Detail Update

Detail Update

Banyak Orang, tetapi Kurang Tenaga

Card image cap Ilustrasi by Admin

Ketika Organisasi Terjebak dalam Pengangguran Terselubung

Oleh: Djoko Iriandono*)

Di banyak daerah, kita sering mendengar keluhan bahwa suatu instansi kekurangan tenaga kerja. Di sisi lain, masyarakat justru melihat kantor-kantor pemerintah dan berbagai lembaga dipenuhi pegawai. Sekilas, dua kenyataan ini tampak bertentangan. Bagaimana mungkin jumlah pegawai banyak, tetapi pekerjaan tetap tidak optimal?

Fenomena inilah yang dalam ilmu ekonomi dikenal sebagai pengangguran terselubung (disguised unemployment). Seseorang memang tercatat sebagai pekerja, menerima gaji, bahkan hadir setiap hari di kantor. Namun, kontribusinya terhadap produktivitas organisasi sangat kecil. Jika sebagian pegawai tersebut tidak hadir sekalipun, hasil kerja organisasi hampir tidak berubah secara signifikan.

Fenomena ini sebenarnya tidak sulit ditemukan.

Cobalah datang ke sebuah warung makan yang berada di sekitar kawasan perkantoran. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 09.00 pagi, sering kali warung masih dipenuhi orang yang mengenakan seragam dinas. Mereka menikmati sarapan dengan santai, bercengkerama, bahkan ada yang menghabiskan waktu cukup lama.

Padahal, jika mengikuti jam kerja yang berlaku, sebagian besar kantor sudah mulai beroperasi sejak pukul 07.30 atau paling lambat pukul 08.00. Masyarakat tentu berharap pada jam tersebut para pegawai sudah berada di tempat kerja untuk memberikan pelayanan.

Pemandangan serupa juga sering terlihat setelah jam istirahat siang. Tidak sedikit pegawai yang berlama-lama di rumah makan atau kedai kopi. Ketika ditanya mengapa tidak segera kembali ke kantor, jawabannya sederhana.

"Pekerjaannya sudah selesai."

Jawaban ini mungkin terdengar wajar. Namun justru di situlah persoalannya.

Jika pekerjaan benar-benar sudah selesai jauh sebelum jam kerja berakhir, muncul pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah memang beban kerja pegawai tersebut hanya sedikit? Ataukah sebenarnya jumlah pegawai jauh melebihi kebutuhan organisasi?

Banyak Pegawai Belum Tentu Banyak Pekerjaan

Dalam banyak organisasi, terutama birokrasi yang telah berkembang selama puluhan tahun, penambahan pegawai sering kali tidak selalu didasarkan pada analisis kebutuhan kerja yang objektif. Ada unit yang memiliki pegawai berlebih, sementara unit lain justru kekurangan tenaga.

Akibatnya, pekerjaan yang sebenarnya dapat diselesaikan oleh lima orang justru dikerjakan oleh sepuluh atau bahkan lima belas orang. Setiap orang tetap memiliki meja kerja, tetap hadir setiap hari, tetapi volume pekerjaan yang tersedia tidak cukup untuk mengisi jam kerja mereka.

Lama-kelamaan muncul budaya organisasi yang tidak produktif. Datang terlambat dianggap biasa. Keluar kantor di jam kerja menjadi kebiasaan. Mengobrol panjang di kantin tidak lagi dianggap sebagai penyimpangan karena hampir semua orang melakukannya.

Ironisnya, kondisi tersebut sering kali berlangsung bertahun-tahun hingga dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Pemborosan yang Jarang Disadari

Pengangguran terselubung bukan sekadar persoalan disiplin pegawai. Lebih dari itu, ia merupakan bentuk pemborosan sumber daya yang sangat mahal.

Setiap pegawai menerima gaji, tunjangan, fasilitas kerja, biaya pelatihan, ruang kantor, listrik, komputer, hingga berbagai biaya operasional lainnya. Semua itu berasal dari anggaran organisasi, bahkan dalam banyak kasus berasal dari uang rakyat.

Apabila sebagian besar waktu kerja tidak menghasilkan nilai tambah, maka sesungguhnya organisasi sedang mengeluarkan biaya yang besar untuk produktivitas yang rendah.

Yang lebih memprihatinkan, kondisi tersebut sering kali tidak terlihat dalam laporan keuangan. Semua anggaran terserap sesuai rencana. Tidak ada penyimpangan administrasi. Namun dari sisi manfaat, hasil yang diperoleh jauh dari optimal.

Jangan Menilai Organisasi dari Jumlah Pegawainya

Masih banyak pimpinan yang merasa bangga ketika organisasi yang dipimpinnya memiliki jumlah pegawai besar. Padahal ukuran keberhasilan organisasi bukanlah banyaknya orang yang bekerja, melainkan seberapa besar hasil yang mampu dihasilkan.

Perusahaan-perusahaan modern justru berlomba membangun organisasi yang ramping, lincah, dan produktif. Mereka memanfaatkan teknologi untuk mengurangi pekerjaan yang bersifat administratif sehingga pegawai dapat difokuskan pada pekerjaan yang benar-benar memberikan nilai tambah.

Mereka memahami bahwa menambah pegawai bukanlah tujuan. Tujuan sesungguhnya adalah meningkatkan kualitas pelayanan dan produktivitas.

Saatnya Berani Melakukan Evaluasi

Fenomena pengangguran terselubung tidak akan pernah selesai jika pimpinan hanya melihat absensi pegawai. Yang jauh lebih penting adalah mengukur beban kerja dan hasil kerja.

Setiap jabatan seharusnya memiliki indikator kinerja yang jelas. Berapa banyak pekerjaan yang harus diselesaikan setiap hari? Berapa lama waktu yang dibutuhkan? Apakah jumlah pegawai sudah sesuai dengan volume pekerjaan?

Jika ditemukan kelebihan tenaga, bukan berarti harus langsung melakukan pengurangan pegawai. Yang lebih bijaksana adalah melakukan redistribusi tugas, peningkatan kompetensi, rotasi, atau mengalihkan pegawai ke unit yang benar-benar membutuhkan.

Di era digital, banyak pekerjaan rutin telah diambil alih oleh teknologi. Karena itu, sumber daya manusia harus diarahkan pada pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, inovasi, analisis, pelayanan publik, dan pemecahan masalah.

Pemimpin Harus Berani Melihat Kenyataan

Mengakui adanya pengangguran terselubung memang tidak mudah. Banyak pimpinan khawatir dianggap gagal mengelola organisasi. Namun justru keberanian melihat kenyataan merupakan langkah pertama menuju perubahan.

Pemimpin yang baik tidak hanya memastikan seluruh kursi kantor terisi. Ia memastikan setiap orang benar-benar memberikan kontribusi.

Karena pada akhirnya, organisasi tidak dibayar karena memiliki banyak pegawai. Organisasi dihargai karena mampu menghasilkan pelayanan yang berkualitas, cepat, efektif, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Penutup

Ungkapan "banyak orang, tetapi kurang tenaga" sesungguhnya merupakan sebuah paradoks. Yang kurang bukanlah jumlah manusianya, melainkan produktivitasnya. Yang perlu ditambah bukan sekadar pegawainya, tetapi budaya kerja, kepemimpinan, dan sistem manajemen yang mampu mengoptimalkan potensi setiap individu.

Sudah saatnya para pimpinan berani bertanya kepada diri sendiri: Apakah organisasi yang saya pimpin benar-benar kekurangan pegawai, atau sebenarnya hanya kelebihan orang yang belum dimanfaatkan secara optimal?

Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi awal dari lahirnya organisasi yang lebih efisien, lebih produktif, dan lebih bertanggung jawab dalam mengelola setiap rupiah yang dipercayakan kepadanya.

*) Kominfo BPIC Kaltim