Detail Update

Detail Update

Benefit Cost Analysis

Card image cap Berfikirlah sebelum bertindak

Menghitung Sebelum Bertindak (V =B:C)

Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat telepon dari seorang sahabat. Beliau mengatakan bahwa telah membaca beberapa artikel yang saya tulis di website ini. Ia memberikan respons positif terhadap beberapa tulisan saya dan terus memberikan dukungan agar saya tetap menulis.

Kami pun berbincang cukup panjang tentang berbagai hal. Hingga akhirnya, setelah menutup pembicaraan, beliau menuliskan sebuah pesan singkat yang cukup sederhana, tetapi justru membuat saya berpikir:

“Kalau bisa, tolong dibuatkan tulisan tentang: Value = Benefit : Cost atau V = B/C.”

Selama tiga hari, pesan sahabat saya itu menggantung di pikiran. Terus terang, saya belum benar-benar memahami apa yang beliau maksud. Istilah Value = Benefit : Cost terasa seperti sesuatu yang berkaitan dengan ilmu ekonomi. Karena penasaran, saya mencoba mencari tahu lebih jauh.

Ternyata dugaan saya benar. Yang dimaksud sahabat saya adalah konsep Benefit Cost Analysis, sebuah pendekatan yang pada dasarnya digunakan untuk membandingkan manfaat dengan biaya dalam menentukan apakah suatu pilihan, proyek, atau investasi layak dilakukan.

Namun, yang menarik perhatian saya bukan sekadar bagaimana konsep tersebut digunakan dalam dunia bisnis atau ekonomi. Saya mulai melihat bahwa gagasan tentang manfaat dan biaya sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Hampir setiap hari kita dihadapkan pada pilihan, dan setiap pilihan selalu membawa konsekuensi yang harus kita tanggung.

Ada banyak keputusan dalam hidup yang akhirnya kita sesali, bukan karena keputusan itu sepenuhnya salah, melainkan karena kita mengambilnya terlalu cepat. Kita sering terpaku pada apa yang ingin kita dapatkan, tetapi lupa memikirkan apa yang mungkin harus kita korbankan. Padahal, sesuatu yang terlihat menguntungkan belum tentu benar-benar memberi manfaat jika biaya yang harus dibayar ternyata jauh lebih besar.

Barangkali inilah yang ingin disampaikan sahabat saya melalui pesan singkatnya itu. Ia tidak sedang mengajak saya membahas teori ekonomi secara akademis, tetapi mengajak melihat sebuah konsep sederhana dari sudut pandang yang lebih luas: bagaimana mempertimbangkan manfaat dan biaya sebelum menentukan pilihan dalam kehidupan.

Sebuah cara sederhana untuk mengingatkan kita bahwa dalam hidup, tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?” Kita juga perlu bertanya, “Apa yang harus saya bayar untuk mendapatkannya?”

Sebab, bisa jadi sesuatu yang terlihat sangat menguntungkan pada awalnya justru menyimpan biaya yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Misalnya saat marah, kita berbicara tanpa berpikir panjang. Saat sedang senang, kita berbelanja tanpa menghitung kemampuan. Ketika melihat peluang, kita buru-buru mengambilnya karena takut kehilangan. Bahkan dalam urusan yang menyangkut orang lain, kita sering lebih sibuk memikirkan apa yang kita inginkan daripada apa yang mungkin terjadi setelahnya.

Kita sering menghitung keuntungan, tetapi lupa menghitung harga yang harus dibayar.

Padahal, hampir setiap keputusan memiliki dua sisi. Ada manfaat yang kita peroleh, tetapi ada pula biaya yang harus kita tanggung.

Dalam dunia ekonomi, cara berpikir semacam ini dikenal dengan Benefit Cost Analysis atau analisis manfaat dan biaya. Prinsipnya sederhana: sebelum mengambil keputusan, bandingkan manfaat yang diperoleh dengan biaya yang harus dikeluarkan.

Konsep tersebut sebenarnya tidak hanya berguna bagi perusahaan atau pemerintah ketika membuat kebijakan. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita bisa menggunakannya untuk melatih cara berpikir agar tidak mudah terbawa oleh keinginan sesaat.

Keuntungan yang Tidak Selalu Menguntungkan

Bayangkan seseorang mendapatkan kesempatan memperoleh sejumlah uang dengan cara yang sebenarnya tidak pantas.

Di depan matanya hanya ada satu hal: uang.

Ia mungkin berpikir, “Lumayan. Kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali.”

Tetapi keputusan yang bijak tidak berhenti pada pertanyaan tentang berapa uang yang akan diperoleh. Ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting: berapa harga yang harus dibayar?

Bagaimana jika suatu hari perbuatannya diketahui? Bagaimana jika kepercayaan orang lain hilang? Bagaimana jika nama baik yang dibangun bertahun-tahun runtuh hanya karena satu keputusan?

Uang mungkin bisa dihitung dalam rupiah. Tetapi kehilangan kepercayaan tidak mudah dihitung.

Di sinilah kita sering keliru memahami keuntungan. Sesuatu yang membuat kita memperoleh lebih banyak belum tentu membuat hidup kita menjadi lebih baik.

Ada keuntungan yang datang bersama masalah.

Ada pula keuntungan yang justru membuat kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal.

Biaya Tidak Selalu Berupa Uang

Ketika mendengar kata “biaya”, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada uang.

Padahal dalam kehidupan, biaya memiliki bentuk yang jauh lebih luas.

Waktu adalah biaya.

Tenaga adalah biaya.

Kesempatan adalah biaya.

Ketenangan pikiran juga bisa menjadi biaya.

Bahkan hubungan baik dengan orang lain dapat menjadi sesuatu yang kita korbankan karena sebuah keputusan.

Coba kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang merasa kesal karena kritik seorang teman. Ia kemudian menulis komentar panjang di media sosial untuk membalasnya. Dalam hitungan menit, ia merasa lega karena berhasil mengatakan apa yang ada di pikirannya.

Itulah manfaat yang ia rasakan saat itu.

Namun, beberapa jam kemudian muncul persoalan baru. Teman tersinggung. Hubungan menjadi renggang. Orang lain ikut berkomentar. Persoalan yang semula hanya diketahui dua orang berubah menjadi konsumsi banyak orang.

Apa yang diperoleh? Kepuasan beberapa menit.

Apa yang dibayar? Hubungan yang mungkin sudah dibangun bertahun-tahun.

Kalau sejak awal ia menghitung manfaat dan biayanya, mungkin ia akan memilih diam atau menyelesaikan masalah secara pribadi.

Diam dalam situasi tertentu bukan berarti kalah. Bisa jadi itu bentuk kecerdasan dalam menghitung akibat.

Kita Sering Kalah oleh Keuntungan Sesaat

Salah satu persoalan dalam mengambil keputusan adalah manusia cenderung menyukai sesuatu yang bisa dinikmati sekarang.

Kita lebih mudah tergoda oleh hasil yang terlihat daripada manfaat yang baru dirasakan nanti.

Itulah sebabnya seseorang lebih memilih menghabiskan uang daripada menabung. Lebih memilih bermalas-malasan daripada belajar. Lebih suka membalas kemarahan daripada menyelesaikan persoalan.

Manfaatnya terasa segera.

Biayanya datang belakangan.

Padahal keputusan yang baik sering kali justru membutuhkan kesediaan menunda kesenangan.

Orang tua yang menyisihkan sebagian penghasilannya untuk pendidikan anak mungkin harus mengurangi keinginan pribadi. Seorang anak yang belajar dengan tekun harus rela kehilangan sebagian waktu bermain. Seseorang yang memilih menjaga kesehatan harus membatasi kebiasaan yang menyenangkan tetapi merugikan tubuh.

Mereka sama-sama sedang membayar sesuatu hari ini untuk memperoleh manfaat yang lebih besar di kemudian hari.

Begitulah kehidupan bekerja.

Tidak semua yang menyenangkan harus diikuti. Tidak semua yang sulit harus dihindari.

Jangan Hanya Menghitung Apa yang Didapat

Dalam mengambil keputusan, kita sering bertanya, “Apa yang saya dapat?”

Jarang kita bertanya, “Apa yang saya kehilangan?”

Padahal pertanyaan kedua kadang jauh lebih penting.

Seseorang menerima pekerjaan dengan penghasilan dua kali lebih besar. Secara ekonomi, keputusan itu terlihat sangat baik. Tetapi ternyata pekerjaan tersebut membuatnya hampir tidak memiliki waktu untuk keluarga.

Apakah keputusan itu salah?

Belum tentu.

Mungkin memang itulah pilihan terbaik dalam situasinya. Tetapi keputusan tersebut menjadi lebih bijak apabila ia menyadari bahwa tambahan penghasilan memiliki harga berupa berkurangnya waktu bersama keluarga.

Begitu pula ketika seseorang menerima jabatan.

Jabatan memberikan penghargaan, pengaruh, dan mungkin penghasilan yang lebih baik. Tetapi ada tanggung jawab yang lebih besar, tekanan yang lebih tinggi, serta tuntutan untuk menjaga kepercayaan banyak orang.

Semakin besar manfaat yang ingin kita dapatkan, sering kali semakin besar pula biaya yang harus kita siapkan.

Persoalannya bukan menghindari biaya. Tidak ada kehidupan tanpa pengorbanan.

Persoalannya adalah memastikan bahwa sesuatu yang kita korbankan memang layak untuk ditukar dengan apa yang kita dapatkan.

Kebijaksanaan Ada pada Kemampuan Melihat Akibat

Orang bijak bukan orang yang tidak pernah salah mengambil keputusan.

Ia tetap bisa salah.

Bedanya, ia berusaha tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan perasaan sesaat.

Ia memberi ruang kepada pikirannya untuk bekerja.

Ketika marah, ia menunda berbicara.

Ketika mendapatkan keuntungan, ia menghitung risikonya.

Ketika mendapat kesempatan, ia mempertimbangkan konsekuensinya.

Ketika hendak mengkritik orang lain, ia bertanya apakah kritik itu benar-benar memperbaiki keadaan atau hanya memuaskan egonya sendiri.

Kebijaksanaan sering kali tidak terlihat dalam keputusan besar. Justru terlihat dalam hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari.

Menahan diri untuk tidak membalas pesan ketika emosi.

Tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita meskipun tidak ada yang melihat.

Berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang menguntungkan tetapi berpotensi merusak diri sendiri atau orang lain.

Semua itu adalah bentuk perhitungan.

Bukan perhitungan untuk menjadi manusia yang pelit atau terlalu berhati-hati, melainkan perhitungan agar kita tidak menyesal karena gagal melihat akibat.

Tidak Semua Hal Harus Dihitung dengan Kalkulator

Tentu saja kehidupan tidak sesederhana sebuah rumus ekonomi.

Tidak semua keputusan bisa dinilai dengan angka. Kasih sayang, kepercayaan, persahabatan, kehormatan, dan ketenangan batin tidak mempunyai harga yang pasti.

Namun, cara berpikir dari Benefit Cost Analysis tetap memberi pelajaran penting: jangan mengambil keputusan hanya karena manfaatnya terlihat, sebelum memahami biaya yang menyertainya.

Kadang kita memang harus memilih.

Memilih antara uang dan waktu.

Antara kesenangan dan tanggung jawab.

Antara membalas dan memaafkan.

Antara mengikuti keinginan dan menjaga prinsip.

Tidak ada pilihan yang benar-benar tanpa biaya.

Yang bisa kita lakukan adalah memilih biaya yang memang layak kita tanggung.

Mungkin sebelum bertindak kita perlu membiasakan diri berhenti sejenak dan mengajukan tiga pertanyaan sederhana:

Apa manfaat dari keputusan ini?

Apa yang harus saya korbankan untuk mendapatkannya?

Apakah manfaat tersebut sepadan dengan biaya yang harus saya bayar?

Tiga pertanyaan itu tidak menjamin kita selalu mengambil keputusan yang benar. Tetapi setidaknya membuat kita tidak terlalu mudah dikendalikan oleh emosi, ambisi, atau keuntungan sesaat.

Sebab banyak penyesalan dalam hidup lahir dari keputusan yang terlihat murah ketika dibuat, tetapi ternyata mahal ketika akibatnya datang.

Kita tidak mungkin menghitung seluruh masa depan.

Namun, kita bisa belajar untuk tidak menutup mata terhadap kemungkinan yang ada.

Sebelum mengejar keuntungan, lihat risikonya.

Sebelum berbicara, pikirkan akibatnya.

Sebelum mengambil sesuatu, pertimbangkan apa yang mungkin hilang.

Dan sebelum memilih jalan yang terlihat paling mudah, tanyakan kepada diri sendiri: apakah saya sedang memilih yang terbaik, atau sekadar memilih yang paling menyenangkan saat ini?

Barangkali di situlah letak kebijaksanaan.

Bukan pada kemampuan untuk selalu mendapatkan lebih banyak, melainkan pada kemampuan mengetahui mana yang layak diperjuangkan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.

 

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim

TAGS