Detail Update

Detail Update

Di Hari Raya Qurban, Apa yang Sebenarnya Kita Sembelih?

Card image cap

Oleh: Djoko Iriandono*)

Tidak lama lagi kita akan mendengar gema takbir berkumandang dari masjid-masjid, lapangan dipenuhi jamaah, dan sapi-sapi serta kambing sebagai hewan qurban mulai dipersiapkan untuk disembelih. Bagi sebagian orang, momen ini mungkin terlihat sebagai rutinitas tahunan umat Islam. Namun sesungguhnya, ibadah qurban menyimpan pesan spiritual yang sangat dalam. Ia bukan hanya tentang menyembelih kambing, sapi, atau kerbau. Lebih dari itu, qurban adalah tentang menyembelih sesuatu yang sering kali jauh lebih sulit dikalahkan, yaitu: ego, keserakahan, kesombongan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Pertanyaan yang patut direnungkan adalah: di Hari Raya Qurban, apa yang sebenarnya kita sembelih?

Qurban Berasal dari Ketundukan kepada Allah

Ibadah qurban memiliki akar sejarah yang sangat kuat dalam kisah Nabi Ibrahim a.s. dan putranya, Nabi Ismail a.s. Kisah ini bukan sekadar cerita tentang seorang ayah yang diperintahkan menyembelih anaknya, melainkan tentang puncak ketundukan manusia kepada Allah Swt.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Ayat ini menggambarkan dialog yang sangat menyentuh antara seorang ayah dan anak yang sama-sama taat kepada Allah. Nabi Ibrahim tidak sedang kehilangan cinta kepada anaknya. Sebaliknya, beliau sangat mencintai Ismail. Namun kecintaannya kepada Allah berada di atas segalanya.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ujian tersebut adalah bentuk nyata untuk melihat sejauh mana ketundukan Nabi Ibrahim kepada perintah Allah. Ketika Ibrahim dan Ismail sama-sama menunjukkan kepatuhan total, Allah menggantikan Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.

Dari sinilah lahir syariat qurban yang terus dijalankan umat Islam hingga hari ini.

Yang Sampai kepada Allah Bukan Daging dan Darahnya

Sering kali manusia terjebak pada aspek lahiriah ibadah. Kita sibuk menghitung jumlah hewan qurban, ukuran sapi, atau harga kambing yang dibeli. Padahal Al-Qur’an dengan sangat jelas mengingatkan bahwa inti qurban bukan terletak pada darah dan dagingnya.

Allah Swt. berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini menjadi pusat makna qurban. Yang Allah nilai bukan semata-mata hewan yang disembelih, melainkan hati yang melandasi pengorbanan tersebut.

M. Quraish Shihab dalam berbagai kajiannya menjelaskan bahwa qurban adalah simbol kesediaan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengorbankan sesuatu yang dicintainya. Menurut beliau, qurban mengajarkan bahwa manusia tidak boleh diperbudak oleh harta dan kepentingan duniawi.

Di sinilah qurban menjadi sangat relevan dengan kehidupan modern. Sebab hari ini, banyak manusia yang sulit melepaskan ego, gengsi, ambisi pribadi, bahkan sebagian rela mengorbankan nilai-nilai kebaikan demi mempertahankan kepentingannya sendiri.

Menyembelih Ego dan Kesombongan

Boleh jadi, hewan qurban telah disembelih, tetapi ego dalam diri tetap hidup. Lidah masih gemar menyakiti orang lain. Hati masih penuh iri dan dengki. Kesombongan masih tumbuh dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Padahal, salah satu hikmah terbesar qurban adalah melatih manusia agar mampu menundukkan hawa nafsunya.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa hakikat ibadah adalah upaya membersihkan hati dari dominasi nafsu duniawi. Qurban menjadi latihan spiritual agar manusia tidak terlalu mencintai materi dan belajar ikhlas dalam memberi.

Dalam kehidupan sekarang, “penyembelihan” ego justru menjadi tantangan besar. Media sosial misalnya, sering membuat manusia lebih sibuk mencari pengakuan daripada mencari keridhaan Allah. Tidak sedikit orang yang berlomba menampilkan pencitraan religius dengan senantiasa berpakaian gaya islami dan menghadiri banyak majelis taklim, tetapi lupa memperbaiki akhlak dan ketulusan hati. Pikiran penuh dengan suudzon kepada orang lain. Naudzubillah min dzalik.

Qurban sejatinya mengajarkan bahwa keikhlasan tidak selalu harus terlihat manusia. Sebab yang paling penting adalah bagaimana amal itu diterima oleh Allah.

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selain mengandung nilai spiritual, qurban juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Dalam Islam, kebahagiaan tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir orang. Karena itu, daging qurban dibagikan kepada masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan.

Rasulullah saw. bersabda:

“Makanlah sebagian darinya, berikanlah kepada orang lain, dan simpanlah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa qurban adalah sarana membangun solidaritas sosial. Pada hari raya, kaum dhuafa ikut merasakan kebahagiaan. Mereka menikmati hidangan yang mungkin jarang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa qurban merupakan bentuk nyata dari semangat berbagi dalam Islam. Menurut beliau, ibadah tidak boleh berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga harus melahirkan manfaat sosial bagi manusia.

Di tengah meningkatnya kesenjangan ekonomi dan gaya hidup individualistis, semangat qurban menjadi sangat penting untuk dihidupkan kembali. Sebab qurban mengajarkan bahwa sebagian rezeki yang kita miliki sesungguhnya ada hak orang lain di dalamnya.

Apa yang Harus Kita Sembelih Hari Ini?

Mungkin sebagian besar umat Islam mampu membeli hewan qurban. Namun pertanyaan yang lebih dalam adalah: apakah kita juga siap menyembelih sifat buruk dalam diri?

Barangkali yang perlu kita sembelih hari ini adalah:

  • kesombongan yang membuat kita merasa paling benar,
  • ego yang sulit menerima nasihat dan mau menang sendiri,
  • ketamakan yang membuat kita lupa berbagi,
  • ucapan dan amarah yang melukai orang lain,
  • serta cinta dunia yang berlebihan hingga melupakan akhirat.

Sebab boleh jadi, yang paling sulit dikorbankan bukan harta, melainkan keakuan dalam diri manusia.

Iduladha seharusnya menjadi momentum muhasabah. Ketika pisau qurban diarahkan kepada hewan sembelihan, pada saat yang sama hati kita seharusnya bertanya: sudahkah aku mengorbankan sifat buruk dalam diriku demi menjadi hamba yang lebih baik?

Penutup

Hari Raya Qurban bukan sekadar peristiwa tahunan yang identik dengan penyembelihan hewan. Ia adalah panggilan spiritual agar manusia kembali memahami arti ketundukan, keikhlasan, dan kepedulian.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya. Sementara ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw. mengingatkan bahwa hakikat qurban bukan pada darah dan dagingnya, melainkan pada ketakwaan dan ketulusan hati.

Pada akhirnya, qurban adalah tentang perjalanan membersihkan jiwa. Tentang bagaimana manusia belajar melepaskan ego, mengalahkan keserakahan, dan menghadirkan kasih sayang kepada sesama.

Maka di Hari Raya Qurban ini, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah seberapa besar hewan yang kita sembelih. Tetapi: apa yang sebenarnya telah kita sembelih dalam diri kita sendiri?

Wallahu a'lam bish-shawab

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim.