Detail Update

Detail Update

Peran Strategis Santri dalam Menjaga NKRI

Card image cap Peran strategis santri

Peran Strategis Santri dan Mahasantri dalam Menjaga NKRI

(Merawat Keislaman, Kebangsaan, dan Keutuhan Negara di Tengah Perubahan Zaman)

Oleh: Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M. Ag.

Dosen Pascasarjana UINSI Samarinda, Maheswara Utama BPIP RI,

Asesor LAmdik RI, Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur

Indonesia bukan hanya sebuah negara yang dibangun oleh kekuatan politik dan ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan moral, spiritual, budaya, dan pendidikan. Dalam konteks tersebut, santri dan mahasantri memiliki posisi strategis sebagai generasi terdidik yang diharapkan mampu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Santri selama ini dikenal sebagai bagian penting dari sejarah perjalanan bangsa. Dari lingkungan pesantren lahir ulama, pendidik, pejuang, birokrat, intelektual, dan tokoh masyarakat yang memberikan kontribusi besar bagi Indonesia.

Sementara itu, mahasantri merupakan generasi yang memperoleh penguatan keilmuan keislaman sekaligus pendidikan tinggi. Mereka berada pada ruang strategis untuk mempertemukan tradisi keislaman, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebangsaan.

Santri dan Sejarah Perjuangan Bangsa

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa pesantren tidak pernah berada di luar dinamika kebangsaan. Pesantren telah menjadi salah satu basis pendidikan masyarakat sekaligus tempat tumbuhnya kesadaran sosial dan nasionalisme.

Semangat hubbul wathan minal iman: cinta tanah air sebagai bagian dari ekspresi keimanan, menjadi salah satu nilai penting yang berkembang dalam tradisi pesantren. Nilai tersebut mengajarkan bahwa menjaga kedamaian, persatuan, keamanan, dan kemaslahatan bangsa merupakan tanggung jawab moral.

Karena itu, nasionalisme santri tidak perlu dipertentangkan dengan religiusitas. Justru keduanya dapat berjalan beriringan.

Santri yang memahami Islam secara substantif akan melihat keberagaman Indonesia sebagai realitas yang harus dirawat, bukan sebagai alasan untuk saling meniadakan.

Mahasantri: Jembatan antara Pesantren dan Perguruan Tinggi

Mahasantri memiliki keunggulan tersendiri karena berada pada persimpangan dua tradisi keilmuan: tradisi pesantren dan tradisi akademik perguruan tinggi. Di satu sisi, mereka memperoleh pendidikan agama yang menekankan akhlak, adab, kedalaman spiritual, dan penghormatan kepada ulama.

Di sisi lain, mereka dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, metodologis, ilmiah, digital, dan profesional. Posisi tersebut menjadikan mahasantri berpotensi menjadi jembatan intelektual antara nilai-nilai keislaman dan kebutuhan bangsa modern.

Mahasantri tidak cukup hanya menjadi generasi yang saleh secara individual. Mereka juga harus memiliki kesalehan sosial, intelektual, kebangsaan, dan digital.

Kesalehan yang demikian akan melahirkan generasi yang mampu memberikan solusi terhadap persoalan bangsa.

Menjaga NKRI di Era Digital

Tantangan menjaga NKRI pada masa kini berbeda dengan masa perjuangan fisik. Ancaman terhadap persatuan bangsa dapat hadir melalui hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, radikalisme, politik identitas, disinformasi, cyberbullying, hingga polarisasi di media sosial.

Dalam kondisi seperti itu, santri dan mahasantri harus menjadi duta literasi digital dan penjaga etika ruang publik. Mereka perlu memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan salah, melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi, serta mengembangkan budaya dialog di tengah perbedaan.

Jangan sampai media sosial menjadi tempat memperbesar permusuhan. Sebaliknya, santri dan mahasantri harus mampu menjadikan ruang digital sebagai wahana dakwah yang mencerahkan, edukatif, moderat, dan mencerdaskan.

Islam dan Pancasila: Dua Pilar Kehidupan Kebangsaan

Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang sangat majemuk. Karena itu, menjaga NKRI membutuhkan kemampuan mengelola perbedaan.

Pancasila memberikan landasan bersama bagi seluruh warga negara, sedangkan nilai-nilai Islam memberikan fondasi moral dan spiritual bagi umat Islam dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bagi santri dan mahasantri, Pancasila tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang berhadapan dengan Islam.

Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial memiliki ruang dialog yang kuat dengan prinsip-prinsip ajaran Islam tentang tauhid, ukhuwah, musyawarah, keadilan, dan kemaslahatan. Di sinilah pentingnya membangun generasi Muslim yang religius sekaligus nasionalis, kritis tetapi santun, berani tetapi tidak anarkis, serta teguh dalam prinsip namun tetap menghargai perbedaan.

Dari Santri untuk Indonesia Emas 2045 Indonesia sedang memasuki fase transformasi besar menuju Indonesia Emas 2045. Pembangunan tidak cukup hanya membutuhkan sumber daya alam dan infrastruktur.

Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang berkarakter, kompeten, adaptif, inovatif, dan memiliki integritas. Santri dan mahasantri harus mengambil bagian dalam agenda tersebut.

Mereka dapat berkontribusi dalam pendidikan, ekonomi, politik, teknologi, kewirausahaan, riset, industri kreatif, lingkungan, pelayanan publik, hingga pembangunan masyarakat. Pesantren juga perlu terus melakukan transformasi tanpa kehilangan identitasnya.

Pesantren harus mampu mengembangkan literasi digital, kewirausahaan santri, penguasaan teknologi, riset, penguatan bahasa asing, kecakapan profesional, serta pendidikan karakter. Dengan demikian, santri tidak hanya dipersiapkan menjadi consumer pembangunan, tetapi menjadi creator, innovator, dan leader pembangunan bangsa.

*

Lima Peran Strategis Santri dan Mahasantri

Ada sedikitnya lima peran strategis yang perlu diperkuat.

Pertama, sebagai penjaga moral bangsa. Santri dan mahasantri harus menjadi teladan dalam kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kesederhanaan, dan integritas.

Kedua, sebagai agen moderasi dan persatuan. Mereka harus mampu membangun dialog serta menjadi penengah ketika terjadi konflik sosial dan perbedaan pandangan.

Ketiga, sebagai benteng literasi digital. Santri harus melawan hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, dan propaganda yang dapat merusak persatuan bangsa.

Keempat, sebagai intelektual muda bangsa. Mahasantri harus menghasilkan gagasan, riset, inovasi, dan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Kelima, sebagai calon pemimpin Indonesia masa depan. Kepemimpinan santri harus dibangun dengan perpaduan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan sosial, kompetensi profesional, dan wawasan kebangsaan.

Menjadi Santri yang Berakar, tetapi Tidak Terbelenggu

Tantangan terbesar pendidikan pesantren bukan memilih antara tradisi dan modernitas, melainkan bagaimana mengintegrasikan keduanya. Santri perlu tetap berakar pada nilai-nilai pesantren: adab, akhlak, tawadhu, keilmuan, keikhlasan, dan pengabdian.

Namun pada saat yang sama, mereka harus terbuka terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan perubahan sosial. Prinsipnya sederhana: berakar kuat dalam tradisi, berpikir terbuka terhadap masa depan.

Santri yang demikian tidak akan mudah terjebak pada ekstremisme, fanatisme sempit, maupun sikap anti terhadap perubahan. Sebaliknya, mereka akan menjadi generasi yang mampu membaca zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Penutup: NKRI adalah Amanah Bersama

Menjaga NKRI bukan hanya tugas aparat negara, pemerintah, atau kelompok tertentu. Menjaga Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh warga negara.

Santri dan mahasantri memiliki modal yang sangat besar untuk mengambil peran tersebut: ilmu agama, tradisi keilmuan, pendidikan karakter, jejaring sosial, serta semangat pengabdian. Karena itu, pesantren dan perguruan tinggi keagamaan perlu terus membangun ekosistem pendidikan yang mengintegrasikan keislaman, keindonesiaan, keilmuan, teknologi, dan kemanusiaan.

Pada akhirnya, santri yang ideal bukan hanya santri yang mampu membaca kitab, tetapi juga mampu membaca realitas kehidupan. Bukan hanya mampu berdakwah di mimbar, tetapi juga mampu menghadirkan solusi di tengah masyarakat.

Bukan hanya mencintai agama, tetapi juga mencintai bangsa dan menjaga persaudaraan sesama manusia. Santri menjaga agama dengan ilmu, menjaga bangsa dengan integritas, menjaga NKRI dengan persatuan, dan menjaga masa depan Indonesia dengan karya.

Inilah saatnya santri dan mahasantri tampil bukan sekadar sebagai penonton sejarah, melainkan sebagai pelaku utama dalam merawat NKRI dan mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang berkeadaban, berkeadilan, dan bermartabat.
Allahu a’lam.