“Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.”
Oleh: Djoko Iriandono*)
Siang tadi, ba’da sholat dhuhur, saya mengikuti kajian rutin ba’da dhuhur yang disampaikan oleh KH Muhammad Rasid, S.Pd.I, Imam Besar Masjid Raya Baitul Muttaqien Islamic Center. Kajian yang sebenarnya berlangsung sederhana itu membawa saya pada satu pertanyaan yang terasa sangat dekat dengan kehidupan kita: sejauh mana kita benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ?
Dalam ceramahnya, beliau menceritakan sebuah kisah yang sangat menarik tentang seorang Arab Badui yang datang menghadap Rasulullah ﷺ. Orang tersebut ingin mengetahui tentang keselamatan dan kehidupan setelah kematian. Ia mengatakan: “Ya Rasulullah, Apakah saya bisa masuk surga?”. Rasulullah kemudian bertanya balik kepadanya tentang apa yang telah dipersiapkannya.
Orang itu menjawab kurang lebih demikian, “Saya belum menyiapkan banyak hal ya rasulullah, tetapi saya mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah ﷺ menyampaikan sebuah kalimat yang sangat dalam maknanya:
“Seseorang akan selalu bersama dengan orang yang dicintainya.”
Kisah tersebut mengingatkan kita bahwa cinta bukan sesuatu yang sederhana. Ia dapat menjadi kekuatan yang membawa seseorang kepada kebaikan. Dalam riwayat yang masyhur dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hari kiamat dan apa yang telah ia persiapkan untuk menghadapinya. Ia menjawab bahwa dirinya tidak memiliki banyak persiapan amal, tetapi ia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah kemudian bersabda:
“Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Anas bin Malik yang meriwayatkan hadis tersebut bahkan mengatakan bahwa para sahabat tidak pernah merasa begitu gembira setelah masuk Islam melebihi kegembiraan mereka mendengar sabda Rasulullah itu.
Kalimat tersebut terasa sederhana, tetapi sesungguhnya memberikan harapan yang luar biasa kepada kita. Kita mungkin tidak memiliki amal sebanyak para sahabat. Kita mungkin masih banyak kekurangan dalam ibadah, akhlak, dan kehidupan sehari-hari. Namun, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya semestinya menjadi energi bagi kita untuk terus memperbaiki diri.
Mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar ungkapan yang sering kita ucapkan dalam doa, ceramah, atau peringatan Maulid. Cinta kepada Rasulullah merupakan bagian penting dari keimanan seorang Muslim.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ’Imran: 31)
Ayat ini memberikan ukuran yang sangat jelas tentang cinta kepada Allah. Cinta itu tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah ﷺ.
Di sinilah hubungan antara mencintai Allah dan mencintai Rasulullah menjadi sangat erat. Rasulullah adalah manusia yang diutus Allah untuk menyampaikan petunjuk kepada kita. Melalui beliau, kita mengenal siapa Tuhan kita, bagaimana cara beribadah, bagaimana membedakan yang benar dan yang salah, serta bagaimana menjalani kehidupan sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab kepada Allah dan kepada sesama.
Kalau bukan karena Rasulullah, kita tidak akan mengenal Islam sebagaimana yang kita kenal hari ini. Al-Qur’an sampai kepada kita melalui perjuangan beliau. Tata cara sholat, puasa, zakat, haji, dan berbagai bentuk ibadah kita pelajari dari teladan beliau.
Lebih dari itu, Rasulullah ﷺ menunjukkan bagaimana agama diterjemahkan menjadi akhlak dalam kehidupan nyata.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah bukan hanya seorang penyampai wahyu. Beliau adalah teladan.
Beliau menyayangi anak-anak, menghormati orang tua, memuliakan tamu, membantu orang yang membutuhkan, dan memperlakukan orang lain dengan penuh kelembutan. Ketika disakiti, beliau tidak mudah membalas dengan kebencian. Ketika memiliki kesempatan untuk membalas orang-orang yang pernah menyakitinya, beliau justru menunjukkan keluasan hati.
Allah bahkan memberikan kesaksian tentang akhlak beliau:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Maka, ketika kita mengatakan mencintai Rasulullah, sesungguhnya kita sedang mengatakan bahwa kita ingin mendekat kepada akhlak dan keteladanan beliau.
Berdasarkan uraian yang disampaikan oleh imam besar Masjid Raya Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur siang tadi ada beberapa cara untuk mewujudkannya, yaitu:
Pertama, mengenal beliau lebih dekat.
Sulit mencintai seseorang yang tidak kita kenal. Karena itu, membaca sirah Nabi, mempelajari perjuangannya, memahami kehidupannya bersama keluarga dan para sahabat, serta mengenal akhlaknya merupakan bagian penting dalam membangun kecintaan kepada Rasulullah.
Semakin kita mengenal perjuangan beliau, semakin kita memahami betapa besar pengorbanannya untuk menyampaikan risalah Islam.
Beliau menghadapi penolakan, penghinaan, ancaman, bahkan kehilangan orang-orang yang dicintainya. Namun beliau tetap menjalankan amanah.
Kedua, memperbanyak shalawat.
Shalawat adalah salah satu cara untuk mengingat dan memuliakan Rasulullah ﷺ. Allah SWT sendiri berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Ketika nama Rasulullah disebut, hati seorang Muslim semestinya tergerak untuk bershalawat. Bukan sekadar karena kebiasaan, tetapi karena ada rasa cinta dan penghormatan kepada manusia pilihan Allah yang telah membawa risalah kepada umat manusia.
Ketiga, mengikuti sunnahnya.
Cinta yang tidak melahirkan keinginan untuk mengikuti orang yang dicintai perlu kita renungkan kembali.
Jika kita benar-benar mencintai Rasulullah, kita akan berusaha mengikuti petunjuknya sesuai dengan kemampuan kita.
Mengikuti sunnah bukan hanya menyangkut perkara-perkara yang tampak dari luar. Sunnah juga menyangkut kejujuran, kesabaran, kasih sayang, menepati janji, menjaga lisan, menghormati orang lain, membantu yang lemah, dan menjauhi kesombongan.
Jangan sampai kita rajin berbicara tentang kecintaan kepada Rasulullah, tetapi masih mudah menyakiti orang lain dengan perkataan.
Jangan sampai kita sering bershalawat, tetapi sulit memaafkan dan masih tetap membenci orang yang pernah menyakitinya.
Jangan sampai kita mengaku mencintai beliau, tetapi perilaku kita justru jauh dari akhlak yang beliau ajarkan.
Keempat, mencintai apa yang beliau ajarkan.
Rasulullah membawa ajaran yang mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama.
Sholat mendekatkan kita kepada Allah. Sementara kejujuran, kepedulian, kasih sayang, dan keadilan menjaga hubungan kita dengan manusia.
Maka, cinta kepada Rasulullah semestinya membuat kita semakin baik dalam beribadah sekaligus semakin baik dalam memperlakukan orang lain.
Kelima, menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah zaman yang dipenuhi berbagai figur yang kita kagumi, seorang Muslim perlu kembali bertanya: siapa yang sesungguhnya paling layak dijadikan teladan?
Rasulullah ﷺ memberikan contoh bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, popularitas, atau banyaknya pengikut. Kemuliaan terlihat dari ketakwaan dan akhlaknya.
Menjadikan Rasulullah sebagai teladan berarti membawa nilai-nilai yang beliau ajarkan ke dalam kehidupan nyata.
Di rumah, kita belajar menjadi pribadi yang lembut.
Di tempat kerja, kita belajar menjadi orang yang amanah.
Di tengah masyarakat, kita belajar peduli.
Di media sosial, kita belajar menjaga ucapan dan tidak mudah menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
Kisah Arab Badui yang disampaikan dalam kajian siang tadi kembali mengingatkan saya bahwa cinta kepada Rasulullah bukan sesuatu yang berhenti pada kata-kata.
Kita boleh saja merasa amal kita masih sedikit. Kita boleh merasa belum menjadi Muslim yang baik. Namun jangan pernah berhenti mencintai Rasulullah dan jangan pernah berhenti berusaha mengikuti ajarannya.
Cinta itulah yang seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk terus memperbaiki diri.
Mungkin hari ini kita masih mudah marah. Besok kita belajar menahan diri.
Hari ini kita mungkin masih sulit memaafkan. Perlahan kita belajar berlapang dada.
Hari ini kita mungkin masih sering lalai. Sedikit demi sedikit kita memperbaiki ibadah.
Begitulah cinta bekerja. Ia mendorong seseorang untuk berubah menjadi lebih baik.
Karena itu, ketika Rasulullah ﷺ bersabda, “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai,” kalimat itu bukan alasan bagi kita untuk merasa cukup hanya dengan mengaku mencintai beliau. Justru sebaliknya, kalimat tersebut seharusnya menjadi penyemangat agar kita semakin bersungguh-sungguh membuktikan cinta itu melalui kehidupan kita.
Cinta kepada Rasulullah ﷺ terlihat ketika kita memilih jujur meskipun kejujuran itu merugikan diri sendiri.
Cinta itu terlihat ketika kita menahan lisan agar tidak menyakiti orang lain.
Cinta itu terlihat ketika kita memaafkan meskipun memiliki kesempatan untuk membalas.
Cinta itu terlihat ketika kita peduli kepada orang yang lemah dan tidak merendahkan mereka yang berada di bawah kita.
Cinta itu juga terlihat ketika kita berusaha mengikuti sunnah beliau, bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam akhlak dan hubungan dengan sesama.
Kita memang tidak pernah bertemu Rasulullah ﷺ secara langsung. Kita tidak pernah melihat senyumnya, mendengar suaranya, atau berjalan bersamanya. Tetapi kita mengenal beliau melalui Al-Qur’an, hadis, dan perjalanan hidup yang diwariskannya kepada umat.
Maka, sudah selayaknya kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah saya benar-benar mencintai Rasulullah?
Bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan perilaku.
Bukan hanya dengan bershalawat, tetapi dengan keteladanan.
Bukan hanya dengan mengagumi sejarah hidupnya, tetapi dengan berusaha menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan kita.
Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar sebuah pengakuan, melainkan menjadi kekuatan yang menuntun kita untuk semakin dekat kepada Allah, semakin baik akhlaknya, semakin lembut kepada sesama, dan semakin istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam.
Sebab, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.”
Mudah-mudahan kelak, ketika kita berdiri di hadapan Allah, kita termasuk orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan karena cinta itu bersama Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang dicintainya.
Allahu A’lam.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim