Oleh: Djoko Iriandono*)
Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah momentum sejarah yang lahir dari kesadaran bahwa bangsa ini tidak akan pernah maju jika rakyatnya hanya diam, mengeluh, dan saling menyalahkan. Kebangkitan nasional bukan sekadar peristiwa sejarah berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908. Ia adalah simbol perubahan cara berpikir: dari bangsa yang pasif menjadi bangsa yang sadar bahwa nasib harus diperjuangkan.
Namun pertanyaannya, setelah lebih dari satu abad berlalu, apakah semangat itu masih hidup?
Ironisnya, Indonesia hari ini sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Kita memiliki jutaan sarjana, ribuan profesor, sekolah-sekolah megah, teknologi canggih, dan akses informasi tanpa batas. Anak-anak muda Indonesia bahkan mampu bersaing di tingkat internasional. Di media sosial, kita menemukan begitu banyak orang yang mampu berbicara tentang politik, ekonomi, pendidikan, agama, bahkan strategi negara. Semua terasa sangat intelektual.
Tetapi ada satu masalah besar: terlalu banyak orang berhenti pada tahap “berbicara”, sangat sedikit yang benar-benar bergerak.
Kita hidup di zaman ketika kritik tumbuh jauh lebih cepat daripada karya. Semua orang merasa paling tahu solusi, tetapi sedikit yang mau turun tangan menyelesaikan persoalan. Banyak yang pandai mengomentari keburukan sistem pendidikan, tetapi malas membaca buku. Banyak yang gemar menghina pemerintah, tetapi enggan tertib sebagai warga negara. Banyak yang berteriak tentang moralitas, tetapi gagal memberi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah ironi terbesar bangsa kita: energi habis untuk mengomentari, bukan memperbaiki.
Media sosial memperparah keadaan itu. Hari ini seseorang bisa merasa menjadi “pejuang bangsa” hanya karena membuat komentar pedas atau unggahan viral. Padahal perubahan tidak lahir dari status Facebook, bukan pula dari potongan video TikTok yang penuh kemarahan. Perubahan lahir dari kerja panjang, disiplin, pengorbanan, dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Kita terlalu sering terjebak dalam budaya “penonton”. Menonton negeri ini berjalan sambil sibuk menjadi komentator. Sedikit sekali yang benar-benar mau menjadi pemain di lapangan.
Padahal sejarah bangsa ini dibangun oleh orang-orang yang bergerak.
Ki Hajar Dewantara tidak hanya mengkritik pendidikan kolonial. Ia membangun sekolah. Soekarno tidak hanya berpidato tentang kemerdekaan. Ia mempertaruhkan hidupnya untuk perjuangan. Mohammad Hatta tidak hanya pandai menulis. Ia hidup sederhana dan memberi teladan integritas.
Mereka bukan sekadar orang pintar. Mereka adalah orang yang bergerak.
Hari ini kita justru menghadapi fenomena yang memprihatinkan: banyak orang ingin terlihat hebat tanpa proses. Ingin dihormati tanpa kontribusi. Ingin sukses tanpa kerja keras. Bahkan sebagian generasi muda mulai kehilangan daya juang karena terlalu nyaman dengan budaya instan.
Sedikit gagal langsung menyerah. Sedikit dikritik langsung marah. Sedikit tertinggal langsung iri kepada pencapaian orang lain.
Padahal kebangkitan nasional sejatinya lahir dari mental tahan banting. Para pendiri bangsa hidup dalam tekanan, keterbatasan, dan penderitaan. Tetapi mereka tidak menjadikan keadaan sebagai alasan untuk diam. Mereka bergerak meski peluang kecil. Mereka bekerja meski hasil belum terlihat.
Bandingkan dengan hari ini. Banyak orang memiliki fasilitas jauh lebih baik, tetapi mentalnya jauh lebih rapuh.
Kita harus berani mengakui bahwa salah satu penyakit sosial terbesar bangsa ini adalah kebiasaan menyalahkan pihak lain. Ketika ekonomi sulit, pemerintah yang disalahkan sepenuhnya. Ketika pendidikan buruk, guru dianggap gagal total. Ketika moral generasi muda menurun, teknologi dianggap biang kerok. Semua sibuk mencari kambing hitam, tetapi sedikit yang bertanya: “Apa yang sudah saya lakukan untuk memperbaiki keadaan?”
Kritik tentu penting dalam negara demokrasi. Bangsa yang sehat memang memerlukan kritik. Tetapi kritik tanpa solusi hanya akan berubah menjadi kebisingan. Lebih buruk lagi jika kritik dilakukan hanya demi popularitas, sensasi, atau kepentingan pribadi.
Kita membutuhkan kritik yang membangun, bukan kritik yang lahir dari kebencian.
Hari ini bangsa Indonesia tidak hanya membutuhkan orang cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara moral dan sosial. Sebab kepintaran tanpa kepedulian hanya akan melahirkan generasi sinis. Generasi yang pandai mencemooh, tetapi miskin tindakan nyata.
Lihatlah lingkungan sekitar kita. Banyak persoalan kecil sebenarnya bisa selesai jika masyarakat mau bergerak bersama. Sampah, budaya antre, disiplin berlalu lintas, kebersihan sekolah, literasi anak, hingga kepedulian sosial—semua itu tidak selalu membutuhkan teori rumit. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memulai.
Sayangnya, banyak orang lebih senang menjadi hakim daripada pelaku perubahan.
Kita juga sedang menghadapi tantangan baru di era digital dan kecerdasan buatan. Dunia berubah sangat cepat. Lapangan pekerjaan berubah. Cara belajar berubah. Persaingan semakin keras. Jika masyarakat Indonesia hanya sibuk berdebat tanpa meningkatkan kualitas diri, maka kita akan tertinggal di negeri sendiri.
Kebangkitan nasional abad ini bukan lagi perang melawan penjajah bersenjata. Musuh kita hari ini jauh lebih halus: kemalasan, mental instan, budaya konsumtif, rendahnya literasi, penyebaran hoaks, dan kebiasaan merasa paling benar.
Karena itu, makna kebangkitan nasional harus dimulai dari kebangkitan pribadi. Bangkit dari malas belajar. Bangkit dari kebiasaan mengeluh. Bangkit dari budaya saling menjatuhkan. Bangkit dari kecanduan mencari sensasi.
Indonesia tidak akan maju hanya karena memiliki sumber daya alam melimpah atau bonus demografi besar. Negara ini akan maju jika rakyatnya memiliki mental bertanggung jawab dan mau bergerak bersama.
Mulailah dari hal sederhana. Guru bergerak mendidik dengan hati. Orang tua bergerak memberi teladan. Pemuda bergerak menciptakan karya. Tokoh agama bergerak menyejukkan masyarakat. Pejabat bergerak melayani dengan jujur. Dan masyarakat bergerak menjaga persatuan.
Sebab pada akhirnya, bangsa besar bukan dibangun oleh orang-orang yang paling pandai berbicara, melainkan oleh mereka yang bersedia bekerja dalam diam demi masa depan bersama.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi tamparan sekaligus pengingat. Bahwa negeri ini tidak kekurangan kecerdasan. Yang masih langka adalah keberanian untuk bergerak, konsisten bekerja, dan rela berjuang tanpa harus selalu dipuji.
Mungkin inilah saatnya kita berhenti bertanya, “Negara ini mau dibawa ke mana?”
Dan mulai bertanya dengan jujur:
“Apa yang sudah saya lakukan untuk ikut membangunkannya?”
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim