Detail Update

Detail Update

Sabar Itu Menahan, Ikhlas Itu Melepaskan

Card image cap Ikhlas itu setingkat lebih tinggi dari sabar.

Perjalanan Hati Menuju Ridha Allah

Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M

Ketua Umum BPIC Kaltim

Dalam hidup ini, tidak ada seorang pun yang berjalan tanpa ujian. Ada kalanya kita kehilangan orang yang dicintai, gagal meraih impian, difitnah tanpa kesalahan, atau diperlakukan tidak adil oleh mereka yang justru kita percaya. Di titik-titik itulah dua kata sering terdengar menguatkan: sabar dan ikhlas.

Namun, benarkah keduanya sama?

Banyak orang menganggap sabar dan ikhlas hanyalah dua kata yang berbeda untuk makna yang sama. Padahal, keduanya merupakan dua tahapan dalam perjalanan seorang hamba menuju ridha Allah. Sabar adalah kemampuan menahan diri ketika ujian datang, sedangkan ikhlas adalah kemampuan melepaskan hati dari segala penolakan terhadap ketetapan Allah.

Sabar menjaga sikap kita. Ikhlas membebaskan hati kita.

Karena itu, seseorang dapat saja tampak sabar, tetapi belum sepenuhnya ikhlas.

Ia memilih diam ketika dihina. Ia tidak membalas ketika difitnah. Ia tetap berbuat baik kepada orang yang menyakitinya. Semua itu adalah kesabaran yang sangat mulia. Sebab tidak mudah mengendalikan amarah ketika ego sedang terluka.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kekuatan dalam Islam bukanlah kekuatan otot, melainkan kekuatan hati. Menahan diri ketika marah sering kali jauh lebih sulit daripada mengalahkan lawan.

Allah pun memerintahkan hamba-hamba-Nya agar menjadikan sabar sebagai penolong dalam menghadapi kehidupan.

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Perhatikanlah kalimat penutup ayat tersebut: "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Tidak ada kemuliaan yang lebih besar daripada mendapatkan kebersamaan Allah. Kebersamaan itu bukan berarti hidup menjadi tanpa ujian, melainkan hati diberi kekuatan untuk melewati setiap ujian.

Sabar sesungguhnya bukan berarti tidak merasakan sakit.

Sabar adalah tetap memilih jalan yang benar meskipun hati sedang terluka.

Sabar adalah menggenggam bara amarah tanpa melemparkannya kepada orang lain.

Namun, perjalanan seorang mukmin tidak berhenti pada kesabaran.

Masih ada satu derajat yang lebih tinggi, yaitu ikhlas.

Ikhlas bukan berarti melupakan luka.

Ikhlas bukan pula berarti tidak menangis.

Nabi Ya'qub 'alaihis salam menangis karena kehilangan Nabi Yusuf hingga penglihatannya memutih. Rasulullah ﷺ pun menangis ketika putra beliau, Ibrahim, wafat. Air mata tidak bertentangan dengan keikhlasan. Yang bertentangan dengan ikhlas adalah menolak keputusan Allah dan memelihara kebencian terhadap takdir-Nya.

Ikhlas adalah ketika hati berkata,

"Ya Allah, aku belum memahami seluruh rencana-Mu. Tetapi aku percaya bahwa apa yang Engkau tetapkan selalu lebih baik daripada apa yang aku inginkan."

Inilah yang disebut ridha terhadap ketentuan Allah.

Allah mengingatkan bahwa setiap musibah telah berada dalam ilmu-Nya sebelum terjadi.

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."
(QS. Al-Hadid [57]: 22).

Lalu Allah menjelaskan hikmah mengapa kita perlu memahami hal itu.

"...Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu..."
(QS. Al-Hadid [57]: 23).

Ayat ini mengajarkan keseimbangan hati. Kita boleh bersedih, tetapi jangan tenggelam dalam kesedihan. Kita boleh bergembira, tetapi jangan sampai kesenangan membuat kita lupa diri.

Ikhlas menjadikan hati tetap tenang dalam kedua keadaan itu.

Ada satu perumpamaan yang sederhana.

Sabar adalah seseorang yang menggenggam bara api, tetapi tidak melemparkannya kepada siapa pun.

Sedangkan ikhlas adalah ketika ia meletakkan bara itu, mengobati lukanya, lalu melanjutkan perjalanan tanpa lagi membawa api kebencian di dalam hatinya.

Karena itu, ukuran ikhlas bukanlah hilangnya luka seketika.

Ukurannya adalah hilangnya keinginan untuk membalas.

Ketika kita dicaci, lalu memilih diam, kita sedang belajar sabar.

Ketika kita tetap mendoakan orang yang mencaci itu dalam sujud kita, memohon agar Allah memberinya hidayah, kita sedang belajar ikhlas.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Jika memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya."
(HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang mukmin selalu memiliki peluang untuk mendapatkan kebaikan. Nikmat mengantarkannya kepada syukur. Musibah mengantarkannya kepada sabar. Dan dari kesabaran itulah tumbuh keikhlasan.

Keikhlasan juga merupakan ruh dari setiap amal. Allah berfirman,

"Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..."
(QS. Al-Bayyinah [98]: 5).

Ayat ini mengingatkan bahwa nilai suatu amal bukan hanya diukur dari besar kecilnya perbuatan, tetapi juga dari kebersihan niat di baliknya. Betapa banyak amal yang tampak besar di mata manusia, tetapi menjadi ringan di sisi Allah karena tidak dilandasi keikhlasan. Sebaliknya, amal yang sederhana dapat bernilai sangat agung karena dilakukan semata-mata mengharap wajah-Nya.

Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang menghindari ujian, melainkan tentang bagaimana kita menyikapi ujian itu.

Kita tidak dapat mengendalikan semua peristiwa.

Kita tidak dapat mengatur bagaimana orang lain memperlakukan kita.

Namun, kita selalu dapat memilih bagaimana hati ini merespons semuanya.

Jika hari ini Allah sedang menguji kita dengan kehilangan, jangan berhenti pada kesabaran.

Teruslah melangkah hingga mencapai keikhlasan.

Sebab sabar adalah langkah pertama menuju kematangan iman.

Sedangkan ikhlas adalah puncak ketenangan jiwa.

Sabar menjaga lisan agar tidak menyakiti.

Ikhlas menjaga hati agar tidak membenci.

Sabar membuat kita bertahan.

Ikhlas membuat kita bertumbuh.

Dan ketika keduanya berpadu, seorang mukmin akan menemukan kedamaian yang tidak bergantung pada keadaan. Hatinya tetap teduh meskipun badai belum reda. Sebab ia yakin bahwa setiap takdir Allah mengandung kasih sayang, meskipun tidak selalu segera dipahami oleh akal manusia.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang sabar ketika diuji, ikhlas ketika kehilangan, bersyukur ketika diberi nikmat, dan ridha terhadap setiap keputusan-Nya.

Ingat! Sabar adalah pintu menuju Allah, sedangkan ikhlas adalah taman tempat hati beristirahat di bawah naungan ridha-Nya.