rezeki yang halal dan lancar agar dapat hidup dengan layak sekaligus berbagi kepada sesama.

Kita membutuhkan hati yang tenang, karena ketenangan adalah nikmat yang tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun.

Kita membutuhkan pikiran yang bersih, bebas dari prasangka, iri hati, dan kebencian yang hanya mengotori jiwa.

Kita membutuhkan kesehatan jasmani dan rohani agar masih mampu bersujud dengan khusyuk, berjalan menuju masjid, berkumpul bersama keluarga, serta tetap memberi manfaat kepada orang lain.

Kita membutuhkan lingkungan yang baik, sahabat-sahabat yang saling mengingatkan dalam kebaikan, keluarga yang penuh kasih sayang, dan masyarakat yang menghadirkan kedamaian.

Lebih dari semuanya, kita membutuhkan kesempatan untuk terus bertumbuh. Sebab belajar tidak mengenal usia, berbuat baik tidak pernah mengenal kata pensiun, dan menjadi manusia yang bermanfaat adalah tugas sepanjang hayat.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ahmad dan ath-Thabrani)

Karena itu, jangan pernah merasa sudah selesai hanya karena usia bertambah. Selama napas masih berembus, selalu ada kesempatan untuk menanam kebaikan. Mungkin bukan lagi dengan tenaga yang kuat, tetapi dengan doa yang tulus, nasihat yang bijak, ilmu yang diwariskan, pengalaman yang dibagikan, atau senyum yang menenangkan hati orang lain.

Usia senja juga merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak dzikir dan istighfar. Semakin dekat perjalanan hidup menuju akhirnya, semakin besar kebutuhan kita kepada ampunan Allah SWT. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Karena itu, lisan hendaknya semakin akrab mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah, dan Astaghfirullahal 'azhim.

Allah SWT berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok."
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Kita datang tanpa membawa apa pun, dan kelak kembali kepada Allah tanpa membawa harta, jabatan, ataupun popularitas. Yang menemani hanyalah iman, amal saleh, dan rahmat Allah SWT.

Maka, jika hari ini Allah masih memberi kita umur, jangan habiskan dengan memperbesar masalah kecil, mempertahankan ego, atau menyimpan kebencian yang tak berujung. Gunakan sisa usia untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, mempererat hubungan dengan keluarga, memaafkan sesama, memperbanyak amal, dan meninggalkan jejak kebaikan yang akan terus mengalir pahalanya meskipun kita telah tiada.

Semoga ketika ajal benar-benar datang menjemput, kita termasuk hamba yang pulang dalam keadaan husnul khatimah, disambut dengan ridha Allah SWT, dan dipertemukan kembali dengan orang-orang yang kita cintai di surga-Nya.

Allahu Akbar. Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita, mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan rezeki kita, menenangkan hati kita, menguatkan iman kita, serta menutup usia kita dengan sebaik-baik penutup kehidupan. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.

 

TAGS